[Review Indo-Movie] Sunyi (2019): Sebuah Remake yang Sukses

Hubungan Indonesia dengan Korea Selatan tampaknya sedang masa manis dibidang perfilman. CJ Entertainment selaku investor dari perusahaan film Korea mulai sering tampil dibeberapa film Indonesia. Sejauh inipun kerjasama mereka termasuk positif menghasilkan produksi film yang kualitasnya terjaga. Selain memberi investasi pada beberapa film Indonesia, seperti A Copy of My Mind dan Pengabdi Setan, kerjasama ini juga menghasilkan beberapa proyek remake film Korea Selatan yang sejauh ini punya track record positif. Setelah sukses dengan remake Miss Granny melalui film Sweet 20, kini muncul lagi sebuah proyek remake film horror legendaris Korea berjudul Whispering Coridor yang akan menjadi Sunyi dalam judul Indonesianya. Untungnya, Sunyi berhasil memberi track record positif bagi film remake Korea Selatan. Diluar dugaan, Awi Suryadi memberi persembahan terbaiknya lewat film ini.

adaptasi-horor-korea-sunyi-berikan-kehe-62ff21

Saya sendiri sudah pernah menonton Whispering Coridor, dimana film ini juga berseri sampai 5 film. Intisari Whispering Coridor sendiri adalah sebuah cerita horror thriller yang menjadi sebuah kritik terhadap dunia pendidikan di Korea. 5 film yang ada semuanay berlatar sekolah dengan permasalahannya masing-masing, sebuah kritik pada system pendidikan mereka. Menarik melihat bagaimana versi Indonesianya dibuat, karena penasaran ada perombakan macam apa yang menyesuaikan terhadap budayanya.

Dan jawabannya adalah senoritas. Senioritas menjadi tema yang diangkat sebagai sebuah kritik akan pendidikan di Indoenesia, dan saya sangat mengapresiasi langkah ini karena tema in memang dekat dan membudaya di system pendidikan Indonesia. Secara kebetulan, film ini bebarengan dengan kasus perundungan Audrey yang entah akhirnya bagaimana, film ini memang berada di masa yang tepat dimana Indonesia sedang marak sekali  kasus bullying.

Bercerita mengenai Alex yang khawatir masuk sekolah swasta yang punya reputasi mengerikan di masa ospek, dimana senioritas benar-benar didewakan. Sayangnya, karena reputasi sekolah yang meghasilkan lulusan terbaik membuat Alex harus mau mengikuti kemauan orang tuanya. Sejak awal film, saat adegan perbincangan antara Alex dan Ibunya, saya sudah terkesima. Melihat bagaimana alasan orang tua, rasanya sudah sangat Indonesia sekali. “Menguatkan mental” hahhh, sebuah alasan yang sampai sekarang tidak saya pahami.

Film ini ternyata sangat baik sekali dalam konteks sebagai film remake. Film ini menjaga akar utama dari film originalnya, yaitu kritik ke system pendidikan, lingkungan sekolah, bahkan akar ceritanya. Tapi di sisi lain, beberapa modifikasinya yang menyesuaikan kultur sekolahnya juga sangat bekerja baik. Mulai dari pengedepanan aspek horornya dimana di versi korea horornya hanyalah pemanis dimana genre utamanya sebenarnya dramanya, utak atik tokoh, isu system pendidikan melalui perundungan dan tekanan reputasi sekolah. Ibarat film Whispering Coridor yang diubah sedemikian rupa yang lebih bisa dinikmati penonton Indonesia.

Aspek yang paling saya apresiasi adalah sinematografi, saya benar-benar angkat topi pada Adrian Sugiono. Dari awal sampai akhir, mata saya benar-benar dimanjakan karena gambar-gambar yang indah mulai dari komposisi, angle, hingga camera movement bagi saya perfect. Masalahnya bukan Cuma indah, tapi juga substansial. Banyak sekali film horror Indonesia yang punya sinematografi indah tapi hanya kepentingan style, bukan secara substansi cerita. Dalam Sunyi, gambar tidak hanya indah, tapi juga memberi rasa takut dan penekanan emosi tertentu melalui visual. Bahkan aspek horornya sendiri, ketimbang menakuti dengan jumpscare atau music-musik keras, malah keseraman dihasilkan dari performa kamera yang berhasil memberi kesan sunyi secara harfiah, kesan kerdil, kesan takut, semua itu dilakukan dengan gaya sinematografinya.

Sama seperti versi koreanya, sebenarnya bobot film Sunyi bukan dihorornya, tapi justru dicerita. Bagi saya, plot cerita soal perundungannya cukup rapi. Alex mungkin terlihat bingung tanpa motivasi khusus, tapi sebagai korban bully, segala motivasi dan tindakannya dapat dipahami. Setiap motivasi karakternya dapat dipahami. Kehadiran twist film ini, bagi yang sudah menonton film aslinya ataupun yang punya pengalaman menonton lebih, mungkin memang predictable, tapi secara maksud dan makna twist ini sangat bagus. Twistnya berhasil memberi kesan cerita yang berisi dan menyampaikan pesannya dengan baik. Saya sendiri merasa tersentuh pada aspek ini dimana pesan utamanya benar-benar mengena bagi orang-orang yang terkait dengan segala tindakan perundungan.

Bagi saya, film remake Sunyi ini malah lebih baik dari pendahulunya. Secara production value memang tak dapat disangkal karena masalah teknologi. Secara cerita, film ini lebih terasa dekat bagi saya sebagai orang Indonesia. Satu-satunya aspek yang menang telak adalah aspek horornya, dimana dalam film ini Horor memang jualan utamanya. Yang harus diapresiasi adalah bagaimana aspek horror ini tidak dikemas secara kacangan dimana Awi Suryadi secara mengejutkan berani meramunya menjadi film bertempo lambat dengan jumpscare yang tidak ditebar dimana-mana seperti film horror Indonesia kebanyakan.

Sunyi jelas adalah film horror Indonesia pertama yang berhasil menghibur saya tahun ini, horror terbaik sejauh ini. Film yang bisa saja dianggap menyelamatkan horror Indonesia tahun ini yang sudah 4 bulan belum ada yang menghibur, untuk tidak memutus beberapa horror berkualitas yang muncul beberapa tahun terakhir, utamanya sejak Pengabdi Setan. Ini pun bagi saya adalah film terbaiknya Awi Suryadi (catatan: saya belum nonton Badoet). Awi punya progress yang baik sejak Danur yang terus meningkat ke Danur 2, semakin baik pula di Asih, dan akhirnya di Sunyi. Semoga track positif ini berlanjut di Danur 3.  Dan tentunya yang membanggakan, Sunyi akan membuat investor Korea semakin percaya pada sineas Indonesia dimana sejauh ini track recordnya bagus. Sweet 20 sukses, Sunyi juga berhasil menjadi remake yang baik bahkan lebih baik dari originalnya. Selanjutnya ada Bebas, sebuah remake film Sunny, dimana saya optimis ini juga akan sukses karena Miles yang menggarapnya.

Advertisements

About osyad35

Hai...

Posted on April 16, 2019, in Movie, Tontonan and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: