Blog Archives

[Review Indo-Movie] Pocong The Origin (2019): Satu Lagi Horor Indonesia yang Punya Style Unik

Beruntung semangat berkreativitas dalam membuat horror masih ada. Masih ada creator yang berlomba-lomba untuk memberikan sesuatu yang baru. Semenjak Pengabdi Setan, berbagai horror dengan varian barupun muncul meski Pengabdi Setan itu sendiri bukan salah satunya. Ada Mereka yang Tak Terlihat yang lebih focus ke drama, ada Kafir yang punya gaya slowburn dengan sentuhan local yang kuat, ada Sebelum Iblis Menjemput dengan horror-satanic-teror ala barat yang belum ada di Indonesia, bahkan proyek remake-an Suzzanna pun digarap serius dengan sesuatu yang baru berupa sentuhan horror klasik 80-an. Sempat khawatir bagaimana kelanjutan hegemoni ini karena selama 3 bulan pertama tahun ini, belum ada film horror yang impresif, beberapa Cuma berpotensi namun gagal eksekusi, kebanyakan ya medioker. Untungnya di bulan ini, film horror kembali menggeliat. Setelah Sunyi hadir dengan sesuatu yang cukup unik, sebuah perpaduan sukses meremake film Korea, kini Monty Tiwa turut muncul mempersembahkan sesuatu dengan serius, Pocong The Origin.

ET00006720.jpg

Read the rest of this entry

Advertisements

[Review Indo-Movie] Sunyi (2019): Sebuah Remake yang Sukses

Hubungan Indonesia dengan Korea Selatan tampaknya sedang masa manis dibidang perfilman. CJ Entertainment selaku investor dari perusahaan film Korea mulai sering tampil dibeberapa film Indonesia. Sejauh inipun kerjasama mereka termasuk positif menghasilkan produksi film yang kualitasnya terjaga. Selain memberi investasi pada beberapa film Indonesia, seperti A Copy of My Mind dan Pengabdi Setan, kerjasama ini juga menghasilkan beberapa proyek remake film Korea Selatan yang sejauh ini punya track record positif. Setelah sukses dengan remake Miss Granny melalui film Sweet 20, kini muncul lagi sebuah proyek remake film horror legendaris Korea berjudul Whispering Coridor yang akan menjadi Sunyi dalam judul Indonesianya. Untungnya, Sunyi berhasil memberi track record positif bagi film remake Korea Selatan. Diluar dugaan, Awi Suryadi memberi persembahan terbaiknya lewat film ini.

adaptasi-horor-korea-sunyi-berikan-kehe-62ff21

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] DreadOut (2019): Sulitnya Pembuktian Diri Kimo Stamboel

The Mo Brothers, beranggotakan duet Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel , nama yang akan menjadi legenda di perfilman nasional dengan film segila Rumah Dara dan Killers. Sejak 2018, mereka tampaknya mencoba menulis tinta emas dengan nama mereka masing-masing. Timo Tjahjanto sudah bersinar duluan di tahun lalu yang 2 film sebagai sutradara solonya (Sebelum Iblis Menjemput dan the Night Comes For Us) sama-sama sukses, baik secara komersil, hype, dan kritikal. Kini banyak orang, termasuk saya, penasaran bagaimana dengan Kimo? Pembuktiannya adalah tahun 2018 yang akhirnya dia punya proyek film komersil pertamanya secara solo. Bukan main-main, proyeknya sendiri menurut saya punya beban yang lebih besar dari Timo, karena dia diberi mandat untuk menggarap film adaptasi game Indonesia pertama yang popular diskala international. Bahkan film ini termasuk salah satu tonggak sejarah perfilman nasional, yaitu film Indonesia adaptasi game pertama. Seharusnya ini proyek yang menarik dan menantang.

dreadout-the-movie-fi-1280x640

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Malam Jumat Kliwon (1986): Hasil Positif Formula Baru

Satu lagi performa Suzzanna sebagai Sundel Bolong. Setelah saya menonton Sundel Bolong, Telaga Angker, dan Malam Satu Suro, ternyata masih ada satu film lagi yang dimana Suzzanna berperan sebagai Sundel Bolong, yaitu Malam Jumat Kliwon. Film ini sekali lagi hasil dari kolaborasi Suzzana dan Sisworo Gautama. Sempat khawatir akan menggunakan formula yang sama, setelah 3 film sebelumnya yang tonton selalu dengan satu formula, yaitu perempuan berkeluarga mati dibunuh kemudian Sundel Bolong melakuka aksi balas dendamnya. Untungnya, ternyata Sisworo mencoba sesuatu yang baru di filmnya kali ini.

Suzanna-Slider.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Petualangan Cinta Nyi Blorong (1986): Kembali ke Pakem Dasar

Nyi Blorong series berlanjut. Setelah Nyi Blorong (1982) dan Perkawinan Nyi Blorong (1983), Suzzana kembali melanjutkan perannya menjadi Nyi Blorong untuk ketiga kalinya. Nyi Blorong bisa idkatakan peran melekatnya Suzzanna kedua setelah Sundel Bolong, menghasilkan 3 film dari tokoh ini, meski bukan berbentuk trilogy.

254523-1001.jpg

Read the rest of this entry

[Review J-Movie] One Cut of the Dead (2017): Gila… Amazing Cinematic Experience

Ketika di Yogyakarta sana sedang hype dengan festival film JAFF (Jogja-NETPAC Asian Film Festival), mulailah muncul kepermukaan banyak film yang direkomendasikan dari penontonnya. Mulai dari 27th Step of May, Ave Maryam, Keluarga Cemara, hingga film-film luar seperti One Cut of The Dead dari Jepang. Untuk film One Cut of the Dead ini yang paling menarik perhatian, semua reviewnya menarik. Belum lagi saya terobsesi dengan one take long yang dijadikan tertera di synopsis film ini. Disaat saya Cuma bisa iri dengan mereka yang bisa menikmati festival itu, ternyata keberuntungan menghampiri ketika bioskop dikota saya ternyata menayangkan film One Cut of the Dead, betapa bahagianya saya. Film yang di Jepang rilis 2017 ini akhirnya berkesempatan tayang di tahun ini.

texture_background_stains_surface_paper_50448_1920x1080.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Nyi Blorong (1982): Lempar Plot Tanpa Penyelesaian

Nyi Blorong menjadi pilihan berikutnya untuk saya tonton dalam rangka menyelami film-filmnya Suzzanna. Film ini menarik perhatian ketikacatatannya di tahun itu menjadi film terlaris. Sejujurnya, saya tidak begitutertarik dengan film-film Suzzanna selain Sundel Bolong seriesnya, yang dalamhal konteks horror, selain  Sundel Bolongmemang justru rasanya tidak horror, seperti misalnya Nyi Blorong, Buaya Putih,siluman-silumanan, dan semacamnya yang justru lebih terkesan sebagai supernatural fantasy ketimbang horror. Tapi, ketika saya berhasil menikmati Ratu Ilmu Hitam yang begitu berkesan, saya pikir, kenapa tidak coba saja?

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Suzzana: Bernapas Dalam Kubur (2018): Penyempurna Horor Lokal 80-an


Tahun 2018 menjadi tahun yang menyenangkan buat perkembangan horror Indonesia. Genre horror makin banyak, sebulan bisa sampai 4 film rilis bahkan bisa lebih. Memang masih banyak yang asal bikin, tapi yang juga turut bersaing adu inovasipun makin banyak, masih banyak yang berusaha serius menggarap film horror. Bagi saya pribadi, yang menyenangkan dari film horror tahun ini adalah akan banyaknya variasi konsep yang ditawarkan, mulai dari horror slow-burn dengan cita rasa local kuat seperti Kafir, horror-demonic¬ dengan kemasan gore seperti Sebelum Iblis Menjemput, horror-adventure fun seperti Kuntilanak, horror creature seperti The Returning, horror one room dengan penekanan di psikologi di Jaga Pocong, horror zombie comedy seperti Reuni Z, meski tidak semuanya sukses tapi saya melihat ada perubahan respon dalam menanggapi suatu trend, bukan lagi latahan mengikuti formula kesuksesan, tapi justru berlomba-lomba menawarkan inovasi. Lalu Suzzanna Bernapas Dalam Kubur yang awalnya saya underestimate bakalan reborn penghasil uang semata dengan eksekusi tipikal, ternyata justru memberi varian film horror kesekian di tahun ini. Suzzanna memberi kita sentuhan nostalgia akan bagaimana film horror local era 80-an yang dikombinasikan dengan teknik sinema modern.

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Ratu Ilmu Hitam (1981): Sebuah Masterpiece

Akhir-akhir ini, Indonesia dimata dunia punya branding cinema bahwasannya film Indonesia yang berkualitas (selain film festival) adalahfilm-film  brutal, sadis, dan berdarah-darah.  Tahun ini, khususnya semenjak The Night Comes For Us rilis, penikmat film luar negeri mulai teringat kembali akan film-film seperti The Raid dan sekuelnya, Merantau, dan Headshot.Iko Uwais, Gareth Evans, dan Timo Tjahjanto sudah punya trademark akan sesuatu yang brutal. Beberapa sutradara yang namanya mentereng di luar negeri, seperti Timo, Kimo, Joko Anwar, pun terkenal denganfilm thriller dan horrornya yang juga punya kesan sadis.The Mo Brothers sendiri juga punya film-film seperti Rumah Dara dan Killers yang juga laku di pasar international, dan belum lagi film Sebelum Iblis Menjemput pun sebentar lagi akan dinikmati secara international melalui Netflix. Yup, Indonesia saat ini dikenal sebagai Negara dengan branding cinema berupa sadis melalui 3 genre jualan utamanya, action, thriller, dan horror, dan tentu banyak yang menganggap bahwa hal itu terjadi hanya baru-baru ini,semenjak Rumah Dara lalu dihegemonikan oleh The Raid, padahal tidak. Jauh sebelum itu, Indonesia sudah punya nama di perfilman international, khususnya era 80-an dimana banyak film Indonesia mengincar kesan cult denganmengedepankan ke absurd-an berdarah-darah, senjatanya masih sama, action,thriller, dan horror. Tidak percaya? Coba saja lihat film-filmnya Barry Prima dan Suzzanna. Mau bukti lebih spesifik lagi, coba tonton film ini.

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Sundel Bolong (1981): Awal Formula Duet Sisworo-Suzzanna

Dari pengalaman 4 film Suzzana yang saya tonton –Beranak Dalam Kubur, Telaga Angker, Malam Satu Suro, dan termasuk film ini, 3 diantaranya memerankan Sundel Bolong, dan semuanya mengambil premis mati ketika mengandung. Ada kesamaan formula yeng ternyata terus-menerus digunakan. Bukan bermaksud punya tujuan khusus dalam memilih film-film Suzzana yang saya tonton. Kebetulan dari hasil googling, memang 4 film inilah yang sering disebut-sebut sebagai karya terbaiknya, eh atau film yang paling banyak orang tau. Tapi dari semua karya-karya Suzzanna, segala ciri khas yang ada di film-filmnya dia dimulai dari film ini, Sundel Bolong, awal kerjasamanya dengan Sisworo yang sebelumnya juga menyutradari Pengabdi Setan.

maxresdefault (1).jpg

Read the rest of this entry