Blog Archives

[Review Indo-Movie] Bumi Manusia (2019): Dari Sastra Roman Menjadi Teen Flick Era Kolonial

Teman saya dengan akun twitter bernama @aaayenk mengetweet, katanya kebanyakan fans Pram yang tidak rela dengan kehadiran film Bumi Manusia ini ada hubungannya dengan kebudayaan tak kasat mata. Novel Pram yang dianggap High Culture sekonyong-konyong jadi film kawula muda dan Pop Culture banget. Nggak salah, Cuma bergeser aja posisinya. Saya pikit, benar juga apa yang dicuitnya.

w644.jpg

 

Read the rest of this entry

Advertisements

[Review Anime] 3D Kanojo Girl Season 2 (2019): Tidak Lagi Befokus Pada Igarashi Iroha-Tsutsui Hikari

Mendengar 3D Kanojo Girl berlanjut ke season 2 termasuk mengejutkan buat saya. Saya tidak punya  ekspektasi untuk melihat lanjutan kisah Iroha dan Hikari dimana bagi saya cerita season pertama sudah ok. Meskipun memang masih ada pertanyaan yang belum terjawab, melihat trend anime romance seperti ini memang tidak sering berlanjut, jadi saya benar-benar tidak begitu berekspektasi mendapat lanjutan. Jadi, apa yang saya dapat di season 2 ini?

LjbWYZ5.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Terlalu Tampan (2019): Pengembangan Adaptasi yang Baik, Namun Kurang Totalitas

Visinema sedang berada di masa bulan mandu pasca Angga yang mulai memberi penggung sutradara lain dan menjadi produser di film-film terbaru Visinema. Love For Sale dan Keluarga Cemara, dua film di era baru Visinema merupakan film yang mendapat pengakuan secara kritik yang sangat baik. Bagi saya pribadi 2 film itu adalah karya terbaik Visinema bahkan saya lebih suka daripada film-filmnya Angga, padahal Angga sendiri adalah sutradara idola saya dan tetap tak berubah hingga sekarang. Kini, film terbaru di era baru ini muncul, ayitu Terlalu Tampan. Film adaptasi webtoon ini juga jadi pertanda bahwa Visinema di masa depan mungkin akan berubah, atau kata lebih tepatnya memperluas, dimana sajiannya akan lebih bervariasi darpada sajian-sajian konten film Visinema selama ini. Pasalnya, Terlalu Tampan ini sangatlah berbeda dari film-film Visinema yang sebelumnya?

16a506d80b2fb7ecea8c472d059e25402ae8b0a7.jpeg

Read the rest of this entry

[Review J-Movie] Whisper of the Heart (1995): Coming of Age Rom-Com yang Sangat Cute, Persembahan Satu-satunya Yoshifumi Kondo

Akhirnya ada film Ghibli yang disutradarai selain Hayao Miyazaki dan Isao Takahata, dia adalah Yoshifumi Kondo. Kondo rencananya diproyeksikan untuk menjadi penerus Miyazaki yang sebelumnya berencana pensiun. Sayangnya padatahun 1998 Kondo meninggal dunia yang membuatnya hanya meninggalkan 1 film feature berjudul Whisper From the Heart. Sumbangsih satu-satunya film panjang Kondo untuk Ghibli berhasil meneruskan rapor baik film-film Ghibli yang sekaligus memeberi variasi dari filmografi Ghibli. Hasilnya, Whisper From the Heart adalah kisa percintaan dan pencarian jati diri remaja yang sekilas tampak umu namun sebenarnya unik dan memesona.

1_LAIkQudRc7O1kUnlp1oOEw.png

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Yowis Ben (2018): Akhirnya Indonesia Punya Film Musik Keren Lagi

Setelah film Garasi, saya terus saja gagal dipuaskan saat menonton film yang berbau musik. Untuk Musikal mungkin pengecualian, tetapi kadang saya suka jengkel dengan perkembangan genre film musik di Indonesia, sudah filmnya jarang, sekalinya ada tidak sesuai ekspektasi. Disaat film biography musisi mulai dari diva, band, hingga boyband terlalu fokus mencitrakan pribadi atau grupnya dan kerap melupakan pencitraan dari sisi kemampuan musikalitas tokohnya, film musik lain ternyata cuma bermodalkan formula yang sama tanpa punya kematangan cerita, kreativitas mengemas klise, dan mengharmoniskan sisi musikalitasnya. Kemudian muncul lah Yowis Ben yang di ciptakan youtuber kondang asal Jawa Timur membawa ide yang klise namun fresh. Tai kucing dengan isu penggunaan Bahasa, film ini terlalu berkelas untuk ditutupi dengan isu suku, khususnya Bahasa, sampai-sampai lupa ini adalah film musik yang sudah dinanti-nantikan, setidaknya buat saya.

yowis-ben2-1024x575.jpg

Read the rest of this entry

[Review Anime] Tsuki Ga Kirei (2017): The Awkwardness Is Killing Me

2017 sepertinya ada banyak anime romance yang keren. Total sudah ada 4 review untuk anime romance tahun 2017, termasuk yang ini. Segitu sudah termasuk banyak bagi saya, dan mengejutkannya semua itu adalah anime romance yang termasuk sesuai dengan standar saya, cerita romance yang sederhana dengan artwork yang manis dan tidak berlebihan. Kini muncul satu lagi, dan anime ini bertema cinta pertama dengan karakter anak 3 SMP, ya kita bakal ngeliatin anak SMP pacaran, jangan bilang kalian tidak pernah merasa punya bara asmara saat SMP, karena saya yakin cerita mereka akan sangat relate dengan banyak anak remaja SMP, penuh kecanggungan.

get.jpg

Read the rest of this entry

[Review Anime] Itsudatte Bokura no Koi wa 10cm Datta (2017): Seri Romance Singkat dengan Cerita Simple dan Klimaks

Bagi yang ingin punya tontonan series tapi tidak ingin tersiksa dengan jumlah episode yang banyak, mungkin kalian bisa mencoba anime romance school satu ini. Cuma berjumlah 6 episode, yang awalnya cuma sekedar mencari tontonan menemani makan saya, ternyata berujung mendapatkan tontonan yang sangat menarik. Ceritanya cukup simple, tapi yang membuat saya bersyukur terdampar menonton ini adalah karena untuk pertama kalinya saya mendapatkan anime dengan tokoh utama background karakter filmaker. Tapi dengan berlatar SMA juga, maka tentu ekspektasi saya tidak begitu tinggi karena pasti yang akan disajikan hal-hal simple sesuai permasalahan remaja, dan yah akhirnya saya puas. Tambahan bonusnya, anime ini termasuk anime romance yang bagus.

Itsudatte-Bokura-no-Koi-wa-10-cm-Datta-06-Batch.jpg

Read the rest of this entry

14 Film Romance Terbaik Indonesia, Mulai Dari Klise Hingga yang Unik

Bulan February, tandanya ? Yee… Valentine!!! Ok, saya aslinya tidak peduli soal valentine, satu hal yang bikin saya semangat soal ini adalah, momentum bikin list soal film romance. Perlu diketahui, saya termasuk orang yang sulit dipuaskan dengan film bergenre romance, tentu saja karena  tema klise luar biasa ini intinya memang klise, tentang bersatunya pasangan kekasih. Jadi untuk bisa membuat saya tercengang, diperlukan sebuah film yang menawarkan sesuatu yang spesial.

Saya perlu ingatkan, dalam blog ini, jika ada dalam segmen list atau Special Feature kata-kata bernada “Daftar Film Terbaik” sekali lagi saya ulangi, “Terbaik” maka sudah pasti itu Clickbaik (clickbait yang tidak menjual tepatnya). Tentu saja dalam postingan blog, kata “Terbaik” bersifat subjektif. Tapi subjektifitas saya bisa dilihat melalui argumennya, bisa diandalkan atau tidak. Sejujurnya saya tidak berani melabeli kata Terbaik, karena bisa jadi tontonan saya tidak selengkap itu dan masih ada film luar biasa lain yang belum saya tonton, jadi saya terbuka untuk di koreksi.

couple-in-love-are-moving-away-from-the-camera-they-hold-hands-walk-on-a-quay-blurred-city-skyline-backview-slow-mo_beabboo-x_thumbnail-full01.png

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Dilan 1990 (2018): Bagus, Tapi Inkonsisten, Ga Tau Kalau Sequelnya, Tunggu Aja

Saya adalah satu dari sekian banyak yang pesimis dengan Iqbal yang akan memerankan Dilan. Ya, btw saya memang membaca novelnya, jadi bisa dibilang review kali ini akan berada pada sudut pandang mengenai bagaimana adaptasi ini dari sisi pembaca buku. Kembali bicara soal Iqbal, saya merasa Iqbal bukanlah actor yang jelek, buktinya lihat saja film-filmnya, diantaranya 5 Elang & Ada Cinta di SMA, filmnya tidak jelek, dan kemampuan acting Iqbal juga ok kok. Cuma ya memang, gara-garat trailer yang jelek luar biasa membuat ketidakpercayaan terhadap Iqbal makin tinggi, akhirnya, rendahlah ekspektasi saya, untungnya karena saya kadung sangat suka dengan novelnya, jadi keputusan menontonnya sudah bulat, entahlah kalau tidak, mungkin saya mengurungkan niat nonton gara-gara editing cut trailer yang begitu tidak menarik. Jadi bagiamana Iqbal memerankan Dilan ? Bagaimana film Dilan 1990 itu sendiri ?

00188083.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo Movie] Posesif (2017) : Variasi Genre Teen Romance Indonesia Yang Berharga

Pada tahun 2017, tampaknya yang tergambar dari dunia perfilman Indonesia adalah peningkatan untuk genre Horor baik kuantitas maupun kualitas. Tapi, bagaimana dengan genre lainnya? Mungkin karena begitu intensnya film Horor menghujani bioskop Indonesia, kita sampai tak sadar perekembangan genre lain. Dan kemarin, setelah saya menonton film Posesif, saya menyadari satu hal bahwa di tahun ini juga terjadi peningkatan secara kualitas di genre Teen Romance Indonesia, meskipun secara kuantitas secara mengejutkan saya baru sadar cerita cinta anak SMA ternyata tidaklah begitu banyak di tahun ini. Saya memang sulit jatuh cinta dengan film romance ataupun Teen Romance. Mungkin karena saya merasa sebelumnya cerita Teen Romance terlalu disepelekan para filmmaker dengan segala ke-klise-annya, giliran mau menambah variasi dan kedalaman konflik justru membuat cerita tidak membumi dan tidak relatable lagi dengan kehidupan SMA, entah itu membuat dialog kelewat puitis demi quote, kesan menggurui, hingga konflik dan karakter yang tampak begitu dewasa sebelum waktunya. Dan formula yang berulang-ulang membuat pennton keburu menyepelekan genre ini.

Secara kuntitas, saya agak terkejut setelah melihat ulang di tahun 2015 ternyata hampir tidak ada film Teen Romance, jikapun ada secara kualitas tidak mengesankan. Di 2016 pun hanya 1 yang secara kualitas mampu mengesankan, itupun saya nontonnya telat karena keburu underestimate, yaitu Ada Cinta di SMA yang dipadu musikal. Di tahun ini, saya mencoba kembali memberi kesempatan pada genre ini dan hasilnya memuaskan. Sempat underestimate Dear Nathan, dan ternyata bagus, saya sangat bersyukur berkesempatan menikmati Galih dan Ratna di bioskop. Dan kini, Posesif sudah masuk radar saya sejak tahu trailernya dan tambah diyakinkan dengan performanya di Piala Citra. Jadi seperti apa sih Posesif ? Biar makin menarik perhatian pembaca saja, saya merasa film ini masuk ke film Teen Romance terbaik Indonesia versi saya.

download

Read the rest of this entry