Monthly Archives: March 2017

[Review Webseries] SORE Istri Dari Masa Depan 2017 : Webseries Sempurna, Tika Bravani Juga Oh…Sempurna

Sudah lama sekali saya tak menikmati Webseries (Drama) di Youtube semenjak The Paperbag. Webseries sepertinya bukan konten favorite untuk para content creator di Indonesia. Tentu ada beberapa factor yang saya perkirakan menjadi penyebabnya ; seperti contohnya persiapan produksi yang matang dan rumit mulai dari scriptnya hingga dana, dan entah mengapa webseries di Indonesia sulit di notice. Bukan karena tak ada yang tertarik, karena sejak suksesnya Raditya Dika di Malam Minggu Miko sudah ada akun-akun yang mencoba membuat webseries namun sayangnya paling jauh rata-rata Cuma sampai pada episode 3-5, tentunya dengan pertimbangan kemampuan produksinya yang tak bisa lebih, baik dari segi script hingga waktu dari talent dan crew yang sangat dibutuhkan komiten nya dalam produksi, itupun hasil viewnya tak seberapa, tak ada jaminan bakal sesukses Malam Minggu Miko. Webseries benar-benar suatu konten yang sangat sulit di produksi secara independen. Meskipun Youtube adalah wadah dimana independen bisa bersaing dengan corporate, namun untuk Webseries permasalahan production value benar-benar sulit untuk para creator yang berjuang dengan modal sendiri. Raditya Dikapun secara independen hanya mengerjakan 2 episode awal  Malam Minggu Miko, sisanya ? dibantu oleh crew professional dari Kompas TV yang harus di akui kualitasnya pun menjadi meningkat. Entah kenapa webseries yang di notice dengan jumlah view yang besar akhir-akhir ini justru berasal dari iklan sebuah produk yang menandakan mereka punya production value yang stabil. Mulai dari Ponds dengan Perfect 10 dibintangi Afgan dan Pamela Bowie, XL dengan webseries comedy 2nd Chance di bintangi Ernest Prakasa dan teman-teman komika lainnya, Line dengan Nic & Mar dibintangi Nicolas Saputra dan Mariana Renata. Namun sisi positif dari trend ini adalah kita tak lagi dijejali dengan hard sell sebuah produk, tapi disajikan soft sell produk yang tidak memaksa kita untuk menggunakan produk tapi justru disajikan kisah yang memang bisa dinikmati ceritanya bagaikan menonton drama, yup pada akhirnya kita mendapatkan webseries yang menarik.

A(327)

Read the rest of this entry

Advertisements

[Review US-Series] Marvel’s Iron Fist 2017 : Serial Marvel-Netflix Yang Ga Biasanya…

Marvel dan Netflix sudah bekerja sama sejak 2014 dengan Daredevil sebagai debutnya. Semenjak itu, serial superhero Marvel yang bekerja sama untuk diangkat serial di Netflix perlahan telah memberikankan image atau lebih tepatnya kesan tersendiri untuk penontonnya yang membuat mereka punya ekspektasi yang spesifik. Sejak 2014, Marvel-Netflix sudah mengorbitkan 3 series dengan karakter Daredevil sudah mencapai 2 season, disusul Jessica Jones dan Luke Cage yang masih di season 1. Dan dari ketiga series itu, image serial Marvel-Netflix perlahan mulai terbentuk bahwasannya serial Marvel yang di orbitkan Netflix punya pace yang lambat, suasana gelap baik itu tone hingga karakternya, R rated dengan sex and violence nya, mengkerdilkan makna hero, dan mengangkat para superhero jalanan yang kadang gaya penceritaannya bukan seperti cerita superhero, melainkan mengekspose sisi lain dari superhero yang ternyata disukai penonton. Namun ternyata, hal itu berbeda dengan Iron Fist. Meskipun suasana kemasannya masih khas ala Marvel – Netflix dengan pace lambat dan konfliknya sangat personal focus pada karakter seperti yang biasa dilakukan untuk mengemas season 1, tapi ada beberapa yang berbeda jika dibandingkan para pendahulunya. Tone yang lebih cerah, sisipan humor, hingga dialog klise superhero muncul disini. Apakah itu buruk ? Tentu tidak kalau memang dibutuhkan apalagi kalau memang karakternya seperti itu. Dan perbedaan ternyata tidak hanya dari performa serialnya, dari segi penilaian pun secara mengejutkan berbeda ketimbang 3 pendahulunya dimana Iron Fist mendapat kritik dan review yang tidak bisa dikatakan bagus. Sebuah kejutan melihat bagaimana penonton merasa sebelumnya semua produk Marvel-Netflix adalah jaminan sukses. Jadi, apakah Iron Fist memang se mengecewakan itu ? atau itu cuma karena orang-orang tidak mendapatkan ekspektasi yang sama seperti melihat serial Marvel-Netflix lainnya ?

1486536771_marvels-iron-fist

Read the rest of this entry

[Review Indo-Seri] Catatan Si Boy The Series 2016 : Serial Termatang Yang Di Garap NET TV

Setelah sebelumnya Net membuat gebrakan besar-besaran pada 2015 melalui konetn-konten serial tv nya [Review Perkembangan Serial Televisi Indonesia 2015 : Gebrakan dan Pencarian Jati Diri], sepertinya Net nyalinya mulai menciut di 2016. Coba kita simak premis serial Net Tv tahun 2015 ; sebuah drama musical berjudul Stereo, kisah petualangan survival para korban selamat  penumpang pesawat jatuh di sebuah pulau Masalembo, cerita seputar investigasi criminal dalam Enigma, hingga petualangan 7 tentara Indonesia melawan teroris Asia Tenggara berjudul Patriot. Setelah semua ide cerita Net di 2015 yang begitu menggelegar, Net kembali menggarap serial di 2016 dengan kuantitas judul baru yang menurun, yaitu tentang seorang Duda menjalani kisah sehari-harinya dimana ada 2 wanita yang tertarik padanya berjudul Kesempurnaan Cinta dan kisah sehari-hari seorang yang meiliki watak sempurna berjudul Catatan Si Boy. WOW !!! Drastis sekali Net dari 2015 menuju 2016. Saya termasuk kecewa dengan hal ini, dimana kita mulai di iming-imingi hal-hal yang baru berupa serial dengan tema tak biasa dan premis yang menjanjikan sebuah bayangan petulangannya, justru di tahun berikutnya berakhir pada serial daily life seorang protagonisnya, daily life again. Sisi positifnya, mungkin Net kembali berpijak pada tanah setelah sebelumnya bagai bayi belajar berlari tanpa sebelumnya bisa berjalan dengan benar, jadi di tahun ini Net mencoba cara berjalan dengan benar dahulu. Hal itu dikarenakan semua serial di 2015 tergolong mengecewakan meskipun mencoba menggunakan tema baru, khususnya soal Script dan Acting, tercatat yang lumayan memuaskan hanya Patriot. Jadi kalau memang Net mencoba belajar dulu dengan tema daily life untuk kemudian kembali membuat gebrakan, maka itu tak mengapa, semoga langkah mundur selangkah ini membuat Net maju seribu langkah.

csb-2

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Galih dan Ratna 2017 : Kisah Teen-Romance dengan Musik Sebagai Elemen Pembeda

Sudah lama saya mengagumi Sheryl, tentunya semenjak namanya identik dengan cover akustik di acara musik Breakout di Net Tv. Kemampuan aransemennya dengan gitar akustiknya membuat saya menginginkan Sheryl suatu saat nanti membintangi film musik, yang di Indonesia sangat jarang dan belum ada yang sampai memenuhi ekspektasi sejak terakhir yang melakukannya adalah Garasi. Setelah Sheryl terjun di film mulai dari numpang lewat di Marmut Merah Jambu dan debutnya jadi lead role di Koala Kumal, saya tentu turut senang melihat Sheryl punya potensi di acting, dan tentunya berharap Sheryl betah dengan imagenya si gadis bergitar agar ada yang melihat peluang membuat film musikyang tema dan garapannya seserius Garasi tentunya dengan perspektif musik  yang di sukai sutradaranya nanti. Sebelum saya terlalu mengiming-imingi Sheryl dengan film musik, saya akan tegaskan bahwa film Galih & Ratna bukanlah film musik. Tapi musik jadi sebuah elemen penting dalam Galih & Ratna. Tentunya ini bukan tontonan macam Once, Begin Again atau bahkan Sing Street nya John Carneym, tapi setidaknya obsesi melihat Sheryl memainkan gitar akustiknya kesampaian di film ini meski porsinya masih sedikit, mungkin benar-benar harus menunggu Sheryl bermain di film tentang musik (bukan musikal).

galihratnaa

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Killers 2014 : Mencoba Memahami Hasrat Membunuh Manusia

Setelah debut filmpanjang mereka dengan Rumah Dara, The Mo Brothers kembali membuat film yang mengagumkan. The Mo Brothers kembali dengan karyanya yang sama tapi juga berbeda dengan karya sebelumnya. Kita masih akan diperlihatkan adegan slasher, tapi kita tidak akan diberi kadar adrenaline yang sama seperti Rumah Dara karena adegan slasher tidak akan se intens sebelumnya dan dari segi genre pun akan lebih condong ke psycologicall thriller. Meski sepintas masih dengan darah-darahan yang memang sepertinya The Mo Brothers ingin nyaman di cap dengan itu, tapi Killers termasuk sebuah film dengan pendekatan yang sangat berbeda dibanding film sebelumnya. Dari sini terlihat bahwa The Mo Brother tidak mencoba dengan formula yang sama dan memang tak mencari aman dengan tantangan baru meskipun masih di “wilayah”nya. Dan di film ini The Mo Brothers bekerja sama dengan dengan rumah produksi Jepang. Keberhasilan The Mo Brothers mendapatkan Kazuki Kitamura (Kill Bill Vol 1) yang merupakan actor ternama di jepang juga bakal menjadi nilai plus tersendiri. Jadi ya, film ini memang dipersiapkan untuk pasar international.

Killers

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Crush 2014 : Film Dance Cherrybelle yang Hilang Arah

PosterBeberapa waktu yang lalu saya sempat sedang ketagihan film-film bertema musik ataupun dance. Mulai dari film music macam Whiplash, Begin Again, Sing Street, La La Land, film dance macam Street Dance dan Step Up, hingga film-film music dan dance klise ala-ala Disney. Kemudian saya penasaran, punyakah Indonesia film semacam seperti ini ? Hingga akhirnya saya menemukan salah satunya adalah Crush yang dibintangi Cherrybelle. Melihat slogan poster dan castnya, saya sudah yakin akan mendapat film klise, tapi film klise bukan jaminan jelek, saya masih mau memberi Crush kesempatan. Tentu saya tak berharap seperti Street Dance atau Step Up. Gerakan dance dan skill nyanyi jelas tak bisa berekspektasi tinggi, tapi soal cerita yang sutradaranya Rizal Mantovani, setidaknya ekspektasi saya masih sekitar ekspektasi ketika menonton film klise ala Disney. Ternyata ? Masih harus diturunin lagi ekspektasinya.. hmmmm. Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Rumah Dara (Macabre) 2010 : Debut The Mo Brothers yang Menakutkan

Berbicara soal duet di perfilman Indonesia, saya selalu mengagumi duet Riri Riza dan Mira lesmana. Tapi di 10 tahun terakhir, muncul duet baru yang menjadi idola baru saya,yaitu The Mo Brothers, nama panggung untuk duet pertemanan Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel. Jika Riri Reza dan Mira Lesmana bersatu dalam Miles Production dengan sajian kisah-kisah drama yang mengagumkan, beda halnya Mo Brothers melalui Merah Production yang punya ciri film-film yang selalu banyak darah dan adegan sadis. Bicara soal Mo Brothers, kali ini saya mau me-review film debut mereka menangani film panjangnya, yaitu Rumah Dara, sebuah film Horor Slasher yang terbilang sangat baru untuk perfilman Indonesia.

Rumah Dara rilis di Indonesia pada tahun 2010, dan pada sekitar tahun tersebut perfilman horror kita tengah berada di dalam sebuah era yang menakutkan bagi film horror dimana pada saat itu kita disajikan film horror yang nafsuin dan  film horror yang ngelucu tapi ga lucu, tapi sangat sulit untuk mendapatkan film horror yang nakutin. Kemudian di awal 2010, The Mo Brothers memulai debut mereka di film panjang dengan genre Horor yang tidak biasa. Rumah Dara, sebuah film horror yang akan meneror kita, bukan dari hantu, tetapi dari keluarga kanibal. Rumah Dara ini sebelumnya merupakan film pendek karya The Mo Brothers yang masuk dalam film Omnibus Takut : Faces of Fear berjudul Dara, kemudian The Mo Brothers memutuskan untuk membuat versi film panjangnya, dan jadilah Rumah Dara.

hqdefault

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Logan 2017 : Persembahan Terakhir yang Brutal, Emosional, dan Memuaskan

Hugh Jackman akhirnya mengakhiri perannya sebagai Wolverine dengan sebuah film penutup yang sangat mengesankan. Setelah 2 film sebelumnya, X-Men Origin Wolverine dan The Wolverine yang banyak dianggap mengecewakan secara karakter dan tak meninggalkan kesan apapun, film ketiga berjudul Logan akhirnya menutup aksi Wolverine dengan luar biasa. Brutal dan emosional, itulah kesan saya untuk film Logan.

logan-film-wolverine-3-actu-news-infos

Read the rest of this entry

[Review Irish-Movie] Sing Street 2016 : Bagaimana Seharusnya Film Musik Memperlakukan Lagu-Lagunya

Saya sangat menyukai film bertema musik, entah itu film tentang sejarah genre ataukah biografi musisi dan band, film dibalut adegan seseorang bermain musik, hingga film musikal. Apa spesialnya film musik ? Sebagian besar film musik selalu punya kandungan motivasi yang begitu hebat, pada akhirnya memang klise, tapi bagaimana kekreatifan para sutradara untuk mengemas ke klise an itu pada akhirnya yang akan membuatmu takjub. Mungkin kalian langsung berpikir tentang film musik ala Disney, tapi percayalah, masih banyak film musik bagus di luar sana selain Disney yang karakternya begitu stereotypical itu (meskipun saya menikmatinya tapi tentu tak akan pernah ada film musik Disney yang masuk ketgori terbaik). Alasan lainnya adalah, di film musik saya benar-benar merasakan secara harfiah apa yang disebut “ fungsi audio-visual”, ketika saya mendapatkan hiburan visual berupa isi filmnya itu sendiri plus hiburan audio berupa lagu-lagu yang mempengaruhi ataupun dipengaruhi isi filmnya.

tumblr_static_5pmkp6ctiyw4w080oc0s4kgwk

Read the rest of this entry

[Review US-Series] Marvel’s Agent Carter 2015-2016

Petualangan di Dunia Marvel Cinematic Universe Zaman Dahulu dengan Muatan Feminisme

marvel-agent-carter-poster

Read the rest of this entry