[Review Indo-Movie] Foxtrot Six (2019): Level Baru Film Blockbuster Indonesia

2019 berharap menjadi tahun yang menyenangkan buat perfilman Indonesia. Setelah Januari dibuka dengan sangat baik, baik secara komersil maupun kritik, Februari masih menjanjikan beberapa film yang menarik. Pilihan saya jelas jatuh pada Foxtrot Six yang sudah saya antispasi jauh-jauh hari.  Eksplorasi ragam genre di perfilman Indonesia semakin berkembang, dan salah satu yang berkembang adalah film action. Sebagai pembuka genre action di tahun ini, Foxtrot Six termasuk berhasil menjaga nada optimism film nasional di tahun ini.

edan-biaya-pembuatan-foxtrot-six-termah-2336c8.jpg

Dengan trailer yang menarik yang terlihat megah, belum lagi deretan cast dan nama produser Holllywood, Mario Kassar (Rambo, Terminator, dll) menjadi daya jual yang menjanjikan. Meski begitu yang selalu menyulitkan genre action blockbluster berkembang adalah masalah ekspektasi. Beberapa film Indonesia yang mangambil arah yang sama selalu jatuh pada reaksi negative karena ekspektasi berlebihan layaknya film Hollywood. Film ini pun sama, beberapa reaksi berlebihan menghajar film ini yang tentunya saya duga karena tidak menjaga ekspektasinya. Maksudnya, meski genrenya ala Hollywood, modalnya tetep ukuran Indonesia loh, konteksnya tetep sedang belajar melangkah loh, hanya karena ada aspek lemah jangan membuat tutup mata pada aspek yang niat dikerjakan yang menjadi suatu pembaharu di perfilman Indonesia.

Begitupun Foxtrot Six, film ini memanglah tidak sempurna, memang ada beberapa kelemahan. Bagi saya sendiri yang mengganggu adalah babak introducing. Sebenarnya film ini memang mempunyai konsep yang ciamik. Di babak pertama ini, karakter-karakter yang diperkenalkan tampak menarik, mulai dari Angga dan pengenalan konfliknya pada Sari, lalu antagonis yang juga tampak berkarisma, dan 6 cast pasukan Angga yang solid secara cast dan karakter. Dari segi world buildingpun sudah dilakukan dengan baik sehingga believable. World building ini bergantung pada design artistic, tata kota, dan visual, sementara secara dialog tidak begitu kuat karena hanya focus pada masalah politik-militer ala konspirasi agenda. Lalu apa masalahnya? Masalahnya ada pada pengenalan Angga dan dunia seputarnya. Tebakan saya masalahnya ada pada durasi sehingga memang kesulitan menceritakan transisi. Mulai dari tahap hubungannya dengan Sari, alasan pandangan politik Angga, yang dimana kedua hal tersebut mempengaruhi satu sama lain. Ada terasa seperti adegan-adegan skip yang membuat beberapa pertanyaan pada akhirnya tidak terjawab, terlalu padat dan singkat.

Ceritanya sendiri dimulai dari cakupan yang makro, dimulai dari penggambaran dunia dan konflik kemudian mengecil ke ruang mikro soal kehidupannya Angga. Inilah yang membuat introducing agak terasa mengganggu, soal bagaimana mendetailkan hal-hal makro itu tadi. Soal hubungan Angga dan Sari, pandangan politik Angga, pengantar hubungan 5 mantan tentara, Angga sebagai Letnan, saya merasa hal-hal itu kalau di eskplore bisa membuat transisi narasi jadi lebih solid.

Bercerita mengenai dunia dystopia Indonesia di masa depan, tepatnya di 2031, dimana kondisinya dunia tengah kelaparan karena populasi meledak. Tapi masalah tidak focus kesitu. Cerita akan berfokus pada konflik politik militer ala konspirasi agenda, tentunya konflik dalam negeri saja dengan tema pemerintah vs pemberontak. Di aspek politik-militer konspirasi itu, saya terpuaskan pada aspek ini. Cerita-cerita konspirasi di eksekusi dengan baik menghadirkan twist-twist yang mengejutkan dan saya akui pintar. Plotnya jago membuat kondisi terdesak. Sayapun mendapatkan sensasi bingung karena protagonist kita adalah underdog menghadapi pihak pemerintah yang superior, ada sensasi hopeless yang ditimbulkan dan saya menyukai sensasi seperti itu. Endingpun terbilang cerdas karena masih bisa merasa menang disaat sensasi hopeless itu terasa memuncak.

Seperti yang saya bilang, konsepnya sendiri memanglah sangat bagus dan menjanjikan. Alasan kenapa eksekusinya tidak mencapai potensi terbaiknya adalah masalah teknologi dan  durasi. Saya tentu ingin menyebut sutradaranya yang directingnya tidak konsisten dalam artian memang banyak yang solid tapi ada beberapa momen yang harusnya bisa lebih baik juga. Tapi juga karena ini film panjang pertamanya Randy Korompis, entah sebelumnya karyanya seperti apa, tapi sebagai karya debutnya ini cukup sensasional. Namun melihat konsepnya, saya pikir wajar Mario Kassar tertarik pada source materialnya yang memang menarik.

Kembali ke Randy Korompis, saya tetap puas pada film ini. Mostly film ini tetap di direct dengan solid. Ada banyak aspek yang menyenangkan. Salah satu alasan cerita bisa dinikmati adalah karena visualnya nyaman. Performa artistic dan CGI termasuk sebagai yang terbaik sejauh ini dalam konteks blockbuster Indonesia. CGI amat sangat memuaskan. Memang ada beberapa momen yang flow, tapi itu Cuma sebagian kecil disbanding banyak performa CGI yang memukau. Aspek aksipun sangat memuaskan. Tentu ini bukan martial arts, hanya film aksi sci-fi, koreografinya tidak akan sememorable film-filmnya Iko Uwais. Tapi sebagai film aksi, koreo fightnya sangat menyenangkan yang lebih berkesan mengandalkan power ketimbang teknik, dan juga kebrutalannya. Masalah brutal, secara ego pribadi, saya suka aspek ini. Saya merasa film Indonesia di mata luar negeri punya branding yang kokoh sebagai pencipta film action brutal, dan Foxtrot Six mempertahankan hal ini.

Aspek yang mengejutkan adalah ternyata drama di film ini dieksekusi dengan sangat baik. Meskipun saya merasa Julie Estelle bisa dipakai lebih baik lagi, tapi peran dia berhasil menghidupkan drama di film ini. Kehadiran anak kecil pun ternyata berakting dengan sangat baik, bertambah lagi artis baru potensial Indonesia. Tapi kembali lagi, ikatan Oka yang memerankan Angga dan Julie memerankan Sari berhasil menjadi aspek drama yang mempengaruhi perkembangan karakter dengan sangat baik, berhasil memberi efek emosional bagi saya sebagai penonton. Saya paham tekanannya Angga, frustasinya dia, rasa sedih, marah, ketidakberdayaan, dan Oka berhasil menghidupkan karakternya dengan permaianan emosi di wajah yang berekspresi dengan sangat baik.

Bicara masalah cast sepertinya tak perlu ditanya. Deretan actor kelas atas. Verdi Sulaiman gila dan membuat karakternya tampil begitu berenergi, Arifin Putra emang asik kalau udah ketus-ketusan, Rio Dewanto meski Cuma tampak jual badan kokohnya tapi memang berhasil memerankan karakter sok tangguh, Chico Jerico dapat karakter yang menarik si pendiam yang jago dan ekspresinya dia komikal yang bengis sekali sih, dan yang mengejutkan adalah Mike Lewis yang disini tampak keren sekali. Sayang memang saya merasa harusnya bisa melihat kehebatan mereka lebih banyak lagi. Banyak potensi yang bisa dihasilkan jauh lebih baik lagi. Tapi sayang, masalahnya durasi. Dan jangan lupa antagonis kita, si Wisnu yang diperankan Edward Akbar. Mulai dari suaranya yang berat, nada songongnya, ekspresi dingin dan belaganya, cara berjalannya, saya suka segala aspek tentangnya.

Meski memang film ini tidak sempurna, ada beberapa kelemahan terkait narasi, beberapa momen CGI yang flaw, dan semacamnya, film ini tetap menjanjikan sesuatu. Saya berani bilang bahwa film ini adalah level baru bagi film Indonesia. Khususnya dalam konteks production value yang mewah, konsep cerita, karakter, visual, kualitas cast, dan utamanya ide itu sendiri. Meski masih ada aspek yang membuatmu kecewa, tak adil rasanya memberi kesimpulan film ini sebagai tidak memuaskan. Harus diapresiasi.

Advertisements

About osyad35

Hai...

Posted on February 21, 2019, in Movie, Tontonan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: