Blog Archives

[Review US-Movie] Shazam! (2019): Pembuktian DC. Bisa Kelam, Bisa Cerah

Perlahan tapi pasti, DC mulai mendapatan kepercayaan penonton. Setelah bangkit dengan Aquaman, DC kembali mendapat sambutan baik melalui Shazam! Bagi saya pribadi, DCEU or WODC masih melanjutkan track positifnya dalam menggarap film solo. Setelah Man of Steel (Iya, MOS itu keren, ape lo), Wonder Woman, dan Aquaman, kini Shazam! Menjadi penegas bahwa DC memang bagus dalam menggarap film solo superhero. Namun melalui Shazam!, ini adalah proyek penting DC untuk menunjukan bahwa DC bisa bikin film superhero dengan bebas, mau itu serius dan kelam seperti citra DC selama ini, bisa juga bikin superhero yang fun, dan inilah dia, Shazam!

new-poster-for-shazam-asks-us-to-just-say-the-word-social

Read the rest of this entry

Advertisements

[Review US-Movie] Captain Marvel (2019): Tidak Ada Kreativitas

Captain Marvel jadi pembuka sajian MCU ditahun ini. Sebelum rilis, film ini sudah banyak kontroversi dengan banyak isu-si social-politik, rasial, gender, dan semacamnya dengan berbagai istilah. Menarik melihat ada film Marvel yang mendapat gunjingan sebelum rilis, sekali-kalilah, bosen kan denger film DC mulu yang kena gunjingan, first time? Marvel? Dan tentu saja dengan adanya gunjingan, akan mempengaruhi mood tontonan, dan dengan gunjingan itu, tentu saja motivasi paling menarik adalah soal pembuktian, apalagi kebanyakan isu yang beredar adalah bukan secara kualitas produksi, apa memang cuma sekedar itu atau karena memang secara produksinya pun bermasalah?

kekuatan-captain-marvel-yang-bisa-bikin-5cfd6c.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Foxtrot Six (2019): Level Baru Film Blockbuster Indonesia

2019 berharap menjadi tahun yang menyenangkan buat perfilman Indonesia. Setelah Januari dibuka dengan sangat baik, baik secara komersil maupun kritik, Februari masih menjanjikan beberapa film yang menarik. Pilihan saya jelas jatuh pada Foxtrot Six yang sudah saya antispasi jauh-jauh hari.  Eksplorasi ragam genre di perfilman Indonesia semakin berkembang, dan salah satu yang berkembang adalah film action. Sebagai pembuka genre action di tahun ini, Foxtrot Six termasuk berhasil menjaga nada optimism film nasional di tahun ini.

edan-biaya-pembuatan-foxtrot-six-termah-2336c8.jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Series] Titans (2018): Lebih Kelam dan Brutal, Tapi Tetap Standar Arrowverse

DC kembali menambah koleksi shownya, bahkan menambah universe baru. Setelah universe series animasi TimmVerse (yang tentunya sudah tamat), lalu universe movie animasi (DCAMU), World of DC atau DCEU, ArrowVerse, kini tambah 1 lagi. Entah apanamanya, tapi ini dari layanan streaming bernama DC Universe, khusus kepunyaan DC dan WB. Dan proyek perdananya adalah Titans, sebuah tim dari para remaja nerkekuatan super, kecuali Robin, karena dia, hmmm, He is Batman…..sidekick.

Titans-DC-Universe-Banner.jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Series] The Punisher Season 2 (2019): 2 Plot Villain yang Tak Menyatu, Tapi Diperlukan

Netflix sedang bersih-bersih acara Marvel. Iron Fist dan Luke Cage telah di cancel, dan yang paling disayangkan tentu ikut dicancelnya Daredevil yang padahal belum puas melihat pertarungannya dengan Bullseye. Kini tersisa The Punisher dan Jessica Jones. Tentu ini akan jadi musim terakhir The Punisher yang tayang lebih dulu,. Maka tentu harapannya tidak ada lagi misteri tersisa mengingat kelanjutan series Marvel-Netflix ini tidak ada kejelasan juga. The Punisher punya season pertama yang menarik, mebuatnya menjadi salah satu series andalan Marvel-Netflix bersama Daredevil dan Jessica Jones. Tentunya harapannya series ini mempertahankan kualitasnya secara konsisten, mengikuti jejak Daredevil.

maxresdefault (5)

Read the rest of this entry

[Review J-Movie] Princess Mononoke (1997): Sebuah Upgrade dari Nasuciaa, Tapi Tetap Tak Bisa Mengalahkannya

Semenjak Nasuciaa dan Castle in the Sky, Miyazaki kerap membuat film-film yang simple dengan berfokus pada menikmati momen, bukan pada cerita. Mulai dari My Neighbor Totoro, Kiki’s Delvery Service, dan Porco Rosso, semuanya menolak ribet which is bagus dan menunjukan pada dunia bahwa membuat film bagus tidak harus rumit dan bertitik berat pada cerita mengupas segala tanya. Namun Miyazaki juga punya ambisi untuk membuat film yang kompleks bertitik berat pada cerita dan isu yang besar, yang menuntunnya pada keberhasilannya menciptakan Princess Mononoke. Princess Mononoke sebenarnya ide lama Miyazaki yang baru bisa direalisasikan 20 tahun kemudian. Namun meski ide lama, tema film ini sebenarnya sudah direalisasikan melalui film Nausicaa of The Valley of the Wind. Meski begitu tidak ada pernyataan resmi bahwa Nausicaa dan Princess Mononoke berasal dari ide yang sama. Tapi Miyazaki pernah berkata bahwa Princess Mononoke merupakan perbaikan dari ending Nasuciaa. Jadi, berdasarkan statement itu, saya menganggap Princess Mononoke adalah upgrade dan Nasuciaa.

princess-mononoke.jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] How To Train Your Dragon: The Hidden World (2019): Trilogi Dreamworks Paling Solid

Bicara soal film animasi Hollywood, track record untuk sebuah sekuel benar-benar buruk. Studio besar macam Walt Disney dan Pixar saja selalu kerepotan dengan sekuel yang lebih sering menerima kritik tak memuaskan, meski selalu menjanjikan secara komersial. Tapi studio besar lainnya, Dreamworks, termasuk yang paling hobi membuat… yang jangan kan sekuel, kalau menguntungkan ya sekalian saja buat waralabanya. Saya memang lebih suka Pixar ketimbang Dreamworks. Dreamworks punya kuantitas film yang jauh lebih banyak dari Pixar, meski data rasio dengan kualitasnya kalah telak. Bicara film original, Pixar adalah jagoan saya, tapi kalau bicara sekuel ternyata Dreamworks punya jumlah film yang lebih banyak suksesnya. Disaat Pixar baru punya Toy Story dan Incredible sebagai franchise yang solid, Dreamworks sudah punya Kung Fu Panda, Shrek, dan terbaru kini menjadi andalannya, How To Train Your Dragon.

960x410_daf787ee126f2a0253682fd1a67f9c61.jpg

Read the rest of this entry

[Review J-Movie] Porco Rosso (1992): Si Babi yang Suka Terbang, Hayao Miyazaki Juga Suka Terbang

Film ke 7 Ghibli, film ke 5 Hayao Miyazaki yang saya konsumsi. Film ini semakin membutktikan akan obsesi Hayao Miyazaki pada angin, atau lebih spesifiknya pada segala hal yang terbang. Setelah Nasuciaa yang bisa terbang dengan teknologi anehnya, lalu ada kastil yang terbang, Totoro juga bisa terbang, dan Kiki terbang dengan sapu terbangnya, kini muncul si Pilot Babi. Yup, sekali lagi pula Miyazaki memberikan salah satu imajinasi absurdnya.

maxresdefault (4).jpg

Read the rest of this entry

[Review Animated Series] Castlevania Season 2 (2018): Cerita Sekuel yang Tidak Sesuai Ekspektasi, Tapi Tetap Memuaskan

Serial animasi Castlevania memberi saya optimism dalam 2 hal. Pertama, bahwa adaptasi game bisa keren. Kedua adalah animasi US ternyata bisa serius dan dewasa yang cukup bijak pula tidak mempermasalahkan menggunakan anime syle. Kebetulan bagi saya di animasi, tidak masalah soal stylenya, karena ciri khas produk budaya tontonan dari suatu Negara tidak sebatas itu, masih ada gaya bercerita, filosofi atau makna tersirat dibalik naskah atau dialog, detail visual penggambaran kultur, nilai norma yang terkandung minimal norma kesopanan, hinga minimal secara bahasa. Dan Castlevania meski secara artwork bergaya Jepang, secara latar tempat adalah eropa, tapi di detail yang lain, rasa Amerika tetaplah terasa. Kembali soal optimism yang hadir berkat Castlevania, tentu saya jadi antusias menanti sekuelnya.

castlevania.jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Spider-Man: Into The Spider-verse (2018): Penghormatan Untuk Peter Parker, Selamat Datang Miles Morales

Ada suatu alasan kenapa Spider-Man merupakan superhero paling popular bersanding bersama Batman. Bagi kebanyakan fansnya, Spider-Man merupakan superhero yang paling relatable. Spider-Man yang alter ego paling terkenalnya adalah Peter Parker, merupakan karakter remaja dengan kehidupan sekolah namun menyambi superhero. Dia juga bukan orang kaya seperti Tony Stark, dia Cuma seorang pelajar biasa yang ada ditengah masyarakat, tidak seperti agen-agen, ilmuwan, atau tentara yang merupakan kebanyakan adalah alter ego para pahlawan Marvel. Iya, Peter pintar, tapi dia tetaplah pelajar di berbagai adaptasi dengan permasalahan berupa mengerjakan PR, memikirkan bagaimana caranya berteman, ingin membuat terkesan cewk yang ditaksirnya, dan dengan menjadi superhero, Peter yang merupakan masyarakat biasa harus melindungi identitasnya. Sebagai seorang introvert yang juga sering dibully, bagi orang-orang yang relatable dengannya, Spider-Mannya Peter Parker, jelas karakter ini bagai sebuah harapan dimana karakternya diwakili, dan kondisinya adalah yang paling relatable dengan banyak orang. Selain factor relatable, Spider-Man juga punya kostum yang bagus dan gaya bertarung yang keren, paket lengkap. Saya pun adalah bagian dari banyak orang, Spider-Man adalah kaarakter superhero yang paling saya suka, bukan Cuma karena keren dengan film-filmnya, tapi juga karena terasa diwakili dan sangat relatable. Namun film terbaru Spider-Man ini punya sesuatu yang berani yang merangsang rasa penasaran saya. Memperkenalkan Miles Morales, menyingkirkan sejenak Peter Parker yang merupakan idola saya, dan menggunakan konsep multiverse di ranah film anak-anak adalah sesuatu yang berani. Seperti apa jadinya?

shareImage.jpg

Read the rest of this entry