Blog Archives

[Review J-Movie] My Neighbors the Yamadas (1999): Karya Unik Lain Isao Takahata, Kreatifnya Mengadaptasi Komik Strip

Isao Takahata kembali menyajikan film ke 4 nya untuk Ghibli. Dan sekali lagi, Isao Takahata menyajikan sesuatu yang berbeda. Hayao Miyazaki saya akui memang kreatif dengan imajinasi dunia fantasinya yang bermacam-macam. Tapi Isao Takahata lebih bervariasi dan punya kreativitas di hal yang lain, khususnya soal artwork.  Bicara soal artwork, Hayao Miyazaki punya satu gaya yang paten, khas. Tapi Isao Takahata berbeda, 4 film yang saya nikmati ke 4 nya punya artwork yang berbeda-beda. Masuk akal karena Isao Takahata memang berbeda dari sutradara anime lainnya yang tidak ikut campur dalam hal menggambar, hal ini membuatnya lebih leluasa dalam emcoba sesuatu yang baru. Termasuk filmnya kali ini punya artwork yang sangat mencolok perbedaannya, signifikan. Bukan Cuma artwork, film ini juga punya formula yang sangat unik dimana Ghibli atau mungkin film animasi yang pernah ada belum pernah melakukan hal seperti ini.

series_1484.jpg

Read the rest of this entry

Advertisements

[Review J-Movie] Only Yesterday (1991): Isao Takahata, Sang Pembeda Ghibli

Film ke 6 Ghibli kembali di garap oleh Isao Takahata, orang dibalik penyebab saya menangis gara-gara Grave og the Fireflies. Isao Takahata seolah jadi anomali dari film-film Ghibli selama ini yang juga lebih melekat pada nama Hayao Miyazaki. Wajar saja memang karena dari 6 film Ghibli selama ini, memang baru 2 sutradara ini yang menjadi sutradara. Tapi menariknya, Isao Takahata seolah menjadi kebalikan dari Hayao Miyazaki. Pada film pertamanya, Isao memberi kita film yang mementahkan anggapan bahwa Ghibli adala studio film animasi pembuat cerita imajinatif tingkat tinggi dengan world building uniknya. Tapi melalui GotF, Isao mementahkan bahwa Ghibli juga punya film yang realistis (dari segi world building) dan bahkan bisa depresif, 2 aspek yang menjadi kebalikan dari Hayao dengan dunia imajinatif dan kesan optimis yang ada pada film-filmnya. Kini Isao Takahata kembali ke tahta sutradara dengan film berjudul Only Yesterday, yang sekali lagi jadi pembeda dari banyak film Ghibli lainnya.

1026426-daisy-ridley-leads-voice-cast-studio-ghibli-s-only-yesterday.jpg

Read the rest of this entry

[Review Anime] Major S1(2004-2005): Tsubasa versi Baseball Tanpa Sisi Imajinasi Liar

Major menjadi anime baseball selanjutnya yang saya tonton dan kembali mendapat kesan yang sangat mendalam. Tentu tidak mengherankan anime ini menjadi salah satu nama besar di anime sport khususnya baseball apalagi dengan jumlah season yang mencapai 6 dan terus belanjut. Pasti ada yang bingung dengan judul diatas, bahkan ada yang jadi berpikiran negative. Tentu saya menyadari bahwa Tsubasa dan Major sangat tidak apple to apple. Tapi ada beberapa aspek yang mengingatkan saya terhadap Tsubasa saat menonton anime ini, tentu dalam artian yang baik.

50025559_series_art__768x2048_major_f24d097ae8ac882d904178ff57645d42.jpg

Read the rest of this entry

[Review Anime]  Cross Game (2009-2010): Cantik di Semua Aspek, Roller Coaster Semua Emosi

Melihat desain karakternya, saya menebak ini anime pertengahan 2000an. Ternyata salah, meski masih masuk 2000an, tapi bolehlah saya katakan ini sebagai klasik. Dengan desain karakter seperti ini, sepertinya sulit penikmat anime era sekarang, khususnya penikmat anime sport baru untuk menganggap serius anime ini. Jangan salah, anime ini justru sangat dewasa dan serius, tidak dangkal, storyline yang solid, dan akan mengaduk-aduk semua emosi kamu.

CrossGameArticle.jpg

Read the rest of this entry

[Review Anime] Yuru Camp (2018): Mengenal Kultur Perkemahan Jepang

Yuru Camp merupakan salah satu anime yang menarik perhatian saya tahun ini karena alasan relate dengan minat personal saya. Saya bukan pendaki sejati, tapi pernah punya pengalaman beberapa kali mendaki. Karena kangen juga dengan dunia outdoor, saya meliihat anime ini sebagai pelepas kangen. Tentu perkemahan tidak sama dengan pendakian, tapi suatu jenis aktifitas outdoor yang ada kesamaaannya. Tapi saya termasuk terkejut dengan apa yang dipaparkan anime ini dimana sepertinya kultur perkemahan yang ditunjukan di aime ini sangat berbeda dengan apa yang ada di Indonesia pada umumnya. Bukan berarti gagal relate, sensasi kangen berhasil saya rasakan tapi sekaligus memberi sensasi mengenal sesuatu yang baru, yaitu kultur perkemahan Jepang. Saya pikir anime ini juga berhasil meruba cara pandang saya terhadap dunia outdoor, seolah-olah anime ini merupakan perjalanan spritual bagi saya. Entah apa ini cerminan dari dunia perkemahan Jepang, atau memang anime ini menciptakan realitasnya sendii dengan harap memberi suatu konstruksi pada penontonnya, tapi yang jelas anime ini ingin menginformasikan sesuatu.

Yuru.Camp.full.2186360.jpg

Read the rest of this entry

[Review Anime] Koi wa Ameagari no You ni (2018): Sulit Mendukung Mereka Bersatu, Tapi Menyenangkan Melihat Mereka Bersama

Satu lagi anime dengan premis yang menarik. Bercerita mengenai kisah cinta beda generasi dimana ada seorang anak SMA yang jatuh cinta dengan om om manager sebuah restoran yang berumur 45 tahun. Alasannya? Dia sendiri tidak tahu. Yah karena premisnya unik, jelas saya ingin mencobanya. Tapi sebenarnya awal ketertarikannya bukan karena itu. Melihat premisnya membuat saya teringat dengan sebuah vide klip random yang saya tonton di YouTube dimana saya tertarik karena ada Nana Komatsu disitu, ternyata setelah saya cari tahu anime ini rilis film live-actionnya dibulan pada 25 Mei, dan yang saya tonton adalah MV soundtracknya. Karena pasti sulit menonton filmnya, dan lama menunggunya, jadi saya coba dulu animenya.

Koi_Ameagari_Portada-950x394.jpg

Read the rest of this entry

[Review Anime] ReLIFE Kanketsu-hen (2018): OVA Penyelesaian

ReLIFE adalah salah satu anime slice of life, school, dan romance yang mendapatkan kesan sangat menyenangkan bagi saya. Saat rilis 2016 lalu, meski dengan tema yang cukup klise, tapi eksekusi yang memuaskan memfokuskan diri mengenai cerita soal pengaruh kehidupan sekolah terhadap kehidupan bermasyarakat saat dewasa nanti. Eksekusi yang baik, pesan yang ingin di sampaikan pun sederhana tapi penting, hingga art work yang sederhana namun tetap menarik ini adalah senjata-senjata ReLIFE untuk mendapatkan kesan tersendiri. Tapi, seperti kebanyakan anime romance pada umumnya, anime ini diakhiri open ending yang memang selalu bisa menghasilkan penonton yang geregetan. 2 tahun berselang, akhirnya munculah kelanjutan cerita ini, sayangnya bukan dalam bentuk season 2, melainkan OVA berjumlah hanya 4 episode. Memang tidak sesuai harapan, tapi setidaknya ada pemuas dahaga.

Relife-ova-sub-indonesia.png

Read the rest of this entry

[Review Anime] Capeta (2005-2006): Underrated Sport Anime, Salah Satu yang Terbaik

Saya termasuk penggemar sport anime. Meski sport anime kesannya begitu-begitu saja, secara plot yang ditawarkan selalu sama, tapi saya termasuk orang yang tertarik dan penasaran background karakter, sehingga untuk cerita yang klise pun jika background karakternya saya belum tahu, saya akan tetap tertarik menontonnya. Misalnya genre romance, meski plotnya itu-itu saja, dengan background karakter berupa profesi tertentu, cerita itu akan tetap terasa menarik bagi saya karena setidaknya menjadi gerbang bagi saya untuk mengetahui dunia atau ruang lingkup orang-orang dengan pekerjaan tertentu. Dan hal itu juga sama berlakunya dengan anime sports. Meski plotnya selalu saja soal zero to hero, tentang menggapai impian, tentang orang berbakat atau orang tidak berbakat, dan semacamnya, saya tetap tertarik bagaimana mereka mengemas dunia olahraganya masing-masing. Saya sudah menikmati cukup banyak beberapa anime olahraga, mulai dari sepakbola, bola basket, baseball, voli, renang, balap sepeda, rugby, dan tenis. Kali ini saya akan membahas anime sports yang bagi saya unik, karena untuk pertama kalinya saya mencicipi anime sport dari dunia racing, bukan seperti balap sepeda yang mengandalkan fisik juga, tapi dunia balapan mesin motor, khsusnya Kart dan Formula. Tentu saya tertarik tentang dunia yang akan saya tonton, karena yang saya nantikan bukan Cuma balap-balapan, tapi juga pengetahuan soal mesin, dan pengetahuan soal industrinya itu sendiri. Capeta adalah anime balapan mesin bermotor saya yang pertama. Iya memang saya pernah menonton Initial D, tapi itu versi film. Jadi bisa dibilang Capeta bagi saya adalah pengalaman pertama, sehingga tidak ada pembanding.

maxresdefault.jpg

Read the rest of this entry

[Review Anime] Itsudatte Bokura no Koi wa 10cm Datta (2017): Seri Romance Singkat dengan Cerita Simple dan Klimaks

Bagi yang ingin punya tontonan series tapi tidak ingin tersiksa dengan jumlah episode yang banyak, mungkin kalian bisa mencoba anime romance school satu ini. Cuma berjumlah 6 episode, yang awalnya cuma sekedar mencari tontonan menemani makan saya, ternyata berujung mendapatkan tontonan yang sangat menarik. Ceritanya cukup simple, tapi yang membuat saya bersyukur terdampar menonton ini adalah karena untuk pertama kalinya saya mendapatkan anime dengan tokoh utama background karakter filmaker. Tapi dengan berlatar SMA juga, maka tentu ekspektasi saya tidak begitu tinggi karena pasti yang akan disajikan hal-hal simple sesuai permasalahan remaja, dan yah akhirnya saya puas. Tambahan bonusnya, anime ini termasuk anime romance yang bagus.

Itsudatte-Bokura-no-Koi-wa-10-cm-Datta-06-Batch.jpg

Read the rest of this entry

[Review Anime] Boku No Hero Academia Season 2 (2017) : Versi Blak-Blakan Dunia Superhero

Disaat Amerika sedang candu-candunya dengan superhero, baik bioskopnya, serial televisinya, hingga animasinya, Jepang juga ternyata bisa memanfaatkan momentum ini. Berbagai kerjasama mulai dikerjakan baik itu dengan Marvel dengan adaptasi anime ataupun anime anak-anak, ataupun DC yang sudah ada kabar proyek terbarunya. Tidak hanya itu, karya originalnya pun mulai muncul yang bukan Cuma cerita shonen dengan tokoh super macam Goku, Luffy, atau Naruto, tapi memang benar-benar cerita dengan latar dunia cerita soal Superhero. Tahun lalu sudah ada 2 anime yang muncul ke permukaan dengan mendapatkan perhatian besar, yaitu One Punch Man dan Boku No Hero Academia (kalau ada yang tahu selain 2 itu, tolong kasih tahu saya). Meski termasuk dipengaruhi hype dunia dengan demam superheronya, dunia superhero dalam anime Jepang tetap punya kemasan menarik disini. Baik OPM maupun BnHA mengambil latar dunia diaman superhero mulai terlihat sangat umum. Namun, apabila OPM lebih terlihat seperti sebuah parody (aslinya memang diniatkan sebagai parody) maka beda dengan BnHA. BnHA terlihat serius membangun dunianya agar terlihat kompleks yang terlihat dengan bagaimana anime ini mencoba memperhatikan kronologis sejarah dunianya yang akan memunculkan konsep Quirk. Lalu bagaimana sebenarnya dunia superhero yang dibangun BnHA ini ?

713076

Read the rest of this entry