Blog Archives

[Review Indo-Seri] The Publicist (2017): Drama Para Karakter Unlikeable

Bicara soal serial Indonesia, sejujurnya saya sudah mulai berada di tahap sangat pesimis saat ini. Sempat berharap pada 2015 lalu atas gebrakan beberapa tv dalam meramu serialnya, semangat itu langsung redup dari tahun ke tahun. Saya sudah mulai di tahap ogah bahkan untuk sekedar ada serial atau sinetron bagus di tv kalau secara system tiap yang bagus punya kewajiban memanjangkannya, bahkan Net Tv sekalipun mulai menerapakan episode panjang itu. Satu-satunya harapan ada pada portal digiltal melalui fasilitas streaming. Para layanan streaming seperti Viu, Hooq, Iflix,atau manapun yang saya belum tahu setidaknya menjadi harapan saya untuk merangkul para pasar yang ditelantarkan televisi yang terus memasarkan produk konten bodohnya pada pasar yang dituju. Dan yang akhir-akhir ini terlihat cukup rajin memproduksi adalah Viu dan percobaan pertama saya ada pada The Publicist.

viu-original.jpg

Read the rest of this entry

Advertisements

[Review Indo-Seri] Tim Bui (2012): Niat Baik Tanpa Eksekusi Yang Baik

Metro TV yang merupakan stasiun televisi non profit alias tidak mengutamakan entertain untuk keuntungan kali ini menyediakan sinetron. Tentu saja banyak yang penasaran kenapa pada akhirnya TV yang biasa menayangkan berita baik yang bermanfaat maupun berselimut propaganda ini mau menayangkan sinetron, dan ternyata sinetron yang ditayangkanpun bukanlah sinetron yang biasa ditampilkan di stasiun televisi profit umumnya. Sinetron ini menampilkan ide baru nan fresh, terobosan ini tentunya mendobrak sistem sinetron kita yang mendewakan rating dimana rating sedikit bakal berhenti ditengah jalan rating tinggi lanjut nulis skenario buat striping hingga mencapai ratusan episode. Tim Bui adalah sinetron 13 episode yang tentunya bukan bertujuan komersil. Kejutan lain hadir ketika ada nama Garin Nugraha sebagai producer eksekutif yang menggagas ide sekaligus membiayai. Garin Nugraha adalah sutradara kondang Indonesia yang terkenal berkat film-filmnya yang berjudul puitis seperti Daun di Atasa Bantal, Puisi Tak Terkuburkan dan lainnya. Sinetron ini diproduksi Searching for Common Ground yang bekerja sama dengan SET Film, sementara itu yang dipercaya sebagai Sutradara adalah Sugeng Wahyudi.

the-team-indonesia-poster1

Read the rest of this entry

[Review Indo-Seri] Buku Harian Nayla (2006) : Serba Mengalah Demi Kemasan Dramatisasi Opera Sabun

Berdasarkan pertimbangan nostalgia, dalam rangka mencoba mengenali serial televisi Indonesia yang (saya rasa kira-kira) berkualitas, saya merasa perlu menonton ulang Buku Harian Nayla. Dulu, saya merasa seri ini ok dan berdasarkan ingatan itu, saya rasa akan memasukannya dalam list proyek nonton serial Indonesia ini. Belakangan saya tahu mengenai isu plagiarism seri ini dengan dorama Jepang berjudul 1 Litre Of Tears dan jelas membuat saya kecewa sekaligus dilematis apakah layak untuk ditonton ulang kemudian di review, pantaskah nantinya untuk di apresiasi ? Yah setelah melewati proses berpikir yang cukup, rasanya saya akan memberikan kesempatan dengan pertimbangan yang akan saya nilai adalah eksekusi teknisnya, apakah sesuai ingatan nostalgia ataukah masih kualitas sinetron kebanyakan ? Dan juga penasaran dengan adaptasi budayanya. Yup, untuk sementara saya akan menganggap ini sebagai adaptasi, walaupun saya tahu secara etika seri ini sangatlah hancur, karena meskipun tanpa konfirmasi adaptasi resmi, mengubah “based true story” menjadi “just fiction story” benar-benar keterlaluan. Jadi, ya saya masih akan mencoba mengulas lagi dengan rasa respect yang tercederai di dalamnya.

959

Read the rest of this entry

[Review Indo-Seri] Dunia Tanpa Koma 2006 : Sebuah Niat Baik Membenahi Petelevisian Nasional

Jadi gini, beberapa tahun lalu saya baru tahu bahwa Indonesia pernah begitu niat dalam membuat serial televisi. Dan karena akhir-akhir ini saya lagi pengen banget banyakin review sinetron-sinetron Indonesia, khususnya mereview sinetron Indonesia yang pantas diingat dan diapresiasi untuk dikenang sepanjang masa. Saya yakin sinetron Indonesia tidak semuanya sampah. Maka dari itu akhir-akhir ini saya mau menonton ulang apa yang pernah saya tonon yang menurut saya bagus, entah itu bermotif nostalgia semata atau dari omongan orang-orang, dan salah satu yang hasil dari omongan orang-orang adalah sinetron ini, Dunia Tanpa Koma.

dtk

Read the rest of this entry

[Review Indo-Seri] Para Pencari Tuhan Jilid 1 (2007) : Bukti Kalau Tontonan Segmentasi Kelas Menengah Kebawah Tidak Harus Sampah

Sepertinya sudah ada kesepakatan bersama tentang betapa berkualitasnya sinetron Para Pencari Tuhan (PPT) menjadi sebuah hal yang langka ditengah kepungan berbagai sinetron  yang mengabaikan berbagai etika dan estetika dengan sangkalan pasar menengah kebawah yang dianggap tidak harus disajikan tontonan berkualitas, utamanya soal teknis. Semenjak 2007 PPT sudah menemani masayarakat muslim di Indonesia di setiap kehadirannya yang bersamaaan pada saat bulan suci Ramadhan. Dan semenjak itulah, PPT sudah mendapat pengakuan disana sini sebagai suatu sajian yang waras disbanding sinetron kebanyakan, baik dari segi pesan maupun secara teknis. Secara pesan, rasanya sudah banyak apresiasi yang muncul di berbagai review yang bertebaran ditulis para blogger Indonesia, khususnya mengenai aspek keislaman apa saja yang muncul, topik permasalahan, dan kesan tidak menggurui. Oleh karena itu, rasanya bagisaya semua apresiasi terkait pesan moral sinetron ini sudah sangat terwakili oleh mereka-mereka yang menulis review. Namun, dari semua itu, rasanya tidak ada yang menyinggung sedikit pun terkait soal teknis produksi yang membuat saya semakin ingin membuktikan, apakah sinetron yang saya tonton dulu ini memang Cuma menarik karena pesan moral saja, atau memang kualitasnya juga mampu menyeimbanginya untuk semakin mengkokohkan pengakuan berkualitasnya sinetron ini ? Sekal lagi untuk penegasan, saya tidak akan berkomentar banyak hal soal berbagai pesan moral ataupun aspek keislamannya, tapi lebih menyoroti tentang eksekusi secara teknisnya. Yuk mari…

ppt-jilid-1-5767e297b292736a090a4fc4

Read the rest of this entry

[Review Indo-Seri] Cinta Dan Rahasia 2017 : NET Mulai Mengkhawatirkan

Di tahun 2017, divisi serial NET sejauh ini sudah mengeluarkan Cinta dan Rahasia yang setelah berakhir beberapa minggu yang lalu kemudian digantikan oleh Kesempurnaan Cinta season 3. Dari 2 judul itu kita bisa melihat sebuah trend terbaru dari NET untuk menggunakan judul lagu hits sebagai ide cerita atau sebuah judul seri. Nampaknya NET masih mempertahankan cerita daily life dengan tema klise (umumnya cinta) seperti tahun kemarin yang mengandalkan Catatan si Boy dan Kesempurnaan Cinta. Sepertinya saya masih harus bersabar menunggu tema-tema tidak biasa serial NET seperti di awal gebrakannya dan sementara menikmati sajian serial daily life nya NET yang disajikan akhir-akhir ini. Tidak masalah sih, bagi para production house yang bekerja sama dengan NET untuk menurunkan production value selama punya cerita yang baik, matang, dan juga menarik. Korea juga butuh 10 tahun untuk bisa beranjak dari tema-tema yang mungkin tidak berformat daily life tapi punya production value umum berupa sajian drama percintaan hingga akhirnya kini Korea bisa mengembangkan tema itu menjadi sajian cerita cinta dengan latar background bombastis seperti dekmas secara sci-fi, action, fantasy, hingga berlatar profesi tertentu. Tentu saja tema klise remeh temeh tidak masalah jika memang dikemas dengan baik, Catatan si Boy menunjukan hal itu. Tapi yang jadi masalah NET saat ini adalah format acara yang belum konsisten. NET terlihat ingin menerapkan system season untuk serialnya, hanya saja sampai saat ini belum ada kelanjutan dari angkatan pertama seperti Masalembo yang terlihat masih punya potensi untuk dikembangkan, dan hanya Stereo yang melanjutkan season (itupun flop). Kemudia ditahun berikutnya Kesempurnaan Cinta kembali menegaskan system Season NET hanya saja dengan format yang makin mengkhawatirkan. Dan ternyata jejak Kesempurnaan Cinta diikuti oleh Cinta dan Rahasia, dan format ini sangat membuat saya khawatir.

Patriot, Enignma, Stereo, Masalembo, hingga Catatan si Boy tampil dengan jumlah episode yang ideal, minimal 8 hingga maksimal 20an. Kesempurnaan Cinta kemudian hadir di season pertamanya dengan jumlah 30 episode, angka yang cukup panjang untuk serial yang biasa saya ikuti namun masih saya anggap ok, tapi kemudian Kesempurnaan Cinta di season ke 2 nya justru menambah jumlah episodenya hingga 50, wow its too much. Tapi saya masih tidak ambil pusing mengingat saya tak mengikutinya dan juga mengingat serial ini tujuannya untuk tontonan keluarga jadi mungkin untuk ibu-ibu fine-fine saja, saya anggap sebuah kompromi. Tapi kemudian cerita Cinta dan Rahasia hadir dengan tema sebuah cerita cinta remaja yang tentu saja targetnya untuk anak kuliahan umur 20-an, sebuah kisah klise dan simple yang termasuk keterlaluan untuk konteks sebuah serial dengan jumlah episode mencapai 60 episode. 60 ? Really ? Its too much for me. Ok memang sebagian besar penonton Indonesia jika suka dengan sebuah cerita sangat ingin menikmatinya dengan jangka waktu panjang dan tidak ingin cepat-cepat berakhir, tapi saya juga yakin bagi sebagian penonton NET dengan label televisi masa kininya, juga punya penoton yang juga membandingkan acara-acara NET dengan acara luar dimana itu adalah hal bagus sebagai pengakuan untu NET. Maksudnya saya yakin para penonton yang mengikuti serial-serial NET sejak 2015 merupakan penonton yang sering nonton serial Korea hingga Amerika yang juga punya harapan pengen punya tontonan dalam negeri dengan kualitas dan format yang sama. yaitu menarik tapi tidak menyiksa menghabiskan waktunya terlalu lama untuk mengikuti sebuah serial, yang jika diikuti perminggu masih bisa diikuti, dan jika marathon (apalagi NET punya fitur online) tidak sampai meniksa hingga hitungan minggu untuk menghabisinya. OK, terlepas dari formatnya, bagaimana dengan kualitas Cinta dan Rahasia ?

Cinta-dan-Rahasia-1

Read the rest of this entry

[Review Indo-Seri] Catatan Si Boy The Series 2016 : Serial Termatang Yang Di Garap NET TV

Setelah sebelumnya Net membuat gebrakan besar-besaran pada 2015 melalui konetn-konten serial tv nya [Review Perkembangan Serial Televisi Indonesia 2015 : Gebrakan dan Pencarian Jati Diri], sepertinya Net nyalinya mulai menciut di 2016. Coba kita simak premis serial Net Tv tahun 2015 ; sebuah drama musical berjudul Stereo, kisah petualangan survival para korban selamat  penumpang pesawat jatuh di sebuah pulau Masalembo, cerita seputar investigasi criminal dalam Enigma, hingga petualangan 7 tentara Indonesia melawan teroris Asia Tenggara berjudul Patriot. Setelah semua ide cerita Net di 2015 yang begitu menggelegar, Net kembali menggarap serial di 2016 dengan kuantitas judul baru yang menurun, yaitu tentang seorang Duda menjalani kisah sehari-harinya dimana ada 2 wanita yang tertarik padanya berjudul Kesempurnaan Cinta dan kisah sehari-hari seorang yang meiliki watak sempurna berjudul Catatan Si Boy. WOW !!! Drastis sekali Net dari 2015 menuju 2016. Saya termasuk kecewa dengan hal ini, dimana kita mulai di iming-imingi hal-hal yang baru berupa serial dengan tema tak biasa dan premis yang menjanjikan sebuah bayangan petulangannya, justru di tahun berikutnya berakhir pada serial daily life seorang protagonisnya, daily life again. Sisi positifnya, mungkin Net kembali berpijak pada tanah setelah sebelumnya bagai bayi belajar berlari tanpa sebelumnya bisa berjalan dengan benar, jadi di tahun ini Net mencoba cara berjalan dengan benar dahulu. Hal itu dikarenakan semua serial di 2015 tergolong mengecewakan meskipun mencoba menggunakan tema baru, khususnya soal Script dan Acting, tercatat yang lumayan memuaskan hanya Patriot. Jadi kalau memang Net mencoba belajar dulu dengan tema daily life untuk kemudian kembali membuat gebrakan, maka itu tak mengapa, semoga langkah mundur selangkah ini membuat Net maju seribu langkah.

csb-2

Read the rest of this entry

Review Perkembangan Serial Televisi Indonesia 2015 : Gebrakan dan Pencarian Jati Diri

Dunia perfilman Indonesia bisa dikatakan berkembang. Pilihan genre makin beragam dan trend tak hanya tertuju oleh satu genre saja. Komedi romantis bisa dikatakan paling berkembang setelah para stand up comedian dan youtuber ambil bagian dalam industri film, action pun kini tak Cuma mengandalkan The Raid, genre animasi mulai muncul yang tentunya diharapkan tak Cuma sampai disini. Meskipun jumlah penonton di Bioskop tidak bisa dibilang meningkat secara signifikan, tapi kuantitas film Indonesia begitupun kualitasnya bisa dikitakakna cukup berhasil jadi pilihan yang layak untuk ditonton. Kalau film Indonesia dikatakan berkembang, bagaimana dengan serial televisi  Indonesia ?

Read the rest of this entry