Blog Archives

[Review Indo-Seri] SI Doel Anak Sekolahan Season 2 (1994): Mengemas Isu Penting dalam Tontonan Merakyat

Season 1 diakhiri dengan keberhasilan Doel lulus kuliiah, membuat Doel harus bersiap ke babak hidup berikutnya. Inilah tema utama SI Doel season 2, cerita akan berkutat pada fase quarter life crisis dari Si Doel. Berusaha mencari kerja, dengan beban sebagai lulusan S1, juga tekanan dari lingkungan sekitar yang skeptis akan perlunya pendidikan dalam hidup yang selalu dikaitkan dengan keberhasilan materil. Inilah spesialnya SI Doel, menyajikan masalah yang akan terasa begitu dekat dengan penontonnya.

077512300_1434960041-CGkvd7NUcAInmgc

Read the rest of this entry

[Review Indo-Seri] Si Doel Anak Sekolahan Season 1 (1994): Ketika Interaksi Karakter Jauh Lebih Menarik dari Plot Cerita

Si Doel adalah sebuah legenda iconic dipertelivisian nasional. Perolehan penonton film-film sekuel dari sinetron ini bisa menjadi bukti betapa masyarakat masih mencintai franchise ini. Saya tidak ikut hype film Si Doel, karena memang saya bukan generasi penikmat sinetron Si Doel. Tapi tentu saya penasaran apa yang membuat sinetron ini begitu legendaris, sebuah masa dimana Indonesia sedang mengalami masa keemasan di pertelevisian, dan masih menanti entah kapan untuk bangkit. Akhirnya, berkat WFH, saya punya kesempatan untuk menuntaskan rasa penasaran.

1986036811.jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Shazam! (2019): Pembuktian DC. Bisa Kelam, Bisa Cerah

Perlahan tapi pasti, DC mulai mendapatan kepercayaan penonton. Setelah bangkit dengan Aquaman, DC kembali mendapat sambutan baik melalui Shazam! Bagi saya pribadi, DCEU or WODC masih melanjutkan track positifnya dalam menggarap film solo. Setelah Man of Steel (Iya, MOS itu keren, ape lo), Wonder Woman, dan Aquaman, kini Shazam! Menjadi penegas bahwa DC memang bagus dalam menggarap film solo superhero. Namun melalui Shazam!, ini adalah proyek penting DC untuk menunjukan bahwa DC bisa bikin film superhero dengan bebas, mau itu serius dan kelam seperti citra DC selama ini, bisa juga bikin superhero yang fun, dan inilah dia, Shazam!

new-poster-for-shazam-asks-us-to-just-say-the-word-social

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Yowis Ben 2 (2019): Film Kejar Setoran

Yowis Ben tahun kemarin termasuk memuaskan buat saya. Saat mendengar kabar sekuel, jujur saja saya tidak begitu antusias karena beberapa alasan. Pertama, Yowis Ben memang terlihat cerita kelar 1 film karena endingnya memang tampak taka da rencana sekuel. Kedua, dengan dijadikan sekuel, justru ngerasa ending film pertama jadi sangat disayangkan. Saya berpikir Yowis Ben pertama akan terasa sangat keren apabilan Bayu dan Susan dibuat bad ending dengan cerita murni soal persahabatan, endingnya akan terasa tidak mainstream tapi terlihat realistis. Melihat trailer Yowis Ben 2, dengan plot yang sudah bias dipampang, beneran saya ngerasa ending film pertama harusnya gitu biar ga menghabiskan durasi di film kedua, langsung starter poin karakter Bayu sudah mapan. Pada akhirnya saya memang pesimis dengan sekuelnya, selain karena memang terlihat diasa-adakan, tidak sesuai kebutuhan, melihat lapisan konfliknya pun tampak ambisius, jadi bagaimana hasilnya?

Film-Yowis-Ben-2.jpg

Read the rest of this entry

[Review Webtoon] Terlalu Tampan: Pede Dengan Komedi Absurdnya

Film Terlalu Tampan sudah dirilis pada akhir Januari 2019. Sebenarnya seblum menonton film itu, saya sudah membaca webtoonya terlebih dahulu, dan memang saya membacanya karena dipicu berita rilis filmya. Dan akhirnya, saya tahu kenapa webtoon ini melegenda.

line-webtoon_20170718_155523.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Terlalu Tampan (2019): Pengembangan Adaptasi yang Baik, Namun Kurang Totalitas

Visinema sedang berada di masa bulan mandu pasca Angga yang mulai memberi penggung sutradara lain dan menjadi produser di film-film terbaru Visinema. Love For Sale dan Keluarga Cemara, dua film di era baru Visinema merupakan film yang mendapat pengakuan secara kritik yang sangat baik. Bagi saya pribadi 2 film itu adalah karya terbaik Visinema bahkan saya lebih suka daripada film-filmnya Angga, padahal Angga sendiri adalah sutradara idola saya dan tetap tak berubah hingga sekarang. Kini, film terbaru di era baru ini muncul, ayitu Terlalu Tampan. Film adaptasi webtoon ini juga jadi pertanda bahwa Visinema di masa depan mungkin akan berubah, atau kata lebih tepatnya memperluas, dimana sajiannya akan lebih bervariasi darpada sajian-sajian konten film Visinema selama ini. Pasalnya, Terlalu Tampan ini sangatlah berbeda dari film-film Visinema yang sebelumnya?

16a506d80b2fb7ecea8c472d059e25402ae8b0a7.jpeg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Orang Kaya Baru (2019): Escapism yang Menyenangkan

Film Indonesia di awal tahun 2019 terasa sangat menyenangkan dan menjanjikan. Sebagai evaluasi, saya menyimpulkan bahwa bulan Januari adalah masanya film-film drama-komedi keluarga unjuk gigi. Setelah akhir bulan kemarin Milly & Mamet memberi sajian komedi drama menyenangkan dan masih meraup banyak penonton di bulan Januari, film keluarga menjanjikan lain muncul melalui Keluarga Cemara yang sukses secara kritik dan komersial hingga menjadi film Indonesia 2019 pertama yang mendapatkan sejuta penonton lebih. Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan film keluarga yang menjanjikan lainnya, Orang Kaya Baru hadir dengan meyakinkan melalui nama-nama dibaliknya. Ody C Harahap yang saya kagumi, Robert Ronny dengan visi menjaga produksinya, totalitas Cut Mini, eksplorasi Raline Shah, dan tentu nama Joko Anwar yang menjual meski Cuma sebagai penulis. Hasilnya, Orang Kaya Baru menyajika sebuah sajian escapism yang menyenangkan. Satu lagi drama keluarga menjanjika di awal tahun.

099055300_1539785283-POSTER_ORANG_KAYA_BARU_THE_MOVIE.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Preman Pensiun (2019): Sinetron Masuk Bioskop, Tapi Bukan Kualitas Sinetron Masuk Bioskop

Akhir-akhir ini ada suatu istilah soal menyinyir film Indonesia. “FTV masuk bioskop” atau “sinetron masuk bioskop” kerap jadi andalan yang punya kesan negative. Maksudnya adalah soal film bioskop yang kualitasnya berasa kualitas tv yang dimana merupakan penurunan standar, apalagi melihat kualitas tayangan tv nasional saat ini, harusnya sih berasa penghinaan, ga tau deh pihak tv yang dianggap sebagai standar sampah sama film yang kena nyinyiran ini merasa dikritisi apa engga. Biasanya nyinyiran ini dikarenakan kualitas teknis (tone color grading biasanya, musik, acting) hingga premis dan kualitas ceritanya itu sendiri terasa terlalu murah untuk ukuran bioskop. Intinya nyinyiran ini adalah bentuk krtitik yang merasa tak puas karena mendapatkan tontonan yang tak berbeda secara kualitas dari yang ada di tv nasional yang saat ini sangat degradasi sekali. Lalu kemudian akhir-akhir ini muncul tren dimana sinetron lawas dibuatkan filmnya, baik itu remake, ataupun kelanjutan cerita dari sinetronnya. Namun tidak seperti para film yang dianggap kualitas sinetron, para film yang berasal dari sinetron ini akhir-akhir ini justru punya penilaian kritik yang baik, salah satunya adalah Preman Pensiun.

feature-preman-pensiun-1300x500.jpg

Read the rest of this entry

[Review J-Movie] My Neighbors the Yamadas (1999): Karya Unik Lain Isao Takahata, Kreatifnya Mengadaptasi Komik Strip

Isao Takahata kembali menyajikan film ke 4 nya untuk Ghibli. Dan sekali lagi, Isao Takahata menyajikan sesuatu yang berbeda. Hayao Miyazaki saya akui memang kreatif dengan imajinasi dunia fantasinya yang bermacam-macam. Tapi Isao Takahata lebih bervariasi dan punya kreativitas di hal yang lain, khususnya soal artwork.  Bicara soal artwork, Hayao Miyazaki punya satu gaya yang paten, khas. Tapi Isao Takahata berbeda, 4 film yang saya nikmati ke 4 nya punya artwork yang berbeda-beda. Masuk akal karena Isao Takahata memang berbeda dari sutradara anime lainnya yang tidak ikut campur dalam hal menggambar, hal ini membuatnya lebih leluasa dalam emcoba sesuatu yang baru. Termasuk filmnya kali ini punya artwork yang sangat mencolok perbedaannya, signifikan. Bukan Cuma artwork, film ini juga punya formula yang sangat unik dimana Ghibli atau mungkin film animasi yang pernah ada belum pernah melakukan hal seperti ini.

series_1484.jpg

Read the rest of this entry

[Review J-Movie] Pom Poko (1994): Sebuah Fabel Fantastis Dari Isao Takahata

Film Ghibli ke 8 sekaligus film ke 3 nya yang disutradarai Isao Takahata setelah Grave of the Fireflies dan Olny Yesterday, yang keduanya sangat saya sukai. Tapi ada yang mengejutkan di film ke 3 nya kali ini. Setelah 2 film sebelumnya selalu mengambil dunia manusia yang realistis dengan sentuhan Slice of Life yang cukup mellow, di film ke 3 nya ini Isao Takahata mencoba hal yang baru lagi dimana Pom Poko, film ke 3 nya justru mengambil genre fantasi dengan sentuhan yang sangat fun. Dan setelah menonton film ini, saya merasa nama Isao Takahata harusnya sama sejajarnya dengan Hayao Miyazaki, karena secara personal, saya lebih suka dengan gaya berceritanya Isao Takahata daripada Hayao Miyazaki yang memang keduanya punya gaya yang bertolakbelakang.

Pom-Poko.jpg

Read the rest of this entry