Blog Archives

[Review Indo-Movie] Terlalu Tampan (2019): Pengembangan Adaptasi yang Baik, Namun Kurang Totalitas

Visinema sedang berada di masa bulan mandu pasca Angga yang mulai memberi penggung sutradara lain dan menjadi produser di film-film terbaru Visinema. Love For Sale dan Keluarga Cemara, dua film di era baru Visinema merupakan film yang mendapat pengakuan secara kritik yang sangat baik. Bagi saya pribadi 2 film itu adalah karya terbaik Visinema bahkan saya lebih suka daripada film-filmnya Angga, padahal Angga sendiri adalah sutradara idola saya dan tetap tak berubah hingga sekarang. Kini, film terbaru di era baru ini muncul, ayitu Terlalu Tampan. Film adaptasi webtoon ini juga jadi pertanda bahwa Visinema di masa depan mungkin akan berubah, atau kata lebih tepatnya memperluas, dimana sajiannya akan lebih bervariasi darpada sajian-sajian konten film Visinema selama ini. Pasalnya, Terlalu Tampan ini sangatlah berbeda dari film-film Visinema yang sebelumnya?

16a506d80b2fb7ecea8c472d059e25402ae8b0a7.jpeg

Read the rest of this entry

Advertisements

[Review J-Movie] Whisper of the Heart (1995): Coming of Age Rom-Com yang Sangat Cute, Persembahan Satu-satunya Yoshifumi Kondo

Akhirnya ada film Ghibli yang disutradarai selain Hayao Miyazaki dan Isao Takahata, dia adalah Yoshifumi Kondo. Kondo rencananya diproyeksikan untuk menjadi penerus Miyazaki yang sebelumnya berencana pensiun. Sayangnya padatahun 1998 Kondo meninggal dunia yang membuatnya hanya meninggalkan 1 film feature berjudul Whisper From the Heart. Sumbangsih satu-satunya film panjang Kondo untuk Ghibli berhasil meneruskan rapor baik film-film Ghibli yang sekaligus memeberi variasi dari filmografi Ghibli. Hasilnya, Whisper From the Heart adalah kisa percintaan dan pencarian jati diri remaja yang sekilas tampak umu namun sebenarnya unik dan memesona.

1_LAIkQudRc7O1kUnlp1oOEw.png

Read the rest of this entry

[Review J-Movie] Only Yesterday (1991): Isao Takahata, Sang Pembeda Ghibli

Film ke 6 Ghibli kembali di garap oleh Isao Takahata, orang dibalik penyebab saya menangis gara-gara Grave og the Fireflies. Isao Takahata seolah jadi anomali dari film-film Ghibli selama ini yang juga lebih melekat pada nama Hayao Miyazaki. Wajar saja memang karena dari 6 film Ghibli selama ini, memang baru 2 sutradara ini yang menjadi sutradara. Tapi menariknya, Isao Takahata seolah menjadi kebalikan dari Hayao Miyazaki. Pada film pertamanya, Isao memberi kita film yang mementahkan anggapan bahwa Ghibli adala studio film animasi pembuat cerita imajinatif tingkat tinggi dengan world building uniknya. Tapi melalui GotF, Isao mementahkan bahwa Ghibli juga punya film yang realistis (dari segi world building) dan bahkan bisa depresif, 2 aspek yang menjadi kebalikan dari Hayao dengan dunia imajinatif dan kesan optimis yang ada pada film-filmnya. Kini Isao Takahata kembali ke tahta sutradara dengan film berjudul Only Yesterday, yang sekali lagi jadi pembeda dari banyak film Ghibli lainnya.

1026426-daisy-ridley-leads-voice-cast-studio-ghibli-s-only-yesterday.jpg

Read the rest of this entry

[Review J-Movie] Kiki’s Delivery Service (1989): Coming of Age Penyihir yang Jauh dari Dramatis

Film ke 5 Ghibli sekaligus film ke 4 Hayao Miyazaki yang saya tonton. Dan dari semua film yang saya tonton, untuk kesekian kalinya saya menonton film dengan protagonist perempuan mandiri dengan elemen anginnya yang sangat kuat. Yup, itulah Kiki’s Delvery Service. Untuk karakter perempuan adalah sesuatu yang sangat saya suka, untuk elemen anginnya pun saya suka tapi saya punya rasa penasaran khusus tersendiri bagi saya. Ada apa dengan Miyazaki dan obsesinya membuat karakter yang melayang-layang di udara. Tapi berkatnya, saya mendepatkan cerita penyihir yang unik dan menyenangkan. Meski sudah bekali-kali menonton film penyihir di berbagai film, menonton film ini tetap memberi sensasi baru tentang penyihir. Dan dari 4 film, semuanya selalu bernada optimis. Jadi jelas, film ini adalah sisi cerah akan keberadaan penyihir di dunia film ini.

kiki-1-1140x685.jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Spider-Man: Into The Spider-verse (2018): Penghormatan Untuk Peter Parker, Selamat Datang Miles Morales

Ada suatu alasan kenapa Spider-Man merupakan superhero paling popular bersanding bersama Batman. Bagi kebanyakan fansnya, Spider-Man merupakan superhero yang paling relatable. Spider-Man yang alter ego paling terkenalnya adalah Peter Parker, merupakan karakter remaja dengan kehidupan sekolah namun menyambi superhero. Dia juga bukan orang kaya seperti Tony Stark, dia Cuma seorang pelajar biasa yang ada ditengah masyarakat, tidak seperti agen-agen, ilmuwan, atau tentara yang merupakan kebanyakan adalah alter ego para pahlawan Marvel. Iya, Peter pintar, tapi dia tetaplah pelajar di berbagai adaptasi dengan permasalahan berupa mengerjakan PR, memikirkan bagaimana caranya berteman, ingin membuat terkesan cewk yang ditaksirnya, dan dengan menjadi superhero, Peter yang merupakan masyarakat biasa harus melindungi identitasnya. Sebagai seorang introvert yang juga sering dibully, bagi orang-orang yang relatable dengannya, Spider-Mannya Peter Parker, jelas karakter ini bagai sebuah harapan dimana karakternya diwakili, dan kondisinya adalah yang paling relatable dengan banyak orang. Selain factor relatable, Spider-Man juga punya kostum yang bagus dan gaya bertarung yang keren, paket lengkap. Saya pun adalah bagian dari banyak orang, Spider-Man adalah kaarakter superhero yang paling saya suka, bukan Cuma karena keren dengan film-filmnya, tapi juga karena terasa diwakili dan sangat relatable. Namun film terbaru Spider-Man ini punya sesuatu yang berani yang merangsang rasa penasaran saya. Memperkenalkan Miles Morales, menyingkirkan sejenak Peter Parker yang merupakan idola saya, dan menggunakan konsep multiverse di ranah film anak-anak adalah sesuatu yang berani. Seperti apa jadinya?

shareImage.jpg

Read the rest of this entry

[Review Anime] Ookiku Furikabutte (2007): Terasa Natural ala Anak SMA, Anime Sport Serba Normal

Setelah beberapa kali searching soal list anime olahraga atau fokus ke anime baseball, anime ini sering sekali masuk list top 10. Sampai saat ini bendahara anime baseball saya hanyalah Diamond no Ace, dan saya ingin memperbanyak tontonan soal baseball, apalagi Jepang punya anime baseball yang cukup banyak, dan menghasilkan banyak anime-anime berkualitas (jika dilihat dari sering dan banyak juga anime baseball yang masuk list top 10) bahkan anime olahraga Jepang yang paling banyak berasal dari olahraga ini, baseball, disusul Sepak Bola. Ookiku Furikabutte, atau Big Windup! saya pikir ini anime baru, seangkatan DnA, ternyata ini anime lawas tahun 2007, cukup terkejut. Tapi anime ini langsung membuat saya tertarik di episode pertama karena memang mempunyai premis yang menarik, dan karena anime ini pula saya berpikir baseball memang olahraga yang sangat potensial untuk dibuat cerita karena konflik-konfliknya tidak klise.

ookiku.jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Spider-Man Homecoming (2017): Beberapa Hal Kecil yang Harus di Apresiasi

Spider-Man akhirnya berada di MCU. Setelah Sony akhirnya mau diajak berunding untuk mengajak (meminjam) Spider-Man untuk bersama para The Avenger, kini filmnya kembali di reboot, sebuah reboot yang sesak, 3 franchise 6 film dalam 15 tahun. Tentu bukan tugas yang mudah. Untuk pertama kalinya MCU punya kesulitan yang sama dengan DCEU, membuat film mengenai superhero yang namanya sudah kuat di pop culture, sama halnya seperti bagaimana DCEU membuat film mengenai Superman dan Batman, berusaha agar tidak membuat film yang sama seperti sebelumnya sembari berusaha melakukan perbedaan yang dapat diterima para fansnya, itu susah. Dan hasilnya, banyak pro kontra, akhirnya ngerasain kan, banyak yang suka jelas, apalagi orang yang berkata “MCU selalu bagus”, tapi banyak juga yang tidak suka khususnya bagi mereka yang membandingkannya dengan masterpiece trilogy Sam Raimi. Bagi saya sendiri yang juga menyukai Spider-Man, mungkin akan sulit bagi saya untuk tidak bias dalam menilai film ini, jadi ini review yang sulit.

spider_man_homecoming_poster__2017__by_nomada_warrior-davwt5l-1050x600

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Mata Dewa (2018): Amunisi yang Mubazir

Dalam film bergenre sport, Indonesia bolehlah cukup berbangga dengan koleksinya yang termasuk positif di genre ini. Beruntung memang kita punya sineas yang menjajal genre ini di eksekusi dengan serius. Untungnya genre sport bukanlah sapi perah, hasilnya kita mendapat film-film yang cukup bervariasi dengan kualitas. Di sepak bola sebagai olahraga populer kita punya banyak koleksi berkualitas dari yang klise semacam Garuda di Dadaku dan Tendangan Dari Langit, ada juga yang memotivasi macam Cahaya Dari Timur, hingga yang dibalut crime macam Hari Ini Pasti Menang. Olah raga lain? Kita punya Si Pemberani dan Surau dan Silek di bela diri, ada 3 Srikandi di panahan, King di Badminton, dan Mari Lari di atletik. Kini kita ketambahan koleksi baru di genre film sport Indonesia, yaitu Mata Dewa, film Basket pertama di Indonesia, mampukah Mata Dewa melanjutkan kiprah positif genre sport di Indonesia?

1517210189-mata-dewa

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Yowis Ben (2018): Akhirnya Indonesia Punya Film Musik Keren Lagi

Setelah film Garasi, saya terus saja gagal dipuaskan saat menonton film yang berbau musik. Untuk Musikal mungkin pengecualian, tetapi kadang saya suka jengkel dengan perkembangan genre film musik di Indonesia, sudah filmnya jarang, sekalinya ada tidak sesuai ekspektasi. Disaat film biography musisi mulai dari diva, band, hingga boyband terlalu fokus mencitrakan pribadi atau grupnya dan kerap melupakan pencitraan dari sisi kemampuan musikalitas tokohnya, film musik lain ternyata cuma bermodalkan formula yang sama tanpa punya kematangan cerita, kreativitas mengemas klise, dan mengharmoniskan sisi musikalitasnya. Kemudian muncul lah Yowis Ben yang di ciptakan youtuber kondang asal Jawa Timur membawa ide yang klise namun fresh. Tai kucing dengan isu penggunaan Bahasa, film ini terlalu berkelas untuk ditutupi dengan isu suku, khususnya Bahasa, sampai-sampai lupa ini adalah film musik yang sudah dinanti-nantikan, setidaknya buat saya.

yowis-ben2-1024x575.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Dilan 1990 (2018): Bagus, Tapi Inkonsisten, Ga Tau Kalau Sequelnya, Tunggu Aja

Saya adalah satu dari sekian banyak yang pesimis dengan Iqbal yang akan memerankan Dilan. Ya, btw saya memang membaca novelnya, jadi bisa dibilang review kali ini akan berada pada sudut pandang mengenai bagaimana adaptasi ini dari sisi pembaca buku. Kembali bicara soal Iqbal, saya merasa Iqbal bukanlah actor yang jelek, buktinya lihat saja film-filmnya, diantaranya 5 Elang & Ada Cinta di SMA, filmnya tidak jelek, dan kemampuan acting Iqbal juga ok kok. Cuma ya memang, gara-garat trailer yang jelek luar biasa membuat ketidakpercayaan terhadap Iqbal makin tinggi, akhirnya, rendahlah ekspektasi saya, untungnya karena saya kadung sangat suka dengan novelnya, jadi keputusan menontonnya sudah bulat, entahlah kalau tidak, mungkin saya mengurungkan niat nonton gara-gara editing cut trailer yang begitu tidak menarik. Jadi bagiamana Iqbal memerankan Dilan ? Bagaimana film Dilan 1990 itu sendiri ?

00188083.jpg

Read the rest of this entry