[Review Indo-Movie] Bumi Manusia (2019): Dari Sastra Roman Menjadi Teen Flick Era Kolonial

Teman saya dengan akun twitter bernama @aaayenk mengetweet, katanya kebanyakan fans Pram yang tidak rela dengan kehadiran film Bumi Manusia ini ada hubungannya dengan kebudayaan tak kasat mata. Novel Pram yang dianggap High Culture sekonyong-konyong jadi film kawula muda dan Pop Culture banget. Nggak salah, Cuma bergeser aja posisinya. Saya pikit, benar juga apa yang dicuitnya.

w644.jpg

 

Film Bumi Manusia ini memang sudah bikin geger sejak pengumumannya untuk difilmkan. Mulai dari kontroversi pemilihan cast Iqbal, pemilihan Hanung Bramantyo sebagai sutradara, PH-nya itu sendiri Falcon Pictures, hingga dari kalangan pembaca Bumi Manusia itu sendiri yang merasa novel ini begitu sakral dan tidak mau imajinasi mereka tercederai oleh visualisasi filmnya. Banyak keraguan dan ketakutan akan hasil dari film ini dan itu bukan lebay, wajar ini salah satu novel sastra terbaik yang Indonesia punya.

Bagi saya sendiri, memantau sejak pengumuman diproduksinya film ini dengan orang-orang dibaliknya, ekspektasi saya memang sudah entah kemana. Mulai dari statement Hanung yang sebatas mengatakan bahwa Bumi Manusia adalah cerita cinta Minke dan Annelis tanpa mengiming-imingi lebih, hingga topic masalah akurasi wardrobe pada jamannya. Saya pikir akan sangat ceroboh kalau berharap akan sebuah masterpiece dengan standar estetika yang wah, sulit.

Tapi seperti yang Pram ucapkan melalui karakter Jean saat menasehati Minke dalam Bumi Manusia ini, berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan. Jadi, saya berusaha menilai film ini dengan adil tanpa terpengaruh akan siapa orang-orang dibaliknya dengan reputasi  seperti apapun.

Bumi Manusia punya cerita berlatar era kolonial mengenai Minke, seorang pribumi Jawa yang sedang jatuh cinta kepada Annelies, wanita cantik berdarah campuran indo. Mengingat ini era colonial, jadi percintaan beda ras dan kelas sosial ini tentulah akan mengarah pada banyak masalah.

Sejujurnya, saya sebagai pembaca buku yang tidak punya ekpektasi apapun, ternyata merasa bisa menikmati film ini. Alasan utamanya adalah kemampuan 2 pemeran wanita disini berhasil membawa film ini jadi punya nyawa. Performa yang luar biasa dihadirkan oleh Shae Ina Febriyanti. Perannya sebagai karakter paling menarik, Nyai Ontosoroh, sangat amat berhasil. Dialog-dialog yang diberikan berhasil dilafalkan dan disampaikan dengan sempurna, sehingga tiap kata-katanya terasa menyentuh. Raut wajahnya pun secara sempurna memperlihatkan sosok wanita yang begitu tegar namun menyimpan begitu banyak luka dibaliknya. Bagi saya Nyai Ontosoroh benar-benar terasa akurat seperti yang saya bayangkan dalam Novelnya.

Sementara itu Mawar De Jongh yang memerankan Annelies juga cukup memuaskan. Annelies disaaat menyenangkan hingga disaat mengenaskannya semuanya dimainkan dengan baik, meski masih ditahap aman saja. Mawar De Jongh melaksanakan tugasnya membuat karakter Annelies jadi mudah dicintai.

Satu lagi pemeran wanita yang luar biasa dan mencuri perhatian. Yaitu Ayu Laksmi sebagai Ibunda Minke. Performanya tidak kalah dengan Nyai Ontosoroh, hanya saja jatah tampilnya minim. Kemampuannya mengolah dialog yang diberikan mampu membuat kata-kata yang diucapkannya terasa kuat. Penggunaan bahasa Jawa mulai dari ngoko dan karma, semua rasanya tepat dengan nada intonasi yang tepat pula. Penampilan Ibunda Minke disini berhasil memberi kesan, walau memang tidak sekuat Nyai Ontosoroh dengan deritanya, tapi dia adalah sosok ibu dan wanita yang juga luar biasa dengan pesonanya sendiri.

Lalu bagaimana performa Iqbal?  Hmmm, bagaimana ya? Sejujurnya saya merasa Minke masih lah terasa Dilan disaat-saat tertentu, tentu saja yang maksud dibagian rayu merayunya. Sangat terlihat bahwa peran Minke adalah tantangan terberat Iqbal sejauh ini. Iqbal sangat terlihat sangat berusaha keras menangani bagian Minke saat marah dan bingung.

Jadi, yah, memang sesuai yang Hanung katakakan, ini adalah kisah cinta Minke dan Annelies. Kalau memang ruang lingkupnya sekecil itu, maka film ini bisa dikatakan berhasil. Mencoba berpikir positif, maksudnya memang usaha agar film ini tidak melebar kemana-mana. Tapi akibatnya film ini tidak begitu punya isi yang penting dan baru seperti yang ditawarkan novelnya. Prasangkan negatifnya? Emang dasar prosudsernya saja pengen bikin film yang ringan dan ngepop. Karena kalau bicara film Bumi Manusia sebagai film pop, ya sukses-sukses saja. Hanung berhasil membuat Bumi Manusia sebagai film yang ngepop dengan cerita cinta yang berapi-api, disisipi komedi-komedi yang memang menghibur dan sukses. Bagaimana penggemar Pram? Puas po ora?

Sayang memang, semua isu yang potensial hanya disebut saja tanpa ada penggalian lebih dalam. Kata-kata Jean soal “adil sejak dalam pikiran” tidak semembekas “jangan rindu” nya Dilan. Padahal kalimat itu cukup jadi landasan utama karakter Minke namun terlupakan begitu saja karena quote yang hanya terpakai di satu moment saja, itupun tanpa penekanan.  Isu ras yang seharusnya kental pun disini dibahas sekenanya saja. Secara personal sebagai pembaca bukunya, mungkin ini yang agak mengganggu.

Bumi Manusia bagi saya soal cara berpikir objektif berbasis rasa kemaunisaan yang adil. Dan semua itu tercapai berkat pengalaman Minke di era kolonial yang begitu terkotak-kotakan tiap rasnya. Dalam filmnya, soal ras ini memang cukup difokuskan soal masalah perjuangan Minke dan Annelies saja yang berkutat soal pribumi, indo, dan eropa. Sementara dalam novel, permasalahan ras yang membentuk strata social dan ketidak adilan hukum juga tidak sesederhana itu. Ada Jean, si sahabat Minke yang dalam film tidak dijelaskan kalau di orang Prancis yang ternyata punya hak dan kewajiban yang berbeda dengan orang Belanda. Detail seperti ini akan memberi perspektif bahwa orang Eropa ternyata punya strata sosialnya sendiri dan wilayah diskriminatifnya sendiri, ilmu baru. Juga ada Ibu Guru Peter, gurunya Minke, dan juga keluarga De La Croix yang dalam film ini tidak diberikan panggung menyuarakan paham pemikirannya. Padahal dalam novel kehadiran mereka akan memberi kesan bahwa tidak semua Belanda punya sifat fasis, bahwa walau londo maupun pribumi, kalau benar bilang benar, kalau salah bilang salah, lihat tindakan lihat kepribadiannya, bukan melihat latar belakangnya, ilmu baru lagi buat penonton awam.

Kesan memberi pesan untuk objektif dalam novelnya pun makin tidak terasa disaat filmnya memperlihatkan adu argumen pribumi melawan eropa dengan argument yang dangkal. Yang pribumi mengagungkan bagsanya, yang eropa mengagungkan bangsanya. Karakter Minke yang membenci budaya bangsanya tidak begitu ditonjolkan dalam film, sangat disayangkan karena ini akan memberi kesan pandangan objektifnya Minke dan sebuah diskusi yang dalam. Sayangnya film ini malah memberi kita dialog Robert Suurhorf vs Jan Dappersite dengan argument yang kuno sekali, atau Minke vs De La Croix yang membuat Minke cuma mengagungkan bangsanya, lah katanya Minke benci budaya Jawa? Permasalahan Ras di novel tetaplah hitam dan putih, tapi disajikan dengan kompleks, tapi film ini membuatnya jadi sangat sederhana.

Sejujurnya, sulit bagi saya berlaku adil pada film ini, sampai saya tidak tahu lagi cara memperlakukannya dengan adil itu harus bagaimana? Kesimpuan saya, Bumi Manusia sebagai film sendiri masihlah dikatakan film yang menghibur, tapi hanya sekedar itu saja. Sementara sebagai film adaptasi, film ini tidak cukup adil memperlakukan esensi sumber materialnya. Mau dianggap menghormati atau menghina, silahkan judge sendiri. Dan kedua respon itu memang sah-sah saja dan bisa dipahami kenapa itu terjadi.

Ya mau bagaimana lagi? Kan tujuan filmnya buat kawula muda, masa mau ngasih yang berat-berat? Beginilah kalau novel sastra dibuat jadi film kawula muda. Apa yang salah dengan kawula muda? Sebagai proses kreatif, benar atau salah memang bukan persoalannya. Yang benar ya teman saya. Memang tidak salah, cuma bergeser aja posisinya.

 

Source tweet :

 

 

 

Advertisements

About osyad35

Hai...

Posted on September 2, 2019, in Movie, Tontonan and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: