Blog Archives

[Cerpen : Travel Fiction] Diantara Semeru dan Mahameru

Udara Ranu Pane pada malam itu begitu menusuk dan menembus lapisan jaket, baju, hingga kulit. Panasnya kopi yang dimasak tepat di depan pos pendaftaran pendakian Gunung Semeru itu pun hanyalah nikmat sesaat. Panasnya air kopi itu sebagai penetral dingin, sayangnya cuma bertahan beberapa menit. Upaya menghilangkan dinginnya Ranu Pane tidak hanya berhenti disitu. Sebuah botol air mineral kosong berukuran 1500 ml berputar diantara aku, Dian, Rudi, dan Dimas. Kami mencoba sebuah permainan untuk menghangatkan suasana ditengah dinginnya Ranu Pane di malam hari. Namun sebenarnya aku berharap permainan ini justru bisa menjadi pendingin suasana yang sempat memanas beberapa saat yang lalu. Bahkan raut muka Dimas saat ini masih terlihat menyimpan amarah yang tertahan. Read the rest of this entry

Advertisements

[Cerpen : Travel Fiction] Di Dinding-Dinding Indah Kawasan Malioboro

Daerah Istimewa  Yogyakarta, itu nama lengkapnya. Dan memang seperti namanya, daerah ini memanglah istimewa, setidaknya itulah yang ada dipikiran saya selaku pelancong. Meskipun sudah pernah beberapa kali kesini, selalu ada semangat tersendiri ketika kembali ke kota ini. Suasananya yang khas tak pernah membosankan para pelancong. Aksara Jawa yang cukup  sering menghiasi beberapa tempat, aksitekturnya yang begitu khas, suasananya yang cukup mistis, kultur jawa yang begitu kentalnya, dan yang paling memukau adalah seninya yang ada dimana-mana. Ada banyak julukan Kota Yogyakarta, dimulai dari kota pelajar, kota pendidikan, kota pariwisata, bahkan teman saya pun mengatakan jika ingin tahu apa itu Jawa ya Yogyakartalah tempatnya, namun bagi saya Yogyakarta adalah Kota Seni, Kota dimana seni sangat begitu diapresiasi baik itu tradisional hingga modern,  dan seni bukan asal seni, tapi seni  yang merepresentasikan Indonesia khususnya Jawa. Saya akhirnya berkesempatan kembali ke Kota Seni ini. Teman-teman saya yang suka melancong kesana-sini ingin berkunjung ke Yogyakarta dan tanpa pikir dua kali saya menyanggupi ajakan mereka. Read the rest of this entry

[Cerpen] Aku Benci Sekolah

Pagi ini aku masih memiliki pemikiran yang sama  seperti hari-hari sebelumnya, tentang betapa menyebalkannya sekolah. Aku heran dengan mereka-mereka yang sok mengatakan betapa indahnya masa sekolah. Apa yang menyenangkan dari melakukan kegiatan yang membosankan setiap hari ? Harus bangun pagi, mengerjakan tugas dan PR, berhadapan dengan guru galak yang menambah rasa tak rela untuk belajar.  Dan hari ini aku kembali memulainya dengan pikiran yang sama dan akan melakukan akivitas yang sama. Read the rest of this entry

[Cerpen] “CLUNG” Dari Facebook

Pemberitahuan Facebook “CUT” teriak sang sutradara.

Sebuah kegiatan syuting pembuatan film terlihat disebuah taman yang begitu hijau rumputnya di kelilingi bunga-bunga yang begitu berwarna warni. Seorang lelaki dengan begitu semangatnya berteriak memandu crewnya agar proses syuting berjalan lancar dengan hasil sesempurna mungkin seperti yang diharapkanya. Tidak sia-sia, teriakan dan perintahnya cukup membuat suasana syuting cukup hidup dengan para crew yang meresponnya secara professional. Namun dari sekumpulan orang-orang yang bersemangat itu, seorang wanita duduk terlesu melihat serangkaian aktivitas para crew film sembari menatap pemimpin mereka yang meneriakan sebuah perintah dan semangat dengan tatapan sinis nan benci. Read the rest of this entry

[Cerpen] Cita-Cita Setinggi Tanah

Author : Osyad

“Tidak masalah cita-cita itu tinggi atau biasa saja bahkan sampai serendah tanah, jika cita-cita itu dirasa yang kamu inginkan dan bermanfaat, ya kejar”

 

“Deni, apa cita-citamu?”

Pertanyaan ibu guru itu ternyata mampu membuat anak SD berusia 12 tahun ini berpikir keras. Baru kali ini Deni merasa sangat sulit menjawab pertanyaan dari gurunya. Biasanya Deni tidaklah begitu sulit menjawab pertanyaan apalagi kalau mengenai pelajaran. Deni memang merupakan anak yang pintar, meskipun tidak selalu menjadi rangking 1 tapi bagi guru dan teman-temannya Deni adalah anak yang tergolong cerdas. Namun kecerdasannya kali ini benar-benar sulit diandalakan untuk menjawab pertanyaan ini, pertanyaan yang bukan dari buku tapi begitu penting karena berkaitan dengan masa depannya.

Read the rest of this entry

[Cerpen] Love’s in Vain ?

Author : Osyad

“Cut..  Ok syuting hari ini selesai” ucap seorang lelaki yang sangat bersemangat hari itu.

Meski ditengah terik mentari yang begitu menyengatnya yang setidaknya itulah yang dirasakan crew lain, lelaki itu tetap semangat yang membuat dirinya terlihat sangat mencolok diantara yang lain. Ali memang sedang dalam mood yang paling bagus selama hidupnya saat itu untuk berkarya, akhir-akhir ini Ali seperti terbius doping yang membuatanya menghasilkan beberapa karya yang mempu membius teman-temannya untuk membantunya. Dalam waktu tiga bulan ini sudah banyak idecerita yang tercipta dan beberapa  diantaranya berhasil direalisasikan dalam bentuk film indie baik itu bertema ringan seperti kisah cinta atau persahabatan hingga tema lumayan berat seperti tema-tema sosial dengan dia sendiri sebagai sutradaranya. Rasanya akan ada masa depan cerah bagi industry perfilman nasional jika dia mampu mempertahankan moodnya itu dan lebih tekun lagi belajar, setidaknya itulah yang dirasakan oleh teman-temannya mengenai semangatnya yang begitu meledak akhir-akhir ini.

Teman-temannya memang bingung mengenai semangat yang didapatnya akhir-akhir ini, bukan hanya mengenai kemampuan dia dalam menelurkan karya-karya yang membius mereka tapi juga tingkah lakunya yang menggambarkan seseorang dengan suasana hati yang cerah. Sebelumnya Ali memang sosok santai yang penuh ide hanya saja rasa malas yang mendominasi membuatnya terlihat sebagai sosok yang banyak bicara kurang aksi. Read the rest of this entry

[Cerpen] Petikan Gitar

billiejoeguitar

Malam itu seperti biasa ketika suara jangkrik tak kuasa dikalahkan suara ramai kendaraan. Suara gitarnya itu pun terdengar menambah komponen suara yang ada. Suara gitar itu tak bernyawa, enam petikan senar yang berbeda diikuti tiga kali gembrengannya selalu diulangnya. Sepuluh menit sudah berlalu, suara gitar itu tetap sama dengan tempo yang stabil. Wajahnya terlihat berpikir. Ini tentang prinsip hidupnya. Memikirkan tentang apa yang selama ini dia lakukan. Rasanya dia sudah sampai pada fase pengkhianatan prinsip hidup, ya, fase baru yang akan merubah sebagian dunianya. Read the rest of this entry

[Cerpen : Travel Fiction] Pelangi Sempu

3 copyPersahabatan, sebuah kata yang mensugesti pemikiran umat manusia akan sesuatu yang menyenangkan. Padahal tiap hal yang menyenangkan tentunya diselingi suatu masa transisi pula. Bagi Oci, gadis bertubuh mungil ini merasa persahabatannya dengan segerombolannya seperti salah satu komponen warna yang indah dari banyaknya warna dunianya yang nampak cerah dan menenangkan. Meski kadang ia tidak menyadari warna itu mungkin akan tertutup sesuatu yang menghalangi dirinya dari kegiatan menikmati dunia. Read the rest of this entry

[Cerbung] Bukan Cuma Numpang Lewat Part 4

Episode 4

Suara bising motor di sore hari yang menandakan kedatangan sekelompok orang ditempat futsal Ani nampaknya cukup menarik perhatiannya. Sekelompok orang-orang yang kompak dengan setelan pakaian biru-putih dengan tertib memarkirkan motornya. Dengan senyum hangatnya Ani menyambut kedatangan mereka. Yup, Ani terlihat menyambut kedatangan tim futsalku dengan senyum manisnya atau lebih tepatnya menyambut kedatanganku.

Read the rest of this entry

[Cerbung] Bukan Cuma Numpang Lewat Part 3

Episode 3

“Maksudmu apa plax? klo kamu ga ngerti apa-apa diam saja deh, ga usah ngerusak suasana, tau ga para pemain bola yang biasa kalian lihat ditipi macam Ronaldo, Messi, bahkan Bambang Pamungkas, mereka juga berlatih seperti ini bahkan lebih keras, kalian itu masih payah, bakat kalian hanya sekedar bakat alami dan itu belum cukup, kalian harus diasah dengan pola latihan yang benar” bentakku. “Nih aku kasih tau, lari-lari ini bisa meningkatkan stamina kalian, dalam beberapa minggu kalian pasti bisa mengelilingi lapangan ini lebih dari lima kali, selain itu teknik kalian akan meningkat, waktu diawal aku bermain bola dengan kalian, kuperhatikan teknik kalian masih kacau, kontrol bola sering lepas, sekali senggol jatuh, lari masih asal lari, nendang bola masih asal nendang tanpa teknik dan akurasi, dan tugasku adalah memperbaiki itu semua supaya kalian bisa tampil bagus di turnamen nanti, ga Cuma asal ikut jadi tim penggembira saja” balasku dengan penjelasan yang panjang lebar.

Penjelasanku tadi terlihat membuat mereka berfikir kembali betapa pentingnya latihan. Bahkan Somplax pun terlihat seperti menyesal.

“Jadi kalian masih ingin latihan atau tidak?” tanyaku.

“Mau” jawab mereka dengan nada pelan.

“Yang keras!” tanyaku lagi untuk memastikan.

“MAU !” jawab mereka dengan lantang.

“OK bagus, yang semangat, mulai saat ini kalian harus memanggil ku dengan sebutan coach, lagi pula kalian punya hutang sepatu padaku, jadi kalian harus membayar dengan latihan yang benar dan keras serta nurut semua perkataanku, kalian siap?” tanyaku lagi.

“Siap coach, terus kapan kita latihan lagi?” tanya Dom.

“Karena ini latihan perdana, kita latihan lagi mingu depan, soalnya besok badan kalian pasti akan pegal-pegal semua karena belum terbiasa, jadi butuh waktu agak lama untuk pulih, setelah itu baru kita jadwal ulang lagi jadwal latihan kita, sekarang mari kita istirahat, ayo pulang, bubar” ujar ku.

Setelah menyelesaikan ucapanku, aku memanggil Radit yang setia memandangi kami selama latihan dari tribun untuk segera bergabung dengan kami.  Aku menyuruh Radit dan anak-anak lainnya untuk berbaris membentuk lingkaran dan menjlulurkan tangan mereka sehingga masing-masing tangan dari kita saling bertemu di pusat lingkaran. Kami berdo’a lalu diakhiri dengan teriakan sorak-sorai diiringi gerakan tangan yang bersama-sama menghentak kebawah sebagai bentuk harapan kami akan sebuah kekompakan. Hal tadi menjadi pertanda berakhirnya latihan kami hari itu. Anak-anak pulang kerumah masing-masing sementara aku dan Radit pulang bersama menuju kost yang sama.

Dalam perjalanan aku meminta laporan Radit mengenai turnamen itu.

“Dit, udah dapat info apa aja tentang turnamen?” tanyaku.

“Oh iya, menurut info yang aku dapat, turnamen ini seperti yang kuduga sebelumnya yakni bukan turnamen sembarangan, turnamen ini dibawah naungan PSSI” jawabnya.

“PSSI? berarti yang daftar bukan SSB sembarangan dong? Terus SSB kita bisa ikut ga? Jangan-jangan yang bisa ikut Cuma SSB yang dibawah naungan PSSI doang nih?” tanyaku lagi dengan beberapa pertanyaan.

“Banyak banget sih nanyanya? Gini, walaupun turnamen ini dinaungi PSSI tapi pesertanya ga harus SSB yang terdaftar di PSSI, lagian kota ini punya berapa SSB sih yang terdaftar PSSI? Menurut info yang kudapat dikota ini Cuma ada 8 SSB yang terdaftar, sementara pesertanyakan ada 32” Radit menjelaskan.

“Berarti kita bisa ikut dong?” tanyaku lagi sembari berharap.

“Ya, kita bisa ikut, ini formulirnya, kamu isi nama-nama pemainnya, nama kamu sebagai pelatih, nama SSB, dan 3 orang untuk official”  ujarnya sembari menyerahkan formulir.

“Official? Waduh siapa ya? Hmmmmmm, kamu aja dit, gimana? Mau kan?” pintaku.

“hmm, boleh, tapi kita kan butuh 2 orang lagi” katanya.

“ya udah nanti dipikir lagi, masih ada waktu 5 hari lagi kan? Terus masalah struktural dan lain-lain gimana? Perlu ga tuh?” tanyaku lagi.

“Kalau untuk SSB jelas itu perlu, tapi kalau untuk persyaratan turnamen kayaknya ga diperlukan tuh data-datanya yang penting ada penanggung jawabnya, tapi untuk hal itu sambil berjalan aja deh, diurus sesudah turnamen juga bisa, itu juga kalau masih mau dilanjut SSB nya” jawabnya.

“Terus penanggung jawabnya siapa?” tanpa bosan ku bertanya lagi.

“Gampang, aku kan bisa merangkap jabatan bud” jawabnya melegakan.

Pada keesokan harinya, seorang mahasiswa yang memulai karir kepelatihannya kemarin sore itu sedang dalam perjalanan pulang setelah kembali melakukan aktivitas sehari-harinya memenuhi kewajibannya sebagai pelajar. Belum sempat langkah kakiku melewati gerbang keluar kampus, suara merdu dari seorang gadis seperti memanggil namaku. Ekspresiku seketika kaget bercampur takjub sewaktu mengetahui bahwa yang memanggilku ialah Ani. Nampaknya dia juga baru saja menyelesaikan aktivitas kuliahnya dan sedang menuju perjalanan pulang yang searah denganku.

“Hai Bud! Mau pulang?” sapanya.

“Eh Ani, iya, kamu mau pulang juga?” tanyaku.

“Iya nih, wah kebetulan arahnya sama, bareng yuk?” sebuah ajakan yang langsung kuterima tanpa berpikir dua kali untuk menerima ajakannya.

Entah aku bermimpi apa semalam tiba-tiba saat ini ada bidadari sedang berjalan disampingku menuju kawasan kost yang sama. Dia yang biasanya sibuk dengan aktivitasnya dan selalu berkumpul dengan teman-temannya membuat aku menjadi sungkan untuk sekedar menyapanya duluan apalagi untuk sekedar memulai pembicaraan dengannya ataupun mendekatinya. Kini momen yang aku tunggu-tunggu itu datang dimana ada kesempatan untukku untuk berbincang-bincang dengannya terbuka lebar. Namun entah mengapa mulut ini rasanya sulit sekali mengucapkan kata-kata dan pikiranku terlalu fokus memikirkan detak jantung yang rasanya berdetak tak beraturan kadang cepat kadang lambat. Tapi aku sadar kesempatan ini tak boleh dilewatkan saja dengan berdiam diri hingga sampai ke kost masing-masing, sebelum suasana menjadi tidak nyaman dengan ketidakpastian ini segera ku memulai pembicaraan dengan basa-basi.

“Gimana kuliahnya? Lancar-lancar aja nih?” tanyaku untuk mengawali pembicaraan.

“Alhamdulillah, kamu sendiri gimana? Tanyanya balik.

“Menjenuhkan” jawabku singkat.

“Loh kok gitu? Emang kenapa?” tanyanya lagi penasaran.

“Gimana ya? Ga tau juga kenapa, rasanya ga ada gairah dan semangatnya sama sekali, motivasinya Cuma absen doang, sudahlah ga usah ngebahas itu, katanya kamu anggota BEM juga? Berarti orang sibuk nih? Terus akhir-akhir ini lagi sibuk apa?” tanyaku mengubah topic pembicaraan.

“hehe, iya, Cuma akhir-akhir ini ga ada kesibukan kok, BEM nya sih punya acara pengabdian masyarakat, tapi aku ga ikut” jawabnya.

“Loh, kenapa? Kegiatan bagus tuh” tyanyaku heran.

“Males, soalnya pengalaman tahun kemarin ga menyenangkan, ga seperti yang aku bayangkan” ujarnya.

“Ga menyenangkan gimana maksdunya?” tanyaku lagi makin penasaran.

“Acaranya Cuma formalitas doang, ujung-ujungnya masyarakat setempat juga yang direpotkan, padahal acaranya ga terlalu berpengaruh bagi masyarakatnya, niatnya jadi terlihat seperti Cuma mengejar deadline agenda doang tanpa ada niatan serius membantu masyarakat” jelasnya.

“oh, jadi begitu? Sama aja kaya waktu ospek dong? Acaranya pengabdian masyarakat tapi kegiatannya Cuma menanam pohon, itu pun ga teratur dan asal-asalan jadi terlihat ngerusak alam” kataku coba mengingat masa ospek sewaktu aku dan dia pertama kenal.

“Iya benar, jadi malas ikut acara yang begituan, padahalkan aku ingin sekali berguna bagi masyarakat, dan sampai saat ini aku merasa belum berbuat apapun, jadi merasa berhutang” keluhnya.

“berguna bagi masyarakat ga harus lewat acara-acara yang seperti itu juga kali, cukup dari hal yang sederhana, berbuat apa yang kamu bisa lakukan saja sudah cukup, kan dimulai dari hal kecil dulu, contohnya dalam hal beli makanan, dari pada beli makanan dari produk luar kaya KFC atau McDonnalds mendingan beli di pedagang sekitar aja, lebih nyata membantu pedagang kaum bawah dan duit pun lebih hemat, hehe” ujarku sembari menjelaskan.

“Wuih, bijaksana sekali kamu bud, tapi benar juga ya, emang ga usah muluk-muluk kalau pengen bantu orang” jawabya membenarkanku.

Bibirku mengembang dengan kata lain tersenyum melihat respon yang diperlihatkan Ani terhadap opiniku. Aku sesaat terkagum dengan tekad baiknya yang ingin berguna bagi orang disekitarnya, sama dengan keinginanku yang tak mau hanya sekedar lewat dalam drama kehidupan yang selama ini terasa seperti selalu memainkan peran figuran dalam sebuah film. Sebelumnya aku sendiri masih ragu tentang perasaanku terhadapnya. Apakah aku memang benar-benar suka atau hanya mengagumi kecantikannya saja?. Karena memang selama ini aku tertarik dengannya karena kecantikan dan keanggunannya. Selama ini aku belum mengetahui alasan lain menyukainya dikarenakan sulitnya mendekati dirinya, apabila memang seperti ini berarti rasa suka itu baru sebatas nafsu saja dan aku tidak mau memiliki rasa suka kepada orang lain didasari nafsu, setidaknya aku harus mengenali dirinya lebih dekat lagi. Hari ini sepertinya tidak akan mudah untuk dilupakan. Senyuman yang selalu menghiasi wajahnya selama disampingku diperjalanan membuat hatiku merasa nyaman pula disampingnya.

Sesaat pikiranku kembali teringat pada anak-anak asuhanku. Aku mencoba menghubungkan kondisi mereka saat ini dengan kondisi Ani. Beberapa saat kemudian bibirku mengembang menandakan senyuman manis karena menemukan suatu pemikiran solusi yang tampaknya cukup membantu mereka secara bersamaan dan berimbas positif padaku juga.

“Eh, katanya kamu ingin berguna bagi masyarakat Ni? Kamu nganggur dari kegiatan organisasi kan sementara ini, Cuma sibuk sama kuliah saja?” kataku coba mengintrogasinya.

“Iya, emang kenapa?”

“Aku mau menawarkan kesibukan, mau ga? Tawarku.

“haha, mending kalau nawain duit, malah nawarin kesibukan, emang apa’an?”

“kan kesibukannya mempunyai nilai pahala, lebih berharga dari pada duit. Gini, aku mau nawarin kamu buat ngajar anak-anak, jadi guru, mau ga?”

“Guru? Maksudnya? Bisa dijelasin lebih detail?” tanyanya lagi.

“Gini, aku punya kenalan anak-anak sekitar 12/13 tahun, baru lulus SD tapi belum bisa melanjutkan ke SMP”

“Belum bisa melanjutkan?” potongnya.

“Iya, mereka belum punya duit buat melanjutkna ke SMP, jadi nganggur dulu, maka dari itu aku minta bantuan kamu buat jadi guru mereka, dari pada mereka nganggur kebanyakan main, bukannya lebih baik kalau sebagian waktu bermain mereka diambil sedikit untuk belajar agar lebih bermanfaat buat mereka bahkan untuk sekitar mereka?”

“Terus, aku harus ngajarin mereka apa?” tanyanya lagi.

“Ya apa saja yang kamu bisa, ilmu exact, ilmu social, ilmu computer sekalian ilmu agama kalau bisa, pasti sangat bermanfaat buat mereka” jelasku.

“Wuih, menarik. Boleh juga tuh, hitung-hitung memenuhi tugas sebagai mahasiswa sebagai Agent Of Change salah satunya dengan cara mencerdaskan masyarakat” Responyya sebagai tanda menerima tawaranku.

“Sip, ini juga bisa disebut sebagai pengabdian masyarakatkan? Terimakasih ya Ani”

“Iya, sama-sama” jawabnya dengan senyum indah yang menghiasi wajahnya.

Pembicaraan dan transaksi kami berakhir seiring dengan berakhirnya perjalanan kami berdua yang telah sampai di tujuan. Aku dan Ani berpisah di sebuah gang dimana didalam gang itu lah kostnya berada. Sementara Ani memasuki gang itu setelah berpamitan dengan senyumnya yang setia diwajahnya, aku masih harus melanjutkan perjalanan menuju kost ku yang beberapa langkah berada disamping gangnya dengan senyum yang menghiasi wajahku selama perjalanan.

Hari ini matahari terlihat garang. Panasnya sangat terasa membakar kulitku yang agak kecoklatan khas orang Indonesia. Namun panasnya cuaca hari ini tak mampu menghilangkan rasa sejuk yang ada didalam hati ini. Hari ini aku sudah merencanakan pertemuan Ani dengan anak-anak asuhanku. Aku berharap ini merupakan keputusan yang tepat, karena apabila hal ini berjalan lancer maka ini akan menjadi keuntungan besar buatku. Seperti kata pepatah “Sekali dayung dua tiga pulau terlewati”, dengan bersedianya Ani membantuku maka dua tiga keinginanku bakal terpenuhi, yakni selain merasa puas dengan membantu anak-anak dari segi akademis aku juga merasa senaang karena mampu mendapat kesempatan mengenal lebih dekat sosok Ani.

Tribun lapangan yang biasa kami gunakan bermain bola dan latihan kini sudah terisi dengan anak-anak asuhanku. Raut wajah mereka terlihat bingung dan mata mereka menunjukan rasa keingintahuan terhadap sesosok wanita yang berdiri disampingku.

“Itu pacarnya coach yah?” celoteh Beni mendadak.

Entah mengapa aku sangat ingin mengatakan kata “YA” saat itu, namun itu hanya harapanku saja. Saat itu aku hanya tersenyum dan berkata “inginnya sih begitu” didalam hati. Namun reaksi Ani yang seperti orang bingung bercampur kaget hingga menghasilkan reaksi yang terlihat salah tingkah membuat senyumku terhenti dan segera menyangkal celotehan Beni tadi.

“Bukan kok” sangkalku.

“Oh iya, kok hari ini kita dipanggil ke sini? Katanya kita libur seminggu? Badan kita masih pegal-pegal nih coach, kayaknya belum sanggup kalau disuruh latihan” tanya Somplax.

“Kalian dipanggil kesini bukan untuk latihan kok, oh iya selama istirahat seminggu ini kalian punya kesibukan apa?” tanyaku.

“kayaknya ga ada deh, paling Cuma jalan-jalan, nongkrong, makan dan tidur deh biar badan cepet pulih dari pegal-pegal” jawab Cahyo.

“Berarti bisa dibilang ga ada kerjaan kan? Nah, aku mau menawarkan kegiatan yang lebih bermanfaat buat kalian”

“Apa?” tanya mereka bersamaan karena rasa penasaran mereka.

“Dari pada kalian mengisi waktu senggang latihan kita dengan kegiatan yang tidak terlalu berguna itu, bagaimana kalau kita mengisinya dengan belajar? Mbak Ani yang ada disampingku ini yang akan mengajar kalian”

“Wah, asik nih, apalagi gurunya cantik, pasti semangat belajarnya”

“Syukurlah kalau kalian senang, semoga ilmu yang bu Ani berika akan bermanfaat buat kalian, setelah kalian setuju mari kita atur ulang jadwalnya, untuk minggu depan latihan bola akan dilaksanakan pada hari Senin dan Jum’at, sementara sisanya kita belajar, semuanya dilaksanakan jam 3 sore, setuju?”

“SETUJU…..” jawab mereka secara serempak.

“Ok, pertemuan kali ini selesai, kita berkumpul lagi hari Senin untuk latihan, sebelum bubar kalian harus mengisi formulis pendaftaran, tulis nama kalian beserta nomor punggung yang kalian inginkan, nanti saya akan membut kostum untuk tim ini.”

Mereka saling berebut pulpen dengan senyum yang menghiasi wajah mereka. Aku dan Ani yang memperhatikan mereka di bangku tribun pun ikut tersenyum melihat tingkah mereka. Disela-sela kegaduhan anak-anak itu, tiba-tiba aku teringat permasalahan tim ini yang belum terselesaikan, yakni masalah official yang tidak bisa diremehkan berhubung batas waktu pendaftaran tinggal 3 hari lagi. Seketika itu pula aku langsung berinisiatif mengusulkan nama Ani untuk dilibatkan dalam hal ini. Ani memang sama-sama terkejut pada awalanya. Namun dengan alasan Ani yang bisa membantu harmonisasi dan perkembangan akademis tim ini sesungguhnya merupakan suatu sumbangan yang berharga bagi tim ini, aku jelas hanya bisa mengapresiasinya dengan cara ini. Aku pun berdialog dengan Ani dengan mengatakan bahwa tugasnya tidak banyak bertambah yakni cukup fokus dengan mengajar anak-anak dengan tambahan hadir pada setiap pertandingan. Dengan sedikit penjelasan mengenai alasan anak-anak untuk mengikuti turnamen dan ditambah dengan opiniku, akhirnya Ani menyetujui tawaranku. Tangannya pun akhirnya bergoyang seiring goresan pulpen yang menuliskan namanya pada selembar kertas formulir yang baru saja di isi oleh anak-anak.

Aku benar-benar senang hari ini, setelah melihat senyum anak-anak yang dibawanya menemani langkah mereka menuju rumahnya masing-masing, ditambah dengan suksesnya merayu Ani terlibat dalam hal ini. Selain memberi kesempatan tambahan untuk mengisi waktu bersama dengan Ani, setujunya Ani bergabung dalam tim juga turut membantu meringankan masalah official ini. Setidaknya dalam waktu tiga hari ini aku cukup memfokuskan diri mencari official ke tiga guna memenuhi target pendaftaran. Tidak mudah memang tapi setidaknya lebih baik daripada mencari dua orang lagi bukan?.

Di tengah perjalanan mengantar Ani pulang, Ani tiba-tiba memulai pembicaraan.

“Bud, kamu sekarang masih sering main futsal?.” Tanya Ani membuka pembicaraan.

“Heh? Hmm dibilang sering juga enggak sih, udah vakum sekitar dua mingguan kayaknya udah ga main futsal, emangnya kenapa?”

“Ga pa pa kok, Cuma heran aja kok sekarang ga pernah keliatan lagi di tempat futsalku.”

“Oh, emang kebetulan teman-temanku lagi pada sibuk kok akhir-akhir ini jadi agak susah juga nyari jadwal buat latihan, lagian aku ga main di tempatmu bukan berarti tempatmu bangkrutkan? Masa Cuma kami sih langganan tempat futsalmu? Tak kirain tadi kamu nanya karena kangen taunya karena takut rugi rupanya, haha” candaku.

“Hehe, bukan karena itu kok, aku emang beneran kangen”

“Hah?” kata yang telah diucapkan Ani tadi membuat mulutku tak mampu membalas kata lain selain suara itu.

“Idih, biasa aja kali Bud ekspresinya, sampe mangap-mangap gitu” ucap Ani mengingatkanku yang sejenak kehilangan kesadaran karena ungkapan rasa kangennya.

“Eh, sory hehe, emang apanya yang dikangenin?” kucoba memastikan dengan berharap akulah yang dirindukannya.

“Aku kangen permainanmu, aku kangen melihat aksimu dilapangan futsal, rindu melihatmu melakukan berbagai aksi penyelamatan dibawah mistar gawang, selain itu aku juga kangen melihatmu memberikan motivasi ke teman-temanmu seusai pertandingan, bagiku disaat-saat itu kamu keliatan keren dan….”

“Dan….?”

“Dan gagah” lanjut Ani dengan ekspresi muka malu-malu yang terlihat karena matanya yang tak sanggup melihat kearahku dan selalu menunduk kebawah.

“Ini beneran?” tanyaku lagi untuk lebih memastikan apa yang baru ku dengar dan segera terbalaskan dengan anggukan kepalanya.

Aku sudah tidak sanggup berkata apa-apa lagi saat itu. Aku hanya bisa meneruskan langkah kakiku dengan pandangan mata yang lurus namun tak mampu untuk berkedip. Ekspresi mukaku yang pada awalnya seperti orang yang terkejut atau shock perlahan berubah seiring senyum yang mulai menghiasi wajahku. Mukaku kini terlihat ikut-ikutan malu-malu seperti ekspresi yang ditunjukan Ani. Ditengah suasana malu-malu yang kami rasakan secara bersamaan, tiba-tiba dering ponselku membuat kami yang saat itu seperti terbius sesuatu mendadak seperti sadar kembali. Kulihat ponselku untuk memastikan siapa yang mengirim sms. Rupanya teman futsalku, Dedi, mengirim pengumuman lewat sms yang berisi ajakan untuk kembali melakukan kegiatan yang sudah dua minggu ini terhalang. Dedi mengajak aku dan teman-teman futsalku yang lain untuk latih tanding futsal kembali berhubung  ada temannya yang menantangnya. Sungguh suatu kebetulan yang sangat tepat pada waktunya. Dengan segera aku balas menawarkan tempat futsal Ani sebagai tempat pertandingan dengan alasan aku sedang bersama penjaganya yang tidak lain adalah Ani sendiri. Tidak butuh waktu lama sms balasan dari Dedi pun masuk. Sms yang berisi persetujuannya menyuruhku untuk memesan lapangan pada esok hari jam 3 sore berhubung teman-teman yang lain pun punya waktu luang besok pada waktu yang telah disebutkan.

“Kayaknya rasa rindumu bakal terobati besok nih” ku coba membuka pembicaraan kembali.

“Hmm? Maksudnya?” tanyanya kebingungan.

“Kamu kerja di tempat futsal tiap hari apa dan jam berapa?”

“Tiap haru jum’at sampai minggu, semuanya dari pagi sampai sore”

“Pas banget, tadi teman-teman futsal ngajakin main futsal, aku disuruh nyari lapangan buat besok jam 3, aku pesen di kamu ya? Ada yang kosong kan?”

“Heh? Yang benar? Kayaknya ada deh, nanti aku tanya dulu kalau sudah ada jawabannya aku kasih tau” jawabnya dengan senyum senang diwajahnya yang dilanjutkan dengan tangannya yang aktif menekan berbagai tombol diponselnya pertanda dia sedang menghubungi temannnya seperti yang baru saja dia katakan.

Belum lama dia mengirim smsnya, ponselnya langusng bordering pertanda balasan sms telah datang.

“Kosong katanya Bud”

“Kalau gitu langsung sikat, siap-siap melepas rindu dengan berbagai aksi penyelamatanku ya?”

“Siap, berikan performa terbaikmu, hahaha”.

***Bersambung***