Blog Archives

[Review Indo-Movie] Suzzana: Bernapas Dalam Kubur (2018): Penyempurna Horor Lokal 80-an


Tahun 2018 menjadi tahun yang menyenangkan buat perkembangan horror Indonesia. Genre horror makin banyak, sebulan bisa sampai 4 film rilis bahkan bisa lebih. Memang masih banyak yang asal bikin, tapi yang juga turut bersaing adu inovasipun makin banyak, masih banyak yang berusaha serius menggarap film horror. Bagi saya pribadi, yang menyenangkan dari film horror tahun ini adalah akan banyaknya variasi konsep yang ditawarkan, mulai dari horror slow-burn dengan cita rasa local kuat seperti Kafir, horror-demonic¬ dengan kemasan gore seperti Sebelum Iblis Menjemput, horror-adventure fun seperti Kuntilanak, horror creature seperti The Returning, horror one room dengan penekanan di psikologi di Jaga Pocong, horror zombie comedy seperti Reuni Z, meski tidak semuanya sukses tapi saya melihat ada perubahan respon dalam menanggapi suatu trend, bukan lagi latahan mengikuti formula kesuksesan, tapi justru berlomba-lomba menawarkan inovasi. Lalu Suzzanna Bernapas Dalam Kubur yang awalnya saya underestimate bakalan reborn penghasil uang semata dengan eksekusi tipikal, ternyata justru memberi varian film horror kesekian di tahun ini. Suzzanna memberi kita sentuhan nostalgia akan bagaimana film horror local era 80-an yang dikombinasikan dengan teknik sinema modern.

Read the rest of this entry
Advertisements

[Review Indo-Movie] The Returning (2018): Jenis Horor Baru di Indonesia Dengan Sentuhan Kehangatan Keluarga

Indonesia mengalami banyak sekali fase “kebangkitan”  dalam genre Horor, tapi semangat kebangkitan itu selalu diikuti dengan kemonotonan. Beranak Dalam Kubur (1971), Sundel Bolong (1981), Jelangkung (2001), dan terakhir Pengabdi Setan (2017) merupakan film-film pembangkit yang memicu suatu era. Wawasan saya sangat kurang di 70-an, tapi Sundel Bolong dan Jelangkung membawa petaka kemonotonan dimana untuk seterusnya, dengan budaya latahan Indonesia, pada akhirnya formula yang dipakai itu-itu saja. Ditengah kemerosotan era Jelangkung, penonton sempat pesimis yang entah bagaimana horror berujung jadi hiburan erotis yang tak substansial, tapi kejenuhan utama itu lebih ke parade jumpscare malas dengan modal suara music keras mengagetkan, era sekarang penonton dibuat percaya lagi dengan Pengabdi Setan. Sempat khawatir Horor Indonesia akan mengalami kemonotonan lagi pasca Pengabdi Setan, dalam 2 tahun ini saya justru terkejut karena mendapat banyak sekali variasi seolah-olah filmmaker juga sedang adu kreativitas. Mereka yang Tak Terlihat, The Doll 2, Kafir, Sebelum Iblis Menjemput, hingga Jaga Pocong, merupakan film-film yang membawa sesuatu yang unik. Kini, kemunculan The Returning menambah variasi film horror yang banyak saat ini namun tak lagi terjun dalam era kemonotonan.

Screenshot_2

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Jaga Pocong (2018): Konsep yang Menarik

Saya tiba-tiba mengantisispasi film ini dan begitu tertarik. Alasannya ada pada trailer dimana trailer itu berhasil memberikan informasi premis yang sangat menarik buat saya. Suster Milla disuruh untuk menjaga mayat alias pocong di sebuah rumah semalaman. Premis yang sederhana, dan kebetulan saya suka ide-ide yang sangat sederhana berlatar satu tempat seperti ini seperti Buried, 12 Angry Men, hingga The Raid. Dari premis ini, menarik bagaimana saya punya ekspektasi mendapatkan horror dengan sentuhan nuansa depresif yang menyiksa psikologi, karena rasa paranoid ngejaga pocong.

sinopsis-film-jaga-pocong-menguak-teror-1209cf.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] The Night Comes For Us (2018): Tahunnya Timo Tjahjanto

Salah satu film yang saya antisispasi di tahun ini akhirnya keluar. Sudah menantikan film ini sejak lama, apalagi dengan deretan bintangnya yang los galacticos dan sutradara yang juga saya kagumi, film ini amat sangat pantas dinanti. Dan akhirnya film yang saya antisipasi dengan ekspektasi lumayan tinggi ini sukses memuaskan saya. Indonesia kembali membuat film aksi yang selevel dengan The Raid. Bagi saya, dua film The Raid saat ini masih akan mapan sebagai yang terbaik, jangan kan disaingi, mendekati saja susah. Beberapa film aksi yang hadir cukup memuaskan meski akhirnya belum sememorable The Raid, mulai dari Juara yang punya drama menyenangkan, 3 Alif Lam Mim yang punya cerita konspirasi yang cukup asik, tapi masih belum ada sisi aksinya yang berhasil menyamai keasikan The Raid, bahkan Headshot sekalipun buatan Mo Brothers. Saya termasuk yang agak kecewa dengan Headshot meski saya juga mengapresiasi banyak aspeknya, tapi jelas di film ini Timo belajar banyak untuk kemudian membuat TNCFU yang akhirnya bisa menjadi pesaing serius The Raid. Yup, TNCFU bisa jadi debatable untuk memilih mana film aksi Indonesia terbaik, sekarang sudah jadi 3 besar yang akan sulit digeser.

image001.png

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Asih (2018): Danur Universe Semakin Berbenah

Disaat kebangkitan film Horor yang kesekian ini, muncul dua franchise yang mencuat, Danur dan The Doll -mungkin bisa disebut tiga, tapi entah franchise Kuntilanak kemarin diseriusi atau tidak untuk meluaskan duni trilogy Kuntilanak. Untuk Danur dan The Doll, keduanya punya titik balik yang berbeda, jika The Doll diawali sebagai underated, Danur justru dilabeli overated. The Doll pertama masih penuh hawa pesimistis, dan dengan ekspektasi serendahnya, filmnya justru lumayan. Tapi yang paling memukau tentu The Doll 2, pada akhirnya seri ini sudah menetapkan pilihan, tidak berbakat di bidang horror, The Doll masih punya daya jual yang ampuh melalui aspek Thriller dan Slashernya, The Doll bukan lumayan lagi, tapi sudah dianggap sebagai Cult trersendiri. Sementara Danur justru  punya nama yang terlelau besar jika dibandingkan kualitasnya, memanfaatkan kekuatan pemasaran dengan nama Risa itu sendiri, kisah-kisahnya, Prilly, hingga Shareefa, belum lagi sutradara Awi Suryadi, ekspektasi tinggi tersebut malah terjun bebas ketika akhirnbya Cuma disuguhi Horor generic yang masih punya banyak aspek yang lemah. Menariknya, di tahun ini setelah masing-masing seri sudah mencapai film ke tiganya dengan sama-sama mengusung spin-of,  status kedua seri ini justri berbalik di mata saya. The Doll melalui Sabrina justru tidak memiliki hal lain untuk ditawarkan, masih menggunakan formula yang sama, tidak ada perkembangan, stagnan, dan tampak Cuma pemerah duit saja. Sementara Danur melalui Asih, mungkin karena hasil kritik Danur pertama yang jeblok, Awi Suryadi merasa bertanggung jawab untuk memperbaiki diri, hasilnya sejak film pertama, film-film selanjutnya mulai tampak membaik meski belum sempurna dimana di Danur 2, Cuma bermasalah di 3rd act, sementara Asih secara mengejutkan menggunakan pendekatan yang berbeda dari 2 film sebelumnya. Bisa dikatakan Asih mungkin menjadi film yang sesuai diinginkan Awi dibanding Danur yang mungkin ada tekanan dari PH untuk dibuat generik.

w580.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Aruna dan Lidahnya (2018): Membuat Film Layaknya Makanan

Semenjak kemunculan film Posesif tahun lalu, saya sudah mengawasi sutradaranya, Edwin, dan PH nya, Palari Films untuk karya-karya selanjutnya. Dan inilah dia, film kedua mereka, Aruna dan Lidahnya, sebuah film yang akan menyajikan gambar-gambar makanan jalanan. Smenejak trailernya, saya sudah tertarik, kebetulan setahunan terakhir ini saya memang lagi suka mencicip kuliner jalanan Indonesia. Semenjak tahu kalau Aruna dan Lidahnya ini adaptasi novel, saya berusaha untuk mencari novelnya dulu sebelum menonton filmnya. Sayang, saya dapatnya justru berbarengan dengan saat menonton film ini. Biasanya saya tidak perna bisa membeli novel yang sudah tertonton dulu filmnya, tapi untuk kali ini beda karena kebetulan memang saya penasaran bagaimana novel menempatkan makanan dalam penceritaannya. Begitu halnya dalam film, bagaimana bisa membuat makanan bercerita, itu PRnya. Kalau mau pamer visual makanan, saya yakin film ini bisa membuat mata menstimulus selera makan baik ke lidah maupun perut, tapi bagaimana dengan aspek storytelling nya?

ARUNADANLIDAHNYA_STILL_06_58_20180810132830DcNMv1.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 (2018): Mencari Makna Filosofi Pendekar

Sangat mudah menaruh ekspektasi tinggi pada film ini. Mulai dari reputasi PH LifeLike Pictures (Banda, Tabula Rasa, Modus Anomali, Pintu Terlarang), keterlibatan 20th Century Fox sebagai distributor, sederet aktor papan atas, nama Wiro Sableng sendiri yang sudah melegenda, hingga nama Angga Dwimas Sasongko (Filosofi Kopi, Cahaya dari Timur, Surat dari Praha, Hari Untuk Amanda, Bukaan 8) sebagai sutaradara yang memiliki track record belum penah bikin film jelek. Semua komposisi menarik ini dilengkapi kemampuan pemasaran yang sudah berkelas mulai dari pamer concept art, wardrobe, hingga numpang nama Deadpool. Jadi jangan salahkan kalau saya punya ekspektasi luar biasa untuk film Indonesia yang paling saya antisipasi di tahun ini.

Film-Wiro-Sableng_007.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Sebelum Iblis Menjemput (2018): Menjaga Kepercayaan

Genre Horror di perfilman Indonesia sedang memasuki fase baru semenjak kesuksesan Pengabdi Setan. Secara pemasukan gila-gilaannya, film horror berpenonton satu juta lebih sudah mulai berlaku semenjak 2017 mulai dari Danur, The Doll 2, Jailangkung, hingga puncaknya Pengabdi Setan, dimana hal ini menandakan bahwa genre Horror sudah mendapatkan kembali kepercayaan penontonnya setelah sebelumnya dilukai akan kehadiran film horror esek-esek tanpa substansi di era sebelumnya. Dan sesuai prediksi saya, fenomena 2017 itu membuat 2018 lebih gila lagi. Hingga saat ini sudah ada 5 film yang memasuki klub 1 juta lebih dan secara kuantitas produksi dalam satu bulan bisa mencapai 3 film horor rilis. Sayangnya ada kegelisahan dari saya akan keseimbangan antara kuantitas dengan kualitas. Semenjak Pengabdi Setan, horror yang ada masihlah generik di zona nyamannya. Untungnya kepercayaan  yang muncul masih dijaga melalui 2 film horror yang rilis tahun ini, yaitu Kafir dan Sebelum Iblis Menjemput.

Sebelum-Iblis-Menjemput.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Kafir: Bersekutu Dengan Setan (2018): Ketika Makan dan Batuk Jadi Menakutkan

Film Kafir (2002) yang dibintangi Sujiwo Tejo memang bukanlah film yang baik secara estetika, tapi ada beberapa bagian dari film itu yang membuat saya terkesan dan terngiang-ngiang hingga sekarang. Gilanya Sujiwo Tejo dan bagian telur peletus perut orang adalah yang paling saya ingat. Oleh karena itu ketika mendengar Kafir dibuat lagi, saya sendiri menyambut positif karena memang film ini secara keseluruhan banyak kekurangan, tapi memang film itu punya potensi. Ini sekaligus menjadi perwujudan dari keresahan saya sendiri dimana remake ataupun segala hal film yang berhubungan dengan film yang sebelumnya yang ada selalu melibatkan film yang sukses secara komersil saja, padahal banyak filmIndonesia yang punya konsep keren tapi eksekusinya tidak sesuai harapan, dan Kafir adalah salah satunya. Tapi ini memang bukan film remake, Upi selaku penulis lebih memilih membuat ulang film Kafir yang sangat berbeda tapi menggunakan tema dan ide yang sama. Mendenger trivia pra produksinya, saya benar-benar suka karena seolah menjawab segala keresahan saya, dan apa yang dilakukan Upi selaku penulis sudah bertindak dengan benar dengan menjaga segala nilai jualnya untuk kemudian dimaksimalkan kedalam konsep yang baru. Bagaimana hasilnya?

maxresdefault (1).jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Sabrina (2018): Formula Mulai Usang

Beneran nanya, masih ada yang menganggap film horror Indonesia masih mengandalkan paha-dada wanita? Sudahlah kubur baik-baik masa kelam itu. Banyak loh statement itu dipake di beberapa kolom komentar soal film. Ayolah, jangan jadikan statement itu patokan untuk film-film horror sekarang. Setelah kemunculan Pengabdi Setan, saya memang memprediksi akan adanya lagi gelombang besar untuk genre horror Indonesia. 2017 Sendiri ada banyak film horror dan memunculkan banyak judul dengan penononton bombastis. Dan benar saja, 2017 belumlah puncak, 2018 lebih gila lagi karena ada banyak sekali judul horror yang rilis tiap bulannya. Masalahnya, apakah kuantitas yang gila ini sudah dibarengi dengan kualitas? Masih kah tolak ukur film horror Indonesia berupa kalimat “yang penting bukan film horror esek-esek lagi”. Bukankah sudah seharusnya kita menaikan standar?

Screen-Shot-2018-05-11-at-11.08.12-640x313.png

Read the rest of this entry