Blog Archives

[Review Indo-Movie] Malam Jumat Kliwon (1986): Hasil Positif Formula Baru

Satu lagi performa Suzzanna sebagai Sundel Bolong. Setelah saya menonton Sundel Bolong, Telaga Angker, dan Malam Satu Suro, ternyata masih ada satu film lagi yang dimana Suzzanna berperan sebagai Sundel Bolong, yaitu Malam Jumat Kliwon. Film ini sekali lagi hasil dari kolaborasi Suzzana dan Sisworo Gautama. Sempat khawatir akan menggunakan formula yang sama, setelah 3 film sebelumnya yang tonton selalu dengan satu formula, yaitu perempuan berkeluarga mati dibunuh kemudian Sundel Bolong melakuka aksi balas dendamnya. Untungnya, ternyata Sisworo mencoba sesuatu yang baru di filmnya kali ini.

Suzanna-Slider.jpg

Read the rest of this entry

Advertisements

[Review Indo-Movie] Petualangan Cinta Nyi Blorong (1986): Kembali ke Pakem Dasar

Nyi Blorong series berlanjut. Setelah Nyi Blorong (1982) dan Perkawinan Nyi Blorong (1983), Suzzana kembali melanjutkan perannya menjadi Nyi Blorong untuk ketiga kalinya. Nyi Blorong bisa idkatakan peran melekatnya Suzzanna kedua setelah Sundel Bolong, menghasilkan 3 film dari tokoh ini, meski bukan berbentuk trilogy.

254523-1001.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Perkawinan Nyi Blorong (1983): Lebih Solid dengan Latar Baru

Tampaknya, melihat kesuksesan komersil Nyi Blorong membuat Sisworo dan Suzzanna melanjutkan membuat film yang berkaitan dengan Nyi Blorong di tahun berikutnya. Kali ini judulnya Perkawinan Nyi Blorong. Tapi, film ini bukanlah sekuel, prekuel juga bukan, ini kisah baru dengan Suzzanna yang lagi memerankan Nyi Blorong, agak aneh ya. Satu-satunya yang harus dipahami adalah asal usul Nyi Blorong yang merupakan anak dari Nyi Roro Kidul.

w644.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Nyi Blorong (1982): Lempar Plot Tanpa Penyelesaian

Nyi Blorong menjadi pilihan berikutnya untuk saya tonton dalam rangka menyelami film-filmnya Suzzanna. Film ini menarik perhatian ketikacatatannya di tahun itu menjadi film terlaris. Sejujurnya, saya tidak begitutertarik dengan film-film Suzzanna selain Sundel Bolong seriesnya, yang dalamhal konteks horror, selain  Sundel Bolongmemang justru rasanya tidak horror, seperti misalnya Nyi Blorong, Buaya Putih,siluman-silumanan, dan semacamnya yang justru lebih terkesan sebagai supernatural fantasy ketimbang horror. Tapi, ketika saya berhasil menikmati Ratu Ilmu Hitam yang begitu berkesan, saya pikir, kenapa tidak coba saja?

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Ratu Ilmu Hitam (1981): Sebuah Masterpiece

Akhir-akhir ini, Indonesia dimata dunia punya branding cinema bahwasannya film Indonesia yang berkualitas (selain film festival) adalahfilm-film  brutal, sadis, dan berdarah-darah.  Tahun ini, khususnya semenjak The Night Comes For Us rilis, penikmat film luar negeri mulai teringat kembali akan film-film seperti The Raid dan sekuelnya, Merantau, dan Headshot.Iko Uwais, Gareth Evans, dan Timo Tjahjanto sudah punya trademark akan sesuatu yang brutal. Beberapa sutradara yang namanya mentereng di luar negeri, seperti Timo, Kimo, Joko Anwar, pun terkenal denganfilm thriller dan horrornya yang juga punya kesan sadis.The Mo Brothers sendiri juga punya film-film seperti Rumah Dara dan Killers yang juga laku di pasar international, dan belum lagi film Sebelum Iblis Menjemput pun sebentar lagi akan dinikmati secara international melalui Netflix. Yup, Indonesia saat ini dikenal sebagai Negara dengan branding cinema berupa sadis melalui 3 genre jualan utamanya, action, thriller, dan horror, dan tentu banyak yang menganggap bahwa hal itu terjadi hanya baru-baru ini,semenjak Rumah Dara lalu dihegemonikan oleh The Raid, padahal tidak. Jauh sebelum itu, Indonesia sudah punya nama di perfilman international, khususnya era 80-an dimana banyak film Indonesia mengincar kesan cult denganmengedepankan ke absurd-an berdarah-darah, senjatanya masih sama, action,thriller, dan horror. Tidak percaya? Coba saja lihat film-filmnya Barry Prima dan Suzzanna. Mau bukti lebih spesifik lagi, coba tonton film ini.

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Sundel Bolong (1981): Awal Formula Duet Sisworo-Suzzanna

Dari pengalaman 4 film Suzzana yang saya tonton –Beranak Dalam Kubur, Telaga Angker, Malam Satu Suro, dan termasuk film ini, 3 diantaranya memerankan Sundel Bolong, dan semuanya mengambil premis mati ketika mengandung. Ada kesamaan formula yeng ternyata terus-menerus digunakan. Bukan bermaksud punya tujuan khusus dalam memilih film-film Suzzana yang saya tonton. Kebetulan dari hasil googling, memang 4 film inilah yang sering disebut-sebut sebagai karya terbaiknya, eh atau film yang paling banyak orang tau. Tapi dari semua karya-karya Suzzanna, segala ciri khas yang ada di film-filmnya dia dimulai dari film ini, Sundel Bolong, awal kerjasamanya dengan Sisworo yang sebelumnya juga menyutradari Pengabdi Setan.

maxresdefault (1).jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Telaga Angker (1984): Sundel Bolong si Superhero

Saya punya firasat kalau cara saya menonton film-film Suzzana salah. Sebelum menonton Telaga Angker, saya lebih dulu menonton film Malam Satu Suro yang rilis 1988. Dan setlah menonton film ini, saya pikir cerita soal tragedy yang membuat arwah membalas dendam menjadi plot yang sering digunakan, dan rasanya masih banyak plot-plot sejenis di film sebelumnya. Yup, harusnya saya urut agar punya penilaian yang lebih objektif. Cerita Telaga Angker memang simple, soal Sundel Bolong yang membalas dendam. Tapi ada banyak hal yang ingin saya ceritakan dari film ini.

ReviewTelagaAngker01.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Malam Satu Suro (1988): Aspek Horor-Drama Keluarga yang Solid

Film 80-an selalu lekat dengan actor-aktor ikonik di tiap genrenya, seperti action dengan Barry Prima dan Warkop DKI di komedi. Begitu juga di Horor, film Indonesia, khususnya era 80-an akan sangat lekat dengan nama Suzzana, bahkan sudah dilabeli sebagai ratu horror Indonesia. Sejujurnya, meski saya sudah sangat sering menonton banyak film 80-an di tv, saya memang tidak begitu hafal. Seringkali di tv menonton Barry Prima, Warkop DKI, hingga Rhoma Irama, tapi saya tidak bisa menyebutkan satupun film mereka, tidak tahu juga ceritanya apa saja, hanya ingat momen, begitupula film Suzzana yang banyak saya tonton tapi tak juga bisa menyebutkan nama film-filmnya. Tapi ada satu film yang sangat saya ingat, Malam Satu Suro. Mungkin dari semua film 80-an yang saya tonton waktu kecil, hanya film ini yang saya sangat ingat betul premisnya tentang apa, saya pikir Cuma ini film yang paling membuat saya terkesan saat dulu. Oleh karena itu, dalam rangka Halloween, yang saya juga mulai berminat mau marathon film-filmnya Suzzana, saya akan mengawalinya dari film ini.

malam-satu-suro.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Jaka Sembung (1981): Sensasi Aneh Tapi Menyenangkan

Saat ini, rasanya ikon actor laga Indonesia bisa dibilang adalah Iko Uwais. Namanya adalah suatu brand tersendiri di Indonesia, dimana ketika namanya ada pada suatu film, khususnya produksi Indonesia, tentu kita paham ekspektasi macam apa yang akan menyambut filmnya. Sementara Yayan dan Cecep, tanpa melupakan jasanya yang membantu banyak munculnya beberapa film laga di Indonesia, brandnya tetap tidak sekuat Iko Uwais. Walau bagaiamanapun, mereka bertiga adalah yang paling berjasa dalam membangkitkan genre film laga di Indonesia. Bangkit, ya, kata ini menandakan kalau Indonesia pernah berjaya dalam film laga. Saya sendiri tidak yakin soal penilaian kritik kualitasnya, tapi secara kuantitas produksi, Indonesia pernah cukup banyak membuat film laga di era 80-an. Dan saat itu, yang sering saya dengar adalah nama Barry Prima, dan bisa dikatakan saat itu dialah ikonnya. Kalau Iko Uwais sendiri memang seorang atlet Silat sebelumnya, Barry Prima sendiri punya bekal ilmu beladiri berupa Taekwondo untuk menunjang aksi-aksinya. Kali ini, kita akan membahas film yang sangat melambungkan namanya, Jaka Sembung, salah satu legenda film laga Indonesia yang juga dikenal dipasar international dengan label Cultnya.

tumblr_n03dcqwFzm1sgdscxo2_500.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1986): Sebuah Film Pertarungan Gender yang Elegan

Saya memang tidak begitu berani untuk menilai film-film lawas Indonesia. Ada ketakutan akan awamnya saya pada konteks standarisasi suatu film. Beberapa kali saya mencoba menonton film-film era 80an yang kata banyak orang disebut terbaik di masanya, tapi pada akhirnya saya tidak begitu terkesan. Pada akhirnya saya tidak berani berkesimpulan, saya masih harus banyak belajar. Tetapi, untuk pertama kalinya ada film Indonesia 80an yang memukau saya. Saya yakin bukan karena ilmu saya yang bertambah, tapi karena memang filmnya yang luar biasa, dan film itu berjudul Kejarlah Daku Kau Kutangkap.

image-w1280.jpg

Read the rest of this entry