Monthly Archives: October 2018

[Review Indo-Movie] Telaga Angker (1984): Sundel Bolong si Superhero

Saya punya firasat kalau cara saya menonton film-film Suzzana salah. Sebelum menonton Telaga Angker, saya lebih dulu menonton film Malam Satu Suro yang rilis 1988. Dan setlah menonton film ini, saya pikir cerita soal tragedy yang membuat arwah membalas dendam menjadi plot yang sering digunakan, dan rasanya masih banyak plot-plot sejenis di film sebelumnya. Yup, harusnya saya urut agar punya penilaian yang lebih objektif. Cerita Telaga Angker memang simple, soal Sundel Bolong yang membalas dendam. Tapi ada banyak hal yang ingin saya ceritakan dari film ini.

ReviewTelagaAngker01.jpg

Read the rest of this entry

Advertisements

[Review Anime] Major Season 4 (2008): Tema Berbeda, Eksekusi Tipikal

Season 1 masa SD, season 2 masa SMP dengan tone dewasa soal bangkit, season 3 soal dunia SMA yang cukup generic soal berjuang bersama tim payah. Soal world building, Major memang luar biasa, mampu memberi cerita yang berbeda di tiap seasonnya, dengan banyak karakter yang berkesan. Kini di season 4, dunia itu akan bertambah luas karena sekali lagi dengan tema yang baru dan berbeda, soal dunia baseball professional, Goro menantang Amerika untuk mencapai Major League, jadi jelas akan ada banyak hal baru.

1216899616

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Malam Satu Suro (1988): Aspek Horor-Drama Keluarga yang Solid

Film 80-an selalu lekat dengan actor-aktor ikonik di tiap genrenya, seperti action dengan Barry Prima dan Warkop DKI di komedi. Begitu juga di Horor, film Indonesia, khususnya era 80-an akan sangat lekat dengan nama Suzzana, bahkan sudah dilabeli sebagai ratu horror Indonesia. Sejujurnya, meski saya sudah sangat sering menonton banyak film 80-an di tv, saya memang tidak begitu hafal. Seringkali di tv menonton Barry Prima, Warkop DKI, hingga Rhoma Irama, tapi saya tidak bisa menyebutkan satupun film mereka, tidak tahu juga ceritanya apa saja, hanya ingat momen, begitupula film Suzzana yang banyak saya tonton tapi tak juga bisa menyebutkan nama film-filmnya. Tapi ada satu film yang sangat saya ingat, Malam Satu Suro. Mungkin dari semua film 80-an yang saya tonton waktu kecil, hanya film ini yang saya sangat ingat betul premisnya tentang apa, saya pikir Cuma ini film yang paling membuat saya terkesan saat dulu. Oleh karena itu, dalam rangka Halloween, yang saya juga mulai berminat mau marathon film-filmnya Suzzana, saya akan mengawalinya dari film ini.

malam-satu-suro.jpg

Read the rest of this entry

[Review Anime]  Major Season 3 (2007): Hasil Mengorbankan Season 2

Sudah 3 season saya mengikuti anime Major. Sejauh ini saya belum merasa Major lebih superior dari anime basebasll seperti Cross Gamer, Furikabute, dan DnA, tapi memang Major saya akui anime bisbol kesekian yang sangat mengesankan. Season 1 memang tidak ada masalah, tapi entah eksekusi drama yang memang begitu menonjol ekskusinya tidak begitu mengesankan. Bukan salah animenya, bukan dianggap sebagai sisi minus, tapi kebetulan saya terlanjur nonton Cross Game yang eksekusi dramanya lebih nampol sehingga membuat Major kebanting. Season 2 konsepnya lebih menarik, eksekusinya juga lebih baik, sayangnya minus Cuma 1, arah karakter Goro yang begitu menyebalkan, kehilangan respect pada karakter ini. Tapi itu semua demi membuat karakter Goror bergerak di season 3, ya season 2 adalah pengorbanan.

major s3

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Jaga Pocong (2018): Konsep yang Menarik

Saya tiba-tiba mengantisispasi film ini dan begitu tertarik. Alasannya ada pada trailer dimana trailer itu berhasil memberikan informasi premis yang sangat menarik buat saya. Suster Milla disuruh untuk menjaga mayat alias pocong di sebuah rumah semalaman. Premis yang sederhana, dan kebetulan saya suka ide-ide yang sangat sederhana berlatar satu tempat seperti ini seperti Buried, 12 Angry Men, hingga The Raid. Dari premis ini, menarik bagaimana saya punya ekspektasi mendapatkan horror dengan sentuhan nuansa depresif yang menyiksa psikologi, karena rasa paranoid ngejaga pocong.

sinopsis-film-jaga-pocong-menguak-teror-1209cf.jpg

Read the rest of this entry

[Review Anime] Major Season 2 (2005-2006): Cerita Lebih Fokus , Tapi Tokoh Utama Menyebalkan

Major S1 sangat memuaskan, khsusnya sentuhan dramanya dengan world building dan ruang lingkup yang cukup luas. Ending season 1 berhasil membuat saya penasaran pada season 2. Tapi begitu mengejutkannya bahwa tokoh utama kita, Goro Honda, yang kini sudah bergantu nama menjadi Goro Shigeru, mengatakan tidak lagi bermain baseball karena cedera. Awal yang cukup menarik untuk memulai.

major 1.jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Series] Marvel’s Daredevil Season 3 (2018): Berfokus Pada Plot Konspirasi

Salah satu alasan The Defenders kurang berkesan adalah karena kebanyakan sudah tau bahwa Daredevil akan berlanjut ke season 3. Tapi menarik juga melihat bagaimana ending The Defenders membuat saya juga sudah punya bayangan bagaimana season 3 bermula, yang ternyata tidak jauh berbeda dengan ending season 2 nya. Daredevil disangka sudah mati –yang tentunya kita tahu tidak akan mati, dimana Matt Murdock akan mengawali season ini dengan penuh pikiran, mulai dari duka akan kematian Elektra hingga persoalan soal jati dirinya, hal yang selalu dibahas selama 3 season.

daredevil1-1.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] The Night Comes For Us (2018): Tahunnya Timo Tjahjanto

Salah satu film yang saya antisispasi di tahun ini akhirnya keluar. Sudah menantikan film ini sejak lama, apalagi dengan deretan bintangnya yang los galacticos dan sutradara yang juga saya kagumi, film ini amat sangat pantas dinanti. Dan akhirnya film yang saya antisipasi dengan ekspektasi lumayan tinggi ini sukses memuaskan saya. Indonesia kembali membuat film aksi yang selevel dengan The Raid. Bagi saya, dua film The Raid saat ini masih akan mapan sebagai yang terbaik, jangan kan disaingi, mendekati saja susah. Beberapa film aksi yang hadir cukup memuaskan meski akhirnya belum sememorable The Raid, mulai dari Juara yang punya drama menyenangkan, 3 Alif Lam Mim yang punya cerita konspirasi yang cukup asik, tapi masih belum ada sisi aksinya yang berhasil menyamai keasikan The Raid, bahkan Headshot sekalipun buatan Mo Brothers. Saya termasuk yang agak kecewa dengan Headshot meski saya juga mengapresiasi banyak aspeknya, tapi jelas di film ini Timo belajar banyak untuk kemudian membuat TNCFU yang akhirnya bisa menjadi pesaing serius The Raid. Yup, TNCFU bisa jadi debatable untuk memilih mana film aksi Indonesia terbaik, sekarang sudah jadi 3 besar yang akan sulit digeser.

image001.png

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Venom (2018): Spider-verse Cukup Berpotensi

Saat pertama kali Sony mengumumkan membuat Spider-verse, ada 2 reaksi yang saya buat. Pertama, dengan Spider-Man sudah ada di MCU, bagaimana mereka membuat Spider-verse, dan kalaupun Spider-Man kembali, bagaimana mereka menyesuaikan masing-masing, yang saya takutkan, Spider-verse akan menjadi universe tanpa Spider-Man? Ya intinya saya takut eksekusi kacau. Reaksi lainnya adalah, saya juga cukup yakin bahwa Spider-Man di MCU tidak akan begitu memuaskan fans Spidey yang punya banyak Rogue Gallery (koleksi villain) yang menarik, jadi dengan Sony memfokuskan pada Spider-verse, ada kesempatan melihat bagaimana versi live action dari para Rogue Gallery Spider-Man. Tambahan, saya berharap Spider-verse bagian dari MCU (maksudnya dengan Spider-Man Tom Holland) namun kemasan film-film yang digarap Sony ini memberi variasi selain MCU style.

Venom.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Asih (2018): Danur Universe Semakin Berbenah

Disaat kebangkitan film Horor yang kesekian ini, muncul dua franchise yang mencuat, Danur dan The Doll -mungkin bisa disebut tiga, tapi entah franchise Kuntilanak kemarin diseriusi atau tidak untuk meluaskan duni trilogy Kuntilanak. Untuk Danur dan The Doll, keduanya punya titik balik yang berbeda, jika The Doll diawali sebagai underated, Danur justru dilabeli overated. The Doll pertama masih penuh hawa pesimistis, dan dengan ekspektasi serendahnya, filmnya justru lumayan. Tapi yang paling memukau tentu The Doll 2, pada akhirnya seri ini sudah menetapkan pilihan, tidak berbakat di bidang horror, The Doll masih punya daya jual yang ampuh melalui aspek Thriller dan Slashernya, The Doll bukan lumayan lagi, tapi sudah dianggap sebagai Cult trersendiri. Sementara Danur justru  punya nama yang terlelau besar jika dibandingkan kualitasnya, memanfaatkan kekuatan pemasaran dengan nama Risa itu sendiri, kisah-kisahnya, Prilly, hingga Shareefa, belum lagi sutradara Awi Suryadi, ekspektasi tinggi tersebut malah terjun bebas ketika akhirnbya Cuma disuguhi Horor generic yang masih punya banyak aspek yang lemah. Menariknya, di tahun ini setelah masing-masing seri sudah mencapai film ke tiganya dengan sama-sama mengusung spin-of,  status kedua seri ini justri berbalik di mata saya. The Doll melalui Sabrina justru tidak memiliki hal lain untuk ditawarkan, masih menggunakan formula yang sama, tidak ada perkembangan, stagnan, dan tampak Cuma pemerah duit saja. Sementara Danur melalui Asih, mungkin karena hasil kritik Danur pertama yang jeblok, Awi Suryadi merasa bertanggung jawab untuk memperbaiki diri, hasilnya sejak film pertama, film-film selanjutnya mulai tampak membaik meski belum sempurna dimana di Danur 2, Cuma bermasalah di 3rd act, sementara Asih secara mengejutkan menggunakan pendekatan yang berbeda dari 2 film sebelumnya. Bisa dikatakan Asih mungkin menjadi film yang sesuai diinginkan Awi dibanding Danur yang mungkin ada tekanan dari PH untuk dibuat generik.

w580.jpg

Read the rest of this entry