Monthly Archives: August 2018

[Review Indo-Movie] Sebelum Iblis Menjemput (2018): Menjaga Kepercayaan

Genre Horror di perfilman Indonesia sedang memasuki fase baru semenjak kesuksesan Pengabdi Setan. Secara pemasukan gila-gilaannya, film horror berpenonton satu juta lebih sudah mulai berlaku semenjak 2017 mulai dari Danur, The Doll 2, Jailangkung, hingga puncaknya Pengabdi Setan, dimana hal ini menandakan bahwa genre Horror sudah mendapatkan kembali kepercayaan penontonnya setelah sebelumnya dilukai akan kehadiran film horror esek-esek tanpa substansi di era sebelumnya. Dan sesuai prediksi saya, fenomena 2017 itu membuat 2018 lebih gila lagi. Hingga saat ini sudah ada 5 film yang memasuki klub 1 juta lebih dan secara kuantitas produksi dalam satu bulan bisa mencapai 3 film horor rilis. Sayangnya ada kegelisahan dari saya akan keseimbangan antara kuantitas dengan kualitas. Semenjak Pengabdi Setan, horror yang ada masihlah generik di zona nyamannya. Untungnya kepercayaan  yang muncul masih dijaga melalui 2 film horror yang rilis tahun ini, yaitu Kafir dan Sebelum Iblis Menjemput.

Sebelum-Iblis-Menjemput.jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Series] Marvel’s Luke Cage Season 2 (2018): Membenahi Berbagai Aspek, Tidak Mengulangi Kesalahan

Luke Cage di season pertama sebenarnya bukan series yang meh seperti Iron Fist dan The Defenders, Luke Cage satu tingkat diatasnya. Yang jadi masalah, walaupun saya cukup menikmatinya, hanya saja setelah menonton rasanya tidak punya kesan khusus, forgettable. Oh, Cuma Cottenmouth, sisanya saya benar-benar lupa. Yang jelas saya ingat, serial ini menjadi antiklimaks ketika penjahat yang tadinya Cottenmouth berpindah ke Diamondback. Sementara cerita soal Luke Cage sendiri, selain soal balas dendam atas nama Pop, tidak ada yang special. Salah satu alasan kenapa saya tidak begitu antusias sebenarnya dengan season ke 2. Tapi ternyata season 2 Luke Cage mampu berbenah diri dan menjadi serial yang menyenangkan untuk dilihat.

marvels-luke-cage-season-2-viewer-votes-590x224.png

Read the rest of this entry

[Review Anime] Yowamushi Pedal: Glory Line (2018): Plot Balapan yang Menarik

Season 3 bagi saya sebenarnya cukup mengecewakan. Setelah diawali dengan sangat baik mulai dari sensasi unik melihat Onoda sebagai kakak kelas, pengenalan karakter baru yang menjanjikan, hingga segala persiapan Inter High di musim yang baru. Sayangnya saat balapan Inter High dimulai, segala ekspektasi terasa antiklimaks. Mulai dari visual yang makin absurd (sebal melihat jurusnya Aoyagi dan pembalap Hakogaku berbadan paling besar) hingga plot balapannya sendiri. Mungkin saya terdengar agak bias juga dimana kebanyakan alasan sebal disini karena Sohoku tak kunjung mendapatkan momentum untuk bangkit. Saya paham bahwa season kemarin bertujuan untuk membuat Sohoku hancur sehancur-hancurnya, tapi yang membuat saya sebal adalah ketika karakter-karakter yang ada dibuat tidak loveable lagi, mulai dari Aoyagi dan Kaburagi yang minim peran, Onoda sendiri down, Imaizumi dan Naruko juga belum terlihat, fokus ada pada Teshima yang justru di eksekusi dengan payah yang bahkan mengakibatkan karakter Manami jadi terlihat menyebalkan. Plot balapan season 3 sangat menyebalkan minim dinamika, khsusunya perebutan Zekken sprint dan tanjakan kurang begitu menarik. Banyak sekali yang saya harapkan di season 4 ini, utamanya soal plot balapannya itu sendiri, dinamika karakter, taktik tim, kejutan, banyak ekspektasi yang semoga dibayar tuntas.

teaserlogo.jpg

Read the rest of this entry

[Review Thai-Movie] Brother of The Year (2018): GDH Lanjutkan Membuat Masterpiece

Tahun 2011-2014 jadi awal perkenalan hingga tergila-gilanya saya terhadap film Thailand. Pada saat itu, film-film komedi drama dan komedi romantis Thailand jadi tontonan favorit banyak mahasiswa disekitar saya. Yang ada di benak saya saat itu, Thailand sangat jago membuat film komedi dengan gaya yang sangat khas dan otentik, utamanya permainan cut shot dan efek music komikal. Dari situ saya mulai tahu perfilman Thailand ternyata cukup jago baik di komedi romantic, horror, dan martial artnya. Tahun ini saya ternyata kesampaian menonton film Thailand di bioskop, sebuah kejutan menyenangkan. Brother of The Year berkesempatan tayang di Indonesia sebagai film yang mengusung drama komedi. Saya tidak berpikir dua kali untuk memutuskan menonton ketika melihat film ini, dasar pertimbangan saya ada pada PHnya. GDH 559, merupakan PH yang memproduksi One Day dan Bad Genius, baru 5 film dan semuanya bagus, makanya fillm ke 5 ini saya cukup antusias untuk menontonnya. GDH 559 sendiri walaupun cukup baru tapi sebenarnya tidak begitu baru. Sebelumnya mereka bernama GTH dimana bagi kalian pecinta film Thailand tentu tidak asing dengan judul-judul berupa Suckseed, ATM Error, Im Fine Thank You Love You, Teacher Diary, Heart Attack, May Who?, Hello Stranger, hingga horror-horor keren macam Shutter, Ladda Land, dan Pee Mak, wow terlalu banyak saya sebutkan judul saking antusiasnya. Maka itu spesialnya PH ini, semua filmnya berkesan.

brother-year001ff.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Kafir: Bersekutu Dengan Setan (2018): Ketika Makan dan Batuk Jadi Menakutkan

Film Kafir (2002) yang dibintangi Sujiwo Tejo memang bukanlah film yang baik secara estetika, tapi ada beberapa bagian dari film itu yang membuat saya terkesan dan terngiang-ngiang hingga sekarang. Gilanya Sujiwo Tejo dan bagian telur peletus perut orang adalah yang paling saya ingat. Oleh karena itu ketika mendengar Kafir dibuat lagi, saya sendiri menyambut positif karena memang film ini secara keseluruhan banyak kekurangan, tapi memang film itu punya potensi. Ini sekaligus menjadi perwujudan dari keresahan saya sendiri dimana remake ataupun segala hal film yang berhubungan dengan film yang sebelumnya yang ada selalu melibatkan film yang sukses secara komersil saja, padahal banyak filmIndonesia yang punya konsep keren tapi eksekusinya tidak sesuai harapan, dan Kafir adalah salah satunya. Tapi ini memang bukan film remake, Upi selaku penulis lebih memilih membuat ulang film Kafir yang sangat berbeda tapi menggunakan tema dan ide yang sama. Mendenger trivia pra produksinya, saya benar-benar suka karena seolah menjawab segala keresahan saya, dan apa yang dilakukan Upi selaku penulis sudah bertindak dengan benar dengan menjaga segala nilai jualnya untuk kemudian dimaksimalkan kedalam konsep yang baru. Bagaimana hasilnya?

maxresdefault (1).jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Coco (2017): Tetap Masterpiece Meski Bukan Konsep Original

Coco merupakan film ke-5 Pixar yang mengambil bentuk manusia, sebelumnya sudah ada The Incredibles, Ratatouille, Up, dan Brave. Tapi untuk menjadi tontonan yang menarik, konsep manusia yang terdengar biasa itu membuat creator harus kreatif mencari sisi unik, itu lah yang membuat Pixar besar, keunikan. Jika The Incredibles cukup unik dengan dunia superheronya, Up dengan konsep kakek dan bocah bertualang dengan rumah berbalon terbang, 3 filmnya sisanya mengandalkan kultur untuk menjadi pembeda penghasil sisi unik. Sayangnya Brave tidak begitu berhasil bagi saya karena tidak meras ada yang unik khususnya dalam menonjolkan budaya Skotlandianya, sementara Ratatouille sangat sukses menggambarkan budaya Prancis, khususnya Paris melalui makanan. Coco mengambil latar budaya Meksiko untuk kemudian memaksimalakan slah satu ritual budaya menjadi akar konsep cerita, yaitu soal perayaan mengingat mereka yang sudah meninggal.

coco-alt

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] The Good Dinosaur (2015): Pertama Kalinya Tidak Terbius Keajaiban World Building Pixar

World Building Pixar itu unik. Bagi saya keunikannya Pixar adalah bisa menyeimbangkan aplikasi sifat kemanusiaan yang tidak berlebihan sehingga membuat objek originalnya tetap terasa tidak melampaui kodratnya sehingga mudah membuat penontonnya percaya akan universe yang ada. Misalnya, dalam Toy Story, para mainan tidak memiliki peran sosial melainkan hanya sebagai mainan yang ingin dimainkan sesuai kodratnya, di Monster, Inc tugas monster sesuai kodratnya untuk menakuti, di Cars para mobil meski punya peran sosial tapi fungsi mereka sesuai kegunaan jenis mobil yang bersangkutan mulai dari membalap, menderek, hingga berpatroli, kemudian di Finding Nemo para ikan sesuai tugasnya dimana Ubur-Ubur tetap menyengat, Penyu tetap bermigrasi, Hiu tetap rantai makanan atas yang terpicu karena darah, tidak seperti film animasi ikan buatan Dreamworks dimana dalam dunia laut itu ada mafia, ada bandar judi, ada bengkel layaknya dunia manusia. Bagi saya hal itulah yang membedakan Pixar dengan animasi lain, khususnya Dreamworks. Beberapa film Pixar yang membuat objeknya terlalu melampaui sifat kemanusiaannya tak pernah berhasil mendapatkan pengakuan masterpiece seperti misalnya A Bugs Life yang para semutnya kurang semut, atau Cars 2 yang para mobilnya terlalu liar menjadi manusia, lalu kemudian The Good Dinosaur mau berkonsep seperti ini? Ya beginilah hasilnya.

r_thegooddinosaur_header_bcfd18b3

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Inside Out (2015): Implementasi Ilmu Psikologi yang Sangat Menyenangkan

Bagi saya, Pixar benar-benar dikatakan bangkit melalui film ini. Setelah di kururn waktu 2001-2010 semua filmnya terasa dibuat dengan hati dan hasilnya memang menjadi film yang punya hati, menyentuh, dan emosiona. Bisa dibilang selama decade itu semua film yang dibuat masuk kategori masterpiece, bahkan Cars yang paling lemah pun masih sanggup membuat saya tersentuh.Kemudian bencana mulai datang semenjak 2011, 3 film sejak itu, Cars 2, Brave, dan Monster University serasa sangat biasa dan tak sesuai standar Pixar yang sebelumnya dianggap selalu mengeluarkan karya masterpiece. Setelah 3 film biasanya itu, pamor Pixar rasanya mulai turun dan diragukan, apakah eranya sudah berakhir? Hingga kemudian munculah Inside Out yang akan membuat saya ingat kenapa Pixar adalah studio animasi yang special. Akhirnya, Pixar kembali. (meskipun selanjutnya muncul karya meh lagi lewat The Good Dinosaur dan Finding Dory, tapi kemudian mereka membuat Coco dan Incredibles 2 yang wah lagi).

Featured-Image-Inside-Out

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Brave (2012): Tidak Segar, Film Pixar ala Film Princes Disney

Setelah kegemilangan satu decade 2000an, awal 2010-an bagi saya jadi penurunan bagi Pixar. Pada 2011, Cars 2 di kritik habis-habisan merusak setitik nilai dari track record luar biasa Pixar. Pada tahun berikutnya Pixar mencoba bangkit melalui Brave. Sayangnya ini bukan jenis kebangkitan yang saya harapkan. Untuk pertama kalinya saya benar-benar tidak tertarik dengan ide konsep film Pixar. Untuk film yang sangat biasa saja (bukan jelek) seperti Cars 2 dan A Bugs Life pun saya masih terpukau dengan konsepnya, bahkan se absurd Ratatouille pun saya masih berminat, sayangnya Brave tampil dengan konsep yang tidak original. Brave akan berkonsep ala cerita dongen putri-putri Disney yang klasik dan entah saya kecewa dengan konsep ini. Walaupun memang Pixar bagian dari Disney, tapi ini Pixar, studio yang berbeda dari yang lainnya dan terkenal dengan selalu punya ide yang unik dan gila. Pixar tampaknya ingin mencoba hal yang baru dengan menggunakan sesuatu yang klasik, euhh, kalimat yang aneh bukan? Lalu bagaimana percobaan Pixar yang baru… eh.. klasik .. eh.. apa deh terserah.

brave-title-header.jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Up (2009): Bersedih-Sedih Dahulu, Bertawa-Tawa Kemudian

Setelah The Incredibles, Pixar kembali membuat film dengan bentuk manusia lagi. Begitu pula dengan The Incredibles dengan latar superheronya, meski menggunakan manusia, Pixar masih punya cara untuk memperlihatkan magicnya. Tokoh utama berupa kakek tua yang akan ditemani bocah cilik bagi saya sudah jadi ide yang cukup segar, belum lagi balon terbang? Unik juga karena kali ini mereka benar-benar manusia biasa, jadi keajaiban macam apa yang film ini tawarkan?

open-uri20160811-32147-1ie24w2_bfb77429.jpeg

Read the rest of this entry