Monthly Archives: July 2018

[Review US-Movie] The Incredibles (2004): Film Pixar yang Gamblang

Saya teringat salah satu guru di SMA pernah bertanya “apa bedanya kartun Amerika sama kartun Jepang?”. Saya tidak bisa menjawab saat itu dan memang baru kepikiran “iya ya, apa bedanya”. Bukan, kita bukan membicarakan soal teknis grafis, gaya storytelling, atau semacamnya yang membahas teknis, guru saya dijamin awam soal itu. Satu kelas tidak ada yang bisa menjawab, kemudian beliau menjawabnya sendiri “kalau kartun Jepang bentuknya masih manusia, masih ada peran dan fungsi sosial di dalamnya, sementara kartun Amerika ya bebas-sebebasnya mau ngambil bentuk kucing hingga bentuk  se aneh sponge (spongebob sekalipun)”. Kata-katanya jelas tidak sama persis, tapi yang saya ingat substansinya seperti itu. Pernyataan beliau memang menggeneralisir tapi konteksnya wajar sih, kalau dipikir-pikir memang ada benarnya. Lalu apa hubungannya dengan film The Incredibles? Setelah Pixar membuat film dengan karakter berbentuk mainan, semut, monster, dan ikan yang dimana dengan hal itu membuatnya bisa bebas berimajinasi, di film berikutnya Pixar mengambil bentuk manusia dengan latar dunia penuh Superhero. Bagaimana imajinasi Pixar bermain dalam bentuk ini? Pertanyaan seperti ini tiba-tiba terlintas dikepala saya.

open-uri20160812-3094-1yvq19j_45e9153a.jpeg

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Finding Dory (2016): Kenapa Harus Pengulangan?

Finding Nemo sama seperti kebanyakan film Pixar yang punya film selanjutnya.Film keren yang punya ending memuaskan yang sebetulnya tidak membutuhkan film sekuel, prekuel, atau apapun itu. 13 tahun berselang semenjak Finding Nemo, Pixar memutuskan untuk membuat film berjudul Finding Dory. Awalnya saya cukup khawatir, kenapa judulnya memakai kata “Finding” lagi? Kekhawatiran selanjutnyaada pada karakter Dory. Bagi saya Dory bukanlah suatu karakter yang menarik sebagai tokoh utama. Film dengan karakter Sidekick di film sebelumnya yang ditakutkan akan mengulangi bagaimana Cars 2, bahkan Mike di Monster University yang sebenarnya punya sisi menarikpun ternyata eksekusinya tidak memuaskan, bagaimana dengan Dory?

Finding-Dory.jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Finding Nemo (2003): Orang Tua dan Anak Sama-Sama Belajar

Dulu saat menonton Nemo, banyak sekali yang saya ingat dari film animasi ini. Bagaimana petualangan si Marlin dengan Dory dan bagaimana petualangan Nemo di akuarium memberi bekas cukup dalam bagi saya. Film ini bagi saya di masa kecil dulu begitu magis. Tentu saya tidak begitu menangkap pesan secara keseluruhan, yang saya ingat setelah menonton film ini adalah ketidakinginan menyiksa binatang, nurut orang tua karena Nemo punya nasib buruk setelah tidak nurut bapaknya, dan banyak sekali adegan dan visual yang menyenangkan. Dan setelah nonton berapa kalipun, magis-magis itu tetap terasa menyenangkan untuk dinikmati. Dan kali ini saya menonton kembali untuk kesekian kalinya dalam rangka marathon film-film Pixar.

tumblr_nozfvuf3N21rvhqlvo1_1280-L.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Sabrina (2018): Formula Mulai Usang

Beneran nanya, masih ada yang menganggap film horror Indonesia masih mengandalkan paha-dada wanita? Sudahlah kubur baik-baik masa kelam itu. Banyak loh statement itu dipake di beberapa kolom komentar soal film. Ayolah, jangan jadikan statement itu patokan untuk film-film horror sekarang. Setelah kemunculan Pengabdi Setan, saya memang memprediksi akan adanya lagi gelombang besar untuk genre horror Indonesia. 2017 Sendiri ada banyak film horror dan memunculkan banyak judul dengan penononton bombastis. Dan benar saja, 2017 belumlah puncak, 2018 lebih gila lagi karena ada banyak sekali judul horror yang rilis tiap bulannya. Masalahnya, apakah kuantitas yang gila ini sudah dibarengi dengan kualitas? Masih kah tolak ukur film horror Indonesia berupa kalimat “yang penting bukan film horror esek-esek lagi”. Bukankah sudah seharusnya kita menaikan standar?

Screen-Shot-2018-05-11-at-11.08.12-640x313.png

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Buffalo Boys (2018): Kekuatan Artistik dan Visual

Saat pertama kali teasernya muncul, saya yakin para pecinta film Indonesia punya penantian akan film yang satu ini, termasuk saya. Film aksi di Indonesia tentu bisa dihitung dengan jari, bahkan untuk satu setiap tahun pun belum tentu ada. Dari genre aksinya saja sudah unik karena jarang, teaser film ini juga mempunyai segala keunikan yang membuatnya pantas distunggu. Mulai dari setting penjajahan yang sudah lama sekali rasanya tidak melihat film aksi latar penjajahan sejak terakhir era 80-an. Belum lagi tema western dengan koboi-koboian, serta tata artistiknya yang terlihat megah konsister terlihat di teaser hingga trailer. Jajaran cast mulai dari Ario Bayu, si Power Ranger biru, Yoshi Sudarso, hingga Pevita Pearce sendiri bagi saya sudah menjual, hati saya sudah tertarik.Jadi, bagi saya Buffalo Boys adalah film Indonesia yang wajib saya lihat terlepas dengan bagaimana hasil akhirnya.

poster buffalo boys.jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Monsters University (2013): Kehilangan Sisi Unik

Monster, Inc adalah salah satu karya terbaik dari Pixar. Tapi ketimbang dibuat sekuel, Pixar lebih tertarik unutk membuat prekuel. Jadi otomatis kita akan menyaksikan bagaimana Mike dan Sulley berteman, itu inti ceritanya. Masalahnya banyak yang menganggap prekuel ini tidak perlu terjadi. Dan sekan sejujurnya saya pun seperti itu. Saya malah lebih tertarik menanti Boo saat dewasa, tapi kalau jadinya seperti itu, tone nya tidak akan sama lagi jadi saya rasa sekuel tidak akan pernah terjadi. Soal prekuel, saya yakin gambaran ceritanya sudah paham bagaiamana, lalu bagaimana eksekusinya?

Monsters-University-2013-Wallpaper-HD-for-Desktop.jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Monsters, Inc (2001): Paradox Dunia Alternatif

Setelah marathon menonton film-filmnya Pixar, ternyata saya baru menyadari bahwa untuk membuat film yang menyamai kualitas Toy Story membutuhkan 6 tahun dan  film ke 4, dan film itu adalah Monster, Inc. Monster, Inc akan mengingatkan kita kenapa Pixar bisa membuat film seperti Toy Story. Ide yang revolusioner, imajinatif, world building, dan emosi yang ada di dalamnya.

open-uri20160811-32147-y3g0mx_45082ccb.jpeg

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] A Bug’s Life (1998): Klise dan Tidak Dalam, Untung World Buildingnya Menghibur

Film kedua Pixar setelah kegemilangan Toy Story. Setelah membuat cerita mengenai para mainan dengan kehidupannya, Pixar membuat karya keduanya mengenai para serangga dengan kehidupannya. Seingat saya saat pertama kali menontonnya, saya terhibur menonton film ini. Lalu dalam rangka marathon nonton ulang film-film Pixar, kesan apa yang saya dapatkan? Saya seringkali tertukar mengingat film ini dengan film Antz yang merupakan karya Dreamworks. Tapi karena hal itu membuat saya bertanya-tanya apa A Bugs Life tidak semengesankan itu?

00231e.jpg

 

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Toy Story 3 (2010): Kembalinya Kemagisan World Building

Setelah 11 tahun, Toy Story kembali dengan film ketiganya. 2000an menjadi masa-masa bulan madu bagi Pixar dengan segudang film-film luar biasanya yang original.Toy Story masih menjadi satu-satunya  film yang dibuatkan sekuelnya dan sejauh ini Pixar masih mempunyai kepercayaan dari banyak penonton sebagai studio animasi yang belum pernah membuat film jelek. Setelah rentetan film-film original yang luar biasa, pada 2010 Pixar merilis sekuel lagi dan masih dari film yang masih dipercaya untuk mempunyai sekuel, Toy Story 3. Kepercayaan penonton masih dipertahankan dengan berhasilnya film ini memberi kesan yang begitu mendalam, baik sebagai tontonan anak maupun sebagai tontonan nostalgia yang sangat special. Sebelum akhirnya Pixar selanjutnya membuat berbagai sekuel yang tak sesuai harapan dan kerap dilabeli sebagai sekuel yang tak perlu ada, pencetak uang semata, hingga Cuma mengandalkan nostalgia, beruntung Toy Story 3 terlindungi dari semua itu dan membuatnya sebagai penutup yang sempurna. Ah.. entah apa yang akan terjadi di Toy Story 4 nanti.

26b14422-8510-4b8c-b47b-1e0d227d2bd4.jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Toy Story 2 (1999): Potensi Permasalahan Sekuel Pixar

Sebelum Pixar mendapat kesan pembuatan sekuel yang tidak perlu dengan segala review yang tidak begitu memuaskan, Pixar pernah membuat sekuel bagus berupa Toy Story 2. Yup, 4 tahun berselang semenjak film pertamanya, Toy Story menghadirkan sekuel yang tidak berkesan penghasil uang semata karena memang punya cerita yang pantas dijadikan sebagai sebuah sekuel. Tidak seperti banyak sekuel Pixar pada umumnya, dimana pada sekuel tersebut memang tidak ada alasan lagi untuk dibuat filmnya alias tidak beralasan, Toy Story 2 berhasil meyakinkan saya bahwasannya  ada hal penting yang belum diceritakan di dunia para mainan ini.

open-uri20160811-32147-17ruxkq_b5f6e56b.jpeg

Read the rest of this entry