[Review Indo-Movie] Malam Satu Suro (1988): Aspek Horor-Drama Keluarga yang Solid

Film 80-an selalu lekat dengan actor-aktor ikonik di tiap genrenya, seperti action dengan Barry Prima dan Warkop DKI di komedi. Begitu juga di Horor, film Indonesia, khususnya era 80-an akan sangat lekat dengan nama Suzzana, bahkan sudah dilabeli sebagai ratu horror Indonesia. Sejujurnya, meski saya sudah sangat sering menonton banyak film 80-an di tv, saya memang tidak begitu hafal. Seringkali di tv menonton Barry Prima, Warkop DKI, hingga Rhoma Irama, tapi saya tidak bisa menyebutkan satupun film mereka, tidak tahu juga ceritanya apa saja, hanya ingat momen, begitupula film Suzzana yang banyak saya tonton tapi tak juga bisa menyebutkan nama film-filmnya. Tapi ada satu film yang sangat saya ingat, Malam Satu Suro. Mungkin dari semua film 80-an yang saya tonton waktu kecil, hanya film ini yang saya sangat ingat betul premisnya tentang apa, saya pikir Cuma ini film yang paling membuat saya terkesan saat dulu. Oleh karena itu, dalam rangka Halloween, yang saya juga mulai berminat mau marathon film-filmnya Suzzana, saya akan mengawalinya dari film ini.

malam-satu-suro.jpg

Benar saja saya sangat ingat dengan premisnya, tentang Sundel Bolong yang dijadikan manusia bernama Suketi kawin dengan lelaki manusia membangun keluarga harmonis hingga akhirnya sebuah tragedy membuat Suketi kembali jadi Sundel Bolong. Jujur saja, buat saya premis ini sangat memukau. Entah dengan keterbatasan referensi saya, ini masih termasuk original atau tidak, tapi jelas bagi saya ini unik, original, dan otentik, mohon koreksi kalau ini kurang tepat. Maka jelas di filmnya ini saya sangat suka konsep ceritanya, salah satu yang berhasil membuat saya suka hanya karena premisnya saja.

Untuk eksekusi, disaat saya sudah siap akan keterbatasan menikmati film Indonesia 80-an, khususnya Horor, saya justru terkejut karena sangat menikmati bagaimana eksekusi film ini, saya berhasil dibuat hanyut dalam cerita rupanya. Padahal pengalaman saya menonton film horror Indonesia 80-an belum begitu memuaskan dengan Pengabdi Setan (1980), sutradara yang sama dengan film ini, Sisworo Gautama Putra.  Rupanya, 8 tahun berselang, Sisworo berhasil berkembang pesat dalam menggarap Malam Satu Suro.  Directing, khsusnya eksekusi bagaimana kolaborasi pengadeganan, dialog, dan music buat saya lebih bisa dinikmati.

Di awal, mungkin banyak yang merasa aneh karena cerita berlangsung sangat cepat. Tapi, ketimbang menyebutnya tempo ngebut, saya lebih memilih menyebutnya sebagai penceritaan yang to the point. Memang pengalaman saya menonton film 80-an, banyak tipe seperti ini, dengan teknologi kamera saat itu, wajar variasi angle tidak begitu banyak sehingga membuat adegan yang to the point langsung masuk dalam inti cerita tanpa berusaha membangun atmosfer, dramatisasi, atau emosi yang spesifik. Itu membuat penceritaan berlangsung dengan cepat, sehingga kadang meski kita mengetahui ceritanya apa, tapi sulit untuk terut beremosi, setidaknya bagi penonton jaman sekarang. Namun meski begitu, performa kameranya tetap tidak mengganggu buat saya, dan saya memang nyaman-nyaman saja walaupun performa kameranya sakali lagi tanpa ba bi bu, tanpa establishing shot yang macam-macam, sekali lagi, to the point.  Dan untuk emosi, meski film ini memang berhasil menyampaikan cerita dengan baik, beberapa emosi yang berpotensi bisa keluar ternyata gagal bagi saya, khususnya untuk sedih dan marah, utamanya karena acting (apalagi cast anak-anak yang datar banget) dan pilihan angle yang sering mengambil long shot. Tapi karena saya mentolerir hal ini, dan sudah tau ekspektasinya bagiaman dari awal, saya justru terkejut dan merasa senang karena film ini berhasil, tidak Cuma membuat film bercerita tanpa emosi, tapi emosi yang alakadarnya itu sudah cukup untuk membuat saya nyaman dengan film ini. Utamanya karena music yang berhasil merangkai mood dalam menikmati angle-angle longs shot ini, juga karena dialog yang juga berhasil nyaman didengar.

Babak pertamanya sangat sempurna buat saya. Di awal kita melihat adegan Sundel Bolong bertarung melawan, apa ya, Dukun? Itu adegan yang berhasil menarik perhatian sejak menit pertama, membuat saya penasaran selanjutnya. Saya pikir ini adalah salah satu opening film terbaik yang mungkin secara teknis sudah kalah dengan era sekarang, tapi soal substansi adegan, sangat luar biasa.

Cerita berlangsung cepat, pertemuan Suketi dengan Bardo bahkan sangat cepat dan seperti tidak menarget membuat chemistry. Tapi, disatu sisi saya juga tidak protes, saya sebagai penonton mengambil kesimpulan, karena SUketi adalah Sundel Bolong, mungkin ada hal mistis yang mempengaruhi bagaimana Bardo tanpa pikir panjang ingin mengawini Suketi. Dari menit pertama sampai pernikahan mereka, mungkin akan banyak yang menganggap semuanya berlangsung terlalu cepat, tapi bagi saya semua itu sudah sesuai konteksnya dan termasuk ekskusi yang sudah baik.

Film kemudian berlanjut skip beberapa tahun langsung menunjukan kehidupan bahagia keluarga Bardo. Dengan alunan music Selamat Malam dari Vina Panduwinata, beberapa montage kebahagiaan keluarga Bardo yang skip-skip justru powerful membangun emosi, sangat kuat, sangat membekas, sangat berkesan. Hanya dari adegan ini saya sudah bisa sangat peduli pada keluarga Bardo. Maka dari itu, babak pengenalan film ini bagi saya sangat luar biasa.

Babak kedua film ini juga luar biasa. Sebab akibat semua dijabarkan dengan baik. Bagaimana Suketi kembali jadi Sundel Bolong, dan bagaimana nanti Sundel Bolong punya motivasi berapi-api dalam balas dendam. Semuanya sangat bisa dimengerti, dan saya pun sangat bersimpati pada Sundel Bolong ini. Yup, dari sekian banyak film era sekarang yang berupaya membuat hantunya diberi simpati, saya pikir belum ada yang sukses membuat saya bersimpati pada hantu seperti Sundel Bolong di Malam Satu Suro ini.

Satu-satunya kekurangan babak ini adalah acting. Ada 3 adegan yang saya bereskpektasi dibuat sedih dan marah, tapi tidak bisa, semua karena anak kecil laki-laki. Dia memegang peranan kunci, tapi semua gagal karena aktingnya yang kaku. Sementara pemeran Bardo, masih menjadi misteri sebenarnya apakah orang jaman dulu memang tidak over reacted atau sedingin itu, saya juga tidak berharap adegan yang over drama, tapi setidaknya saya berharap ada kepanikan, kegusaran dalam diri Bardo yang nyatanya tidak terlihat. Tapi mengejutkannya saya justru suka acting Suzzana, bukan Cuma sebagai Sundel Bolong, justru saya sangat menyukai perannya sebagai Suketi. Sebagai ibu, semua dialog, nada suaranya, kalimatnya, sangat natural dan hangat untuk didengar.

Suzzana benar-benar menjadi bintang di babak kedua ini. Adegan yang tidak ada Suzzana berlangsung tanpa emosi, menarik hanya sebagai pemapar informasi. Tapi ketika ada Suzzana, saya berhasil menimbulkan emosi. Ada magic tersendiri dimana secara teknis sebenarnya tidak ada yang special, tapi adegan saat anak laki-laki menyapa ibunya yang pertama kali menjadi Sundel Bolong adalah hal yang memilukan. Belum lagi scene saat Sundel Bolong bermain piano dipandangi suaminya, itu salah satu scene film Indonesia yang terbaik,sekali lagi powerful mengaduk emosi saya.

Sayangnya saat Sundel Bolong memutuskan balas dendam, semua jadi bencana. Saya tidak lagi menikmati waktu menonton film ini. Semua tiba-tiba jadi absurd. Entah kenapa semua jadi begini. Horor-drama keluarga yang sebelumnya sudah sangat solid, tiba-tiba kehilangan arah. Tiba-tiba saja Sundel Bolong kesana kemari, tidak focus balas dendam, malah keliling mengerjai tukang Bakpao dan Bokir. Dulu memang salah satu yang paling ingat adalah horror komedinya yang selalu melibatkan Bokir dan Tukang Sate, bahkan sudah jadi branding Suzzana tersendiri yang mungkin di era itu diharap-harapkan. Tapi setelah saya menyaksikan film ini, adegan itu benar-benar tidak diharapkan, malah mengganggu arah tone cerita yang sebelumnya sudah mellow malah dibuat haha-hihi. Bukan Cuma horror-komedi, saat balas dendam pun arahnya dibuat jadi horror-action. Sayang memang arahnya dibuat seperti ini, padahal jika konsisten denga  niat awal, membuat horror-drama keluarga, cerita ini sangat solid dan bahkan bisa menjadi masterpiece yang patut didewakan. Sayangnya tidak, dengan pahit saya harus bilang kecewa dengan babak akhirnya.

Untuk aspek horror, film Horor jadul, khususnya Indonesia, rasanya memang belum mengenal jumpscare. Tidak ada kaget-kagetan dan music berisik. Tapi untuk film ini, harus saya akui, sisi horornya mungkin tidak begitu menghantui, malah dramanya sangat kuat meski kaitan mistisnya juga kuat, tapi tidak menakuti, malah hangat. Horornya baru terasa di babak akhir, itupun eksekusinya begitu. Tapi, saya tetap menyesal karena sempat meremehkan aspek horornya. Entah bagaimana, secara ajaib, saya tiba-tiba takut  hanya dengan Sundel Bolong berdiri, utamanya saat anaknya pertama kali melihatnya. Rasa takutnya aneh, tidak sampai mengumpat atau terlompat-lompat, Cuma ngeri saja begitu, padahal tidak ada build up atmosfer juga. Dan soal aspek horror, tawa Suzzana benar-benar ampuh untuk menakuti, sekarang saya paham kenapa Suzzana menjadi legenda. Lalu, bagaimana bisa lagu Selamat Malam Vina Panduwinata yang awalnya hangat tiba-tiba terkesan seram?

Memang sangat disayangkan film ini harus diakhiri dengan cara seperti itu, Tapi walau bagaimanapun, originalitas premis cerita, dan bagaimana eksekusinya di babak pertama dan kedua patut di apresiasi. Saya mengagumi bagaimana legendanya film ini. Seandainya konsisten dengan konsepnya, dengan  horror-drama keluarganya, seharusnya jadi salah satu film terbaik Indonesia yang punya daya jual luar biasa dengan keontetikannya.

About osyad35

Hai...

Posted on October 30, 2018, in Movie, Tontonan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: