[Review US-Series] Marvel’s Daredevil Season 3 (2018): Berfokus Pada Plot Konspirasi

Salah satu alasan The Defenders kurang berkesan adalah karena kebanyakan sudah tau bahwa Daredevil akan berlanjut ke season 3. Tapi menarik juga melihat bagaimana ending The Defenders membuat saya juga sudah punya bayangan bagaimana season 3 bermula, yang ternyata tidak jauh berbeda dengan ending season 2 nya. Daredevil disangka sudah mati –yang tentunya kita tahu tidak akan mati, dimana Matt Murdock akan mengawali season ini dengan penuh pikiran, mulai dari duka akan kematian Elektra hingga persoalan soal jati dirinya, hal yang selalu dibahas selama 3 season.

daredevil1-1.jpg

Buntut dari kejadian The Defenders adalah Matt Murdock alias Daredevil terluka, baik fisik, emosi, dan mental. Dia berduka akan kematian Elektra, dan telinganya terkena cedera yang membuat semangatnya sebagai Daredevil juga hilang, begitupula semangatnya sebagai Matt Murdock, ya dia kembali merasa tersesat dalam mencari jati dirinya. Sementara itu, cerita juga akan membagi porsi seimbang dengan Wilson Fisk, si villain kita, dimana dia akan menjadi lawan utama Daredevil, lagi. Disini akan diperlihatkan bagaimana Wilson membangun kembali kekuatannya dengan menggunakan kekuatan jaringannya sebagai mafia dan pebisnis. 2 karakter  baru yang menonjol adalah Nadeem dan Poindexter aka Dex. Nadeem merupakan agen FBI yang akan menjembatani kita pada bagaimana pion Wilson Fisk bekerja, namun karena Nadeem pada dasarnya memang orang baik, jadi ada kisah perang batin yang menarik ditawarkan. Sementara Dex adalah Bullseye, villain yang dinanti-nantikan penggemar Daredevil, villain yang juga ada di film Daredevil dulu, dan sekali lagi Marvel-Netflix berhasil membuat villain yang menarik.

Jujur saja, apakah hanya perasaan saya saja bahwa season 3 masih dibawah season 1 dan 2? Meskipun season 3 masih bisa dikatakan solid. Bagian awal-awal episode rasanya begitu kurang nyaman, khususnya di part Matt. Pacingnya sangat lambat tapi penyelesaian konfliknya begitu cepat, rasanya hal yang diributkan Matt tidak sebegitu sulitnya seperti yang dikeluhkan Matt sendiri. Dia mempertimbangkan pensiun jadi Daredevil karena lukanya, sekaligus merasa tidak layak sebagai Matt dengan menjauhi Foggy dan Page, tapi disatu sisi dia rasanya seperti kembali begitu saja dalam memutuskan mengenakan topengnya lagi. Saya tahu pada dasarnya Matt hanya merasa marah pada dirinya sendiri, konflik seperti ini membuatnya tampak sebagai karakter complicated bahkan cenderung overdrama, tapi dengan mempermasalahkan hal yang Matt sendiri tidak tahu apa yang salah tampaknya, saya sedikit terganggut dengan bagaimana beberapa konklusi dari beberapa masalah itu. Intinya Matt sedang jatuh dan mencoba bangkit kembali. Hal itu membuat kita agak kurang mood dalam mengikuti cerita Matt, untungnya ada Fisk, Nadeem, dan Dex yang menarik.

Sebenarnya tidak ada hal yang baru ditawarkan dalam karakter Matt dan Fisk. Matt kembali pencarian ulang jati diri, yang untungnya elemen Foggy dan Page berhasil membuat plot ini menjadi menarik. Sementara Fisk, kita akan menuai hasil dari bagaimana pengembangan karakternya di season 1&2, tidak ada pengembangan baru yang signifikan, jadi inilah klimaks konflik yang didapat dari Fisk. Dengan membangun ulang kekuatan, kita akhirnya melihat bagaimana mengerikannya Fisk dalam bentuk yang lain, yaitu betapa ngerinya Fisk dalam bermain konspirasi. Betapa menakutkannya ketika jiwa kita ditarget atau bahkan sudah dalam genggamannya. Misteri dan konspirasi jadi jualan utama season ini, dan menghadapi Daredevil yang sedang rapuh, melihatnya tertekan, saya penasaran bagaimana Daredevil melawan Fisk.

Tapi season ini juga menawarkan hal yang baru dalam bentuk karakter Nadeem dan Dex. Untuk Nadeem, saya pikir dia adalah yang paling bersinar. Bahkan terasa seperti tokoh utama di season ini. Bagaimana dia menjadi penghubung dunia Fisk dengan dunia Daredevil, sehaligus bagaimana perang batin dan moralnya, Nadeem sukses menjadi karakter yang mendapatkan simpati terbanyak. Sementara Dex alias Bullseye, sekali lagi, berhasil mengekeskusi backstory dan karakteristik yang menarik, dan bagaimana Fisk mengubah orang ini dari menjadi pesuruhnya. Sayang memang, Bullseye disini hanya sebagai pesuruh dan mengenakan suit Daredevil. Saya ingin melihatnya beraksi sebagai villain utama sekaligus dengan desain karakternya sendiri. Yah, semoga di Season 4, itupun kalau tidak kena cancel.

Saya merasa hal yang membekas dari season ini adalah cerita konspirasinya. Bagaimana Fisk membangun ulang kekuatan dan mencekeram takdir Nadeem dan Dex, serta menekan Matt dan Page.   Cerita konspirasinya bagi saya dieksekusi dengan baik yang uniknya membuat adegan fightnya kalah bersinar. Padahal disini kita melihat sekali lagi adegan fight dengan teknis one take one shot yang cukup panjang.  Kita juga disuguhi pertarungan Daredevil vs Bulsseye yang menarik, dimana tampak seimbang, sayang mungkin karena Bullseye bertarung demi Fisk membuat pertarungannya tidak terasa mematikan.

Masalah diawal itu sebenarnya hanya beberapa episode saja, itupun karena porsi Matt saja. Setelah Matt tahu Fisk dibebaskan, itulah dimana series ini terasa sangat menarik. Hanya satu lagi masalahnya, Netflix memang hobi membuat kita menantikan hal seru tapi episode selanjutnya malah disuguhi flashback. Tapi jika bisaanya flashbacknya memang membantu menguatkan karakter, kali ini hal itu tidak terjadi. Itu terjadi di bagian flashbacknya Page. Inti dari season ini adalah rasa bersalah di masa lalu, baik  Matt, Dex, dan Fisk, begitu pula Karen Page. Saya merasa flashback Page tidak begitu perlu dan kesannya menambah durasi saja. Seandainya tidak ada pun, Karen Page sudah kuat karakternya.

Sisanya, season ini masihlah solid, meski masih dibawah 2 season sebelumnya. Tapi season ini memberikan warna tersendiri, khsusnya Fisk dengan segala konspirasinya –meskipun penyelesaiannya pun cenderung mudah bagi saya, atau terlalu cepat.  Foggy juga menartik karena jadi lebih dewasa dan pandai. Kemunculan Nadeem dan Dex juga hal yang menarik. Ending season ini sebenarnya akan terasa fair kalau season depan tidak dilanjut, hanya saja kalau mau sesuatu yang lebih dari Bulsseye, saya menantikan season 4, sekali lagi, kalau tidak di cancel.

Netflix telah mengeluarkan 4 series Marvel tahun ini, Jessica Jones, Luke Cage, Iron Fist, dan Daredevil. Tidak seperti tahun lalu yang banyak memberi kecewa, tahun ini semua series punya kesan baik buat saya. Sayang memang kabar di cancelnya Iron Fist dan Luke Cage cukup mengecewakan, mengingat 2 series itu berkembang dan menyajikan ending yang menarik. Daredevil bisa jadi kena cancel juga, entah masalah kerjasa Marvel atau memang bagaimana, tapi ending season ini rasanya ok saja kalau di cancel, tidak senanggung Luke Cage dan Iron Fist. Hanya saja, kalau berharap, ya dilanjut saja, setidaknya satru season lagi, dan menawarkan pertarungan yang lebih baik dengan Bullseye.

 

About osyad35

Hai...

Posted on October 24, 2018, in Tontonan, TV Series and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: