Monthly Archives: November 2012

[Cerbung] Bukan Cuma Numpang Lewat Part 3

Episode 3

“Maksudmu apa plax? klo kamu ga ngerti apa-apa diam saja deh, ga usah ngerusak suasana, tau ga para pemain bola yang biasa kalian lihat ditipi macam Ronaldo, Messi, bahkan Bambang Pamungkas, mereka juga berlatih seperti ini bahkan lebih keras, kalian itu masih payah, bakat kalian hanya sekedar bakat alami dan itu belum cukup, kalian harus diasah dengan pola latihan yang benar” bentakku. “Nih aku kasih tau, lari-lari ini bisa meningkatkan stamina kalian, dalam beberapa minggu kalian pasti bisa mengelilingi lapangan ini lebih dari lima kali, selain itu teknik kalian akan meningkat, waktu diawal aku bermain bola dengan kalian, kuperhatikan teknik kalian masih kacau, kontrol bola sering lepas, sekali senggol jatuh, lari masih asal lari, nendang bola masih asal nendang tanpa teknik dan akurasi, dan tugasku adalah memperbaiki itu semua supaya kalian bisa tampil bagus di turnamen nanti, ga Cuma asal ikut jadi tim penggembira saja” balasku dengan penjelasan yang panjang lebar.

Penjelasanku tadi terlihat membuat mereka berfikir kembali betapa pentingnya latihan. Bahkan Somplax pun terlihat seperti menyesal.

“Jadi kalian masih ingin latihan atau tidak?” tanyaku.

“Mau” jawab mereka dengan nada pelan.

“Yang keras!” tanyaku lagi untuk memastikan.

“MAU !” jawab mereka dengan lantang.

“OK bagus, yang semangat, mulai saat ini kalian harus memanggil ku dengan sebutan coach, lagi pula kalian punya hutang sepatu padaku, jadi kalian harus membayar dengan latihan yang benar dan keras serta nurut semua perkataanku, kalian siap?” tanyaku lagi.

“Siap coach, terus kapan kita latihan lagi?” tanya Dom.

“Karena ini latihan perdana, kita latihan lagi mingu depan, soalnya besok badan kalian pasti akan pegal-pegal semua karena belum terbiasa, jadi butuh waktu agak lama untuk pulih, setelah itu baru kita jadwal ulang lagi jadwal latihan kita, sekarang mari kita istirahat, ayo pulang, bubar” ujar ku.

Setelah menyelesaikan ucapanku, aku memanggil Radit yang setia memandangi kami selama latihan dari tribun untuk segera bergabung dengan kami.  Aku menyuruh Radit dan anak-anak lainnya untuk berbaris membentuk lingkaran dan menjlulurkan tangan mereka sehingga masing-masing tangan dari kita saling bertemu di pusat lingkaran. Kami berdo’a lalu diakhiri dengan teriakan sorak-sorai diiringi gerakan tangan yang bersama-sama menghentak kebawah sebagai bentuk harapan kami akan sebuah kekompakan. Hal tadi menjadi pertanda berakhirnya latihan kami hari itu. Anak-anak pulang kerumah masing-masing sementara aku dan Radit pulang bersama menuju kost yang sama.

Dalam perjalanan aku meminta laporan Radit mengenai turnamen itu.

“Dit, udah dapat info apa aja tentang turnamen?” tanyaku.

“Oh iya, menurut info yang aku dapat, turnamen ini seperti yang kuduga sebelumnya yakni bukan turnamen sembarangan, turnamen ini dibawah naungan PSSI” jawabnya.

“PSSI? berarti yang daftar bukan SSB sembarangan dong? Terus SSB kita bisa ikut ga? Jangan-jangan yang bisa ikut Cuma SSB yang dibawah naungan PSSI doang nih?” tanyaku lagi dengan beberapa pertanyaan.

“Banyak banget sih nanyanya? Gini, walaupun turnamen ini dinaungi PSSI tapi pesertanya ga harus SSB yang terdaftar di PSSI, lagian kota ini punya berapa SSB sih yang terdaftar PSSI? Menurut info yang kudapat dikota ini Cuma ada 8 SSB yang terdaftar, sementara pesertanyakan ada 32” Radit menjelaskan.

“Berarti kita bisa ikut dong?” tanyaku lagi sembari berharap.

“Ya, kita bisa ikut, ini formulirnya, kamu isi nama-nama pemainnya, nama kamu sebagai pelatih, nama SSB, dan 3 orang untuk official”  ujarnya sembari menyerahkan formulir.

“Official? Waduh siapa ya? Hmmmmmm, kamu aja dit, gimana? Mau kan?” pintaku.

“hmm, boleh, tapi kita kan butuh 2 orang lagi” katanya.

“ya udah nanti dipikir lagi, masih ada waktu 5 hari lagi kan? Terus masalah struktural dan lain-lain gimana? Perlu ga tuh?” tanyaku lagi.

“Kalau untuk SSB jelas itu perlu, tapi kalau untuk persyaratan turnamen kayaknya ga diperlukan tuh data-datanya yang penting ada penanggung jawabnya, tapi untuk hal itu sambil berjalan aja deh, diurus sesudah turnamen juga bisa, itu juga kalau masih mau dilanjut SSB nya” jawabnya.

“Terus penanggung jawabnya siapa?” tanpa bosan ku bertanya lagi.

“Gampang, aku kan bisa merangkap jabatan bud” jawabnya melegakan.

Pada keesokan harinya, seorang mahasiswa yang memulai karir kepelatihannya kemarin sore itu sedang dalam perjalanan pulang setelah kembali melakukan aktivitas sehari-harinya memenuhi kewajibannya sebagai pelajar. Belum sempat langkah kakiku melewati gerbang keluar kampus, suara merdu dari seorang gadis seperti memanggil namaku. Ekspresiku seketika kaget bercampur takjub sewaktu mengetahui bahwa yang memanggilku ialah Ani. Nampaknya dia juga baru saja menyelesaikan aktivitas kuliahnya dan sedang menuju perjalanan pulang yang searah denganku.

“Hai Bud! Mau pulang?” sapanya.

“Eh Ani, iya, kamu mau pulang juga?” tanyaku.

“Iya nih, wah kebetulan arahnya sama, bareng yuk?” sebuah ajakan yang langsung kuterima tanpa berpikir dua kali untuk menerima ajakannya.

Entah aku bermimpi apa semalam tiba-tiba saat ini ada bidadari sedang berjalan disampingku menuju kawasan kost yang sama. Dia yang biasanya sibuk dengan aktivitasnya dan selalu berkumpul dengan teman-temannya membuat aku menjadi sungkan untuk sekedar menyapanya duluan apalagi untuk sekedar memulai pembicaraan dengannya ataupun mendekatinya. Kini momen yang aku tunggu-tunggu itu datang dimana ada kesempatan untukku untuk berbincang-bincang dengannya terbuka lebar. Namun entah mengapa mulut ini rasanya sulit sekali mengucapkan kata-kata dan pikiranku terlalu fokus memikirkan detak jantung yang rasanya berdetak tak beraturan kadang cepat kadang lambat. Tapi aku sadar kesempatan ini tak boleh dilewatkan saja dengan berdiam diri hingga sampai ke kost masing-masing, sebelum suasana menjadi tidak nyaman dengan ketidakpastian ini segera ku memulai pembicaraan dengan basa-basi.

“Gimana kuliahnya? Lancar-lancar aja nih?” tanyaku untuk mengawali pembicaraan.

“Alhamdulillah, kamu sendiri gimana? Tanyanya balik.

“Menjenuhkan” jawabku singkat.

“Loh kok gitu? Emang kenapa?” tanyanya lagi penasaran.

“Gimana ya? Ga tau juga kenapa, rasanya ga ada gairah dan semangatnya sama sekali, motivasinya Cuma absen doang, sudahlah ga usah ngebahas itu, katanya kamu anggota BEM juga? Berarti orang sibuk nih? Terus akhir-akhir ini lagi sibuk apa?” tanyaku mengubah topic pembicaraan.

“hehe, iya, Cuma akhir-akhir ini ga ada kesibukan kok, BEM nya sih punya acara pengabdian masyarakat, tapi aku ga ikut” jawabnya.

“Loh, kenapa? Kegiatan bagus tuh” tyanyaku heran.

“Males, soalnya pengalaman tahun kemarin ga menyenangkan, ga seperti yang aku bayangkan” ujarnya.

“Ga menyenangkan gimana maksdunya?” tanyaku lagi makin penasaran.

“Acaranya Cuma formalitas doang, ujung-ujungnya masyarakat setempat juga yang direpotkan, padahal acaranya ga terlalu berpengaruh bagi masyarakatnya, niatnya jadi terlihat seperti Cuma mengejar deadline agenda doang tanpa ada niatan serius membantu masyarakat” jelasnya.

“oh, jadi begitu? Sama aja kaya waktu ospek dong? Acaranya pengabdian masyarakat tapi kegiatannya Cuma menanam pohon, itu pun ga teratur dan asal-asalan jadi terlihat ngerusak alam” kataku coba mengingat masa ospek sewaktu aku dan dia pertama kenal.

“Iya benar, jadi malas ikut acara yang begituan, padahalkan aku ingin sekali berguna bagi masyarakat, dan sampai saat ini aku merasa belum berbuat apapun, jadi merasa berhutang” keluhnya.

“berguna bagi masyarakat ga harus lewat acara-acara yang seperti itu juga kali, cukup dari hal yang sederhana, berbuat apa yang kamu bisa lakukan saja sudah cukup, kan dimulai dari hal kecil dulu, contohnya dalam hal beli makanan, dari pada beli makanan dari produk luar kaya KFC atau McDonnalds mendingan beli di pedagang sekitar aja, lebih nyata membantu pedagang kaum bawah dan duit pun lebih hemat, hehe” ujarku sembari menjelaskan.

“Wuih, bijaksana sekali kamu bud, tapi benar juga ya, emang ga usah muluk-muluk kalau pengen bantu orang” jawabya membenarkanku.

Bibirku mengembang dengan kata lain tersenyum melihat respon yang diperlihatkan Ani terhadap opiniku. Aku sesaat terkagum dengan tekad baiknya yang ingin berguna bagi orang disekitarnya, sama dengan keinginanku yang tak mau hanya sekedar lewat dalam drama kehidupan yang selama ini terasa seperti selalu memainkan peran figuran dalam sebuah film. Sebelumnya aku sendiri masih ragu tentang perasaanku terhadapnya. Apakah aku memang benar-benar suka atau hanya mengagumi kecantikannya saja?. Karena memang selama ini aku tertarik dengannya karena kecantikan dan keanggunannya. Selama ini aku belum mengetahui alasan lain menyukainya dikarenakan sulitnya mendekati dirinya, apabila memang seperti ini berarti rasa suka itu baru sebatas nafsu saja dan aku tidak mau memiliki rasa suka kepada orang lain didasari nafsu, setidaknya aku harus mengenali dirinya lebih dekat lagi. Hari ini sepertinya tidak akan mudah untuk dilupakan. Senyuman yang selalu menghiasi wajahnya selama disampingku diperjalanan membuat hatiku merasa nyaman pula disampingnya.

Sesaat pikiranku kembali teringat pada anak-anak asuhanku. Aku mencoba menghubungkan kondisi mereka saat ini dengan kondisi Ani. Beberapa saat kemudian bibirku mengembang menandakan senyuman manis karena menemukan suatu pemikiran solusi yang tampaknya cukup membantu mereka secara bersamaan dan berimbas positif padaku juga.

“Eh, katanya kamu ingin berguna bagi masyarakat Ni? Kamu nganggur dari kegiatan organisasi kan sementara ini, Cuma sibuk sama kuliah saja?” kataku coba mengintrogasinya.

“Iya, emang kenapa?”

“Aku mau menawarkan kesibukan, mau ga? Tawarku.

“haha, mending kalau nawain duit, malah nawarin kesibukan, emang apa’an?”

“kan kesibukannya mempunyai nilai pahala, lebih berharga dari pada duit. Gini, aku mau nawarin kamu buat ngajar anak-anak, jadi guru, mau ga?”

“Guru? Maksudnya? Bisa dijelasin lebih detail?” tanyanya lagi.

“Gini, aku punya kenalan anak-anak sekitar 12/13 tahun, baru lulus SD tapi belum bisa melanjutkan ke SMP”

“Belum bisa melanjutkan?” potongnya.

“Iya, mereka belum punya duit buat melanjutkna ke SMP, jadi nganggur dulu, maka dari itu aku minta bantuan kamu buat jadi guru mereka, dari pada mereka nganggur kebanyakan main, bukannya lebih baik kalau sebagian waktu bermain mereka diambil sedikit untuk belajar agar lebih bermanfaat buat mereka bahkan untuk sekitar mereka?”

“Terus, aku harus ngajarin mereka apa?” tanyanya lagi.

“Ya apa saja yang kamu bisa, ilmu exact, ilmu social, ilmu computer sekalian ilmu agama kalau bisa, pasti sangat bermanfaat buat mereka” jelasku.

“Wuih, menarik. Boleh juga tuh, hitung-hitung memenuhi tugas sebagai mahasiswa sebagai Agent Of Change salah satunya dengan cara mencerdaskan masyarakat” Responyya sebagai tanda menerima tawaranku.

“Sip, ini juga bisa disebut sebagai pengabdian masyarakatkan? Terimakasih ya Ani”

“Iya, sama-sama” jawabnya dengan senyum indah yang menghiasi wajahnya.

Pembicaraan dan transaksi kami berakhir seiring dengan berakhirnya perjalanan kami berdua yang telah sampai di tujuan. Aku dan Ani berpisah di sebuah gang dimana didalam gang itu lah kostnya berada. Sementara Ani memasuki gang itu setelah berpamitan dengan senyumnya yang setia diwajahnya, aku masih harus melanjutkan perjalanan menuju kost ku yang beberapa langkah berada disamping gangnya dengan senyum yang menghiasi wajahku selama perjalanan.

Hari ini matahari terlihat garang. Panasnya sangat terasa membakar kulitku yang agak kecoklatan khas orang Indonesia. Namun panasnya cuaca hari ini tak mampu menghilangkan rasa sejuk yang ada didalam hati ini. Hari ini aku sudah merencanakan pertemuan Ani dengan anak-anak asuhanku. Aku berharap ini merupakan keputusan yang tepat, karena apabila hal ini berjalan lancer maka ini akan menjadi keuntungan besar buatku. Seperti kata pepatah “Sekali dayung dua tiga pulau terlewati”, dengan bersedianya Ani membantuku maka dua tiga keinginanku bakal terpenuhi, yakni selain merasa puas dengan membantu anak-anak dari segi akademis aku juga merasa senaang karena mampu mendapat kesempatan mengenal lebih dekat sosok Ani.

Tribun lapangan yang biasa kami gunakan bermain bola dan latihan kini sudah terisi dengan anak-anak asuhanku. Raut wajah mereka terlihat bingung dan mata mereka menunjukan rasa keingintahuan terhadap sesosok wanita yang berdiri disampingku.

“Itu pacarnya coach yah?” celoteh Beni mendadak.

Entah mengapa aku sangat ingin mengatakan kata “YA” saat itu, namun itu hanya harapanku saja. Saat itu aku hanya tersenyum dan berkata “inginnya sih begitu” didalam hati. Namun reaksi Ani yang seperti orang bingung bercampur kaget hingga menghasilkan reaksi yang terlihat salah tingkah membuat senyumku terhenti dan segera menyangkal celotehan Beni tadi.

“Bukan kok” sangkalku.

“Oh iya, kok hari ini kita dipanggil ke sini? Katanya kita libur seminggu? Badan kita masih pegal-pegal nih coach, kayaknya belum sanggup kalau disuruh latihan” tanya Somplax.

“Kalian dipanggil kesini bukan untuk latihan kok, oh iya selama istirahat seminggu ini kalian punya kesibukan apa?” tanyaku.

“kayaknya ga ada deh, paling Cuma jalan-jalan, nongkrong, makan dan tidur deh biar badan cepet pulih dari pegal-pegal” jawab Cahyo.

“Berarti bisa dibilang ga ada kerjaan kan? Nah, aku mau menawarkan kegiatan yang lebih bermanfaat buat kalian”

“Apa?” tanya mereka bersamaan karena rasa penasaran mereka.

“Dari pada kalian mengisi waktu senggang latihan kita dengan kegiatan yang tidak terlalu berguna itu, bagaimana kalau kita mengisinya dengan belajar? Mbak Ani yang ada disampingku ini yang akan mengajar kalian”

“Wah, asik nih, apalagi gurunya cantik, pasti semangat belajarnya”

“Syukurlah kalau kalian senang, semoga ilmu yang bu Ani berika akan bermanfaat buat kalian, setelah kalian setuju mari kita atur ulang jadwalnya, untuk minggu depan latihan bola akan dilaksanakan pada hari Senin dan Jum’at, sementara sisanya kita belajar, semuanya dilaksanakan jam 3 sore, setuju?”

“SETUJU…..” jawab mereka secara serempak.

“Ok, pertemuan kali ini selesai, kita berkumpul lagi hari Senin untuk latihan, sebelum bubar kalian harus mengisi formulis pendaftaran, tulis nama kalian beserta nomor punggung yang kalian inginkan, nanti saya akan membut kostum untuk tim ini.”

Mereka saling berebut pulpen dengan senyum yang menghiasi wajah mereka. Aku dan Ani yang memperhatikan mereka di bangku tribun pun ikut tersenyum melihat tingkah mereka. Disela-sela kegaduhan anak-anak itu, tiba-tiba aku teringat permasalahan tim ini yang belum terselesaikan, yakni masalah official yang tidak bisa diremehkan berhubung batas waktu pendaftaran tinggal 3 hari lagi. Seketika itu pula aku langsung berinisiatif mengusulkan nama Ani untuk dilibatkan dalam hal ini. Ani memang sama-sama terkejut pada awalanya. Namun dengan alasan Ani yang bisa membantu harmonisasi dan perkembangan akademis tim ini sesungguhnya merupakan suatu sumbangan yang berharga bagi tim ini, aku jelas hanya bisa mengapresiasinya dengan cara ini. Aku pun berdialog dengan Ani dengan mengatakan bahwa tugasnya tidak banyak bertambah yakni cukup fokus dengan mengajar anak-anak dengan tambahan hadir pada setiap pertandingan. Dengan sedikit penjelasan mengenai alasan anak-anak untuk mengikuti turnamen dan ditambah dengan opiniku, akhirnya Ani menyetujui tawaranku. Tangannya pun akhirnya bergoyang seiring goresan pulpen yang menuliskan namanya pada selembar kertas formulir yang baru saja di isi oleh anak-anak.

Aku benar-benar senang hari ini, setelah melihat senyum anak-anak yang dibawanya menemani langkah mereka menuju rumahnya masing-masing, ditambah dengan suksesnya merayu Ani terlibat dalam hal ini. Selain memberi kesempatan tambahan untuk mengisi waktu bersama dengan Ani, setujunya Ani bergabung dalam tim juga turut membantu meringankan masalah official ini. Setidaknya dalam waktu tiga hari ini aku cukup memfokuskan diri mencari official ke tiga guna memenuhi target pendaftaran. Tidak mudah memang tapi setidaknya lebih baik daripada mencari dua orang lagi bukan?.

Di tengah perjalanan mengantar Ani pulang, Ani tiba-tiba memulai pembicaraan.

“Bud, kamu sekarang masih sering main futsal?.” Tanya Ani membuka pembicaraan.

“Heh? Hmm dibilang sering juga enggak sih, udah vakum sekitar dua mingguan kayaknya udah ga main futsal, emangnya kenapa?”

“Ga pa pa kok, Cuma heran aja kok sekarang ga pernah keliatan lagi di tempat futsalku.”

“Oh, emang kebetulan teman-temanku lagi pada sibuk kok akhir-akhir ini jadi agak susah juga nyari jadwal buat latihan, lagian aku ga main di tempatmu bukan berarti tempatmu bangkrutkan? Masa Cuma kami sih langganan tempat futsalmu? Tak kirain tadi kamu nanya karena kangen taunya karena takut rugi rupanya, haha” candaku.

“Hehe, bukan karena itu kok, aku emang beneran kangen”

“Hah?” kata yang telah diucapkan Ani tadi membuat mulutku tak mampu membalas kata lain selain suara itu.

“Idih, biasa aja kali Bud ekspresinya, sampe mangap-mangap gitu” ucap Ani mengingatkanku yang sejenak kehilangan kesadaran karena ungkapan rasa kangennya.

“Eh, sory hehe, emang apanya yang dikangenin?” kucoba memastikan dengan berharap akulah yang dirindukannya.

“Aku kangen permainanmu, aku kangen melihat aksimu dilapangan futsal, rindu melihatmu melakukan berbagai aksi penyelamatan dibawah mistar gawang, selain itu aku juga kangen melihatmu memberikan motivasi ke teman-temanmu seusai pertandingan, bagiku disaat-saat itu kamu keliatan keren dan….”

“Dan….?”

“Dan gagah” lanjut Ani dengan ekspresi muka malu-malu yang terlihat karena matanya yang tak sanggup melihat kearahku dan selalu menunduk kebawah.

“Ini beneran?” tanyaku lagi untuk lebih memastikan apa yang baru ku dengar dan segera terbalaskan dengan anggukan kepalanya.

Aku sudah tidak sanggup berkata apa-apa lagi saat itu. Aku hanya bisa meneruskan langkah kakiku dengan pandangan mata yang lurus namun tak mampu untuk berkedip. Ekspresi mukaku yang pada awalnya seperti orang yang terkejut atau shock perlahan berubah seiring senyum yang mulai menghiasi wajahku. Mukaku kini terlihat ikut-ikutan malu-malu seperti ekspresi yang ditunjukan Ani. Ditengah suasana malu-malu yang kami rasakan secara bersamaan, tiba-tiba dering ponselku membuat kami yang saat itu seperti terbius sesuatu mendadak seperti sadar kembali. Kulihat ponselku untuk memastikan siapa yang mengirim sms. Rupanya teman futsalku, Dedi, mengirim pengumuman lewat sms yang berisi ajakan untuk kembali melakukan kegiatan yang sudah dua minggu ini terhalang. Dedi mengajak aku dan teman-teman futsalku yang lain untuk latih tanding futsal kembali berhubung  ada temannya yang menantangnya. Sungguh suatu kebetulan yang sangat tepat pada waktunya. Dengan segera aku balas menawarkan tempat futsal Ani sebagai tempat pertandingan dengan alasan aku sedang bersama penjaganya yang tidak lain adalah Ani sendiri. Tidak butuh waktu lama sms balasan dari Dedi pun masuk. Sms yang berisi persetujuannya menyuruhku untuk memesan lapangan pada esok hari jam 3 sore berhubung teman-teman yang lain pun punya waktu luang besok pada waktu yang telah disebutkan.

“Kayaknya rasa rindumu bakal terobati besok nih” ku coba membuka pembicaraan kembali.

“Hmm? Maksudnya?” tanyanya kebingungan.

“Kamu kerja di tempat futsal tiap hari apa dan jam berapa?”

“Tiap haru jum’at sampai minggu, semuanya dari pagi sampai sore”

“Pas banget, tadi teman-teman futsal ngajakin main futsal, aku disuruh nyari lapangan buat besok jam 3, aku pesen di kamu ya? Ada yang kosong kan?”

“Heh? Yang benar? Kayaknya ada deh, nanti aku tanya dulu kalau sudah ada jawabannya aku kasih tau” jawabnya dengan senyum senang diwajahnya yang dilanjutkan dengan tangannya yang aktif menekan berbagai tombol diponselnya pertanda dia sedang menghubungi temannnya seperti yang baru saja dia katakan.

Belum lama dia mengirim smsnya, ponselnya langusng bordering pertanda balasan sms telah datang.

“Kosong katanya Bud”

“Kalau gitu langsung sikat, siap-siap melepas rindu dengan berbagai aksi penyelamatanku ya?”

“Siap, berikan performa terbaikmu, hahaha”.

***Bersambung***

[Bedah Lagu & Video Clip] “Liberty and Victory”, Sebuah Persembahan Nidji untuk Indonesia dan Manchester United

Nidji membuat gebrakan besar untuk memulai impian besar mereka menjadi Go Internasional. Melalui album barunya Liberty Victory, Nidji secara mengejutkan mengumumkan bahwa single perdana dari album tersebut yang berjudul sama dengan albumnya “Liberty  Victory” akan dibuatkan video klipnya di Manchester. Yang membuat berita ini lebih menggemparkan adalah bahwa Nidji melibatkan salah satu klub sepakbola tersukses di dunia dalam pembuatan Video Klip mereka, yakni Manchester United dan bahkan menggunakan fasilitas di dalam stadion Old Trafford. Kejutan lainnya adalah hadirnya lima pemain Manchester United sebagai cameo dalam video tersebut yakni David De Gea, Shinji  Kagawa, Antonio Valencia, Chicharito, dan Wayne Rooney.

Read the rest of this entry

[Cerbung] Bukan Cuma Numpang Lewat Part 2

Penulis : Osyad

Genre : Sport

Episode 2

Kembali aku terdiam. Perkataan dan pemikiran anak ini tidak sesomplak namanya. Aku yakin, apa yang aku katakana tadi benar. Tapi apa yang dikatakan Somplax juga tidak bisa dibilang salah. Aku pun berpendapat sama dengannya. Sepakbola adalah hiburan bagi seluruh kalangan masyarakat manapun. Bagi yang mencintai sepakbola, tidak bisa bermain sepakbola tidaklah masalah karena hanya dengan menjadi supporter hiburan itu bisa didapat. Ketika timnas kita main bagus dan terlarut dalam suatu euforia, masyarakat kita ikut merayakan dan melupakan sejenak permasalahan bangsa bahkan permasalahan perut. Tapi masa iya kelak sepakbola bagi kalangan bawah hanya sebagai penonton dan bukan sebagai aktor utama lapangan hijau? Sungguh, aku pun tidak setuju dengan hal itu. Sontak aku kembali merenung. Melihat suasana terlihat tidak nyaman dan menjelang maghrib, aku menyarankan anak-anak untuk pulang dan berdo’a agar diberi jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapi. Sebelum berpisah aku minta kontak mereka agar bisa dihubungi nanti.

“Siapa diantara kalian yang punya HP?” tanyaku.

“Cuma aku yang punya” Jawab Gundul.

“Yang lain ga ada? Ya udah sini minta nomornya” pintaku.

“081********, tapi ni HP jarang punya pulsa ka” kata Gundul.

“gapapa, yang penting bisa dihubungi, ya udah sana gih pulang” kataku lagi.

Perdebatan dengan Somplax membuat pikiranku tidak nyaman. Aku berdiri didepan pintu kamar kostku memikirkan hal ini. Terlihat seorang lelaki gempal berkacamata sedang memandangku. Melihat keadaanku yang terlihat seperti orang bingung didepan pintu kostku, teman kostku, Radit mengajakku untuk ngopi di kafe. Aku terima tawarannya dengan harapan munculnya ide brilian mengenai masalah ini ketika ngopi nanti.

Susu putih yang jadi pilihanku terlihat kontras dengan kopi berwarna sangat hitam milik temanku, hal ini dikarenakan aku tidak terlalu menyukai kopi. Entah aku kerasukan apa waktu itu, tapi tiba-tiba saja terucap dari lidahku sebuah pertanyaan yang sepertinya mampu mebantu anak-anak tadi.

“Bagaimana caranya mendirikan SSB ya?” Tanyaku secara tidak sadar.

“Apa Bud? SSB? Banyaklah tahapnya, yang penting modal, emang kenapa?” Jawab Radit.

“Tapi, kira-kira bisa ga klo ga make modal? Minimal ngurangin modal seharusnya deh”

“Bisa sih, minimal kamu harus punya banyak kenalan yang bisa diajak kerjasama dalam masalah ini, contohnya pelatih, biar kamu ga usah bayar pelatih lagi, selain itu kenalan yang bisa mengurusi masalah fasilitas contohnya lapangan, dll” Jawab Radit.

“Terus, butuh surat-surat segala macem ga?” tanyaku lagi.

“Tergantung, kamu mau bangun SSB professional atau Cuma sekedar ngajarin orang main bola doang?”

“Itulah yang bikin aku bingung”

“Loh kok bingung?” tanyanya heran.

Keliatannya Radit bisa membantu sehingga aku pun menceritakan permasalahanku padanya. Radit pun sepertinya paham maksud dari ceritaku. Seiring selesainya ceritaku, minuman yang kami minum tak terasa sudah habis. Kemudian aku bertanya.

“Tadi kamu bilang ikut turnamen Soccer School U-13? Klo ngeliat dari jumlah peserta sih kayaknya salah satu turnamen besar deh, nanti aku cari infonya yang penting klo kamu mau dan udah punya tekad, jalani aja dulu, ga usah mikirin surat-surat segala macemnya dulu deh, nanti aku ikut bantu, aku yakin seiring dengan jalannya usaha yang berjalan, kemauan dan kerja keras, serta diiringi do’a, solusi pasti akan muncul dengan sendirinya, tapi bagaimana kamu akan memulainya?” tanya Radit.

“Entahlah, aku masih bingung” Keluhku.

“Loh? Kok masih bingung? klo kamu masih ragu-ragu aku ga mau bantu, bulatkan dulu tekadmu, jangan sampai kita memulainya tapi berhenti ditengah jalan, nanti Cuma bakal mengecewakan semua pihak. Aku mau bayar dulu, minumannya aku traktir, pikirin baik-baik bud” Radit menasehatiku.

Semenjak ditinggal Radit yang membayar minuman kami berdua hingga dalam perjalanan pulang menuju kost, aku berfikir apa yang harus aku lakukan. Bagaimana aku harus memulai ini semua?. Selama perjalanan, Radit sepertinya tak berani mengajaku ngobrol karena melihatku yang sedang berfikir keras. Hingga akhirnya ketika memasuki area kost, aku memutuskannya.

“Dit, aku udah memutuskannya, aku akan memulainya, aku akan berusaha sebaik mungkin membantu mereka” kataku.

“Yakin? Jadi gimana langkah awalnya?” tanya Radit.

“Untuk saat ini, aku baru sekedar memikirkan masalah permainan, aku mungkin bisa menjadi pelatih, lagian aku penasaran dan merasa tertarik bagaimana rasanya menjadi pelatih bola, masalah fasilitas kita bisa memanfaatkan lapangan pinggir fakultasku” jawabku.

“Ok sip, kita mulai dari situ dulu, masalah lainnya nanti kita pikirkan bareng-bareng, tapi sebelum itu boleh kah ku tau seberapa besar tekadmu?” kata Radit.

“Selama ini aku merasa hidup Cuma numpang lewat dit, aku ga pernah melakukan hal yang penting, hal yang berpengaruh dan bermanfaat untuk sekitarku, mungkin lewat ini lah aku bisa jadi orang yang bermanfaat. Semua yang kulakukan sebelumnya serba standar, ga jelek ga bagus, dan aku pun merasa tak pernah menyelesaikan apapun, maka dari itu aku ingin memulainya dari sini dan bertekad berjuang hingga ada hasilnya, berjuang hingga akhir, berusaha menyelesaikan apa yang aku mulai” jawabku.

“Jadi kita memulainya nih?” tanya Radit meminta penegasan.

“Yoyoy, kita telah melakukan start, saatnya berjuang hingga garis finish” jawabku.

“Kata-katamu tadi sungguh bijak, jadi ini semua kamu lakukan demi mereka?” tanyanya lagi.

“Tidak, aku melakukan ini semua karena karena aku ingin beraksi, bukan hanya bicara, dan tentunya karena sepakbola, lalu bagaimana denganmu? Kenapa kamu mau membantu?” Kubalik bertanya.

“Jadi ga mau dibantu? Ya udah, aku ga jadi bantu Jawabnya.

“Loh? Loh? Bukan gitu maksudnya, haduuuh” Keluhku.

“Haha, santai aja bud, Cuma bercanda, coba kamu liat mataku, liat juga posturku dan tubuhku yang gempal ini. Aku tidak jago bermain bola tapi aku menyukai olahraga paling populer di dunia ini, selama ini aku hanya bisa jadi penonton, jadi supporter, hanya bisa jadi penikmat. Tapi, dengan adanya masalah ini aku menatap sebuah peluang dimana aku bisa terlibat jauh dalam olahraga ini, aku sama dengan dirimu yang mencintai olahraga ini” Jawabnya penuh perasaan.

“Haha, aku juga tau kamu fanatik bola, kamu kan rival ku. Selama ini kan Cuma kita berdua yang suka bola di kost ini, Cuma kita berdua juga yang ribut-ribut klo nonton bola di tipi apalagi klo pertandingan Manchester United vs Arsenal, dasar fans Arsendal, rasa cintamu ke bola melebihi rasa cinta mu pada wanita, haha, pantes ga laku-laku” Ejekku.

“Ga usah mulai perdebatan fans bola deh, dasar MUnyuk. Dan ga usah ngomong ke aku masalah wanita, kamu sendiri juga sampai saat ini belum punya pacar, ga punya kaca ya?” balasnya.

“Eh iya ya? Kita senasib, wkwk, tapi itu kan karena emang aku yang ga mau pacaran” balasku.

“halah alesan, udah ah bobo, ngantuk nih, ntar besok aku kasih kabar ke kamu masalah turnamen” ujarnya.

“Siap bos!” jawabku.

Gara-gara Radit menyinggung masalah wanita, pikiranku kembali membentuk pola wajah yang tak asing bagi dunia khayalku. Aku jadi teringat sosok Ani. Biasanya tiap malam aku selalu membayangkan dirinya, membayangkan aku dan dia sebagai sepasang kekasih dengan berbagai alur cerita. Rasanya bila digambarkan lewat tulisan mungkin akan menghasilkan cerita-cerita seperti cerpen ataupun novel romantis yang indah. Namun untuk malam ini, rupanya sosok Ani hanya sebentar saja mampir ke pikiranku. Selanjutnya entah mengapa pikiranku kembali ke anak-anak. Tiba-tiba aku berfikir, pelatih siap, lapangan siap, apalagi yang kurang untuk kegiatan latihan?. Dengan cepat kutemukan jawabannya. Mereka tidak mempunyai sepatu dan tidak punya cukup bola untuk latihan yang benar. Semua itu perlu uang kan?. Aku merenung sebentar untuk berfikir. Beberapa menit kemudian kugerakan tubuh ini mendekati lemari. Ku ambil sebuah plastik berisi duit hasil menabungku yang sengaja tidak aku tabungkan ke bank dari laci lemari. Hasil menabungku selama tiga semester ini, apakah harus ludes begitu saja?. Aku bukan anak konglomerat yang apabila duit habis langsung menelpon orang tua untuk mengirimkan duit lagi. Masalah duit ini membuatku berfikir lagi, masih beranikah aku memulai ini?. Duitku tidak mencukupi untuk hal seperti ini. Tapi aku sudah terlanjur berlagak seperti seorang kesatria dihadapan Radit. Kucoba memotivasi diriku. Aku sudah menyatakan start pada Radit, masa iya baru jalan sebentar langsung balik lagi?. Perang batin ku yang memperdebatkan kondisi melawan tekad ini akhirnya dimenangkan oleh tekad. Mungkin hanya bermodalkan harapan, kuberanikan diri  mengambil HP lalu mencari kontak bernama Gundul. Aku menyuruhnya mengabarkan kepada anak-anak untuk kumpul jam 08.30 wib sebelum aku kuliah. Dengan ini sudah kupastikan aku telah memulainya dan telah melangkahkan kaki agak menjauh dari start. Kulihat jam di HP menunjukkan jam 10 malam. Karena besok aku kuliah pagi, segera aku taruh HPku dengan tidak lupa memasang alarm jam 04.30 wib.

Keesokan harinya aku menuju lapangan yang masih kososng dipagi hari lalu menunggu kedatangan anak-anak sesuai dengan pesan yang kusampaikan pada Gundul. Tak berselang lama, muncul lah segeromobolan anak-anak itu. Namun rasanya ada yang berbeda, jumlah mereka terlihat lebih sedikit.

“Woy, mana yang lain?” tanyaku.

“Lagi pada sekolah ka” jawab mereka.

“Oh iya lupa, sebagian dari kalian kan masih sekolah, kenapa ga ngomong lewat SMS sih dul?” tanya ku pada Gundul.

“Ga punya pulsa ka, terus ngapain kita disuruh ngumpul?” tanyanya balik.

“Gini, aku udah mikir semaleman, kayaknya kalian bisa ikut turnamen deh” ujarku.

“Yang benar ka? Tapi kita ga harus ikut SSB kan? Girang Somplax.

“Ga, karena kita akan bikin SSB sendiri” jawabku.

“Hoooreeeee” teriak mereka kegirangan.

“Sebagai awal, aku pengen nanya ke kalian, kalian punya duit berapa?” tanyaku.

“Loh? Kok duit lagi sih? Klo gitu sih sama aja bohong” keluh Somplax.

“Hey, ini buat sepatu kalian, protes mulu klo masalah duit, kalian punya tabungan duit ga? Punya berapa? Kita pake buat beli sepatu, klo kurang nanti aku tambahin, masa harus aku yang bayarin semuanya sih, bisa miskin mendadak gara-gara kalian klo gini” jawabku lagi.

“Yang benar ka? Serius?” tanya mereka dengan senyum yang mengembang dibibir mereka.

“Iya serius, tapi ingat, aku ga bayarin sepatu kalian, kita patungan dengan catatan kaliang berhutang ke aku, kalian harus bayar dengan cara mau berlatih keras dan ga mengecewakan aku di turnamen nanti, karena aku yang akan melatih kalian, siap?” tanyaku.

“SIIIIAAAAAPPP” jawab mereka secara bersamaan dengan suara lantang.

“Ya sudah, sekarang kalian pulang, kasih tau teman-teman kalian, ambil uang kalian lalu nanti jam 2 siang kumpul lagi disini, kita berangkat bersama buat beli sepatu, ayo sana pulang, aku mau kuliah” perintahku.

Mereka pulang dengan membawa senyum dan kabar gembira yang harus mereka bagi ke teman-temannya. Sementara aku melanjutkan tugas utamaku sebagai mahasiswa dengan perasaan yang tidak menentu. Aku khawatir uang yang kupunya tidak cukup untuk membeli segala fasilitas yang dibutuhkan.Namun aku teringat Radit yang katanya siap terlibat masalah ini. Segera kuhubungi Radit dan memintanya untuk mengadakan pertemuan di kost sehabis kuliah. Dalam pertemuan itu aku meminta bantuan finansial dan menyuruhnya datang pada latihan perdana yang akan dilaksanakan sore nanti. Aku akan memperkenalkan Radit dengan anak-anak agar mereka bisa saling mengenal dan akrab sehingga terjalin kerjasama untuk memudahkan langkah-langkah selanjutnya.

Waktu sudah menunjukkan jam 14.00 wib. Aku dan anak-anak berangkat menuju toko sepatu menggunakan angkot. Sesampainya disana, mereka langsung berhamburan memilih sepatu dengan senyum yang menghiasi wajah mereka. Aku turut mengarahkan mereka dalam memilih sepatu. Aku menyarankan untuk memilih sepatu yang tak hanya bagus dari segi penampilan namun juga memilih sepatu yang enak dipakai. Selain sepatu kami juga membali peralatan lainnya seperti kaos kaki, deker, sarung tangan untuk kiper, serta fasilitas latihan lainnya seperti peluit dan beberapa bola. Setelah selesai belanja, kami segera kembali ke lapangan menggunakan angkot lagi. Kami akan langsung menggunakan fasilitas-fasilitas ini untuk latihan perdana kami pada sore ini.

Sesampainya kami dilapangan, kami melihat seorang lelaki gempal yang sepertinya tak asing bagikusedang berdiri ditengah lapangan. Rupanya Radit sudah menunggu kedatangan kami. Tanpa perlu basa-basi, langsung saja kukenalkan Radit kepada anak-anak yang siap membantu kita dalam persiapan menghadapi turnamen ini.  Nampaknya tak perlu waktu lama bagi Radit untuk membaur dengan mereka, itu semua tampak dari keakraban yang mereka ciptakan. Karena ditakutkan matahari makin condong kebarat, segera kuperintahkan anak-anak untuk mengenakan perlengkapan mereka sementara aku menyiapkan fasilitas latihan dilapangan.

Latihan dimulai dengan pemanasan. Aku ajarkan beberapa gerakan pemanasan yang biasa aku lakukan. Setelah itu kusuruh mereka lari-lari keliling lapangan 3 putaran lalu diakhiri dengan beberapa gerakan pendinginan untuk memulai latihan. Raut wajah kelelahan sangat terlihat sekali Nampak pada anak-anak, sepertinya mereka masih belum siap dan belum terbiasa melakukan olahraga teratur. Kuberi mereka sedikit waktu untuk mengambil nafas sejenak. Setelah merasa cukup segera kutiup peluit sebagai pertanda melanjutkan latihan. Segera kusuruh mereka berbaris dan melakukan latihan menggunakan bola yang setidaknya cukup menguras fisik. Mereka berlatih drible, control, heading dengan berbagai variasi. Waktu sudah menunjukkan jam 17.30 wib. Segera kusuruh mereka untuk push up, sit up, dan melakukan pendinginan lagi untuk mengakhiri latihan perdana.

Suara nafas mereka yang terengah-engah menunjukan betapa kelelahannya mereka dengan latihan kali ini. Sepertinya mereka belum pernah selelah ini. Ingin rasanya kuucapkan beberapa kata pujian untuk menyemangati mereka. Namun, belum sepatah kata pun keluar dari mulutku, mereka mendahuluiku untuk mengucapkan sesuatu yang membuat kuping dan hati menjadi panas.

“Kok kita hari ini ga main bola sama sekali sih? Klo latihannya Cuma lari bolak balik seharian aja sih aku ga mau ikut ah, udah capek, ga menyenangkan lagi” keluh Somplax.

***Bersambung***

26 Tahun Sir Alex Ferguson Bersama Manchester United

Apa yang terjadi hari ini merupakan kepingan dari apa yang terjadi di masa depan. Hari ini kelak akan menjadi masa lalu bagi masa depan. Hari ini adalah sebuah misteri untuk masa depan, namun bisa jadi, hari ini adalah jawaban dari apa yang yang terwujud di masa mendatang.

Read the rest of this entry

Selamat Tinggal PETERPAN, Selamat Datang NOAH

Ariel, Uki, Lukman, dan Reza kini telah kembali ke dunia music tanah air, tapi mereka tidak kembali dengan Peterpan yang membuat nama mereka besar melainkan kembali dengan sesuatu yang baru yakni nama baru band mereka Noah dengan David sebagai personil tambahan.

Bebasnya sang vokalis Ariel dari penjara akibat skandal video sexnya membuat proyek album baru yang sempat tertunda ini bisa dilanjutkan kembali. Nama Peterpan yang merupakan nama band tempat bernaung Ariel, Uki, Lukman dan Reza dalam bermusik pun harus diganti bersamaan dengan keluarnya album baru yang merupakan efek keluarnya dua personil lawas mereka, Andika dan Indra. Dengan hal ini maka bisa dipastikan nama Peterpan yang sebelumnya sempat mendominasi dunia music Indonesia akan lenyap.

Read the rest of this entry

[Cerbung] Bukan Cuma Numpang Lewat Part 1

Episode 1
Genre : Sport, Drama

“I can’t feel … The way I did before …. Don’t turn your back on me … I won’t be ignored”. Lagu Faint milik Linkin Park ini menghentak keras ditelingaku, membuat mata ini terbuka menyadarkanku dari kantuk di siang hari tepatnya jam 12 pas. Sengaja ku gunakan lagu ini sebagai alarm, teriakan Chester Bennington dan hentakan musiknya paling pas buat bangunin orang yang susah bangun sepertiku ini. Setelah nyawa ini telah terkumpul hingga sadar, segera ku bangkitkan raga ini untuk bersiap menjalani hari yang membosankan. Ku coba menghibur diri dengan berharap dunia tengah menantiku walau sebenarnya rutinitas yang menjenuhkan ini lah yang menungguku.

Setelah mandi, segera aku mengenakan celana jeans dan satu-satunya baju yang tersisa di lemariku yakni, jersey Manchester United musim 2011-2012 yang berkerah untuk menutupi tubuh bagian atasku. Setidaknya baju ini memiliki kerah sehingga masih bisa kugunakan untuk kegiatan kuliah hari ini dengan  tidak lupa membawa jaket hitam yang kupunya satu-satunya untuk sekedar menambah aksesoris sebagai kepantasan fashion di mata dosen. Setelah merasa cukup ganteng hari ini, segera aku berangkat dari kost setelah melaksanakan solat dzuhur terlebih dahulu.

Kelas kuliah ku selesai jam 3 sore. Setelah melaksanakan solat Ashar di kampus, aku segera bergegas pulang menuju kost meskipun aku tidak tahu apa yang akan kukerjakan setelah sampai nanti. Setelah beberapa langkah keluar dari gedung fakultas, masalah kejenuhan tadi kembali menghampiri pikiranku. Entah mengapa langkah kaki ini menuntunku menuju sebuah lapangan sepakbola yang cukup dekat dengan fakultasku, bahkan berdampingan dengan proyek pembuatan gedung baru fakultasku. Walau agak kotor, aku duduk di tribun lapangan tersebut dan kembali merenung memikirkan kejenuhanku tadi. Aku berfikir mengenai hidupku yang tak bergairah ini. Kuliah yang cuma duduk manis mendengarkan dosen dengan tujuan mencari absen, rencana bisnis yang tak kunjung direalisasikan, hidup yang hanya makantidur-berak-laptop, bahkan kegiatan tim futsal yang sebenarnya menyenangkan pun jadi bahan pikiranku karena belum pernah mengikuti turnamen apapun sampai saat ini.  Seakan aku hanya numpang lewat dalam dunia ini karena tak melakukan hal penting apapun.

Suasana yang hening itu tiba-tiba berubah menjadi gaduh seiring munculnya suara tawa segerombolan anak-anak yang memecah lamunanku. Perhatianku pun kini beralih ke mereka. Anak-anak yang ku perkirakan berusia 12-13 tahun ini memasuki lapangan dengan tawa di wajah mereka. Sebuah bola kusam yang mengiringinya menandakan mereka ingin bermain bola di lapangan ini. Kehadiran mereka yang hendak memainkan olahraga kesukaanku membuatku berminat bergabung dengan mereka. Jumlah mereka yang kuperhatikan rupanya ganjil (13 orang) ini semakin menumbuhkan rasa percaya diriku kalau mereka tidak akan menolak ku.

“Hey, boleh ga aku ikut maen bola?” Kucoba menawarkan diri.

“Ayo ka, mumpung kita kurang satu orang nih” Jawab salah satu dari mereka kepadaku.

“Iya iya, tunggu” Jawabku sambil menyengir.

Untungnya baju yang kugunakan hari ini sangat pas dengan suasana kali ini. Segera kulepaskan tas, sepatu, dan juga jaketku lalu segera turun dari tribun dan bergabung dengan mereka. Tak sabar ingin segera merasakan kembali bermain di tengah terik matahari setelah sekian lama selalu bermain di dalam ruangan.

Ternyata anak-anak ini lumayan. Skill alami mereka tak bisa diremehkan walaupun dari segi dasar dan tekhniknya belum benar. Tubuh mereka kuat, ngotot, punya determinasi yang tinggi, dan cepat. Aku yang di futsal berposisi kiper biasa bertugas menunggu datangnya bola untuk diselamatkan kini harus berlarian mengejar bola. Lama tidak berlatih teratur dan tidak bermain di lapangan besar lagi membuat staminaku cepat habis. Namun tubuh besarku ini setidaknya bisa menutupi kekuranganku agar tidak terlihat kalah oleh mereka. Tapi dibalik itu semua, yang terpenting kita tertawa bersama dan bersenang-senang dalam permainan ini. Setidaknya dalam sejenak aku bisa melupakan beban pikiranku ini.

Disela-sela permainan, terlihat olehku seorang wanita bermata sipit, berkulit putih, dan tampak anggun dengan jilbab putihnya sedang memandangku dari kejauhan. Rupanya itu Ani, gadis yang kukagumi sedang memandangku dari pinggir lapangan seiring dengan langkahnya menuju pintu gerbang keluar area kampus. Hubunganku dengan wanita yang kukenal sewaktu ospek ini sebenarnya tidak bisa dianggap dekat. Aku memang mengenalnya dan dia pun mengenalku, namun hanya sebatas kenal. Aku hanya bisa mengagumi dia dari jauh meskipun aku dan dia cukup sering saling menyapa, namun entah mengapa diriku tak berani dan merasa minder untuk memulai komunikasi dengannya. Aku pun sering melihatnya di tempat biasa tim futsalku bermain yang setelah kutanyai rupanya dia bekerja part-time disitu. Tempak kost aku dan dia pun cukup dekat. Dia berada di fakultas dan jurusan yang sama denganku. Nampaknya dia dalam perjalanan pulang usai menyelesaikan kegiatan kuliahnya. Kebetulan jalan pulang dari gedung fakultas menuju kostnya harus melewati lapangan ini. Waktu itu aku melihat Ani tersenyum kearah kami, dan aku pun membalas senyumnya hingga dia melanjutkan perjalanannya. Senyumnya membuat hati ini senang dan semakin bersemangat bermain bola dengan anak-anak ini.

Matahari semakin condong ke barat, keringat sudah membasahi baju kami, bahkan nafas anak-anak ini terdengar jelas ditelingaku. Sudah saatnya kami mengakhiri permainan ini. Entah siapa yang menang waktu itu karena saking banyaknya gol yang tercipta. Belakangan ku ketahui nama mereka yang beberapa diantaranya mengundang tawaku. Yakni Somplax, Robi, Gundul, Cahyo, Blegor, Dion, Deni, Semprul, Beni, Regi, Joko, Robi, dan Evan. Sebelum berpisah Aku mengajak mereka untuk main bola lagi besok ditempat dan waktu yang sama dan mereka menerima ajakanku.

“Kami pergi dulu ya ka Budi, besok main lagi” Pamit mereka.

Rupanya prediksiku setelah bangun tidur tadi agak meleset, setidaknya aku menemukan sesuatu yang baru untuk dinikmati dan tidak lupa senyuman manis wanita pujaanku sedikit menghiasi hari yang agak berbeda kali ini. Pikiranku malam itu cukup fresh untuk mengerjakan tugas kuliah dan melalui malam dengan insomnia seperti biasanya. Insomnia ini kumanfaaatkan dengan membaca buku, nonton film, dan sekalian menunggu solat subuh lalu baru bisa tidur.

Seperti yang dijanjikan kemarin, aku kembali bermain dengan anak-anak itu di tempat dan waktu yang sama. Usai kembali bersenang-senang dengan sepakbola kami sempat saling bercanda dan ngobrol-ngobrol. Dalam obrolan tersebut, anak-anak berbicara mengenai sebuah tournament. Aku mencoba masuk dalam obrolan mereka.

“Turnamen? Turnamen apa’an? Antar tim? Desa?” Ucapku untuk masuk ke obrolan mereka.

“Turnamen antar SSB ka, nama turnamennya “Soccer School Tournament U-13” untuk 32 tim peserta, paling lambat seminggu lagi untuk pendaftaran tapi waktu turnamennya sebulan lagi, hadiahnya gede banget” jawab Gundul.

“SSB? Itu kan khusus bagi anak-anak yang ikut SSB?” Jawabku dengan heran.

“Emangnya klo bukan SSB ga bisa ikut ka?” Tanya Somplax.

“Ya ia lah, klo mau ikut kalian harus ikut SSB dulu, ga bisa klo bikin tim sendiri, mendingan cari turnamen lain aja” Jawabku lagi.

“Tapi kan klo ikut SSB harus bayar ka, sementara kita ga punya duit, klo nyari turnamen lain belum tentu ada dalam waktu dekat ini dan hadiahnya mungkin ga sebesar ini, padahal kita perlu banget duitnya ka” jawab lagi somplax dengan nada mengeluh.

“Memangnya perlu buat apa?” Tanya aku.

“Buat biaya pendaftaran SMP ka” jawab Dom.

“Hah? Maksudnya?” Aku bertanya lagi dengan penuh keheranan.

“Sebentar lagi kan pendaftaran SMP mau dibuka, sebagian besar dari kita udah lulus SD tapi ga bisa ngelanjutin ke SMP, bisa dibilang lagi nganggur ka, sebagian lainnya mau lulus SD dan pengen ngelanjutin ke SMP, jadi kami semua tahun ini pengen masuk SMP, orang tua kami lagi berusaha keras nyari duit buat biaya masuk, tapi kami pengen bantu mereka nyari duit, nah mumpung ada turnamen ini rencananya kami mau nyari duit lewat hobi kami” Jawab Somplax.

Aku terdiam kagum dengan jawaban anak ini. Rasa iba mulai muncul di hatiku untuk menyemangati mereka. Tapi, mengingat masalah SSB yang sulit ini membuat pikiranku kembali rasional.

“Tapi tetap saja klo bukan SSB ga bakal bisa ikut, mendingan kita nyari cara lain buat cari duitnya” ku coba memberi solusi lain.

“Ga mungkin ka, kita ga dibolehin sama orang tua kami buat kerja bahkan untuk sekedar membantu pekerjaan mereka” Jawab lagi Somplax.

“Orang tua mereka bagus juga rupanya” pikirku dalam hati.

“Lagian apa sih unggulnya SSB? Cuma menang duit sama fasilitas doank, klo skill kayaknya kami juga jago” keluh Somplax.

Pernyataan Somplax agak membuatku kesal. Meskipun aku bukan anak SSB tapi aku pernah berlatih layaknya SSB sewaktu SMA meskipun hanya bertahan dua tahun. Dan berkat pengalaman dua tahun itu aku mulai paham bahwa sepakbola itu tidak hanya tentang rasa suka terhadap bola, berlarian mengejar bola, tendang sana tendang sini. Tapi banyak hal yang perlu dipelajari secara mendalam tentang olahraga ini. Anak ini tidak tahu apa yang dia bicarakan. Sehingga aku pun membalas penyataannya.

“Hey, kamu ini ngerti apa plax? Fasilitas itu penting, klo ga punya fasilitas kalian mau latihan dimana? Mau main bola dimana? Hah?” jawabku agak membentak.

“Klo gitu berarti sepakbola bukan olahraga yang merakyat dong? Sepakbola Cuma buat orang-orang berduit juga? Kami sebelumnya tidak main disini, tapi lapangan yang paling dekat dengan rumah udah dipake buat proyek bikin bangunan, Cuma lapangan ini yang masih bisa dibilang dekat dengan lingkungan kami, bahkan lapangan ini bisa dibilang terancam klo ngeliat bangunan yang lagi dibangun disitu (menunjuk para tukang yang sedang membangun gedung fakultasku yang baru), klo mereka bikin gedung lagi, lapangan ini habis. Klo ga ada lapangan, kami mau main dimana? Pindah ke futsal? Main didalam ruangan atau lebih tepatnya nyewa ruangan buat kami main bola? Sory ka, kami ga punya duit klo buat sekedar minjem ruangan. Lama kelamaan bernafas bahkan hidup juga hanya untuk orang kaya, hanya sepakbola yang bisa membuat kami bisa melupakan masalah hidup, Cuma sepakbola yang bisa jadi hiburan ditengah kemiskinan kami, apakah kesenangan dan hiburan ini juga bakal dirampas dari kami?” Jawab Somplax.

***Bersambung***

[Review US-Series] Supernatural Season 1 (2005)

SAVING PEOPLE ….. HUNTING THINGS ….. THE FAMILY BUSINESS

Bagaimana jika makhluk-makhluk gaib seperti setan, iblis, roh, monster, dan semacamnya yang biasanya diceritakan menggangu atau bahkan memangsa manusia justru malah diburu balik oleh manusia?. Yup hal ini akan terjadi didalam cerita US Series Supernatural. Series ini diproduseri ole Eric Kripke yang di produksi pada tahun 2005 dengan 22 episodenya.

Supernatural berkisah tentang petualangan dua Winchester bersaudara , Dean Winchester (Jensen Ackles) dan Sam Winchester (Jared Padelecki) dalam memburu hal-hal yang berbau supernatural. Dalam season pertama ini kedua bersaudara tersebut mempunyai misi mencari ayahnya yang hilang. Namun, meski dalam sebuah misi pencarian, pekerjaan mereka dalam menyelamatkan orang dari hal-hal supernatural tetap dilakukan, tentu saja karena ini adalah Family Business.

Mary Winchester yang terbunuh secara mengenaskan

Cerita bemula ketika dua Winchester ini masih anak-anak. Sebuah tragedi terjadi ketika ayah mereka John Winchester menemukan sang Ibu, Mary Winchester mati dibunuh sesosok iblis dengan cara yang mengenaskan tepat dihadapan Sam yang waktu itu masih bayi. Semenjak peristiwa itu, keluarga Winchester yang dulunya terlihat bahagia kini berubah drastis, John melatih kedua anaknya menjadi pemburu hantu dengan tujuan utama membalaskan dendam kepada makhluk yang membunuh Mary. Beranjak dewasa Dean mengikuti ayahnya menjadi pemburu hantu karena Dean berpendapat hal ini sudah menjadi urusan bisnis bagi keluarganya, sementara Sam yang tidak tahu apa-apa tentang tragedi yang menimpa ibunya justru menjadi pemberontak yang selalu membangkang perintah ayahnya. Sam yang menginginkan kehidupan layaknya keluarga normal itupun  akhirnya memutuskan pergi dari rumah hingga akhirnya sukses di dunia pendidikan menjadi sarjana hukum di Stanford University.

Kehidupan Sam yang sebelumnya terlihat normal akhirnya “dikacaukan” kembali oleh kakaknya, Dean yang kembali muncul di kehidupannya. Dean membawa berita mengenai hilangnya sang ayah dan berniat mengajak Sam kembali ke hal-hal aneh yang sebelumnya ditinggalkannya untuk mencari John Winchester. Tapi Sam menolak hingga akhirnya makhluk yang membunuh ibunya kembali muncul dan membunuh Jessica, pacar Sam. Kejadian ini membuat Sam ikut bersama Dean mencari ayahnya yang belakangan diketahui kalau John pergi memburu iblis yang membunuh istrinya.

Dalam perjalanan inilah muncul berbagai cerita menarik yang tentunya tidak terlepas dari hal-hal yang berbau supernatural. Dalam perjalanan itu mereka mencari kasus-kasus aneh yang ada ditempat yang kebetulan mereka lalui. Dengan bermodalkan jurnal sang ayah yang ditemukan dalam perjalanan, Winchester Brothers mendapat berbagai informasi berharga yang ditulis oleh ayahnya seperti info, sejarah, dan bagaimana cara membasmi makhluk-makhluk gaib. Di tengah perjalanan, berbagai cerita yang berkaitan dengan terbunuhnya ibu mereka mulai terkuak. Seperti munculnya kemampuan aneh Sam yang mampu meramal kematian melalui mimpinya yang ternyata kemampuan-kemampuan aneh itu tidak hanya dimilik Sam, tapi juga anak-anak yang senasib dengan Sam (Ibunya mati dengan keadaan yang sama tepat ketika dia berumur 6 bulan). Belakangan diketahui bahwa ternyata iblis itu mempunyai rencana bagi anak-anak yang dikunjunginya, rencana apa itu? Itu lah yang akan dijelaskan pada season-season berikutnya.

Watak kedua tokoh utama ini sebenarnya bertolak belakang. Dean yang kadang suka bertingkah konyol, ucapannya yang ceplas-ceplos, perayu wanita, dll tapi sangat menyayangi dan melindungi Sammy –panggilan Dean ke Sam- yang berwatak serius, pendiam, dan teliti. Perbedaan watak keduanya membuat cerita menjadi lebih menarik dengan selingan pertengkaran adu argumen keduanya serta unsur humor ala sindiran mereka. Meski sering bertengkar namun tetap tak menghilangkan keterikatan emosional yang kuat dalam konteks hubungan persaudaraan adik-kakak, hal ini terlihat hampir di setiap akhir episodenya dan sepertinya sukses mengetuk sisi emosional penonton. Selain itu mereka juga sangat pintar dalam urusan menyamar. Hampir di setiap episodenya mereka selalu menyamar untuk mendapatkan informasi tentang buruannya seperti menjadi agen FBI, detektif, polisi, petugas alarm, pendeta, dll meski terkadang aksi mereka ini terungkap.

Kebanyakan makhluk-makhluk gaib yang muncul di Supernatural berasal dari legenda-legenda yang berasal dari Amerika. Di tiap episodenya kita akan melihat hantu-hantu dan cerita yang berbeda-beda. Satu episode dengan episode lainnya sebenarnya tidak saling terikat, tapi selalu ada pembahasan mengenai jejak sang ayah dan kasus sang ibu yang berkaitan dengan iblis ditiap episodenya meski hanya beberapa kalimat saja.

Namun, ketegangan yang disajikan di season pertama ini sepertinya kurang terasa di episode-episode awal dan selain itu meski serial ini melibatkan hantu-hantu, serial ini memiliki kadar seram yang rendah. Makhluk-makhluk yang dihadapi Winchester Brothers terlihat tidak terlalu sulit untuk dibasmi. Tapi, penyelidikan dalam mengungkap makhluk apa yang dihadapi serta bagaimana cara membasminya terlihat sangat menarik. Sehingga bisa disimpulkan series ini di season pertamanya lebih menyoroti ketegangan di dalam penyelidikan ketimbang ketegangan dalam eksekusi makhluk itu sendiri. Hal ini membuat cerita terlihat tidak berimbang, permulaan yang menarik, penyelidikan yang rumit, tapi penyelesaiannya terlalu mudah.

Dari segi pengembangan cerita sebenarnya temponya agak sedikit lambat, tapi penyelipan episode yang berkaitan dengan konflik utama dengan selingan episode dengan konflik terpisah terasa sangat pas dan tak terlihat jumping. Dan dengan pengembangan cerita yang lambat ini justru membuat penonton seperti terhanyut penasaran menanti kelanjutan episodenya. Secara keseluruhan serial ini terlihat bagus namun tidak terlalu memuaskan. Tempo yang lambat dengan pengembangan yang menarik namun selalu gagal mencapai klimaks rasanya sangat tepat dijadikan alasan.

Komentar yang terakhir ini sebenarnya diluar konteks penilaian, namun rasanya sangat mengganggu apabila tidak diungkapkan. Karena memang film ini mengambil tema hal-hal supernatural maka tidak aneh rasanya kalau di serial ini banyak simbol-simbol satanisme bertebaran ditiap episodenya. Jangan sampai kalian ikut-ikutan meniru simbol-simbolnya apalagi jika kalian tidak tau maknanya yang hanya untuk keren-kerenan, karena itu tidaklah keren broo !

Bagi yang ingin mendownload Supernatural season pertama, silahkan klik DISINI