Monthly Archives: December 2018

[Review J-Movie] Nausicaa of the Valley of the Wind (1984): Film Anime Rasa Anime Series Saga

Akhirnya saya memutuskan untuk mencicipi film-film Ghibli. Duh.. marathon Suzzanna belum kelar, marathon Godzilla Cuma seuprit juga, nambah lagi PR baru. Ya gimana, sudah gatal mencicipi salah satu studio yang di klaim belum pernah bikin film jelek. Jadi saya memutuskan mengikuti Ghibli sesuai kronologi filmnya, yaitu film pertama yang rilis pada 1984, wow tua juga, Nausicaa of The Valley of the Wind.

16265_4.jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Series] The Flash Season 4 (2017-2018): Lebih Fun

Season 3 ternyata berakhir menyebalkan untuk The Flash. Setelah paruh awal dengan pendekatan dark ke karakter Barry Allen sebenarnya cukup ok, satu-satunya yang menyebalkan yak arena Barry Allen meng Olver Queen kan diri, namun di paruh ke dua kucing-kucingan Savitar-Iris jadi menyebalkan terlalu repetitive. Entah karena merasa pendekatan kelam ke The Flash tidak berjalan baik atau bagaimana, di season ke 4 The Flash justru jadi jauh lebih cerah dan fun. Bahkan lebih fun dari pada season 1.

1508182906_429_the-flash-season-4.png

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Milly & Mamet (2018): Ketika Ernest dan Miles Film Saling Melengkapi

Film ke-4 Ernest, yang setelah Susah Sinyal mengkhawatirkan, tapi mendadak tenang ketika film selanjutnya adalah dibawah naungan Miles Film. Ernest Prakasa jelas punya potensi. Melalui Cek Toko Sebelah dan Ngenest, kemampuan filmakingnya sudah tak usah diragukan lagi, tinggal bagaimana konsistensinya dan ngejaga semangatnya. Kemudian Susah Sinyal akhirnya menjadi catatan belangnya dimata saya. Saya mengerti bahwa joke Susah Sinyal punya segmentasi pasar yang berbeda dari 2 film sebelumnya, jadi saya tidak akan menganggap joke sebagai nilai minus karena itu bisa jadi masalah selera. Tapi terlepas dari gaya jokenya, rasanya bisa disepakati bahwa sisi minus dari Susah Sinyal adalah memang masalah proprsional yang bahkan membuat sisi dramanya tidak membekas, dan banyaknya scene tak perlu yang dibuat hanya untuk kepentingan komedi saja. Susah Sinyal pada akhirnya hanya tampak seperti film “yang penting ada” saja. Itulah kenapa saya agak khawatir di film selanjutnya. Tapi melihat Miles lah yang memberi mandat pada Ernest untuk “mengasuh” salah satu karakter paling lucu di semesta AADC sebagai film ke-4 nya, saya pun kembali merasa yakin pada Ernest.

Milly_Mamet_001.jpg

Read the rest of this entry

[Review Animated Series] Castlevania Season 2 (2018): Cerita Sekuel yang Tidak Sesuai Ekspektasi, Tapi Tetap Memuaskan

Serial animasi Castlevania memberi saya optimism dalam 2 hal. Pertama, bahwa adaptasi game bisa keren. Kedua adalah animasi US ternyata bisa serius dan dewasa yang cukup bijak pula tidak mempermasalahkan menggunakan anime syle. Kebetulan bagi saya di animasi, tidak masalah soal stylenya, karena ciri khas produk budaya tontonan dari suatu Negara tidak sebatas itu, masih ada gaya bercerita, filosofi atau makna tersirat dibalik naskah atau dialog, detail visual penggambaran kultur, nilai norma yang terkandung minimal norma kesopanan, hinga minimal secara bahasa. Dan Castlevania meski secara artwork bergaya Jepang, secara latar tempat adalah eropa, tapi di detail yang lain, rasa Amerika tetaplah terasa. Kembali soal optimism yang hadir berkat Castlevania, tentu saya jadi antusias menanti sekuelnya.

castlevania.jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Spider-Man: Into The Spider-verse (2018): Penghormatan Untuk Peter Parker, Selamat Datang Miles Morales

Ada suatu alasan kenapa Spider-Man merupakan superhero paling popular bersanding bersama Batman. Bagi kebanyakan fansnya, Spider-Man merupakan superhero yang paling relatable. Spider-Man yang alter ego paling terkenalnya adalah Peter Parker, merupakan karakter remaja dengan kehidupan sekolah namun menyambi superhero. Dia juga bukan orang kaya seperti Tony Stark, dia Cuma seorang pelajar biasa yang ada ditengah masyarakat, tidak seperti agen-agen, ilmuwan, atau tentara yang merupakan kebanyakan adalah alter ego para pahlawan Marvel. Iya, Peter pintar, tapi dia tetaplah pelajar di berbagai adaptasi dengan permasalahan berupa mengerjakan PR, memikirkan bagaimana caranya berteman, ingin membuat terkesan cewk yang ditaksirnya, dan dengan menjadi superhero, Peter yang merupakan masyarakat biasa harus melindungi identitasnya. Sebagai seorang introvert yang juga sering dibully, bagi orang-orang yang relatable dengannya, Spider-Mannya Peter Parker, jelas karakter ini bagai sebuah harapan dimana karakternya diwakili, dan kondisinya adalah yang paling relatable dengan banyak orang. Selain factor relatable, Spider-Man juga punya kostum yang bagus dan gaya bertarung yang keren, paket lengkap. Saya pun adalah bagian dari banyak orang, Spider-Man adalah kaarakter superhero yang paling saya suka, bukan Cuma karena keren dengan film-filmnya, tapi juga karena terasa diwakili dan sangat relatable. Namun film terbaru Spider-Man ini punya sesuatu yang berani yang merangsang rasa penasaran saya. Memperkenalkan Miles Morales, menyingkirkan sejenak Peter Parker yang merupakan idola saya, dan menggunakan konsep multiverse di ranah film anak-anak adalah sesuatu yang berani. Seperti apa jadinya?

shareImage.jpg

Read the rest of this entry

[Review J-Movie] Godzilla (1954): Menakjubkannya Film Godzillla Pertama

Secara resmi saya menyatakan bahwa film Godzilla King of Monster adalah film yang paling saya nantikan di tahun 2019. Jujur saja, saya punya obsesi tersendiri dengan film-film kaiju, monster, robot raksasa, titan, apalah itu istilahnya. Film sebangsat Transformerspun saya lahap. Tapi, ironisnya saya belum sekalipun nonton film Godzilla? Lah kok bisa? Bukan belum pernah menonton, saat kecil dulu saya sering melihat film Godzilla di tv, tapi belum ada 1 film pun yang filmnya saya tonton lengkap dari awal hingga akhir dengan berbagai alasan, entah gara-gara ketinggalan iklan, entah Karen bertepatan sekolah, entah telat nonton, ada saja alasannya. Eh tapi kalau Godzilla versi Hollywood udah saya tonton semua loh, tapi tetap saja memalukan kalau belum pernah nonton dari tanah leluhur Godzillanya itu sendiri.  Ironis memang, butuh momentu hype akan Godzilla King of Monster dulu untuk membuat saya menggerakan diri menonton Godzilla dari awal. Jadi, ini adalah salah satu misi saya di tahun yang akan dating nanti, memperbanyak pengetahuan soal dunia Kaiju.

793807.jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Series] Supergirl Season 3 (2017-2018): Kenapa Plot Supergirl Sulit Intens?

Supergirl telah mencapai season 3, dan di Arrowverse season 3 adalah kutukan. Arrow menurun setelah 2 season yang hebat. The Flash juga mengalami hal yang sama, bahkan anjlok signifikan dibanding 2 season awal, lalu bagaimana Supergirl? Saya sebenarnya cukup optimis dengan Supergirl. Karena, 2 season awal Supergirl masih terbilang medioker tak sehebat Arrow dan The Flash. Jadi, rasanya Supergirl tidak punya beban akan perbandingan dengan season sebelumnya, ditambah memang masih banyak ruang untuk berkembang.

maxresdefault (2).jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Aquaman (2018): Megah, Film DC Paling Menghibur

Ada banyak alasan untuk ragu pada film live action DC di dekade ini. Sempat yakin akan kebangkitan melalui Wonder Woman, Justice League justru memberikan kekecewaan yang membuat nama DC di jagat perfilman mendapat citra kurang baik. Jadi wajar, Aquaman diliputi rasa was was menjaga ekspektasi.  Tapi saya sebetulnya tidak merasa begitu pesimis karena beberapa faktor. Pertama, DCEU sejauh ini selalu berhasil memuaskan saya di proyek film solo, tidak sehancur film assemble. Kedua, sejak di Justice League, saya berhasil tertarik pada Aquaman akan aksinya di bawah laut. Dan ternyata benar, film ini sukses di konteksnya tersendiri, sangat menghibur.

disbthzxkair9p.jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Series] Arrow Season 6 (2017-2018): Get My Trust Back

Buat saya, season terbaik Arrow adalah antara season 1 dan 2, personally saya lebih suka yang pertama. Dan semenjak saat itu hingga kini, belum ada yang menyamai level 2 season ini. Season ketiga bagi saya masih menghibur, walau ya menurun memang,  tapi season 4 benar-benar jadi titik terendah Arrow dan membuat citra Arrowverse jadi dianggap remeh. Damien Dhark yang membosankan, Felicity yang annoying, cast semakin banyak, dan pola cerita yang sama membuat season ini sangat membosankan, puncaknya adalah kematian Laurel yang banyak membuat marah penonton, dimana selama ini karakternya belum dihormati sepanjang serial ini berlangsung. Season 5 jelas sekali ada upaya perbaikan. Hasilnya memang membaik, sayangnya selain villain yang keren, yah Adrian Chase adalah villain terbaik Arrow, tapi selain itu tetap masih banyak masalah, mulai dari masalah berjubelnya cast yang membuat karakterirasasi, sub plot, hingga koreo fight jadi membingungkan, atau.. bisa jadi saya yang bosan pada formatnya. Perbaikan di season 5 tidak membuat saya terlalu berekspektasi di season 6, dan entah apa ekspektasi itu ada pengaruhnya, tapi saya merasa season 6 bisa dianggap sebagai salah satu season terbaik Arrow. Yes !!! Arrow great again, serial ini berhasil membuat saya kembali menyukai Green Arrow.

hSidSyz.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Napsu Gila (1973): Premis yang Menarik, Berharap Remake

Napsu Gila menjadi film kedua Suzzanna era 70-an yang saya tonton setelah Beranak Dalam Kubur (1972). Bukan, Napsu Gila bukan film erotis, bukan juga film horror yang melekat pada nama Suzzanna, tapi film ini merupakan film Thriller Mystery. Sebuah genre yang jarang kita lihat di perfilman Indonesia sejak 2000-an, dimana menjelang akhir 2000-an hingga kini mulailah muncul berbagai film Thriller mystery lewat sutradara macam Joko Anwar, The Mo Brothers, hingga Upi. Pasarnya jelas tidak banyak di Indonesia saat ini, dan inilah yang membuat saya penasaran bagaimana kualitas film Thriller era 70-an ini.

Napsu Gila

Read the rest of this entry