Category Archives: Cerpen

[Cerpen : Travel Fiction] Diantara Semeru dan Mahameru

Udara Ranu Pane pada malam itu begitu menusuk dan menembus lapisan jaket, baju, hingga kulit. Panasnya kopi yang dimasak tepat di depan pos pendaftaran pendakian Gunung Semeru itu pun hanyalah nikmat sesaat. Panasnya air kopi itu sebagai penetral dingin, sayangnya cuma bertahan beberapa menit. Upaya menghilangkan dinginnya Ranu Pane tidak hanya berhenti disitu. Sebuah botol air mineral kosong berukuran 1500 ml berputar diantara aku, Dian, Rudi, dan Dimas. Kami mencoba sebuah permainan untuk menghangatkan suasana ditengah dinginnya Ranu Pane di malam hari. Namun sebenarnya aku berharap permainan ini justru bisa menjadi pendingin suasana yang sempat memanas beberapa saat yang lalu. Bahkan raut muka Dimas saat ini masih terlihat menyimpan amarah yang tertahan. Read the rest of this entry

[Cerpen : Travel Fiction] Di Dinding-Dinding Indah Kawasan Malioboro

Daerah Istimewa  Yogyakarta, itu nama lengkapnya. Dan memang seperti namanya, daerah ini memanglah istimewa, setidaknya itulah yang ada dipikiran saya selaku pelancong. Meskipun sudah pernah beberapa kali kesini, selalu ada semangat tersendiri ketika kembali ke kota ini. Suasananya yang khas tak pernah membosankan para pelancong. Aksara Jawa yang cukup  sering menghiasi beberapa tempat, aksitekturnya yang begitu khas, suasananya yang cukup mistis, kultur jawa yang begitu kentalnya, dan yang paling memukau adalah seninya yang ada dimana-mana. Ada banyak julukan Kota Yogyakarta, dimulai dari kota pelajar, kota pendidikan, kota pariwisata, bahkan teman saya pun mengatakan jika ingin tahu apa itu Jawa ya Yogyakartalah tempatnya, namun bagi saya Yogyakarta adalah Kota Seni, Kota dimana seni sangat begitu diapresiasi baik itu tradisional hingga modern,  dan seni bukan asal seni, tapi seni  yang merepresentasikan Indonesia khususnya Jawa. Saya akhirnya berkesempatan kembali ke Kota Seni ini. Teman-teman saya yang suka melancong kesana-sini ingin berkunjung ke Yogyakarta dan tanpa pikir dua kali saya menyanggupi ajakan mereka. Read the rest of this entry

[Cerpen] Aku Benci Sekolah

Pagi ini aku masih memiliki pemikiran yang sama  seperti hari-hari sebelumnya, tentang betapa menyebalkannya sekolah. Aku heran dengan mereka-mereka yang sok mengatakan betapa indahnya masa sekolah. Apa yang menyenangkan dari melakukan kegiatan yang membosankan setiap hari ? Harus bangun pagi, mengerjakan tugas dan PR, berhadapan dengan guru galak yang menambah rasa tak rela untuk belajar.  Dan hari ini aku kembali memulainya dengan pikiran yang sama dan akan melakukan akivitas yang sama. Read the rest of this entry

[Cerpen] “CLUNG” Dari Facebook

Pemberitahuan Facebook “CUT” teriak sang sutradara.

Sebuah kegiatan syuting pembuatan film terlihat disebuah taman yang begitu hijau rumputnya di kelilingi bunga-bunga yang begitu berwarna warni. Seorang lelaki dengan begitu semangatnya berteriak memandu crewnya agar proses syuting berjalan lancar dengan hasil sesempurna mungkin seperti yang diharapkanya. Tidak sia-sia, teriakan dan perintahnya cukup membuat suasana syuting cukup hidup dengan para crew yang meresponnya secara professional. Namun dari sekumpulan orang-orang yang bersemangat itu, seorang wanita duduk terlesu melihat serangkaian aktivitas para crew film sembari menatap pemimpin mereka yang meneriakan sebuah perintah dan semangat dengan tatapan sinis nan benci. Read the rest of this entry

[Cerpen] Cita-Cita Setinggi Tanah

Author : Osyad

“Tidak masalah cita-cita itu tinggi atau biasa saja bahkan sampai serendah tanah, jika cita-cita itu dirasa yang kamu inginkan dan bermanfaat, ya kejar”

 

“Deni, apa cita-citamu?”

Pertanyaan ibu guru itu ternyata mampu membuat anak SD berusia 12 tahun ini berpikir keras. Baru kali ini Deni merasa sangat sulit menjawab pertanyaan dari gurunya. Biasanya Deni tidaklah begitu sulit menjawab pertanyaan apalagi kalau mengenai pelajaran. Deni memang merupakan anak yang pintar, meskipun tidak selalu menjadi rangking 1 tapi bagi guru dan teman-temannya Deni adalah anak yang tergolong cerdas. Namun kecerdasannya kali ini benar-benar sulit diandalakan untuk menjawab pertanyaan ini, pertanyaan yang bukan dari buku tapi begitu penting karena berkaitan dengan masa depannya.

Read the rest of this entry

[Cerpen] Love’s in Vain ?

Author : Osyad

“Cut..  Ok syuting hari ini selesai” ucap seorang lelaki yang sangat bersemangat hari itu.

Meski ditengah terik mentari yang begitu menyengatnya yang setidaknya itulah yang dirasakan crew lain, lelaki itu tetap semangat yang membuat dirinya terlihat sangat mencolok diantara yang lain. Ali memang sedang dalam mood yang paling bagus selama hidupnya saat itu untuk berkarya, akhir-akhir ini Ali seperti terbius doping yang membuatanya menghasilkan beberapa karya yang mempu membius teman-temannya untuk membantunya. Dalam waktu tiga bulan ini sudah banyak idecerita yang tercipta dan beberapa  diantaranya berhasil direalisasikan dalam bentuk film indie baik itu bertema ringan seperti kisah cinta atau persahabatan hingga tema lumayan berat seperti tema-tema sosial dengan dia sendiri sebagai sutradaranya. Rasanya akan ada masa depan cerah bagi industry perfilman nasional jika dia mampu mempertahankan moodnya itu dan lebih tekun lagi belajar, setidaknya itulah yang dirasakan oleh teman-temannya mengenai semangatnya yang begitu meledak akhir-akhir ini.

Teman-temannya memang bingung mengenai semangat yang didapatnya akhir-akhir ini, bukan hanya mengenai kemampuan dia dalam menelurkan karya-karya yang membius mereka tapi juga tingkah lakunya yang menggambarkan seseorang dengan suasana hati yang cerah. Sebelumnya Ali memang sosok santai yang penuh ide hanya saja rasa malas yang mendominasi membuatnya terlihat sebagai sosok yang banyak bicara kurang aksi. Read the rest of this entry

[Cerpen] Petikan Gitar

billiejoeguitar

Malam itu seperti biasa ketika suara jangkrik tak kuasa dikalahkan suara ramai kendaraan. Suara gitarnya itu pun terdengar menambah komponen suara yang ada. Suara gitar itu tak bernyawa, enam petikan senar yang berbeda diikuti tiga kali gembrengannya selalu diulangnya. Sepuluh menit sudah berlalu, suara gitar itu tetap sama dengan tempo yang stabil. Wajahnya terlihat berpikir. Ini tentang prinsip hidupnya. Memikirkan tentang apa yang selama ini dia lakukan. Rasanya dia sudah sampai pada fase pengkhianatan prinsip hidup, ya, fase baru yang akan merubah sebagian dunianya. Read the rest of this entry