Blog Archives

[Review Indo-Movie] Asih (2018): Danur Universe Semakin Berbenah

Disaat kebangkitan film Horor yang kesekian ini, muncul dua franchise yang mencuat, Danur dan The Doll -mungkin bisa disebut tiga, tapi entah franchise Kuntilanak kemarin diseriusi atau tidak untuk meluaskan duni trilogy Kuntilanak. Untuk Danur dan The Doll, keduanya punya titik balik yang berbeda, jika The Doll diawali sebagai underated, Danur justru dilabeli overated. The Doll pertama masih penuh hawa pesimistis, dan dengan ekspektasi serendahnya, filmnya justru lumayan. Tapi yang paling memukau tentu The Doll 2, pada akhirnya seri ini sudah menetapkan pilihan, tidak berbakat di bidang horror, The Doll masih punya daya jual yang ampuh melalui aspek Thriller dan Slashernya, The Doll bukan lumayan lagi, tapi sudah dianggap sebagai Cult trersendiri. Sementara Danur justru  punya nama yang terlelau besar jika dibandingkan kualitasnya, memanfaatkan kekuatan pemasaran dengan nama Risa itu sendiri, kisah-kisahnya, Prilly, hingga Shareefa, belum lagi sutradara Awi Suryadi, ekspektasi tinggi tersebut malah terjun bebas ketika akhirnbya Cuma disuguhi Horor generic yang masih punya banyak aspek yang lemah. Menariknya, di tahun ini setelah masing-masing seri sudah mencapai film ke tiganya dengan sama-sama mengusung spin-of,  status kedua seri ini justri berbalik di mata saya. The Doll melalui Sabrina justru tidak memiliki hal lain untuk ditawarkan, masih menggunakan formula yang sama, tidak ada perkembangan, stagnan, dan tampak Cuma pemerah duit saja. Sementara Danur melalui Asih, mungkin karena hasil kritik Danur pertama yang jeblok, Awi Suryadi merasa bertanggung jawab untuk memperbaiki diri, hasilnya sejak film pertama, film-film selanjutnya mulai tampak membaik meski belum sempurna dimana di Danur 2, Cuma bermasalah di 3rd act, sementara Asih secara mengejutkan menggunakan pendekatan yang berbeda dari 2 film sebelumnya. Bisa dikatakan Asih mungkin menjadi film yang sesuai diinginkan Awi dibanding Danur yang mungkin ada tekanan dari PH untuk dibuat generik.

w580.jpg

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Danur 2017 : Nanggung Memanusiakan Hantu

Sebelum membaca ini, saya ingatkan bahwa saya bukanlah penikmat film horror ditambah juga saya orang yang sangat penakut. Jadi kalau kalian ingin tahu film ini bisa menakuti kalian atau tidak, saya bukanlah referensi yang tepat, karena saya mudah di takuti. Yup jadi saya tidak akan menilai kualitas jumpscare atau mampu tidaknya sosok hantunya menakuti, karena saya terlalu nyaman menyembunyikan mata saya dibalik telapak tangan yang begitu gagah melindungi mata dari gangguan setan yang terkutuk. Akhir-akhir ini saya suka menonton film horror, tapi bukan karena ingin ditakuti, melainkan karena akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan synopsis beberapa film dengan sensasi twist yang menyenangkan. Jadi bisa dibilang film horror yang menarik bagi saya adalah sisi ceritanya, sangat berbeda sekali dengan para horror movieholic yang memburu adegan pemuas adrenalin mereka, saya memang pengecut, maafkan.

Sangat jarang film Indonesia yang punya cerita menarik di genre Horor, apalagi dengan citra film Horor Indonesia yang penulisan scriptnya selalu amburadul. Jadi akan sangat gampang menghitung film horror Indonesia dengan penulisan yang baik dan penggarapan yang niat, dibandingkan film Horor asal jadi yang kuantitasnya begitu banyak, dimana mereka punya visi yang penting nunjukin setannya dengan intensitas tinggi. Terhitung semenjak Jelangkung (2001) film Horor Indonesia modern yang digarap dengan penulisan baik baru hanya Keramat (2009) dan Rumah Dara (2010), sementara film-film macam Jelangkung, Kuntilanak trilogy, Pocong 2, dan semacamnya yang setingkat itu masuk kategori film Horor yang “niat penggarapannya” yang sayangnya justru ini sudah terbilang bagus di Indonesia dimana film tidak niatnya malah lebih banyak. Untuk film jadul sebelum Jelangkung, saya masih belum berani menonton, masih traumatis dengan sosok Suzzanna. Lalu bagiamana dengan Danur ? Jujur saya untuk pertama kali merasa tertarik dengan film Horor Indonesia karena sinopsisnya, dan tentu berharap hasilnya maksimal, tentunya minimal masuk level “digarap dengan niat”.

Kenapa saya bilang menarik ? Semua ini karena trivianya. Entah ini memang hal nyata atau settingan, tapi keputusan MD Production mem-blow up hal ini saya rasa jadi strategi jitu marketing yang di akui taktiknya bekerja pada saya. Hal yang dimaksud adalah seputar kisah nyata film ini yang menyoroti sosok Risa Saraswati dan kisah-kisah disekelilingnya soal dia anak indigo yang bisa melihat hantu. Bahkan untuk premier nya disiapkan 5 kursi kosong agar hantu-hantu yang merupakan teman Risa ikut menonton. Dan Danur secara keseluruhan adalah mengangkat kisah Risa sewaktu kecil saat pertama kali berjumpa teman-teman mistisnya dan berkonflik dengan sosok Asih. Dari sini saya sudah merasa tertarik dimana ada beberapa sosok hantu yang ada sisi baik dan si jahat. Danur sendiri diangkat dari novel “Gerbang Dialog Danur” yang katanya ceritanya berfokus memanusiakan hantu, bahwa hantu juga punya sudut pandangnya sendiri, dan itulah poin utama saya makin menetapkan pilihan menonton film ini di bioskop. Meskipun saat melihat trailernya, ada rasa pesimis film ini akan hanya seperti film Horor umumnya, tapi saya masih berharap adanya sensasi baru di film Horor Indonesia.

danur_showcase-banner_new

Read the rest of this entry

[Review Indo-Movie] Rumah Dara (Macabre) 2010 : Debut The Mo Brothers yang Menakutkan

Berbicara soal duet di perfilman Indonesia, saya selalu mengagumi duet Riri Riza dan Mira lesmana. Tapi di 10 tahun terakhir, muncul duet baru yang menjadi idola baru saya,yaitu The Mo Brothers, nama panggung untuk duet pertemanan Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel. Jika Riri Reza dan Mira Lesmana bersatu dalam Miles Production dengan sajian kisah-kisah drama yang mengagumkan, beda halnya Mo Brothers melalui Merah Production yang punya ciri film-film yang selalu banyak darah dan adegan sadis. Bicara soal Mo Brothers, kali ini saya mau me-review film debut mereka menangani film panjangnya, yaitu Rumah Dara, sebuah film Horor Slasher yang terbilang sangat baru untuk perfilman Indonesia.

Rumah Dara rilis di Indonesia pada tahun 2010, dan pada sekitar tahun tersebut perfilman horror kita tengah berada di dalam sebuah era yang menakutkan bagi film horror dimana pada saat itu kita disajikan film horror yang nafsuin dan  film horror yang ngelucu tapi ga lucu, tapi sangat sulit untuk mendapatkan film horror yang nakutin. Kemudian di awal 2010, The Mo Brothers memulai debut mereka di film panjang dengan genre Horor yang tidak biasa. Rumah Dara, sebuah film horror yang akan meneror kita, bukan dari hantu, tetapi dari keluarga kanibal. Rumah Dara ini sebelumnya merupakan film pendek karya The Mo Brothers yang masuk dalam film Omnibus Takut : Faces of Fear berjudul Dara, kemudian The Mo Brothers memutuskan untuk membuat versi film panjangnya, dan jadilah Rumah Dara.

hqdefault

Read the rest of this entry