Monthly Archives: April 2018

[Review US-Movie] Avengers: Infinity War (2018): Sebagai Puncak Penantian, Hmmm… Am I Overhype ?

Bagi orang-orang yang sudah terpapar gempuran pop culture MCU selama 10 tahun, film Avengers Infinity War tentu akan dijadikan sebagai sebuah puncak penantian. Begitupun saya, meski mengenalnya tidak sejauh itu juga, tapi harus diakui adalah, sistem shared universe  yang dibawa MCU ke dalam media film ini membuat saya semakin tertarik dan paham mengenai industri perfilman dan juga jadi gerbang saya mengenal sitilah pop culture. Iya jelas saya kagum dengan bagaimana ide yang dibawa oleh MCU ini dan perjalanan panjanganya berhasil membuat Marvel Cinematic Universe sebagai sebuah franchise yang sudah sangat kokoh namanya yang membuatnya mendapat jaminan penonton banyak disetiap rilisan film terbarunya. Tapi, itu tidak membuat saya jadi gelap mata. Saya sempat berada di tahap ketika menganggap setiap film MCU adalah auto bagus, dan kalau saya masih berada di tahap itu, sulit menilai film Crossover yang penuh dengan fan service  memanjakan mata itu secara objektifit, soalnya memang itu lah senjatanya MCU, set up hype terus menerus. Lalu, bagaiamana hasil dari puncak penantian ini? Mencapai puncak kah?

avengers-infinity-war-et00073462-02-04-2018-09-21-43.jpg

Read the rest of this entry

Advertisements

[Review K-Drama] Eulachacha Waikiki (2018): Ekesekusi Komedi yang Luar Biasa dan Konsisten

Drama Korea kembali kurangajar, awal tahun ini ada banyak sekali judul yang menarik sehingga watching list saya amat menumpuk. Disaat saya sedang mengumpulkan mood untuk menonton drama-drama bergenre thriller yang akhir-akhir ini muncul dan mendapat review menarik, saya malah kembali terdistraksi dengan drama yang super bangsat lucunya. Untuk pertama kali rasanya saya menikmati drama korea yang aliran utamanya komedi, pure comedy. Hasilnya, drama ini sukses konsisten membuat saya tertawa, untuk pertama kalinya saya menonton drama korea mendapat porsi tawa yang amat luar biasa. Apa saja yang membuat drama ini lucu sekaligus menarik dan recomended? Jenis komedi apa saja kah yang disajikan?

Welcome-to-waikiki.jpg

Read the rest of this entry

[Review Anime] Capeta (2005-2006): Underrated Sport Anime, Salah Satu yang Terbaik

Saya termasuk penggemar sport anime. Meski sport anime kesannya begitu-begitu saja, secara plot yang ditawarkan selalu sama, tapi saya termasuk orang yang tertarik dan penasaran background karakter, sehingga untuk cerita yang klise pun jika background karakternya saya belum tahu, saya akan tetap tertarik menontonnya. Misalnya genre romance, meski plotnya itu-itu saja, dengan background karakter berupa profesi tertentu, cerita itu akan tetap terasa menarik bagi saya karena setidaknya menjadi gerbang bagi saya untuk mengetahui dunia atau ruang lingkup orang-orang dengan pekerjaan tertentu. Dan hal itu juga sama berlakunya dengan anime sports. Meski plotnya selalu saja soal zero to hero, tentang menggapai impian, tentang orang berbakat atau orang tidak berbakat, dan semacamnya, saya tetap tertarik bagaimana mereka mengemas dunia olahraganya masing-masing. Saya sudah menikmati cukup banyak beberapa anime olahraga, mulai dari sepakbola, bola basket, baseball, voli, renang, balap sepeda, rugby, dan tenis. Kali ini saya akan membahas anime sports yang bagi saya unik, karena untuk pertama kalinya saya mencicipi anime sport dari dunia racing, bukan seperti balap sepeda yang mengandalkan fisik juga, tapi dunia balapan mesin motor, khsusnya Kart dan Formula. Tentu saya tertarik tentang dunia yang akan saya tonton, karena yang saya nantikan bukan Cuma balap-balapan, tapi juga pengetahuan soal mesin, dan pengetahuan soal industrinya itu sendiri. Capeta adalah anime balapan mesin bermotor saya yang pertama. Iya memang saya pernah menonton Initial D, tapi itu versi film. Jadi bisa dibilang Capeta bagi saya adalah pengalaman pertama, sehingga tidak ada pembanding.

maxresdefault.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Reuni Z (2018): Just For Fun

Film-film dari para Stand Up Comedian di mata saya mulai tidak terlihat inkonsisten. Setelah Raditya Dika semakin kesini semakin menurun kualitasnya, Kemal yang semakin hari semakin tak jelas, sementara untuk Ernest meski saya tidak begitu puas dengan Susah Sinyal, saya belum punya vonis apapun untuk penilaian keseluruhan karyanya, terakhir Soleh Solihun mulai turun aktif di perfilman. Saya belum punya kesan apapun terhadap karyanya Soleh, saya belum sempat menonton film Mau Jadi Apa? Yang disutradari oleh Soleh sendiri bersama Monty Tiwa. Kini, duet sutradara ini kembali dengan film barunya berjudul Reuni Z. Saya tidak seantusias dulu lagi dalam menyembut film dari para komika, entah saya sudah mulai agak bosan saja dengan style komedinya yang mulai terasa generic, bahkan Ernest pun filmnya dibilang bagus pun karena bobot ceritanya kuat, bukan bergantung pada performa komedinya. Ya, saya tertarik menonton Reuni Z memang bukan karena komedinya, saya jujur Cuma tertarik sama perkembangan kamampuan special effect (sfx) menyoal Zombie, setelah terakhir terasa kecewa dengan film Kampung Zombie. Bisa dibilang saya tertarik karena ini bukan film komika yang soal komedi romantic atau drama, tapi komedi berbalut horror atau thriller yang saya rasa cukup unik. Iya, saya juga ga pasang ekspektasi tinggi disini.

Reuni-Z-2.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Jelita Sejuba: Mencintai Ksatria Negara (2018): Sebagai Komedi Romantis, Menyegarkan

Ya, saya telat menonton film ini, hampir seminggu, bukan karena telat memutuskan menonton, tapi saya tidak menyadari kalau film ini berhasil punya layar di kota saya, sempat pesimis awalnya. Sempat takut sudah diturunkan, sempat mengira hari terakhir tayang, saya agak nyantai mencari tiketnya mendekati jam tayang, lah kok ternyata penontonnya banyak, saya sampai harus mencari tiket jam tayang selanjutnya, ya syukurlah berhasil mendapatkan penonton, meski saya bingung mereka memutuskan menoton karena apa. Promosi iklan? Setau saya sih film ini jarang yang membahas, secara promosi hampir tidak ada, saya tak tersentuh promosi iklannya, entah atau saya yang kuper? Masa iya pesona Putri Marino sudah tersebar dimana-mana? Kalau saya? Saya memutuskan menonton karena faktor Putri Marino. Semenjak debutnya di film luar biasa berjudul Posesif, saya semakin penasaran dengan kiprah dia selanjutnya, dan muncul lah di film ini.

maxresdefault (1).jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] A Quiet Place (2018): Menegangkan Tapi Mengharukan? Kenapa Tidak?

Sebelumnya saya tidak tahu ini sebetulnya termasuk Horor atau Thriller, saya lebih suka menyebutnya Thriller meski didalamnya terdapat beberapa jumpscare. A Quiet Place menarik perhatian saya dengan premis yang menarik, mengenai sebuah tempat yang melarang kita mengeluakan suara, kalau tida maka akan terbunuh. Dari premisnya saja sudah terbayang bakal se sunyi apa nanti ketika menonton. Dan benar saja, bioskop terasa sunyi, senada dengan kesunyian yang ada pada film ini.

a-quiet-place-poster.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Danur 2: Maddah (2018): Lebih Baik, Lebih Bertujuan

Ok, saya termasuk orang yang antusias dengan sekuelnya. Memang, saya berpendapat kalau hasil jumlah penonton Danur yang pertama itu berlebihan, maksdunya tidak sebagus itu (meski tidak jelek pula). Tetapi saya termasuk orang yang merasa bahan-bahan cerita dari Risa terlalu disayangkan kalau cuma bisa diakses di buku-buknya saja, ada banyak material yang bisa dijadikan film menarik disana, tentu dengan harapan ada kemauan memperbaiki eksekusi dai film yang pertama. Jadi ya saya mendukung cerita-ceritanya Risa untuk di filmkan, meski saya juga harus berbesar hati kalau filmnya akan dibuat mainstream ala horor yang nakutin, bukan dengan citra filmnya yang memanusiakan hantu, setidaknya ekspektasi saya lebih dijaga biar tidak salah berharap lagi.

Danur 2 Maddah 2018.jpg

Read the rest of this entry

[Review K-Drama] Radio Romance (2018): Plot Romance Standar dengan Plot Profesi yang Standar Juga

Di akhir 2017 hingga awal 2018 ada banyak drama korea yang menggoda untuk saya santap, khususnya dari genre thriller (penasaran sama Black dan Return). Tapi pada akhirnya yang pertama saya cicipi di tahun ini adalah drama baru bergenre romance dari salah satu artis favorit saya, Kim So Hyun yang menarik perhatian semenjak penampilannya di School 2015. Setelah di 2017 dia Cuma bermain dai drama sejarah yang saya tidak begitu berminat, satu drama lainnya adalah While You Were Sleeping yang Cuma mendapatkan peran minor, kini dia kembali ke peran major.

episode-perdana-drama-radio-romance-gag-f70e87.jpg

Read the rest of this entry

Review Marvel Cinematic Universe Sebelum Avengers Infinity Wars: Review Singkat Semua Produk Marvel Studios (Film & Serial)

10 tahun sudah berlalu semenjak film Marvel Studios pertama, Iron Man, rilis dalam memulai rangkaian pembentukan Universe dalam ranah perfilman.Pembentukan Universe sejatinya sebenarnya pengambilan keputusan yang beresiko, tapi disatu sisi jika namanya sudah besar, sudah menancapkan diri sebagai franchise, maka posisinya sudah amat aman.Tapi, dengan mengesampingkan  fakta bahwa kini MCU sudah menjadi sebuah franchise yang amat besar dengan jaminan penonton yang selalu besar di tiap film-filmnya, bahkan punya kecenderungan untuk selalu dianggap keren di tiap rilis karena hype (padahal kalau ditonton ulang ternyata tidak segitu wah juga kadang-kadang), apakah MCU bisa dibilang sudah berhasil mengurus Universenya? Apakah memang iya tidak ada fail nya? Disini saya ingin mereview semua produk Marvel Studios dimana baik Film maupun Series nya sudah dikonfirmasi berada di univers yang sama, sesuai dengan urutan tahun rilisnya.

DVh4iXIWsAAWZ3h.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Seri] The Publicist (2017): Drama Para Karakter Unlikeable

Bicara soal serial Indonesia, sejujurnya saya sudah mulai berada di tahap sangat pesimis saat ini. Sempat berharap pada 2015 lalu atas gebrakan beberapa tv dalam meramu serialnya, semangat itu langsung redup dari tahun ke tahun. Saya sudah mulai di tahap ogah bahkan untuk sekedar ada serial atau sinetron bagus di tv kalau secara system tiap yang bagus punya kewajiban memanjangkannya, bahkan Net Tv sekalipun mulai menerapakan episode panjang itu. Satu-satunya harapan ada pada portal digiltal melalui fasilitas streaming. Para layanan streaming seperti Viu, Hooq, Iflix,atau manapun yang saya belum tahu setidaknya menjadi harapan saya untuk merangkul para pasar yang ditelantarkan televisi yang terus memasarkan produk konten bodohnya pada pasar yang dituju. Dan yang akhir-akhir ini terlihat cukup rajin memproduksi adalah Viu dan percobaan pertama saya ada pada The Publicist.

viu-original.jpg

Read the rest of this entry