Blog Archives

[Review Indo-Movie] Sunyi (2019): Sebuah Remake yang Sukses

Hubungan Indonesia dengan Korea Selatan tampaknya sedang masa manis dibidang perfilman. CJ Entertainment selaku investor dari perusahaan film Korea mulai sering tampil dibeberapa film Indonesia. Sejauh inipun kerjasama mereka termasuk positif menghasilkan produksi film yang kualitasnya terjaga. Selain memberi investasi pada beberapa film Indonesia, seperti A Copy of My Mind dan Pengabdi Setan, kerjasama ini juga menghasilkan beberapa proyek remake film Korea Selatan yang sejauh ini punya track record positif. Setelah sukses dengan remake Miss Granny melalui film Sweet 20, kini muncul lagi sebuah proyek remake film horror legendaris Korea berjudul Whispering Coridor yang akan menjadi Sunyi dalam judul Indonesianya. Untungnya, Sunyi berhasil memberi track record positif bagi film remake Korea Selatan. Diluar dugaan, Awi Suryadi memberi persembahan terbaiknya lewat film ini.

adaptasi-horor-korea-sunyi-berikan-kehe-62ff21

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Mantan Manten (2019): Punya Sesuatu yang Baru Untuk Ditawarkan

Film ke 3 Visinema tahun ini, Mantan Manten, jadi film Visinema yang tidak begitu hype buat saya. Setelah sukses dengan Keluarga Cemara, lalu mencoba komedi absurd melalui Terlalu Tampan, Visinema menawarkan Mantan Manten yang secara trailer tidak menawarkan sesuatu yang menarik. Sesuatu yang menurut saya salah, karena ternyata isi filmnya punya sesuatu yang sangat menarik, bahkan unik di perfilman Indonesia.

arifin-hasiholan-1300x500.jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Series] Titans (2018): Lebih Kelam dan Brutal, Tapi Tetap Standar Arrowverse

DC kembali menambah koleksi shownya, bahkan menambah universe baru. Setelah universe series animasi TimmVerse (yang tentunya sudah tamat), lalu universe movie animasi (DCAMU), World of DC atau DCEU, ArrowVerse, kini tambah 1 lagi. Entah apanamanya, tapi ini dari layanan streaming bernama DC Universe, khusus kepunyaan DC dan WB. Dan proyek perdananya adalah Titans, sebuah tim dari para remaja nerkekuatan super, kecuali Robin, karena dia, hmmm, He is Batman…..sidekick.

Titans-DC-Universe-Banner.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Orang Kaya Baru (2019): Escapism yang Menyenangkan

Film Indonesia di awal tahun 2019 terasa sangat menyenangkan dan menjanjikan. Sebagai evaluasi, saya menyimpulkan bahwa bulan Januari adalah masanya film-film drama-komedi keluarga unjuk gigi. Setelah akhir bulan kemarin Milly & Mamet memberi sajian komedi drama menyenangkan dan masih meraup banyak penonton di bulan Januari, film keluarga menjanjikan lain muncul melalui Keluarga Cemara yang sukses secara kritik dan komersial hingga menjadi film Indonesia 2019 pertama yang mendapatkan sejuta penonton lebih. Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan film keluarga yang menjanjikan lainnya, Orang Kaya Baru hadir dengan meyakinkan melalui nama-nama dibaliknya. Ody C Harahap yang saya kagumi, Robert Ronny dengan visi menjaga produksinya, totalitas Cut Mini, eksplorasi Raline Shah, dan tentu nama Joko Anwar yang menjual meski Cuma sebagai penulis. Hasilnya, Orang Kaya Baru menyajika sebuah sajian escapism yang menyenangkan. Satu lagi drama keluarga menjanjika di awal tahun.

099055300_1539785283-POSTER_ORANG_KAYA_BARU_THE_MOVIE.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Preman Pensiun (2019): Sinetron Masuk Bioskop, Tapi Bukan Kualitas Sinetron Masuk Bioskop

Akhir-akhir ini ada suatu istilah soal menyinyir film Indonesia. “FTV masuk bioskop” atau “sinetron masuk bioskop” kerap jadi andalan yang punya kesan negative. Maksudnya adalah soal film bioskop yang kualitasnya berasa kualitas tv yang dimana merupakan penurunan standar, apalagi melihat kualitas tayangan tv nasional saat ini, harusnya sih berasa penghinaan, ga tau deh pihak tv yang dianggap sebagai standar sampah sama film yang kena nyinyiran ini merasa dikritisi apa engga. Biasanya nyinyiran ini dikarenakan kualitas teknis (tone color grading biasanya, musik, acting) hingga premis dan kualitas ceritanya itu sendiri terasa terlalu murah untuk ukuran bioskop. Intinya nyinyiran ini adalah bentuk krtitik yang merasa tak puas karena mendapatkan tontonan yang tak berbeda secara kualitas dari yang ada di tv nasional yang saat ini sangat degradasi sekali. Lalu kemudian akhir-akhir ini muncul tren dimana sinetron lawas dibuatkan filmnya, baik itu remake, ataupun kelanjutan cerita dari sinetronnya. Namun tidak seperti para film yang dianggap kualitas sinetron, para film yang berasal dari sinetron ini akhir-akhir ini justru punya penilaian kritik yang baik, salah satunya adalah Preman Pensiun.

feature-preman-pensiun-1300x500.jpg

Read the rest of this entry

[Review J-Movie] My Neighbors the Yamadas (1999): Karya Unik Lain Isao Takahata, Kreatifnya Mengadaptasi Komik Strip

Isao Takahata kembali menyajikan film ke 4 nya untuk Ghibli. Dan sekali lagi, Isao Takahata menyajikan sesuatu yang berbeda. Hayao Miyazaki saya akui memang kreatif dengan imajinasi dunia fantasinya yang bermacam-macam. Tapi Isao Takahata lebih bervariasi dan punya kreativitas di hal yang lain, khususnya soal artwork.  Bicara soal artwork, Hayao Miyazaki punya satu gaya yang paten, khas. Tapi Isao Takahata berbeda, 4 film yang saya nikmati ke 4 nya punya artwork yang berbeda-beda. Masuk akal karena Isao Takahata memang berbeda dari sutradara anime lainnya yang tidak ikut campur dalam hal menggambar, hal ini membuatnya lebih leluasa dalam emcoba sesuatu yang baru. Termasuk filmnya kali ini punya artwork yang sangat mencolok perbedaannya, signifikan. Bukan Cuma artwork, film ini juga punya formula yang sangat unik dimana Ghibli atau mungkin film animasi yang pernah ada belum pernah melakukan hal seperti ini.

series_1484.jpg

Read the rest of this entry

[Review J-Movie] Porco Rosso (1992): Si Babi yang Suka Terbang, Hayao Miyazaki Juga Suka Terbang

Film ke 7 Ghibli, film ke 5 Hayao Miyazaki yang saya konsumsi. Film ini semakin membutktikan akan obsesi Hayao Miyazaki pada angin, atau lebih spesifiknya pada segala hal yang terbang. Setelah Nasuciaa yang bisa terbang dengan teknologi anehnya, lalu ada kastil yang terbang, Totoro juga bisa terbang, dan Kiki terbang dengan sapu terbangnya, kini muncul si Pilot Babi. Yup, sekali lagi pula Miyazaki memberikan salah satu imajinasi absurdnya.

maxresdefault (4).jpg

Read the rest of this entry

[Review J Movie] My Neighbor Totoro (1988): Kenikmatan Cinema Experience Unik Lainnya, Berhati-Hati dengan Ekspektasi

Film ke 4 Ghibli. Saya cukup kaget mendengar kabar bahwasannya My Neighbor Totoro ternyata rilis berbarengan dengan Grave of the Firflies, 2 film yang sangat kontras. Disaat GotF sangat depresif, menyedihkan, realistis, kelam, Totoro jadi serba keterbalikannya. Bahkaan Totoro ini salah satu film yang mendobrak banyak pakem, bikin film yang tak sesuai segala standar, dan itu malah membuat saya jadi menikmati salah sati cinema experience yang sangat unik. Ini yang kerap salah diinterpretasi yang jadi menganggap film ini dianggap overated, tapi bukan oleh saya. Ini film yang sangat menyenangkan.

my-neighbor-totoro.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Keluarga Cemara (2019): Visinema Did It Again, Persembahan Visinema Untuk Para Ayah

Visinema memasuki era baru semenjak tahun lalu, dimana film-film Visinema yang selama ini disutradarai oleh Angga mulai merekrut banyak sutradara baru untuk diberikan kesempatan berkarya. Setelah tahun lalu bisa membuktikan diri melalui Love For Sale yang disutradarai Andibachtiar Yusuf, film itu langsung melesat jadi film Visinema yang paling saya suka, dan 2019 nanti akan semakin banyak sutradara batu untuk memperkuat era baru Visinema. Bukan main, 2019 Visinema akan merilis 5 film baru (atau lebih?) dengan hanya 1 diantaranya disutradarai Angga sendiri. Untuk pembuka tahun ini, era baru Visinema akan dibuka oleh film Keluarga Cemara, judul salah satu sinetron legenda Indonesia yang juga berkualitas, disutradarai oleh Yandy Laurens. Kalau tidak salah ini film dan komersil pertamanya, sebelumnya saya juga sangat menyukai karyanya di, webseries Sore Istri Dari Masa Depan. Satu nama menjanjikan digaet Visinema. Lalu bagaimana Keluarga Cemara?

1-intip-teaser-perdana-film-keluarga-cemara-700x700.jpg

Read the rest of this entry

[Review J-Movie] Grave of the Fireflies (1988): Potret Realitas Kekejaman Perang

Film ke 3 Ghibli rupanya agak berbeda. Mulai dari menunjuk sutradara selain Hayao Miyazaki, yang kali ini adalah Isao Takahata. Bukan Cuma sutradara, temanya pun berbeda yang membuat film ini untuk pertama kalinya mengambil tema realistis dunia manusia tanpa embel-embel fantasi atau sci-fi. Mengambil latar Perang Dunia 2, Ghibli mengambil sudut pandang unik yang akan  membuat kita mengutuk peperangan. Film ini juga pertama kalinya (so far menjadi satu-satunya) yang depresif disaat film-film lainnya cukup optimis. Yuup, jelas film ini biasanya akan membuat penontonnya menangis, saya sudah diperingati itu. Bodohnya saya mencoba menonton film ini dengan tujuan bisa tidur, hasilnya, malah jadi begadang karena nafas sesak, iya saya juga nangis.

218717l.jpg

Read the rest of this entry