Monthly Archives: September 2017

[Review Komik] Revolusi Maza – Prince Of Dream : PR BumiLangit Membangun Konsep Dunia Supranaturalnya

Mohon maaf saja, untuk karakter-karakter superhero Indonesia, khususnya yang berkekuatan super. Secara pandangan subyektif, saya merasa lebih menyukai karakter yang asal usul kekuatannya berasal dari kekuatan mistis, ketimbang yang asal usul kekuatannya berasal dari planet tertentu, untuk kecelakaan eksperiment science masih ok lah. Alasannya, saya merasa kultur urban legend Indonesia yang begitu kaya, rasanya alangkah lebih baiknya jika dimanfaatkan untuk berbagai bahan cerita, bukan Cuma cerita horror, bahkan untuk gerne superhero sekalipun. Mitologi supranatural di Indonesia ini begitu kaya dan masih amat sangat sesuai dan diterima sebagai suatu bahan cerita. Dan setahu saya, aspek ini sudah dimanfaatkan oleh beberapa karakter komik pendekar Indonesia dan berhasil digemari. Beberapa yang saya tahu nama besarnya adalah Si Buta dari Gua Hantu, Panji Tengkorak, hingga Wiro Sableng pun rasanya dalam ilmu-ilmunya masih lah berkaitan dengan mitologi supranatural Indonesia. BumiLangit pun punya karakter-karakter lain yang mempunyai ruang lingkup mitologi supranatural selain Si Buta. Melalui proyek barunya berjudul Revolusi, di kloter pertamanya BumiLangit memunculkan 3 tokoh yang berasal dari luang lingkup mitologi supranatural, yaitu Si Buta, Sri Asih dan Maza. Dan dari ketiga karakter itu, sejujurnya meski saya tahu nama besar Si Buta dan Sri Asih, tapi secara aspek supranatural, Maza adalah karakter yang kental unsur supranaturalnya dan bagi saya ini menarik. Ok, saya memang kurang tahu sebelumnya bagaimana Maza, saya hanya menyimpulkan dari komik ini dimana sepertinya Maza adalah karakter yang memanfaatkan jin pelindungnya untuk memerangi kejahatan, benar begitu ? CMIIW. Kalau benar, wow konsepnya keren ini.

 

18486173_1290024551046280_5428391669477260799_n

Read the rest of this entry

Advertisements

[Review British Series] Sherlock Season 1 (2010) : The Science of Deduction is Awesome

Saya tahu saya telat menonton serial luar biasa ini. Mohon maaf saja, sebesar-besarnya nama Sherlock Holmes menggaung masih belum cukup jadi alasan utama untuk menonton serial ini. Alasannya, saya tidak begitu menyukai cerita detektif. Malah sebelumnya saya pernah mencobanya beberapa tahun silam, tapi berkali-kali saya mencoba menonton, berkali-kali pula saya ketiduran. Hingga pada akhirnya pada suatu hari, tanpa saya sadari, adik-adik saya sudah mengetahui serial Sherlock dan beberapa kali kedapatan sedang menontonnya, dan akhirnya saya pun beberapa kali secara sekilas ikutan nimbrung. Hasilnya , shit !!! Karakter Sherlock ini kok keren banget ya. Seoarang introvert sociopath dengan kemampuan analisa deduktif, paket lengkap dengan arogannya membuat karakternya begitu mempesona dan memicu keinginan saya untuk menontonnya dari awal.

Sherlock-Season-1-480p-HDTV-300MB-All-Episodes

Read the rest of this entry

[Review Indo-Seri] Dunia Tanpa Koma 2006 : Sebuah Niat Baik Membenahi Petelevisian Nasional

Jadi gini, beberapa tahun lalu saya baru tahu bahwa Indonesia pernah begitu niat dalam membuat serial televisi. Dan karena akhir-akhir ini saya lagi pengen banget banyakin review sinetron-sinetron Indonesia, khususnya mereview sinetron Indonesia yang pantas diingat dan diapresiasi untuk dikenang sepanjang masa. Saya yakin sinetron Indonesia tidak semuanya sampah. Maka dari itu akhir-akhir ini saya mau menonton ulang apa yang pernah saya tonon yang menurut saya bagus, entah itu bermotif nostalgia semata atau dari omongan orang-orang, dan salah satu yang hasil dari omongan orang-orang adalah sinetron ini, Dunia Tanpa Koma.

dtk

Read the rest of this entry

[Review Komik] Revolusi Si Buta dari Gua Hantu – Mata Malaikat : Kompleksitas Origin Yang Menarik, Bukti Sebuah Legenda

Entah bagaimana asal usulnya saya bisa berkesempatan mengetahui komik ini dan akhirnya mengetahui mengenai Bumi Langit dengan karakter-karakter superhero lainnya, entah karena share dari teman facebook atau karena berpetualang di berbagai forum grup diskusi facebook soal superhero, tapi yang jelas saya merasa sangat beruntung. Saya adalah generasi yang mendengar kabar kehebatan legenda cerita si Buta tanpa mendapatkan pengalaman menikmati kisahnya sama sekali, tidak komiknya, ridak sinetronnya, dan tidak pula filmnya, hanya nama besarnya. Jadi, alangkah girangnya ketika saya mengetahui ada komik si Buta dimana publishernya dengan bermurah hati mau membagikan karya luar biasa ini melalui facebook, dan tentu saya sangat berterima kasih karena memberikan kesempatan untuk saya agar mudah mengaksesnya.

20292997_1357433457638722_325667225176382540_n

Read the rest of this entry

[Review Anime] ReLIFE 2016 : Belajar Dari Energi Anak SMA

Jujur saja saya merasa akhir-akhir ini saya sedang menjauh dari anime. Saat ini yang saya tunggu tiap minggunya hanyalah anime shonen yang merupakan anime episode panjang macam One Piece, Dragon Ball Super, dan Boruto sementara lainnya adalah anime sekuel dari Boku No Hero Academia, hanya itu. Dari segala kepungan tonotonan anime action itu, ada satu hal yang saya rindukan, anime drama sekolah dengan kandungan slice of life nya. Saya sudah mencoba mencarinya, tapi selalu tidak sesuai ekspektasi. Merasa muak dengan segala kemasan fan servicenya, entah itu nantinya akan ada karakter loli lah, karakter cowok gemulai manis lengkap dengan kemasan bling-blingnya, hingga karakter cewek sekolah seksi yang tak manusiawi “gede”nya. Terakhir rasanya yang layak saya konsumsi hanyalah anime Seiren yang cukup menyegarkan art worknya, tapi sayang ini omnibus, kurang puas. Jadi alangkah saya senang rasanya saat saya menuemukan anime ReLIFE, terlebih ketika saya melihat art work dan sinopsisnya, langsung yakin saya menemukan apa yang dicari, sebuah anime drama sekolah dengan kandungan slice of life dan sedikit bumbu romansa.

C8_Y4_SNu_Uw_AEJTJ9

Read the rest of this entry

[Review J-Dorama] 1 Litre Of Tears 2005 : Buku Harian Aya

Sejujurnya saya menonton dorama ini dengan tujuan yang agak jahat, yakni sebagai pembanding sebelum menonton ulang sinetron Buku Harian Nayla. Mungkin masih banyak yang ingat bahwa pada akhir tahun 2006, ada sebuah sinetron yang tengah booming untuk menyambut natal saat itu, dan pada saat itu, jujur saya mengikutinya dan dalam kenangan, saya merasa kualitasnya bagus. Tapi sayang, alangkah patah hatinya saya saat mengetahui desas desus plagiasi di sinetron ini. Ok, stop sejenak membahas Buku Harian Nayla, karena saya akan membahas soal sumber utama adaptasi eh apa plagiasi ? pokoknya itulah, dorama Jepang berjudul, Buku Harian Aya, eh salah, maksudnya 1 Litre Of Tears. Mumpung saya lagi seneng nulis review serial-serial Indonesia, dan tertarik sama sinetron Buku Hraian Nayla yang nanti pengen di tonton ulang buat di tulis reviewnya, maka saya akan menonton versi originalnya dulu untuk dijadikan pembanding, jahat kan saya ?

 

me1bb99t-lc3adt-nc6b0e1bb9bc-me1baaft

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Gerbang Neraka 2017 : Akhirnya, Rizal Mantovani Bikin Film Keren Lagi

Apa interpretasi saya soal Rizal Mantovani ? Beliau menurut saya adalah sutradara yang mampu mencetuskan ide dengan sebuah konsep yang menarik. Meskipun dia sempat ikut terperosok dalam trend Horor esek-esek (Masih sebal dengan film Jenglot, padahal udah bertahun-tahun) tapi sosok Rizal yang fenomenal dengan Jelangkung dan Kuntilanaknya itu tetap terpotret dalam kesan sebagai sutradara yang punya konsep cerita yang menarik. Film horornya memang tidak selalu bagus, tapi ide ceritanya dengan bagaimana dia mengutak atik origin Kuntilanak, inti makna dalam film Wewe, bahkan untuk film yang tidak begitu bagusnya pun menarik jika dilihat konsepnya untuk film Demona, Mati Suri dan Jailangkung. Permasalahan Rizal Mantovani ada pada eksekusi. Sering menggunakan template dramatisasi yang  klise di film-film pop, Rizal sebenarnya terlihat lebih bersenang-senang di film Horor, meskipun tetap naskahnya belum ada yang sempurna, entah itu nanti soal formula jumpscare yang mulai usang, kesalahan pace, hingga yang sering ada pada terabaikannya beberapa logika dasar. Maka dari itu, ketika saya melihat trailer ini dan bahkan semenjak keluar di tahun lalu, meskipun antusias, saya punya kewasapadaan ekspektasi mengetahui sutaradarnya Rizal Mantovani. Saya yakin akan mendapatkan konsep menarik, tapi saya mewanti-wanti akan masalah eksekusinya, apalagi masalah film CGI untuk sebuah genre yang unik di perfilman Indonesia, Horor Adventure Thriller. Namun, melihat penundaan penayangan sampai mundur satu tahun, saya melihat ada keseriusan dalam penggarapan film ini, sebuah film abisius yang terbilang hati-hati dalam treatmentnya, dan ini jarang di Indonesia, dan hasilnya, sangat memuaskan, penundaan 1 tahun itu terbayarkan.

firegate_showcase-banner

Read the rest of this entry

[Review Komik] Revolusi Aquanus – Penguasa Lautan Seri 1 : Revolusi Ala Tokusatsu

Gebrakan baru Bumi Langit dengan membuat kisah baru para karakter superheronya melalui gerakan Revolusinya di kloter pertama merangkul beberapa karakter saja. Diantaranya Si Buta Dari Goa Hantu, Maza, Sri Asih, dan Aquanus, sementara komik Prahara bukan merupakan bagian dari proyek Revolusi. Dari semua proyek Revolusi, hanya Si Buta Dari Goa Hantu yang merupakan penceritaan kembali, sementara sisanya adalah regenerasi dari pendahulunya dengan memperkenalkan karakter baru yang akan mewarisi kekuatan pendahulunya. Dari ketiga karalter tersisa, sejujurnya hanya Aquanus yang paling tidak antusias untuk saya ikuti. Alasannya adalah karena originnya. Saya sempat mengulik informasi dari asal usul siapa itu Aquanus, begitupun karakterlainnya. Hasilnya, dari semua karakter superhero Bumi Langit, saya menyukai konsep superhero yang mendapatkan kekuatannya dari hal-hal mistis, entah rasanya lebih sesuai saja dengan suasana Indonesia, contohnya Si Buta, Sri Asih, dan Maza. Sementara karakter seperti Aquanus, Godam, Gundala dan semacamnya, yang asal kekuatannya dari kaum tertentu dan biasanya dari planet antah berantah, konsepnya rasanya terlalu absurd (yeah i know di luar, konsep ini sudah sangat umum). Jadi ya Aquanus adalah karakter paling akhir yang saya minati di angkatan pertama ini. Tapi, siapa sangka disaat Sri Asih dan Maza tidak memenuhi ekspektasi saya, Aquanus justru jauh melebih ekspektasi dan menjadi cerita paling menarik setelah Si Buta.

20663783_1370440313004703_7022987212308043471_n

Read the rest of this entry

[Review Indo Movie] Negeri Dongeng 2017 : Film Patungan dan Hasil Kolaborasi 7 Filmaker Dengan 7 Gunung Indonesia

Berbicara soal gunung dan film di Indonesia, rasanya tidak ada yang bisa menyangkal bahwa kehadiran film 5 cm adalah fenomena tersendiri. 5 cm itu sebuah fenomena dilematis, sebuah film yang mampu membuat naik gunung menjadi sebuah budaya popular namun juga menjadi elemen penting rusaknya budaya naik gunung, khususnya etika. Semenjak 2012, tahun saat film ini rilis, statistic jumlah para pendaki gunung meledak pesat. Berbekal film entertain yang tidak menyelipkan etika naik gunung dengan segala aturannya, para masayarakat latah berbekal ilmu seadanya dari film ini akhirnya masuk ke dalam korban budaya popular ini dan akhirnya menciptakan masalah baru yang berbanding lurus dengan membludaknya jumlah pendaki, yaitu membludaknya sampah dan rusaknya lingkungan yang merupakan efek perilaku hedon para pendakinya.  Tanpa berkesan munafik, saya mengakui bahwa saya sendiri adalah hasil dari budaya popular yang latah karena menonton 5 cm (saya memang sudah kepikiran mau naik gunung sejak baca novelnya, tapi memutuskan harus naik setelah nonton filmnya). Perilaku naik gunung saya di awal-awal mengenal gunung sejatinya cukup memalukan, tapi makin kesini saya semakin sadar, semakin saya mengenali alam, semakin saya merasa bodoh akan perilaku saya dimasa lalu dan sekaligus mengutuk sisi lain dari film 5 cm, goblok itu adegan berenang di Ranu Kumbolo. Tapi, jika dipikir lagi, saya harus bersyukur juga bisa jadi lebih mengenal alam karena dipicu oleh film itu, setidaknya dari pendakian satu ke pendakian lainnya saya mengalami banyak pembelajaran yang membuat saya membuka pikiran lebih luas lagi (meskipun masih merasa belum cukup dan alakadarnya), dan beruntung saya mengalami itu, tapi bagiamana dengan mereka yang tidak mampu mendapatkan pembelajaran ? Jadi, minggu lalu, ditengah puncak kerinduan saya untuk naik gunung lagi (dihambat oleh Skripsi yang minta di prioritaskan), saya yang serba beruntung karena nge-follow instagramnya Medina Kamil yang berujung menuju mengetahui adanya proyek film documenter yang dibuat secara independent mengenai niat 7 filmaker mendaki dan membuat film mengenai 7 gunung Indonesia ini, secara mengejutkan sudah mengumumkan bahwa filmnya sudah bisa diputar di bioskop, meski masih secara terbatas, itupun harus reservasi, sekali lagi, beruntung dapat tiket, ya intinya saya beruntung bisa mengetahui proyek ini dan sangat bersyukur mempunyai kesempatan menonton film ini. Sebuah film lagi tentang gunung.

negeri-dongeng_20170810_170219

Read the rest of this entry

[Review Indo-Seri] Para Pencari Tuhan Jilid 1 (2007) : Bukti Kalau Tontonan Segmentasi Kelas Menengah Kebawah Tidak Harus Sampah

Sepertinya sudah ada kesepakatan bersama tentang betapa berkualitasnya sinetron Para Pencari Tuhan (PPT) menjadi sebuah hal yang langka ditengah kepungan berbagai sinetron  yang mengabaikan berbagai etika dan estetika dengan sangkalan pasar menengah kebawah yang dianggap tidak harus disajikan tontonan berkualitas, utamanya soal teknis. Semenjak 2007 PPT sudah menemani masayarakat muslim di Indonesia di setiap kehadirannya yang bersamaaan pada saat bulan suci Ramadhan. Dan semenjak itulah, PPT sudah mendapat pengakuan disana sini sebagai suatu sajian yang waras disbanding sinetron kebanyakan, baik dari segi pesan maupun secara teknis. Secara pesan, rasanya sudah banyak apresiasi yang muncul di berbagai review yang bertebaran ditulis para blogger Indonesia, khususnya mengenai aspek keislaman apa saja yang muncul, topik permasalahan, dan kesan tidak menggurui. Oleh karena itu, rasanya bagisaya semua apresiasi terkait pesan moral sinetron ini sudah sangat terwakili oleh mereka-mereka yang menulis review. Namun, dari semua itu, rasanya tidak ada yang menyinggung sedikit pun terkait soal teknis produksi yang membuat saya semakin ingin membuktikan, apakah sinetron yang saya tonton dulu ini memang Cuma menarik karena pesan moral saja, atau memang kualitasnya juga mampu menyeimbanginya untuk semakin mengkokohkan pengakuan berkualitasnya sinetron ini ? Sekal lagi untuk penegasan, saya tidak akan berkomentar banyak hal soal berbagai pesan moral ataupun aspek keislamannya, tapi lebih menyoroti tentang eksekusi secara teknisnya. Yuk mari…

ppt-jilid-1-5767e297b292736a090a4fc4

Read the rest of this entry