Blog Archives

[Review J-Movie] Spirited Away (2001): Perfect Fairy Tale by Ghibli

Akhirnya sampai juga ke film ini, film Anime pertama yang mendapatkan Oscar. Nama besar Spirited Away sudah tersebar kemana-mana, baik untuk pecinta anime maupun pecinta film secara general. Namun menonton film yang punya reputasi tetap harus berhati-hati. Saya tetap menjaga ekspektasi, dan entah apa itu berpengaruh atau tidak, pada akhirnya saya pun meng-iya-kan kalau Spirited Away adalah karya terbaik Ghibli dan Miyazaki.

Spirited_Away_Wallpaper_by_behruz-e1414155694995-2.jpg

Read the rest of this entry

Advertisements

[Review J-Movie] Princess Mononoke (1997): Sebuah Upgrade dari Nasuciaa, Tapi Tetap Tak Bisa Mengalahkannya

Semenjak Nasuciaa dan Castle in the Sky, Miyazaki kerap membuat film-film yang simple dengan berfokus pada menikmati momen, bukan pada cerita. Mulai dari My Neighbor Totoro, Kiki’s Delvery Service, dan Porco Rosso, semuanya menolak ribet which is bagus dan menunjukan pada dunia bahwa membuat film bagus tidak harus rumit dan bertitik berat pada cerita mengupas segala tanya. Namun Miyazaki juga punya ambisi untuk membuat film yang kompleks bertitik berat pada cerita dan isu yang besar, yang menuntunnya pada keberhasilannya menciptakan Princess Mononoke. Princess Mononoke sebenarnya ide lama Miyazaki yang baru bisa direalisasikan 20 tahun kemudian. Namun meski ide lama, tema film ini sebenarnya sudah direalisasikan melalui film Nausicaa of The Valley of the Wind. Meski begitu tidak ada pernyataan resmi bahwa Nausicaa dan Princess Mononoke berasal dari ide yang sama. Tapi Miyazaki pernah berkata bahwa Princess Mononoke merupakan perbaikan dari ending Nasuciaa. Jadi, berdasarkan statement itu, saya menganggap Princess Mononoke adalah upgrade dan Nasuciaa.

princess-mononoke.jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] How To Train Your Dragon: The Hidden World (2019): Trilogi Dreamworks Paling Solid

Bicara soal film animasi Hollywood, track record untuk sebuah sekuel benar-benar buruk. Studio besar macam Walt Disney dan Pixar saja selalu kerepotan dengan sekuel yang lebih sering menerima kritik tak memuaskan, meski selalu menjanjikan secara komersial. Tapi studio besar lainnya, Dreamworks, termasuk yang paling hobi membuat… yang jangan kan sekuel, kalau menguntungkan ya sekalian saja buat waralabanya. Saya memang lebih suka Pixar ketimbang Dreamworks. Dreamworks punya kuantitas film yang jauh lebih banyak dari Pixar, meski data rasio dengan kualitasnya kalah telak. Bicara film original, Pixar adalah jagoan saya, tapi kalau bicara sekuel ternyata Dreamworks punya jumlah film yang lebih banyak suksesnya. Disaat Pixar baru punya Toy Story dan Incredible sebagai franchise yang solid, Dreamworks sudah punya Kung Fu Panda, Shrek, dan terbaru kini menjadi andalannya, How To Train Your Dragon.

960x410_daf787ee126f2a0253682fd1a67f9c61.jpg

Read the rest of this entry

[Review J-Movie] Porco Rosso (1992): Si Babi yang Suka Terbang, Hayao Miyazaki Juga Suka Terbang

Film ke 7 Ghibli, film ke 5 Hayao Miyazaki yang saya konsumsi. Film ini semakin membutktikan akan obsesi Hayao Miyazaki pada angin, atau lebih spesifiknya pada segala hal yang terbang. Setelah Nasuciaa yang bisa terbang dengan teknologi anehnya, lalu ada kastil yang terbang, Totoro juga bisa terbang, dan Kiki terbang dengan sapu terbangnya, kini muncul si Pilot Babi. Yup, sekali lagi pula Miyazaki memberikan salah satu imajinasi absurdnya.

maxresdefault (4).jpg

Read the rest of this entry

[Review J-Movie] Castle in the Sky (1986): Straightforward Fun Adventure

Well, ternyata film Nasuciaa yang pertama saya tonton ternyata bukan film keluaran Ghibli. Tapi karena orang dibaliknya adalah orang-orang Ghibli hingga akhirnya meresmikan nama Ghibli, jadi katanya masih dianggap Ghibli, dan masuk koleksinya. Castle in the Sky adalah film ke 2 Ghibli yang saya tonton sesuai kronologi tahun. Tapi secara official ini adalah film pertama Ghibli. Ada tips yang mengatakan sulitnya menilai film Ghibli tergantung dari tontonan pertamamu. Kalau sudah menonton yang masterpiece, akan terasa sangat bias menonton film selanjutnya. Saya mencoba menghindari itu, makanya saya coba menonton secara kronologi tahun rilis yang diawali Nasuciaa. Meski begitu tetap saja, film kedua yang saya tonton ternyata sulit sekali menghindari bias, ada perbandingan pada film pertama yang saya tonton, dan itu membuat saya jadi tidak begitu terkesan dengan Castle in the Sky. Saya paham, katanya film-film Ghibli merupakan film yang sulit diurutkan, masing-masing punua urutan film favorit yang berbeda, banyak yang menempatkan Nasuciaa diatas, tapi banyak pula yang menempatkan Castle in the Sky diatasnya, jadi saya mengakui bisa jadi pemisahnya sudah bukan soal teknis lagi, tapi sudah mentok ke masalah selera. Saya memang tidak mau berlindung dibalik jubah selera, tapi tidak memungkiri bahwa ada faktir tersebut yang mempengaruhi sudut pandang. Oleh karena itu, saya mencoba untuk menjelaskan opini saya sebaik-baiknya.

maxresdefault (3).jpg

Read the rest of this entry

[Review J-Movie] Nausicaa of the Valley of the Wind (1984): Film Anime Rasa Anime Series Saga

Akhirnya saya memutuskan untuk mencicipi film-film Ghibli. Duh.. marathon Suzzanna belum kelar, marathon Godzilla Cuma seuprit juga, nambah lagi PR baru. Ya gimana, sudah gatal mencicipi salah satu studio yang di klaim belum pernah bikin film jelek. Jadi saya memutuskan mengikuti Ghibli sesuai kronologi filmnya, yaitu film pertama yang rilis pada 1984, wow tua juga, Nausicaa of The Valley of the Wind.

16265_4.jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Ralph Breaks The Internet: Wreck It Ralph 2 (2018): Kenapa Cuma Ralph yang Disalahkan? -SPOILER ALLERT-

Pada 2010-an Walt Disney Studio Animation bisa  dibilang yang paling unggul dibanding Pixar dan Dreamworks. Setelah 2000-an film-film Pixar selalu dianggap masterpiece, di dekade selanjutnya Pixar begitu inkonsisten yang terlalu bergantung dengan proyek sekuel sementara film originalnya seperti kehilangan magis. Dari 10 film terakhir yang dirilis, 4 diantaranya film original dengan hanya Inside Out dan Coco yang mendapat nilai kritik yang memuaskan, sementara 6 proyek sekuelnya hanya berhasil di Incredibles 2 dan Toy Story 3. Dreamworks entah bisa disimpulkan lebih baik atau tidak, seperti biasa rilisannya selalu ngebut dan padat, total sejak 2010 sudah mengeluarkan 17 film, banyak film yang forgetable, tapi setidaknya menghasilkan masterpiece sepeti  How To Train Your Dragon yang jadi seri terbaiknya, disusul Kung Fu Panda seri yang masih bisa dianggap sukses, Shrek 2 masih menakjubkan (setelahnya, menyebalkan), Megamind secara personal saya anggap masterpiece, sisanya masih debatable, at least Dreamworks punya 6 film yang yang menyenangkan, yang lain banyak pula yang menyenangkan, tapi Dreamworks memang menekankan keseruan sebagai after taste ketimbang substansi, bukan begitu? Sementara Walt Disney? Semenjak 2010 sudah 8 film dirilis dan 6 diantaranya adalah kesuksesan besar, mulai dari series princessnya yaitu Tangled, Frozen, dan Moana, lalu ditambah film original macam Wreck It Ralph, Big Hero 6, dan Zootopia. 2 lagi adalah Winnie The Pooh yang kebetulan saya belum tonton, dan satunya adalah Ralph Breaks The Internet ini, Untuk Ralph, itu memang karena saya tak begitu menyukainya, why?

ralph-breaks-the-internet-wreck-it-ralph-2-slice-600x200.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 (2018): Mencari Makna Filosofi Pendekar

Sangat mudah menaruh ekspektasi tinggi pada film ini. Mulai dari reputasi PH LifeLike Pictures (Banda, Tabula Rasa, Modus Anomali, Pintu Terlarang), keterlibatan 20th Century Fox sebagai distributor, sederet aktor papan atas, nama Wiro Sableng sendiri yang sudah melegenda, hingga nama Angga Dwimas Sasongko (Filosofi Kopi, Cahaya dari Timur, Surat dari Praha, Hari Untuk Amanda, Bukaan 8) sebagai sutaradara yang memiliki track record belum penah bikin film jelek. Semua komposisi menarik ini dilengkapi kemampuan pemasaran yang sudah berkelas mulai dari pamer concept art, wardrobe, hingga numpang nama Deadpool. Jadi jangan salahkan kalau saya punya ekspektasi luar biasa untuk film Indonesia yang paling saya antisipasi di tahun ini.

Film-Wiro-Sableng_007.jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] The Good Dinosaur (2015): Pertama Kalinya Tidak Terbius Keajaiban World Building Pixar

World Building Pixar itu unik. Bagi saya keunikannya Pixar adalah bisa menyeimbangkan aplikasi sifat kemanusiaan yang tidak berlebihan sehingga membuat objek originalnya tetap terasa tidak melampaui kodratnya sehingga mudah membuat penontonnya percaya akan universe yang ada. Misalnya, dalam Toy Story, para mainan tidak memiliki peran sosial melainkan hanya sebagai mainan yang ingin dimainkan sesuai kodratnya, di Monster, Inc tugas monster sesuai kodratnya untuk menakuti, di Cars para mobil meski punya peran sosial tapi fungsi mereka sesuai kegunaan jenis mobil yang bersangkutan mulai dari membalap, menderek, hingga berpatroli, kemudian di Finding Nemo para ikan sesuai tugasnya dimana Ubur-Ubur tetap menyengat, Penyu tetap bermigrasi, Hiu tetap rantai makanan atas yang terpicu karena darah, tidak seperti film animasi ikan buatan Dreamworks dimana dalam dunia laut itu ada mafia, ada bandar judi, ada bengkel layaknya dunia manusia. Bagi saya hal itulah yang membedakan Pixar dengan animasi lain, khususnya Dreamworks. Beberapa film Pixar yang membuat objeknya terlalu melampaui sifat kemanusiaannya tak pernah berhasil mendapatkan pengakuan masterpiece seperti misalnya A Bugs Life yang para semutnya kurang semut, atau Cars 2 yang para mobilnya terlalu liar menjadi manusia, lalu kemudian The Good Dinosaur mau berkonsep seperti ini? Ya beginilah hasilnya.

r_thegooddinosaur_header_bcfd18b3

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Up (2009): Bersedih-Sedih Dahulu, Bertawa-Tawa Kemudian

Setelah The Incredibles, Pixar kembali membuat film dengan bentuk manusia lagi. Begitu pula dengan The Incredibles dengan latar superheronya, meski menggunakan manusia, Pixar masih punya cara untuk memperlihatkan magicnya. Tokoh utama berupa kakek tua yang akan ditemani bocah cilik bagi saya sudah jadi ide yang cukup segar, belum lagi balon terbang? Unik juga karena kali ini mereka benar-benar manusia biasa, jadi keajaiban macam apa yang film ini tawarkan?

open-uri20160811-32147-1ie24w2_bfb77429.jpeg

Read the rest of this entry