Blog Archives

[Review Indo-Movie] Orang Kaya Baru (2019): Escapism yang Menyenangkan

Film Indonesia di awal tahun 2019 terasa sangat menyenangkan dan menjanjikan. Sebagai evaluasi, saya menyimpulkan bahwa bulan Januari adalah masanya film-film drama-komedi keluarga unjuk gigi. Setelah akhir bulan kemarin Milly & Mamet memberi sajian komedi drama menyenangkan dan masih meraup banyak penonton di bulan Januari, film keluarga menjanjikan lain muncul melalui Keluarga Cemara yang sukses secara kritik dan komersial hingga menjadi film Indonesia 2019 pertama yang mendapatkan sejuta penonton lebih. Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan film keluarga yang menjanjikan lainnya, Orang Kaya Baru hadir dengan meyakinkan melalui nama-nama dibaliknya. Ody C Harahap yang saya kagumi, Robert Ronny dengan visi menjaga produksinya, totalitas Cut Mini, eksplorasi Raline Shah, dan tentu nama Joko Anwar yang menjual meski Cuma sebagai penulis. Hasilnya, Orang Kaya Baru menyajika sebuah sajian escapism yang menyenangkan. Satu lagi drama keluarga menjanjika di awal tahun.

099055300_1539785283-POSTER_ORANG_KAYA_BARU_THE_MOVIE.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Keluarga Cemara (2019): Visinema Did It Again, Persembahan Visinema Untuk Para Ayah

Visinema memasuki era baru semenjak tahun lalu, dimana film-film Visinema yang selama ini disutradarai oleh Angga mulai merekrut banyak sutradara baru untuk diberikan kesempatan berkarya. Setelah tahun lalu bisa membuktikan diri melalui Love For Sale yang disutradarai Andibachtiar Yusuf, film itu langsung melesat jadi film Visinema yang paling saya suka, dan 2019 nanti akan semakin banyak sutradara batu untuk memperkuat era baru Visinema. Bukan main, 2019 Visinema akan merilis 5 film baru (atau lebih?) dengan hanya 1 diantaranya disutradarai Angga sendiri. Untuk pembuka tahun ini, era baru Visinema akan dibuka oleh film Keluarga Cemara, judul salah satu sinetron legenda Indonesia yang juga berkualitas, disutradarai oleh Yandy Laurens. Kalau tidak salah ini film dan komersil pertamanya, sebelumnya saya juga sangat menyukai karyanya di, webseries Sore Istri Dari Masa Depan. Satu nama menjanjikan digaet Visinema. Lalu bagaimana Keluarga Cemara?

1-intip-teaser-perdana-film-keluarga-cemara-700x700.jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Coco (2017): Tetap Masterpiece Meski Bukan Konsep Original

Coco merupakan film ke-5 Pixar yang mengambil bentuk manusia, sebelumnya sudah ada The Incredibles, Ratatouille, Up, dan Brave. Tapi untuk menjadi tontonan yang menarik, konsep manusia yang terdengar biasa itu membuat creator harus kreatif mencari sisi unik, itu lah yang membuat Pixar besar, keunikan. Jika The Incredibles cukup unik dengan dunia superheronya, Up dengan konsep kakek dan bocah bertualang dengan rumah berbalon terbang, 3 filmnya sisanya mengandalkan kultur untuk menjadi pembeda penghasil sisi unik. Sayangnya Brave tidak begitu berhasil bagi saya karena tidak meras ada yang unik khususnya dalam menonjolkan budaya Skotlandianya, sementara Ratatouille sangat sukses menggambarkan budaya Prancis, khususnya Paris melalui makanan. Coco mengambil latar budaya Meksiko untuk kemudian memaksimalakan slah satu ritual budaya menjadi akar konsep cerita, yaitu soal perayaan mengingat mereka yang sudah meninggal.

coco-alt

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] The Good Dinosaur (2015): Pertama Kalinya Tidak Terbius Keajaiban World Building Pixar

World Building Pixar itu unik. Bagi saya keunikannya Pixar adalah bisa menyeimbangkan aplikasi sifat kemanusiaan yang tidak berlebihan sehingga membuat objek originalnya tetap terasa tidak melampaui kodratnya sehingga mudah membuat penontonnya percaya akan universe yang ada. Misalnya, dalam Toy Story, para mainan tidak memiliki peran sosial melainkan hanya sebagai mainan yang ingin dimainkan sesuai kodratnya, di Monster, Inc tugas monster sesuai kodratnya untuk menakuti, di Cars para mobil meski punya peran sosial tapi fungsi mereka sesuai kegunaan jenis mobil yang bersangkutan mulai dari membalap, menderek, hingga berpatroli, kemudian di Finding Nemo para ikan sesuai tugasnya dimana Ubur-Ubur tetap menyengat, Penyu tetap bermigrasi, Hiu tetap rantai makanan atas yang terpicu karena darah, tidak seperti film animasi ikan buatan Dreamworks dimana dalam dunia laut itu ada mafia, ada bandar judi, ada bengkel layaknya dunia manusia. Bagi saya hal itulah yang membedakan Pixar dengan animasi lain, khususnya Dreamworks. Beberapa film Pixar yang membuat objeknya terlalu melampaui sifat kemanusiaannya tak pernah berhasil mendapatkan pengakuan masterpiece seperti misalnya A Bugs Life yang para semutnya kurang semut, atau Cars 2 yang para mobilnya terlalu liar menjadi manusia, lalu kemudian The Good Dinosaur mau berkonsep seperti ini? Ya beginilah hasilnya.

r_thegooddinosaur_header_bcfd18b3

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Inside Out (2015): Implementasi Ilmu Psikologi yang Sangat Menyenangkan

Bagi saya, Pixar benar-benar dikatakan bangkit melalui film ini. Setelah di kururn waktu 2001-2010 semua filmnya terasa dibuat dengan hati dan hasilnya memang menjadi film yang punya hati, menyentuh, dan emosiona. Bisa dibilang selama decade itu semua film yang dibuat masuk kategori masterpiece, bahkan Cars yang paling lemah pun masih sanggup membuat saya tersentuh.Kemudian bencana mulai datang semenjak 2011, 3 film sejak itu, Cars 2, Brave, dan Monster University serasa sangat biasa dan tak sesuai standar Pixar yang sebelumnya dianggap selalu mengeluarkan karya masterpiece. Setelah 3 film biasanya itu, pamor Pixar rasanya mulai turun dan diragukan, apakah eranya sudah berakhir? Hingga kemudian munculah Inside Out yang akan membuat saya ingat kenapa Pixar adalah studio animasi yang special. Akhirnya, Pixar kembali. (meskipun selanjutnya muncul karya meh lagi lewat The Good Dinosaur dan Finding Dory, tapi kemudian mereka membuat Coco dan Incredibles 2 yang wah lagi).

Featured-Image-Inside-Out

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Brave (2012): Tidak Segar, Film Pixar ala Film Princes Disney

Setelah kegemilangan satu decade 2000an, awal 2010-an bagi saya jadi penurunan bagi Pixar. Pada 2011, Cars 2 di kritik habis-habisan merusak setitik nilai dari track record luar biasa Pixar. Pada tahun berikutnya Pixar mencoba bangkit melalui Brave. Sayangnya ini bukan jenis kebangkitan yang saya harapkan. Untuk pertama kalinya saya benar-benar tidak tertarik dengan ide konsep film Pixar. Untuk film yang sangat biasa saja (bukan jelek) seperti Cars 2 dan A Bugs Life pun saya masih terpukau dengan konsepnya, bahkan se absurd Ratatouille pun saya masih berminat, sayangnya Brave tampil dengan konsep yang tidak original. Brave akan berkonsep ala cerita dongen putri-putri Disney yang klasik dan entah saya kecewa dengan konsep ini. Walaupun memang Pixar bagian dari Disney, tapi ini Pixar, studio yang berbeda dari yang lainnya dan terkenal dengan selalu punya ide yang unik dan gila. Pixar tampaknya ingin mencoba hal yang baru dengan menggunakan sesuatu yang klasik, euhh, kalimat yang aneh bukan? Lalu bagaimana percobaan Pixar yang baru… eh.. klasik .. eh.. apa deh terserah.

brave-title-header.jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Wall-E (2008): Berani Keluar dari Zona Nyaman

Saya tidak pernah meragukan bahwa selama tahun 2000-an, semua film-film Pixar dibuat dengan hati. Di setiap film-filmnya, Pixar selalu memperkenalkan keajaiban dunianya yang membuat saya berpikir bahwa mereka selalu punya magic baru yang akan diperkenelakan pada kita. Pixar selalu membuat terobosan, dan selalu terlihat keluar dari zona nyaman dengan ide-ide ceritanya, mulai dari penggunaan 3d, ide absurd mainan jadi hidup, hingga tikus yang erat dengan kotor menjadi koki makanan yang erat kaitannya dengan kebersihan. Meski beberapa kali Pixar membuat film dengan banyak terobosan, tidak ada yang lebih berkesan sangat berani untuk keluar dari zona nyaman dari pada karya Pixar satu ini, Wall-E. Apa saja bentuk keluar dari zona nyaman itu?

Wall_Ebanner.jpg

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Cars (2006): Konsep Menarik dengan Plot Klise

Sudah berkali-kali saya bilang betapa luar biasanya keajaiban Pixar yang biasanya melalui World Building. Mainan di hidupkan, dunia serangga, dunia paradox para monster, dunia laut beserta ikan dan kawan-kawannya, dan kini mobil hidup. Banyak review yang merasa bahwa Cars adalah salah satu karya Pixar yang paling lemah, padahal ingatan saya dulu merasa Cars sebagai tontonan yang mengasyikan. Tapi meskipun jika memang film Cars ini dianggap lemah, saya merasa magic Pixar di film ini sebagai salah satu yang terkuat, bukan tanpa alasan kalau merchandisme Cars merupakan yang paling laris kan? Apalagi untuk ukuran film yang kritiknya paling lemah sampai dibuat sekuelnya.

open-uri20160811-32147-6g2m5d_8e89aa03.jpeg

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] The Incredibles (2004): Film Pixar yang Gamblang

Saya teringat salah satu guru di SMA pernah bertanya “apa bedanya kartun Amerika sama kartun Jepang?”. Saya tidak bisa menjawab saat itu dan memang baru kepikiran “iya ya, apa bedanya”. Bukan, kita bukan membicarakan soal teknis grafis, gaya storytelling, atau semacamnya yang membahas teknis, guru saya dijamin awam soal itu. Satu kelas tidak ada yang bisa menjawab, kemudian beliau menjawabnya sendiri “kalau kartun Jepang bentuknya masih manusia, masih ada peran dan fungsi sosial di dalamnya, sementara kartun Amerika ya bebas-sebebasnya mau ngambil bentuk kucing hingga bentuk  se aneh sponge (spongebob sekalipun)”. Kata-katanya jelas tidak sama persis, tapi yang saya ingat substansinya seperti itu. Pernyataan beliau memang menggeneralisir tapi konteksnya wajar sih, kalau dipikir-pikir memang ada benarnya. Lalu apa hubungannya dengan film The Incredibles? Setelah Pixar membuat film dengan karakter berbentuk mainan, semut, monster, dan ikan yang dimana dengan hal itu membuatnya bisa bebas berimajinasi, di film berikutnya Pixar mengambil bentuk manusia dengan latar dunia penuh Superhero. Bagaimana imajinasi Pixar bermain dalam bentuk ini? Pertanyaan seperti ini tiba-tiba terlintas dikepala saya.

open-uri20160812-3094-1yvq19j_45e9153a.jpeg

Read the rest of this entry

[Review US-Movie] Finding Dory (2016): Kenapa Harus Pengulangan?

Finding Nemo sama seperti kebanyakan film Pixar yang punya film selanjutnya.Film keren yang punya ending memuaskan yang sebetulnya tidak membutuhkan film sekuel, prekuel, atau apapun itu. 13 tahun berselang semenjak Finding Nemo, Pixar memutuskan untuk membuat film berjudul Finding Dory. Awalnya saya cukup khawatir, kenapa judulnya memakai kata “Finding” lagi? Kekhawatiran selanjutnyaada pada karakter Dory. Bagi saya Dory bukanlah suatu karakter yang menarik sebagai tokoh utama. Film dengan karakter Sidekick di film sebelumnya yang ditakutkan akan mengulangi bagaimana Cars 2, bahkan Mike di Monster University yang sebenarnya punya sisi menarikpun ternyata eksekusinya tidak memuaskan, bagaimana dengan Dory?

Finding-Dory.jpg

Read the rest of this entry