Blog Archives

[Review Indo-Movie] Bumi Manusia (2019): Dari Sastra Roman Menjadi Teen Flick Era Kolonial

Teman saya dengan akun twitter bernama @aaayenk mengetweet, katanya kebanyakan fans Pram yang tidak rela dengan kehadiran film Bumi Manusia ini ada hubungannya dengan kebudayaan tak kasat mata. Novel Pram yang dianggap High Culture sekonyong-konyong jadi film kawula muda dan Pop Culture banget. Nggak salah, Cuma bergeser aja posisinya. Saya pikit, benar juga apa yang dicuitnya.

w644.jpg

 

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Pocong The Origin (2019): Satu Lagi Horor Indonesia yang Punya Style Unik

Beruntung semangat berkreativitas dalam membuat horror masih ada. Masih ada creator yang berlomba-lomba untuk memberikan sesuatu yang baru. Semenjak Pengabdi Setan, berbagai horror dengan varian barupun muncul meski Pengabdi Setan itu sendiri bukan salah satunya. Ada Mereka yang Tak Terlihat yang lebih focus ke drama, ada Kafir yang punya gaya slowburn dengan sentuhan local yang kuat, ada Sebelum Iblis Menjemput dengan horror-satanic-teror ala barat yang belum ada di Indonesia, bahkan proyek remake-an Suzzanna pun digarap serius dengan sesuatu yang baru berupa sentuhan horror klasik 80-an. Sempat khawatir bagaimana kelanjutan hegemoni ini karena selama 3 bulan pertama tahun ini, belum ada film horror yang impresif, beberapa Cuma berpotensi namun gagal eksekusi, kebanyakan ya medioker. Untungnya di bulan ini, film horror kembali menggeliat. Setelah Sunyi hadir dengan sesuatu yang cukup unik, sebuah perpaduan sukses meremake film Korea, kini Monty Tiwa turut muncul mempersembahkan sesuatu dengan serius, Pocong The Origin.

ET00006720.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Sunyi (2019): Sebuah Remake yang Sukses

Hubungan Indonesia dengan Korea Selatan tampaknya sedang masa manis dibidang perfilman. CJ Entertainment selaku investor dari perusahaan film Korea mulai sering tampil dibeberapa film Indonesia. Sejauh inipun kerjasama mereka termasuk positif menghasilkan produksi film yang kualitasnya terjaga. Selain memberi investasi pada beberapa film Indonesia, seperti A Copy of My Mind dan Pengabdi Setan, kerjasama ini juga menghasilkan beberapa proyek remake film Korea Selatan yang sejauh ini punya track record positif. Setelah sukses dengan remake Miss Granny melalui film Sweet 20, kini muncul lagi sebuah proyek remake film horror legendaris Korea berjudul Whispering Coridor yang akan menjadi Sunyi dalam judul Indonesianya. Untungnya, Sunyi berhasil memberi track record positif bagi film remake Korea Selatan. Diluar dugaan, Awi Suryadi memberi persembahan terbaiknya lewat film ini.

adaptasi-horor-korea-sunyi-berikan-kehe-62ff21

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Mantan Manten (2019): Punya Sesuatu yang Baru Untuk Ditawarkan

Film ke 3 Visinema tahun ini, Mantan Manten, jadi film Visinema yang tidak begitu hype buat saya. Setelah sukses dengan Keluarga Cemara, lalu mencoba komedi absurd melalui Terlalu Tampan, Visinema menawarkan Mantan Manten yang secara trailer tidak menawarkan sesuatu yang menarik. Sesuatu yang menurut saya salah, karena ternyata isi filmnya punya sesuatu yang sangat menarik, bahkan unik di perfilman Indonesia.

arifin-hasiholan-1300x500.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Yowis Ben 2 (2019): Film Kejar Setoran

Yowis Ben tahun kemarin termasuk memuaskan buat saya. Saat mendengar kabar sekuel, jujur saja saya tidak begitu antusias karena beberapa alasan. Pertama, Yowis Ben memang terlihat cerita kelar 1 film karena endingnya memang tampak taka da rencana sekuel. Kedua, dengan dijadikan sekuel, justru ngerasa ending film pertama jadi sangat disayangkan. Saya berpikir Yowis Ben pertama akan terasa sangat keren apabilan Bayu dan Susan dibuat bad ending dengan cerita murni soal persahabatan, endingnya akan terasa tidak mainstream tapi terlihat realistis. Melihat trailer Yowis Ben 2, dengan plot yang sudah bias dipampang, beneran saya ngerasa ending film pertama harusnya gitu biar ga menghabiskan durasi di film kedua, langsung starter poin karakter Bayu sudah mapan. Pada akhirnya saya memang pesimis dengan sekuelnya, selain karena memang terlihat diasa-adakan, tidak sesuai kebutuhan, melihat lapisan konfliknya pun tampak ambisius, jadi bagaimana hasilnya?

Film-Yowis-Ben-2.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Foxtrot Six (2019): Level Baru Film Blockbuster Indonesia

2019 berharap menjadi tahun yang menyenangkan buat perfilman Indonesia. Setelah Januari dibuka dengan sangat baik, baik secara komersil maupun kritik, Februari masih menjanjikan beberapa film yang menarik. Pilihan saya jelas jatuh pada Foxtrot Six yang sudah saya antispasi jauh-jauh hari.  Eksplorasi ragam genre di perfilman Indonesia semakin berkembang, dan salah satu yang berkembang adalah film action. Sebagai pembuka genre action di tahun ini, Foxtrot Six termasuk berhasil menjaga nada optimism film nasional di tahun ini.

edan-biaya-pembuatan-foxtrot-six-termah-2336c8.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Terlalu Tampan (2019): Pengembangan Adaptasi yang Baik, Namun Kurang Totalitas

Visinema sedang berada di masa bulan mandu pasca Angga yang mulai memberi penggung sutradara lain dan menjadi produser di film-film terbaru Visinema. Love For Sale dan Keluarga Cemara, dua film di era baru Visinema merupakan film yang mendapat pengakuan secara kritik yang sangat baik. Bagi saya pribadi 2 film itu adalah karya terbaik Visinema bahkan saya lebih suka daripada film-filmnya Angga, padahal Angga sendiri adalah sutradara idola saya dan tetap tak berubah hingga sekarang. Kini, film terbaru di era baru ini muncul, ayitu Terlalu Tampan. Film adaptasi webtoon ini juga jadi pertanda bahwa Visinema di masa depan mungkin akan berubah, atau kata lebih tepatnya memperluas, dimana sajiannya akan lebih bervariasi darpada sajian-sajian konten film Visinema selama ini. Pasalnya, Terlalu Tampan ini sangatlah berbeda dari film-film Visinema yang sebelumnya?

16a506d80b2fb7ecea8c472d059e25402ae8b0a7.jpeg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Orang Kaya Baru (2019): Escapism yang Menyenangkan

Film Indonesia di awal tahun 2019 terasa sangat menyenangkan dan menjanjikan. Sebagai evaluasi, saya menyimpulkan bahwa bulan Januari adalah masanya film-film drama-komedi keluarga unjuk gigi. Setelah akhir bulan kemarin Milly & Mamet memberi sajian komedi drama menyenangkan dan masih meraup banyak penonton di bulan Januari, film keluarga menjanjikan lain muncul melalui Keluarga Cemara yang sukses secara kritik dan komersial hingga menjadi film Indonesia 2019 pertama yang mendapatkan sejuta penonton lebih. Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan film keluarga yang menjanjikan lainnya, Orang Kaya Baru hadir dengan meyakinkan melalui nama-nama dibaliknya. Ody C Harahap yang saya kagumi, Robert Ronny dengan visi menjaga produksinya, totalitas Cut Mini, eksplorasi Raline Shah, dan tentu nama Joko Anwar yang menjual meski Cuma sebagai penulis. Hasilnya, Orang Kaya Baru menyajika sebuah sajian escapism yang menyenangkan. Satu lagi drama keluarga menjanjika di awal tahun.

099055300_1539785283-POSTER_ORANG_KAYA_BARU_THE_MOVIE.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Preman Pensiun (2019): Sinetron Masuk Bioskop, Tapi Bukan Kualitas Sinetron Masuk Bioskop

Akhir-akhir ini ada suatu istilah soal menyinyir film Indonesia. “FTV masuk bioskop” atau “sinetron masuk bioskop” kerap jadi andalan yang punya kesan negative. Maksudnya adalah soal film bioskop yang kualitasnya berasa kualitas tv yang dimana merupakan penurunan standar, apalagi melihat kualitas tayangan tv nasional saat ini, harusnya sih berasa penghinaan, ga tau deh pihak tv yang dianggap sebagai standar sampah sama film yang kena nyinyiran ini merasa dikritisi apa engga. Biasanya nyinyiran ini dikarenakan kualitas teknis (tone color grading biasanya, musik, acting) hingga premis dan kualitas ceritanya itu sendiri terasa terlalu murah untuk ukuran bioskop. Intinya nyinyiran ini adalah bentuk krtitik yang merasa tak puas karena mendapatkan tontonan yang tak berbeda secara kualitas dari yang ada di tv nasional yang saat ini sangat degradasi sekali. Lalu kemudian akhir-akhir ini muncul tren dimana sinetron lawas dibuatkan filmnya, baik itu remake, ataupun kelanjutan cerita dari sinetronnya. Namun tidak seperti para film yang dianggap kualitas sinetron, para film yang berasal dari sinetron ini akhir-akhir ini justru punya penilaian kritik yang baik, salah satunya adalah Preman Pensiun.

feature-preman-pensiun-1300x500.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] DreadOut (2019): Sulitnya Pembuktian Diri Kimo Stamboel

The Mo Brothers, beranggotakan duet Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel , nama yang akan menjadi legenda di perfilman nasional dengan film segila Rumah Dara dan Killers. Sejak 2018, mereka tampaknya mencoba menulis tinta emas dengan nama mereka masing-masing. Timo Tjahjanto sudah bersinar duluan di tahun lalu yang 2 film sebagai sutradara solonya (Sebelum Iblis Menjemput dan the Night Comes For Us) sama-sama sukses, baik secara komersil, hype, dan kritikal. Kini banyak orang, termasuk saya, penasaran bagaimana dengan Kimo? Pembuktiannya adalah tahun 2018 yang akhirnya dia punya proyek film komersil pertamanya secara solo. Bukan main-main, proyeknya sendiri menurut saya punya beban yang lebih besar dari Timo, karena dia diberi mandat untuk menggarap film adaptasi game Indonesia pertama yang popular diskala international. Bahkan film ini termasuk salah satu tonggak sejarah perfilman nasional, yaitu film Indonesia adaptasi game pertama. Seharusnya ini proyek yang menarik dan menantang.

dreadout-the-movie-fi-1280x640

Read the rest of this entry