Monthly Archives: May 2018

[Review Anime] Karakai Jouzu no Takagi-san (2018): Iseng-Iseng Menggemaskan

Anime ini sudah saya pantau sejak tahun lalu dan tertarik karena premisnya, cerita mengenai kelakuan 2 bocah lawan jenis yang bangku kelasnya bersebelahan, saling menjaili, dan ini genrenya romance, jadi ini premis yang sangat menarik buat saya. Sayang saya baru bisa menontonnya sekarang. Tapi sayang, ekspektasi saya soal anime ini sangat jauh berbeda, dan hal ini berkaitan dengan formatnya, nyaris saya kecewa. Iya, nyaris, untungnya meski kecewa dengan formatnya, ada hal lain yang membuat saya bertahan menonton anime ini.

harunatsu-karakai-jouzu-no-takagi-san-02-720p-hi444pp-aaccc853f70-mkv_snapshot_14-05_2018-01-20_01-08-06.jpg

Read the rest of this entry

Advertisements

[Review Anime] ReLIFE Kanketsu-hen (2018): OVA Penyelesaian

ReLIFE adalah salah satu anime slice of life, school, dan romance yang mendapatkan kesan sangat menyenangkan bagi saya. Saat rilis 2016 lalu, meski dengan tema yang cukup klise, tapi eksekusi yang memuaskan memfokuskan diri mengenai cerita soal pengaruh kehidupan sekolah terhadap kehidupan bermasyarakat saat dewasa nanti. Eksekusi yang baik, pesan yang ingin di sampaikan pun sederhana tapi penting, hingga art work yang sederhana namun tetap menarik ini adalah senjata-senjata ReLIFE untuk mendapatkan kesan tersendiri. Tapi, seperti kebanyakan anime romance pada umumnya, anime ini diakhiri open ending yang memang selalu bisa menghasilkan penonton yang geregetan. 2 tahun berselang, akhirnya munculah kelanjutan cerita ini, sayangnya bukan dalam bentuk season 2, melainkan OVA berjumlah hanya 4 episode. Memang tidak sesuai harapan, tapi setidaknya ada pemuas dahaga.

Relife-ova-sub-indonesia.png

Read the rest of this entry

[Review Komik] Aquanus Seri 2: Terganggu Crossover, Padahal Menarik

Dari semua proyek revolusi, Si Buta adalah favorit. Tapi selain Si Buta yang punya masanya sendiri, Revolusi juga puny a proyek yang berlatar di tahun yang sama, yaitu Aquanus, Maza, dan Sri Asih. Dari ketiga itu, Aquanus adalah favorit saya. Memulai seri pertamanya dengan epic, baik dari segi cerita maupun eksekusi origin story yang menarik. Aquanus berhasil membuat saya peduli dan kenal pada sosok Dhanus Jr begitupun dengan world building soal kekuatan Aquanus, sesuatu yang tidak (atau belum) di eksekusi dengan baik oleh Maza dan Sri Asih. Dan jelas, selain SI Buta, Aquanus adalah komik BumiLangit yang saya nantikan.

27973369_1534528906595842_4560277701536790354_n

Read the rest of this entry

[Review Komik] Revolusi Maza – Prince of Dream Seri 2: Plot Menarik dan Berkenalan Sedikit Lebih Dekat dengan Imaji

Semenjak membaca Sri Asih, entah pandangan saya soal Maza seri pertama berubah, lebih mengapresiasi. Awalnya yang merasa pengenalan Maza kurang, justru merasa cukup karena porsinya dibagi dengan Karin, setidaknya saya mengenal system kerja Imaji bertarung bersama Kartubi. Walau bagaimanapun, saya masih menuntut bagaimana komik Maza lebih memperkenalkan dirinya pada saya. Mulai dari Imaji, hingga world building nya.

28379148_1549248495123883_955359110919969749_n

Read the rest of this entry

[Review Komik] Revolusi Si Buta Dari Gua Hantu – Sapu Jagat: Sekali Lagi, Punya Villain yang Sangat Menarik

BumiLangit tampaknya selalu serius, totalitas, dan berhati-hati dalam menggarap Si Buta. Tentu saja wajar, Si Buta adalah karakter ikonik yang sudah sangat sah dibilang sebagai salah satu ikon pop kultur di Indonesia. Jadi jelas beban yang ada dalam menggarap proyek Revolusi untuk Si Buta amat sangat diperhatikan. Dan hasilnya, di seri pertamanya yang berjudul Mata Malaikat terasa sangat memuaskan dan saya amat sangat menantikan lanjutan ceriitanya.

24774734_1469509966431070_8154863341776387234_n

Read the rest of this entry

[Review K-Drama] Fight For My Way (2017): Rom-Com yang Menyenangkan dan Cerita Soal Impian yang Tidak Klise

Untuk saya yang merupakan penonton drama korea yang tidak begitu tertarik dengan romance sebagai genre utamanya, saya cukup dikejutkan dengan drama ini. Memang saya jarang merasa begitu terkesan dengan drama romance karena template yang cukup generic, menikmatinya cukup sering, tapi yang berkesan masih hitungan jari, jari yang Cuma sebelah tangan malah. So far, Fight My Way bisa dibilang drama korea keempat setelah Full House, Descendent of The Sun, dan King 2 Heart yang menyisakan kesan cukup dalam buat saya. Btw, bagi yang bingung kenapa Descendent of The Sun tidak dimasukan sebagai drama profesi sementara Heart 2 Attack tidak dianggap spionase-politik? Tentu saja ketika plot romance yang mendominasi sementara genre lainnya hanyalah pengiringnya, akan termasuk sebagai genre romance  bukan? Sehingga kedua drama disebut akan termasuk kedalam genre ini karena itulah yang menjadi panggung utamanya, di DOTS profesi yang berseberangan itu alatnya, di K2H politik yang berseberangan itu alatnya. Kembali ke Fight For My Way, apa yang membuat drama ini begitu berkesan sebagai genre romance?

fight_feat.jpg

Read the rest of this entry

[Review Komik] Revolusi Bidadari Mata Elang: Petualangan Menarik Tanpa Karakter Menarik

Pada awalnya saya berpikir Bidadari Mata Elang adalah produk BumiLangit yang termasuk proyek Pustaka, ternyata saya salah, Bidadari Mata Elang termasuk dalam proyek Revolusi. Saya memang tidak begitu mengikuti proyek Pustaka dan lebih menyambut proyek-proyek Revolusinya. Dengan latar masa tradisional maka saya berpikir ini ada di masa SI Buta,tapi tentu saya tidak berharap crossover, setidaknya dalam dunia Revolusi ini, saya menyimak kisah tradisionalnya, pahlawan tradisional lain selain Si Buta, itu yang saya nantikan, cerita seputar dunia persilatan juga.

22008202_1409735139075220_7630004796239709020_n

Read the rest of this entry

[Review Komik] Revolusi Sri Asih – Dewi Keadilan Season 1: Bukan Perkenalan yang Baik

Koreksi apabila interpretasi dan ekspektasi saya salah. Melalui proyek Revolusi, komik-komik BumiLangit ini membuat saya berharap untuk mengenal para superhero Indonesia dengan cara yang baru. Inti katanya ada pada “pengenalan”. Menurut saya, industri komik dan juga kondisi para pembacanya amat berbeda dengan industri luar, khususnya Amerika, dimana ada masa yang terputus, generasi yang benar-benarterputus dari para penikmat karakter orisinil para superhero saat pertama kali terbit ini. Yang saya tahu pun, insutri komiknya sendiri belum lah begitu teroganisir, baru saat-saat sekarang komik Indonesia terasa bangkit dan mulai belajar mengorganisir para karakternya. Ya memang ini masih sekadar sepengetahuan saya (saya yakin saya masih belum banyak tahu, menunggu ada yang mengkoreksi). Tapi, setidaknya dari sudut pembaca, atau setidaknya dari dokumentasi informasi baik yang ada di media ataupun di internet, informasi mengani komik Indonesia  yang dulu terasa sulit di akses, termasuk karakter-karakter superhero Indonesia. Kurangnya warisan informasi membuat informasi superhero Indonesia terasa sangat asing bagi awam. Nah melalui proyek Revolusi dari BumiLangit ini saya anggap sebagai cara BumiLangit memperkenalkan kembali para superhero Indonesia ini kepada awam melakui media yang sangat mudah dijangkau, yaitu Facebook, tanpa harus merusak cerita yang sudah ada demi menghormati karya lama dan juga para pembaca lama.

22366385_1420075201374547_5720182849497536900_n

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Deadpool 2 (2018): Karena Kesan Parodi, Deadpool Curang

Sebagai seseorang yang masih harus banyak belajar soal penulisan, apalagi menulis review film, saya sadar masih ada banyak kekurangan. Saya akui saya tidak bisa menilai semua film, adakalanya saya tidak tahu bagaimana menilai sebuah film dan lebih baik diam dan menikmati, kalau terhibur ya apresiasi. Dalam rangka mengevaluasi diri, saya merasa tidak mampu menilai 3 jenis film, yaitu documenter, arthouse, dan film parody. Lalu apa hubungannya dengan film Deadpool yang akan kita bahas ini? Yup memang Deadpool bukanlah film parody seutuhnya, tapi kemampuannya breaking 4th wall membuat kesan parodi mau tak mau melekat padanya, khususnya di film yang akan kita bahas ini.

Deadpool+2+movie+poster.jpg

Read the rest of this entry

#RekomendasiPlaylist: Lagu-Lagu Untuk Momen Kelulusan. Sebuah Pesan Perpisahan, Mengenang Pertemanan, Hingga Optmisme Masa Depan, Soundtrack of Your Graduation Day

Ketika tulisan ini dibuat, di umur saya yang 20-an (tak perlu detail lah) dalam fase berjuang untuk sebuah kelulusan, saya mencoba mengingat kembali beberapa tahun yang lalu, sebuah fase kelulusan lain yang pernah saya alami. Bertepatan dengan moment kelulusan adik-adik kita para penerus bangsa, para masyarakat baru, terlepas dari bagaimana masa depannya yang juga bukan hak saya untuk menghakimi generasi baru ini, saya mencoba sejenak mengingat-ingat masa itu kembali. Cuma untuk sekedar mengingatkan saya pula untuk tidak kolot, tidak ignorant merasa lebih baik dan mentoleransi para generasi baru yang sedang ada di fase puber ini, sekaligus memelihara sisi kenaifan saya di saat masa-masa sekolah dulu. Saya mencoba mengingat-ingat perasaan apa yang saya rasakan dulu saat berada di fase itu, fase transisi, perpindahan tahap kehidupan, saat dimana berbagai emosi berkecamuk berkumpul dalam satu momen, ketika sedih dan bahagia jadi satu, disaat kita menyadari bahwa pada saat itu kita harus mengingat-ingat semua momen di masa lalu, menghargai momen yang berlangsung, sekaligus memikirkan langkah kedepan kita, semua dalam satu waktu, 3 masa yang selalu jadi bahan pikiran saya saat itu datang secara bersamaan. Dan kini 7 tahun berselang, saya mencoba mengingat kembali perasaan itu melalui lagu-lagu yang amat cocok menjadi soundtrack di hari kelulusan kita semua, tentang perpisahan, mengenang pertemanan indah kita, hingga bagiamana kita menghadapi kegamangan masa depan, soundtrack of your graduation day.

kangen2

 

Read the rest of this entry