[Review Indo-Movie] Jaga Pocong (2018): Konsep yang Menarik

Saya tiba-tiba mengantisispasi film ini dan begitu tertarik. Alasannya ada pada trailer dimana trailer itu berhasil memberikan informasi premis yang sangat menarik buat saya. Suster Milla disuruh untuk menjaga mayat alias pocong di sebuah rumah semalaman. Premis yang sederhana, dan kebetulan saya suka ide-ide yang sangat sederhana berlatar satu tempat seperti ini seperti Buried, 12 Angry Men, hingga The Raid. Dari premis ini, menarik bagaimana saya punya ekspektasi mendapatkan horror dengan sentuhan nuansa depresif yang menyiksa psikologi, karena rasa paranoid ngejaga pocong.

sinopsis-film-jaga-pocong-menguak-teror-1209cf.jpg

 Pertama yang jadi PR adalah bagaimana cerita babak pertama berlangsung. Ternyata saya sebenarnya tidak cukup puas. Saya tidak menuntut untuk mengenal bagaimana si Suster Milla ini, tapi setidaknya saya ingin tahu motivasinya. Adegan bersama pasien anak kecil ini saya interpretasikan sendiri sebagai suatu penyesalannya dia, yang akhirnya membuat Milla menjadi punya penyesalan tersendiri untuk begitu peduli pada Novi. Tapi itu hanya keinginan saya, interpretasi saya, kalau tidak ya berartri saya gagal menangkap, karena buat saya eksekusinya memang membingungkan, mau dibilang itu penyesalan, tapi kok Milla tidak begitu kepikiran. Tapi hanya itu saja, sisanya, bagaimana dia berkenalan dengan pemilik rumah, bagaimana rumah sakit mengutusnya, hingga bagaimana kebingungan Milla, semua sudah memuaskan.

Pada dasarnya saya sangat suka konsep ceritanya. Pada awalnya film ini amat sangat menyenangkan buat saya. Bagaimana film ini sabar dengan tempo lambatnya, menakuti dengan misterius, sukses menciptakan atmosfir yang menyeramkan, bagaimana film ini berhasil memainakn elemen suara dengan baik utamanya suara “duk duk duk” yang saya pikir itu suara loncatan Pocong. Pada awalnya saya berhasil dibuat paranoid, dibuat bermain-main imajinasinya, sayangnya semua hal itu tidak ada yang berhasil mencapai klimaks. Pada akhirnya, setelah menciptakan atmosfer yang tidak nyaman, which is good, teknik jumpscarenya justru masih banyak yang umum dan kesannya usang.  Mungkin ini juga dipengaruhi oleh Pocongnya itu sendiri, yup Pocong mungkin cukup sulit menakuti bagi saya. Pada akhirnya Pocong hanya berdiri diam dan memamerkan wajah jeleknya. Satu-satunya yang berhasil bagi saya adalah jatuhnya Pocong. Kasihan Pocong, sudah bentuknya begitu, menakuti paling seremnya pun harus menyakiti diri sendiri. Sayang memang, padahal soal atmosfer, film ini sudah sangat baik, tapi giliran parade jumpscare rasanya tidak ada yang special.

Hal ini juga rasanya diperparah dengan momen jumpscare yang tidak substansial. Yang cukup fatal adalah bagaimana saat Novi dirasuki mengaku sebagai setan penunggu? Saya melihatnya sebagai pura-pura, really? Setan pura-pura? Ngaku-ngaku? Itu substansinya apa? Pada akhirnya tidak ada makna apapaun, sebuah adegan yang tidak perlu bahkan jika mengabaikan substansi pun, adegan Novi kerasukan sudah sangat umum. Padahal scene ini bisa dimanfaatkan sebagai tempat memainakn cerita, sayang kesannya Cuma sebagai penambah durasi saja. Belum lagi bagaimana klisenya Milla selalu penasaran dengan segala hal yang ganjil. Saya pada akhirnya tidak begitu mengenal Milla, tapi yang saya kenal darinya berkat film ini adalah, dia merupakan sosok yang sangat pemberani, semua hal ganjil selalu didekatinya, mau suara ganjil, bayangan, kain aneh, bentuk aneh, semua didekati olehnya. Sayangnya tingkahnya itu bagi saya rasanya tidak cocok dengan gaya tempo lambat dan permainan atmosfernya kalau memang benar bertujuan membuat penontonnya berimajinasi paranoid hingga depresi, tidak sampai tahap itu.

Meski begitu, seperti yang saya bilang, saya suka konsep ceritanya. Soal twsit, ide twistnya saya suka. Ide ceritanya cukup masuk akal yang membuat saya sangat menyukain konsep cerita ini, segalanya punya motif, itu masuk akalnya. Permainan misteri bagaimana menghubungkan pemilik rumah dan rumah sakit, meski tidak dijelaskan, saya pikir penonton sudah bisa menyimpulkan, dan itu ide yang sangat bisa diterima. Soal pertanyaan kenapa Milla yang dipilih menjalankan tugas ini memang tidak ditunjukan, memang disayangkan meski saya masih bisa menoleransinya, hanya saja dari hal ini terlihat adanya kemalasan dalam penulisan. Ada atau tidak ada motif tertentu itu tidak apa-apa, tapi saya berharap lebih dari dialog “karena harus kamu”, bukan Cuma adegan ini, banyak adegan lainpun rasanya begitu, contoh soal adegan setan ngaku-ngaku tadi misalnya.

Film ini sukses menjelajahi rumah dengan segala misterinya. Meski unsur misteri tidak begitu kuat, hanya sekedarnya saja seperti menyoroti poto yang wajahnya berbeda dengan penghuni rumah, memasuki kamar-kamar, permainan satru tempatnya cukup ok meski rasanya sebenarnya bisa lebih. Untuk cerita yang mengandalkan satu tempat, film ini sukses membuat saya sama seperti Acha, ingin segera keluar dari rumah itu, dan ya itu semua didapat dari raut wajah Acha saja, amazing.

Acha Septriasa sudah tidak diragukan lagi. Dialah yang berhasil membuat film ini begitu hidup. Sayang memang talentanya tidak didukung naskah yang lebih. Selain Acha, saya juga terbayang-bayang dengan keseramaan Jajang C Noer. Sejak di film Hoax, kemudian film ini, saya semakin berpikir bahwa beliau punya aura yang begitu menyeramkan.

Secara objektif, film ini memang masih tidak sempurna meskipun secara keseluruhan termasuk menyenangkan. Secara personal, saya menyukai film ini, dengan premisnya, dengan konsep ceritanya, eksekusinya juga tidak semua bermasalah, hanya inkonsisten, kualitas acting Acha Septriasa, terutama bagaimana membangun atmosfer menyeramkannya, khususnya suara “duk duk duk” sangat berhasil menjadi hal yang berkesan. Meskipun, film ini hanya sampai pada tahap berpotensi, tapi, ini tetap horror yang cukup menyenangkan buat saya.

About osyad35

Hai...

Posted on October 27, 2018, in Movie, Tontonan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: