[Review Indo-Movie] Preman Pensiun (2019): Sinetron Masuk Bioskop, Tapi Bukan Kualitas Sinetron Masuk Bioskop

Akhir-akhir ini ada suatu istilah soal menyinyir film Indonesia. “FTV masuk bioskop” atau “sinetron masuk bioskop” kerap jadi andalan yang punya kesan negative. Maksudnya adalah soal film bioskop yang kualitasnya berasa kualitas tv yang dimana merupakan penurunan standar, apalagi melihat kualitas tayangan tv nasional saat ini, harusnya sih berasa penghinaan, ga tau deh pihak tv yang dianggap sebagai standar sampah sama film yang kena nyinyiran ini merasa dikritisi apa engga. Biasanya nyinyiran ini dikarenakan kualitas teknis (tone color grading biasanya, musik, acting) hingga premis dan kualitas ceritanya itu sendiri terasa terlalu murah untuk ukuran bioskop. Intinya nyinyiran ini adalah bentuk krtitik yang merasa tak puas karena mendapatkan tontonan yang tak berbeda secara kualitas dari yang ada di tv nasional yang saat ini sangat degradasi sekali. Lalu kemudian akhir-akhir ini muncul tren dimana sinetron lawas dibuatkan filmnya, baik itu remake, ataupun kelanjutan cerita dari sinetronnya. Namun tidak seperti para film yang dianggap kualitas sinetron, para film yang berasal dari sinetron ini akhir-akhir ini justru punya penilaian kritik yang baik, salah satunya adalah Preman Pensiun.

feature-preman-pensiun-1300x500.jpg

Read the rest of this entry

Advertisements

[Review J-Movie] Spirited Away (2001): Perfect Fairy Tale by Ghibli

Akhirnya sampai juga ke film ini, film Anime pertama yang mendapatkan Oscar. Nama besar Spirited Away sudah tersebar kemana-mana, baik untuk pecinta anime maupun pecinta film secara general. Namun menonton film yang punya reputasi tetap harus berhati-hati. Saya tetap menjaga ekspektasi, dan entah apa itu berpengaruh atau tidak, pada akhirnya saya pun meng-iya-kan kalau Spirited Away adalah karya terbaik Ghibli dan Miyazaki.

Spirited_Away_Wallpaper_by_behruz-e1414155694995-2.jpg

Read the rest of this entry

[Review J-Movie] My Neighbors the Yamadas (1999): Karya Unik Lain Isao Takahata, Kreatifnya Mengadaptasi Komik Strip

Isao Takahata kembali menyajikan film ke 4 nya untuk Ghibli. Dan sekali lagi, Isao Takahata menyajikan sesuatu yang berbeda. Hayao Miyazaki saya akui memang kreatif dengan imajinasi dunia fantasinya yang bermacam-macam. Tapi Isao Takahata lebih bervariasi dan punya kreativitas di hal yang lain, khususnya soal artwork.  Bicara soal artwork, Hayao Miyazaki punya satu gaya yang paten, khas. Tapi Isao Takahata berbeda, 4 film yang saya nikmati ke 4 nya punya artwork yang berbeda-beda. Masuk akal karena Isao Takahata memang berbeda dari sutradara anime lainnya yang tidak ikut campur dalam hal menggambar, hal ini membuatnya lebih leluasa dalam emcoba sesuatu yang baru. Termasuk filmnya kali ini punya artwork yang sangat mencolok perbedaannya, signifikan. Bukan Cuma artwork, film ini juga punya formula yang sangat unik dimana Ghibli atau mungkin film animasi yang pernah ada belum pernah melakukan hal seperti ini.

series_1484.jpg

Read the rest of this entry

[Review J-Movie] Princess Mononoke (1997): Sebuah Upgrade dari Nasuciaa, Tapi Tetap Tak Bisa Mengalahkannya

Semenjak Nasuciaa dan Castle in the Sky, Miyazaki kerap membuat film-film yang simple dengan berfokus pada menikmati momen, bukan pada cerita. Mulai dari My Neighbor Totoro, Kiki’s Delvery Service, dan Porco Rosso, semuanya menolak ribet which is bagus dan menunjukan pada dunia bahwa membuat film bagus tidak harus rumit dan bertitik berat pada cerita mengupas segala tanya. Namun Miyazaki juga punya ambisi untuk membuat film yang kompleks bertitik berat pada cerita dan isu yang besar, yang menuntunnya pada keberhasilannya menciptakan Princess Mononoke. Princess Mononoke sebenarnya ide lama Miyazaki yang baru bisa direalisasikan 20 tahun kemudian. Namun meski ide lama, tema film ini sebenarnya sudah direalisasikan melalui film Nausicaa of The Valley of the Wind. Meski begitu tidak ada pernyataan resmi bahwa Nausicaa dan Princess Mononoke berasal dari ide yang sama. Tapi Miyazaki pernah berkata bahwa Princess Mononoke merupakan perbaikan dari ending Nasuciaa. Jadi, berdasarkan statement itu, saya menganggap Princess Mononoke adalah upgrade dan Nasuciaa.

princess-mononoke.jpg

Read the rest of this entry

[Review J-Movie] Whisper of the Heart (1995): Coming of Age Rom-Com yang Sangat Cute, Persembahan Satu-satunya Yoshifumi Kondo

Akhirnya ada film Ghibli yang disutradarai selain Hayao Miyazaki dan Isao Takahata, dia adalah Yoshifumi Kondo. Kondo rencananya diproyeksikan untuk menjadi penerus Miyazaki yang sebelumnya berencana pensiun. Sayangnya padatahun 1998 Kondo meninggal dunia yang membuatnya hanya meninggalkan 1 film feature berjudul Whisper From the Heart. Sumbangsih satu-satunya film panjang Kondo untuk Ghibli berhasil meneruskan rapor baik film-film Ghibli yang sekaligus memeberi variasi dari filmografi Ghibli. Hasilnya, Whisper From the Heart adalah kisa percintaan dan pencarian jati diri remaja yang sekilas tampak umu namun sebenarnya unik dan memesona.

1_LAIkQudRc7O1kUnlp1oOEw.png

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] How To Train Your Dragon: The Hidden World (2019): Trilogi Dreamworks Paling Solid

Bicara soal film animasi Hollywood, track record untuk sebuah sekuel benar-benar buruk. Studio besar macam Walt Disney dan Pixar saja selalu kerepotan dengan sekuel yang lebih sering menerima kritik tak memuaskan, meski selalu menjanjikan secara komersial. Tapi studio besar lainnya, Dreamworks, termasuk yang paling hobi membuat… yang jangan kan sekuel, kalau menguntungkan ya sekalian saja buat waralabanya. Saya memang lebih suka Pixar ketimbang Dreamworks. Dreamworks punya kuantitas film yang jauh lebih banyak dari Pixar, meski data rasio dengan kualitasnya kalah telak. Bicara film original, Pixar adalah jagoan saya, tapi kalau bicara sekuel ternyata Dreamworks punya jumlah film yang lebih banyak suksesnya. Disaat Pixar baru punya Toy Story dan Incredible sebagai franchise yang solid, Dreamworks sudah punya Kung Fu Panda, Shrek, dan terbaru kini menjadi andalannya, How To Train Your Dragon.

960x410_daf787ee126f2a0253682fd1a67f9c61.jpg

Read the rest of this entry

[Review J-Movie] Pom Poko (1994): Sebuah Fabel Fantastis Dari Isao Takahata

Film Ghibli ke 8 sekaligus film ke 3 nya yang disutradarai Isao Takahata setelah Grave of the Fireflies dan Olny Yesterday, yang keduanya sangat saya sukai. Tapi ada yang mengejutkan di film ke 3 nya kali ini. Setelah 2 film sebelumnya selalu mengambil dunia manusia yang realistis dengan sentuhan Slice of Life yang cukup mellow, di film ke 3 nya ini Isao Takahata mencoba hal yang baru lagi dimana Pom Poko, film ke 3 nya justru mengambil genre fantasi dengan sentuhan yang sangat fun. Dan setelah menonton film ini, saya merasa nama Isao Takahata harusnya sama sejajarnya dengan Hayao Miyazaki, karena secara personal, saya lebih suka dengan gaya berceritanya Isao Takahata daripada Hayao Miyazaki yang memang keduanya punya gaya yang bertolakbelakang.

Pom-Poko.jpg

Read the rest of this entry

[Review J-Movie] Porco Rosso (1992): Si Babi yang Suka Terbang, Hayao Miyazaki Juga Suka Terbang

Film ke 7 Ghibli, film ke 5 Hayao Miyazaki yang saya konsumsi. Film ini semakin membutktikan akan obsesi Hayao Miyazaki pada angin, atau lebih spesifiknya pada segala hal yang terbang. Setelah Nasuciaa yang bisa terbang dengan teknologi anehnya, lalu ada kastil yang terbang, Totoro juga bisa terbang, dan Kiki terbang dengan sapu terbangnya, kini muncul si Pilot Babi. Yup, sekali lagi pula Miyazaki memberikan salah satu imajinasi absurdnya.

maxresdefault (4).jpg

Read the rest of this entry

[Review J-Movie] Only Yesterday (1991): Isao Takahata, Sang Pembeda Ghibli

Film ke 6 Ghibli kembali di garap oleh Isao Takahata, orang dibalik penyebab saya menangis gara-gara Grave og the Fireflies. Isao Takahata seolah jadi anomali dari film-film Ghibli selama ini yang juga lebih melekat pada nama Hayao Miyazaki. Wajar saja memang karena dari 6 film Ghibli selama ini, memang baru 2 sutradara ini yang menjadi sutradara. Tapi menariknya, Isao Takahata seolah menjadi kebalikan dari Hayao Miyazaki. Pada film pertamanya, Isao memberi kita film yang mementahkan anggapan bahwa Ghibli adala studio film animasi pembuat cerita imajinatif tingkat tinggi dengan world building uniknya. Tapi melalui GotF, Isao mementahkan bahwa Ghibli juga punya film yang realistis (dari segi world building) dan bahkan bisa depresif, 2 aspek yang menjadi kebalikan dari Hayao dengan dunia imajinatif dan kesan optimis yang ada pada film-filmnya. Kini Isao Takahata kembali ke tahta sutradara dengan film berjudul Only Yesterday, yang sekali lagi jadi pembeda dari banyak film Ghibli lainnya.

1026426-daisy-ridley-leads-voice-cast-studio-ghibli-s-only-yesterday.jpg

Read the rest of this entry

[Review J-Movie] Kiki’s Delivery Service (1989): Coming of Age Penyihir yang Jauh dari Dramatis

Film ke 5 Ghibli sekaligus film ke 4 Hayao Miyazaki yang saya tonton. Dan dari semua film yang saya tonton, untuk kesekian kalinya saya menonton film dengan protagonist perempuan mandiri dengan elemen anginnya yang sangat kuat. Yup, itulah Kiki’s Delvery Service. Untuk karakter perempuan adalah sesuatu yang sangat saya suka, untuk elemen anginnya pun saya suka tapi saya punya rasa penasaran khusus tersendiri bagi saya. Ada apa dengan Miyazaki dan obsesinya membuat karakter yang melayang-layang di udara. Tapi berkatnya, saya mendepatkan cerita penyihir yang unik dan menyenangkan. Meski sudah bekali-kali menonton film penyihir di berbagai film, menonton film ini tetap memberi sensasi baru tentang penyihir. Dan dari 4 film, semuanya selalu bernada optimis. Jadi jelas, film ini adalah sisi cerah akan keberadaan penyihir di dunia film ini.

kiki-1-1140x685.jpg

Read the rest of this entry