Blog Archives

[Review J-Movie] Castle in the Sky (1986): Straightforward Fun Adventure

Well, ternyata film Nasuciaa yang pertama saya tonton ternyata bukan film keluaran Ghibli. Tapi karena orang dibaliknya adalah orang-orang Ghibli hingga akhirnya meresmikan nama Ghibli, jadi katanya masih dianggap Ghibli, dan masuk koleksinya. Castle in the Sky adalah film ke 2 Ghibli yang saya tonton sesuai kronologi tahun. Tapi secara official ini adalah film pertama Ghibli. Ada tips yang mengatakan sulitnya menilai film Ghibli tergantung dari tontonan pertamamu. Kalau sudah menonton yang masterpiece, akan terasa sangat bias menonton film selanjutnya. Saya mencoba menghindari itu, makanya saya coba menonton secara kronologi tahun rilis yang diawali Nasuciaa. Meski begitu tetap saja, film kedua yang saya tonton ternyata sulit sekali menghindari bias, ada perbandingan pada film pertama yang saya tonton, dan itu membuat saya jadi tidak begitu terkesan dengan Castle in the Sky. Saya paham, katanya film-film Ghibli merupakan film yang sulit diurutkan, masing-masing punua urutan film favorit yang berbeda, banyak yang menempatkan Nasuciaa diatas, tapi banyak pula yang menempatkan Castle in the Sky diatasnya, jadi saya mengakui bisa jadi pemisahnya sudah bukan soal teknis lagi, tapi sudah mentok ke masalah selera. Saya memang tidak mau berlindung dibalik jubah selera, tapi tidak memungkiri bahwa ada faktir tersebut yang mempengaruhi sudut pandang. Oleh karena itu, saya mencoba untuk menjelaskan opini saya sebaik-baiknya.

maxresdefault (3).jpg

Read the rest of this entry

Advertisements

[Review J-Movie] Nausicaa of the Valley of the Wind (1984): Film Anime Rasa Anime Series Saga

Akhirnya saya memutuskan untuk mencicipi film-film Ghibli. Duh.. marathon Suzzanna belum kelar, marathon Godzilla Cuma seuprit juga, nambah lagi PR baru. Ya gimana, sudah gatal mencicipi salah satu studio yang di klaim belum pernah bikin film jelek. Jadi saya memutuskan mengikuti Ghibli sesuai kronologi filmnya, yaitu film pertama yang rilis pada 1984, wow tua juga, Nausicaa of The Valley of the Wind.

16265_4.jpg

Read the rest of this entry

[Review J-Movie] Godzilla (1954): Menakjubkannya Film Godzillla Pertama

Secara resmi saya menyatakan bahwa film Godzilla King of Monster adalah film yang paling saya nantikan di tahun 2019. Jujur saja, saya punya obsesi tersendiri dengan film-film kaiju, monster, robot raksasa, titan, apalah itu istilahnya. Film sebangsat Transformerspun saya lahap. Tapi, ironisnya saya belum sekalipun nonton film Godzilla? Lah kok bisa? Bukan belum pernah menonton, saat kecil dulu saya sering melihat film Godzilla di tv, tapi belum ada 1 film pun yang filmnya saya tonton lengkap dari awal hingga akhir dengan berbagai alasan, entah gara-gara ketinggalan iklan, entah Karen bertepatan sekolah, entah telat nonton, ada saja alasannya. Eh tapi kalau Godzilla versi Hollywood udah saya tonton semua loh, tapi tetap saja memalukan kalau belum pernah nonton dari tanah leluhur Godzillanya itu sendiri.  Ironis memang, butuh momentu hype akan Godzilla King of Monster dulu untuk membuat saya menggerakan diri menonton Godzilla dari awal. Jadi, ini adalah salah satu misi saya di tahun yang akan dating nanti, memperbanyak pengetahuan soal dunia Kaiju.

793807.jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Series] Supergirl Season 3 (2017-2018): Kenapa Plot Supergirl Sulit Intens?

Supergirl telah mencapai season 3, dan di Arrowverse season 3 adalah kutukan. Arrow menurun setelah 2 season yang hebat. The Flash juga mengalami hal yang sama, bahkan anjlok signifikan dibanding 2 season awal, lalu bagaimana Supergirl? Saya sebenarnya cukup optimis dengan Supergirl. Karena, 2 season awal Supergirl masih terbilang medioker tak sehebat Arrow dan The Flash. Jadi, rasanya Supergirl tidak punya beban akan perbandingan dengan season sebelumnya, ditambah memang masih banyak ruang untuk berkembang.

maxresdefault (2).jpg

Read the rest of this entry

[Review Anime] Boku no Hero Academia Season 3 (2018): Memang Seharusnya Jadi Anime Panjang Saja

Pada review saya pada season sebelumnya, saya bilang bahwa anime ini punya potensi besar untuk menjadi besar dan bertanya-tanya kenapa tidak dijadikan anime panjang saja yang tentu pasti dengan makna positif. Punya pondasi kuat dengan segala karakter dan universenya, belum lagi kepopuleran manganya, saya terheran-heran, namun juga ada sisi positif dibuat per season mengurangi porsi filler. Sayangnya di season ini mulai terlihat efek negatif dari tidak dibuatnya menjadi panjang, terasa tidak cocok dibuat season. Kali ini ucapan saya soal anime ini seharusnya dibuat panjang punya maksud negatif. Satu masalahnya, soal repetitif.

my-hero-academia-1027060-1280x0.jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Up (2009): Bersedih-Sedih Dahulu, Bertawa-Tawa Kemudian

Setelah The Incredibles, Pixar kembali membuat film dengan bentuk manusia lagi. Begitu pula dengan The Incredibles dengan latar superheronya, meski menggunakan manusia, Pixar masih punya cara untuk memperlihatkan magicnya. Tokoh utama berupa kakek tua yang akan ditemani bocah cilik bagi saya sudah jadi ide yang cukup segar, belum lagi balon terbang? Unik juga karena kali ini mereka benar-benar manusia biasa, jadi keajaiban macam apa yang film ini tawarkan?

open-uri20160811-32147-1ie24w2_bfb77429.jpeg

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Wall-E (2008): Berani Keluar dari Zona Nyaman

Saya tidak pernah meragukan bahwa selama tahun 2000-an, semua film-film Pixar dibuat dengan hati. Di setiap film-filmnya, Pixar selalu memperkenalkan keajaiban dunianya yang membuat saya berpikir bahwa mereka selalu punya magic baru yang akan diperkenelakan pada kita. Pixar selalu membuat terobosan, dan selalu terlihat keluar dari zona nyaman dengan ide-ide ceritanya, mulai dari penggunaan 3d, ide absurd mainan jadi hidup, hingga tikus yang erat dengan kotor menjadi koki makanan yang erat kaitannya dengan kebersihan. Meski beberapa kali Pixar membuat film dengan banyak terobosan, tidak ada yang lebih berkesan sangat berani untuk keluar dari zona nyaman dari pada karya Pixar satu ini, Wall-E. Apa saja bentuk keluar dari zona nyaman itu?

Wall_Ebanner.jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Jurassic World: Fallen Kingdom (2018): Masih Terkendala Pengulangan, Tapi Bukan The Lost World 2.0

Jurassic World sebagai penerus franchise Jurassic Park memang masih menarik buat saya. Bagi saya masih ada banyak potesi yang bisa dimanfaatkan untuk franchise ini, meski secara keseluruhan premis yang dijual ya tetap soal kejar-kejaran dengan dinosaurus. Memang benar, semenjak film Jurassic World, tampaknya tidak ada potensi yang baru karena basicly Jurassic World lalu intinya memang pengulangan dari Jurassic Park dengan segala adegan dengan formula yang sama. Untungnya ada Indominus Rex dan adegan team up Raptor dan T-Rex yang benar-benar menyelamatkan film ini, dan meninggalkan kesan bahwa masih ada potensi lain dari franchise ini. Lalu bagaimana dengan sekuelnya? Trailernya mengingatkan saya pada sekuel Jurassic Park, The Lost World, jadi apakah ini akan jadi pengulangan juga sama seperti Jurassic World?

JWFK-trailer.jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Deadpool 2 (2018): Karena Kesan Parodi, Deadpool Curang

Sebagai seseorang yang masih harus banyak belajar soal penulisan, apalagi menulis review film, saya sadar masih ada banyak kekurangan. Saya akui saya tidak bisa menilai semua film, adakalanya saya tidak tahu bagaimana menilai sebuah film dan lebih baik diam dan menikmati, kalau terhibur ya apresiasi. Dalam rangka mengevaluasi diri, saya merasa tidak mampu menilai 3 jenis film, yaitu documenter, arthouse, dan film parody. Lalu apa hubungannya dengan film Deadpool yang akan kita bahas ini? Yup memang Deadpool bukanlah film parody seutuhnya, tapi kemampuannya breaking 4th wall membuat kesan parodi mau tak mau melekat padanya, khususnya di film yang akan kita bahas ini.

Deadpool+2+movie+poster.jpg

Read the rest of this entry

[Review J-Movie] Fullmetal Alchemist (2017): Tidak Mengecewakan Juga Tidak Memuaskan

Berbicara soal  adaptasi live-action anime, khususnya yang bergenre action,  track recordnya memang tidak begitu bagus (atau meski bagus tapi tetap tidak begitu diterima). Sulit memang menilai adaptasi cerita yang sudah besar karena anime nya, apalagi budaya industry baik dari komik, animasi, menuju adaptasi Jepang amat sangat berbeda dengan budaya Hollywood. Apalagi menghadapi penggemar animasi garis keras yang kadang kuirang suka dengan perombakan plot yang membuat para pembuat anime kadang ketakutan  berkreasi dengan sumber yang dimilikinya. Lalu bagaiamana dengan Fullmetal Alchemist, Netflix dan Warner Bros bekerjasama dengan Jepang untuk sebuah adaptasi dari anime yang amat sangat membekas bagi banyak penikmat anime, dengan segala tekanannya apakah film ini memenuhi ekspektasi atau malah mengecewakan? Saya disini sebagai penonton yang juga menonton animenya, tapi sebisa mungkin membagi opini dengan menempatkan diri sebagai penonton awam (meskipun yakin bakal kurang maksimal).

FullMetal-Alchemist.jpg

Read the rest of this entry